Rabu, 27 Februari 2019

Hikmah Melaksanakan Kewajiban Bagi Pembangunan Pedesaan

Kewajiban, bisa dianggap sesuatu yang dipaksakan dan terasa berat. Kewajiban melaksanakan peraturan negara atau peraturan agama dianggap sebuah doktrin dan tentu saja membawa pemikiran pada "frustasi".

Namun, apabila kita paham akan hikmah dari terlaksananya kewajiban maka kita akan berusaha melaksanakan bahkan mempertahankan kelestariannya. Misalnya, kewajiban untuk membuang sampah sembarangan begitu berat bagi sebagian orang. Tetapi, lihatlah hikmahnya begitu besar.

...

Tulisan saya ini terinspirasi dari film In the Heart of the Sea yang bercerita tentang perburuan paus untuk dimanfaatkan minyaknya. Film ini adalah film 3D Amerika Serikat-Spanyol produksi tahun 2015 bergenre drama petualangan yang diangkat dari buku nonfiksi karya Nathaniel Philbrick dengan judul yang sama.

Dalam film itu, ada adegan dimana para pemerannya berdiskusi tentang bagaimana peran manusia di dunia. Ketika mereka terdampar di suatu pulau, masing-masing tokoh di sana punya kesimpulan pemikiran atas apa yang telah terjadi pada mereka. Satu orang berpendapat bahwa manusia berkuasa atas alam dan berhak memanfaatkan apa saja di alam. Satu orang lagi berpendapat bahwa manusia harus bisa menjaga alam dan melestarikannya sehingga tidak terjebak dalam kerakusan.

Terbentuk Pola Dalam Pikiran

Kewajiban, bisa membentuk kebiasaan kemudian lama-kelamaan menjadi sebuah kebutuhan. Begitulah, Alloh memberikan kita sebuah karunia pikiran yang begitu luar biasa. Pikiran kita benar-benar bisa mengubah kenyataan.

Dalam pikiran kita, pola-pola kehidupan itu terbentuk bahkan hingga menjadi sebuah filosofi hidup.

Saya sering merasa kebingungan ketika membaca banyak buku atau artikel mengenai pembangunan. Begitu banyaknya konsep dan teori yang mendasari sebuah pembangunan membuat saya sulit "menentukan" konsep mana yang harus dipilih. Dengan banyaknya konsep itu, justru kita diajak untuk memutuskan konsep mana yang akan dipakai.

Apabila kewajiban sudah menjadi sebuah filosofi pembangunan yang kita anut, maka sebenarnya bisa mengurangi kebingungan itu. Pembangunan akan berjalan sebagaimana mestinya dan pikiran manusia pun hanya tinggal menunggu ilham dari Yang Maha Mengetahui.

Lingkungan Menjadi Terjaga

Kewajiban, sebetulnya melindungi kita sebagai manusia dari "kepunahan". Manusia akan dibawa pada suatu kelestarian hidup hingga waktu yang tidak tertentu. Manusia memiliki kelemahan fisik. Manusia bukan binatang yang memiliki kekuatan untuk bertahan hidup di alam bebas.
Bagaimana pun, cara untuk bertahan dari kejamnya alam adalah dengan berkawan dengan alam. Mekanisme alam bisa menjadi tidak terduga, maka dari itu ada aturan main untuk bisa hidup tenang di tengah alam.

Kewajiban, memberikan suatu formula yang memaksa tetapi berguna. Bagi orang yang berpikir pragmatis, maka kewajiban itu akan menjadi sesuatu yang dianggap penting karena kegunaannya. Bagi yang berpikir "nrimo", melaksanakan kewajiban semata-mata karena ketakutan tanpa bisa mengambil hikmah penting.
Kewajiban-kewajiban bukan hanya hasil dari bentuk pemikiran manusia. Ada keterbatasan manusia untuk bisa menentukan mana yang harus dilakukan dan mana yang tidak boleh dilakukan. Alloh SWT memberikan peringatan tidak tertulis atas apa yang akan terjadi di kemudian hari. Dengan kata lain, apabila manusia tidak melaksanakan kewajiban maka akan ada akibat buruk yang menyertainya.
Kewajiban seorang anak untuk patuh pada orang tua, bisa jadi adalah benih bagi terbentuknya sistem sosial dalam masyarakat. Apabila seorang anak sudah tidak patuh pada orang tua, maka begitu banyak ekses negatif yang dialami. Kenakalan remaja, salah satu contoh akibatnya.


Kewajiban Sebagai Strategi Pembangunan

Ketika kita merasa kebingungan bagaimana menentukan srategi pembangunan, maka melaksanakan kewajiban sebagai prioritas adalah pilihan terbaik. Hal ini didasarkan pada anggapan bahwa pikiran manusia memiliki kekurangan dalam "melihat masa depan".

Keterbatasan pikiran itu mengharuskan manusia bersikap rendah hati. Manusia jangan menganggap apa yang terjadi di dunia ini semata-mata hasil karyanya tetapi ada campur tangan Yang Maha Kuasa.

Coba kita tengok kondisi di sekitar kita, begitu banyak ketidaksempurnaan kehidupan. Kondisi ideal mengenai tata kehidupan bermasyarakat jauh dari harapan. Ada banyak sisi yang menandakan bahwa orang desa tidak sanggup membangun daerahnya sendiri.

Disadari atau tidak, ketidakidealan itu buah dari keengganan kita melaksanakan kewajiban.

Ketika pertumbuhan ekonomi pedesaan sangat lambat bisa jadi itu karena keengganan kita melestarikan dan memanfaatkan alam pedesaan sebagaimana perintah Alloh.
Selama ini, strategi pembangunan ditentukan oleh filsafat hidup yang dianut oleh suatu bangsa, atau atas dasar kompromi politik bahkan atas kendali para pemilik modal.  Apabila pembangunan didasarkan atas itu, maka sesungguhnya akan nampaklah "kelemahan" pikiran manusia. Setiap pihak yang berkepentingan akan merasa paling 'bisa' menentukan strategi pembangunan.

Minggu, 18 November 2018

Keguyuban Orang Desa, Masih Adakah?

Gambar: http://ppid.sukoharjokab.go.id/
Ikatan apa yang bisa menyatukan orang desa di tengah arus globalisasi seperti ini?

***

Pertanyaan diatas sulit dijawab karena beberapa alasan (setidaknya menurut pengamatan penulis), diantaranya:

Pertama, kultur keagamaan orang desa yang sudah 'memisahkan'  diri dari kehidupan riil masyarakat. Orang dulu, beragama sekaligus membangun desa. Tokoh-tokoh agama tidak hanya memimpin ritual tetapi juga memimpin aktifitas aktual. Saya baca profil Teungku Daud Beureuh di Aceh, Kiai Hasyim Asy'ari di Jawa, dan juga Kiai Ahmad Dahlan, mereka benar-benar membangun masyarakat dalam ranah aktual. Hal-hal yang berhubungan dengan kebutuhan dasar warga diperhatikan. Mulai dari pengairan di sawah, perdagangan di pasar, pendidikan hingga kesehatan diperhatikan.

Kedua, kebutuhan yang semakin beragam. Orang desa zaman dahulu, memiliki profesi yang cenderung seragam yakni sebagai petani atau nelayan. Namun, saat ini profesi warisan leluhur tersebut tidak mendominasi masyarakat desa.

Karena adanya perubahan pola kehidupan masyarakat itu, maka ikatan pun terkesan melonggar. Misalnya, di desa saya sulit sekali menggerakan warga untuk suatu kegiatan karena 'jadwal kerja' yang berbeda-beda. Pada akhirnya, kegiatan yang biasanya dilakukan swadaya menjadi dikerjakan secara profesional alias dibayar. Kegiatan membangun jalan desa, saat ini tidak bisa lagi dikerjakan sukarela karena kendala 'kesibukan masing-masing'.

🚜

Saya belajar mengenai keguyuban ini dari orang Cina. Di tengah jumlah penduduk yang padat, justru keguyuban itu semakin kuat.
Saya melihat bahwa keguyuban itu terus 'langgeng' karena mereka tahu apa yang ingin mereka capai bersama. Sebagai manusia, kita paham bahwa tujuan hidup di dunia ini ingin hidup sejahtera.

Maaf, dalam budaya masyarakat pribumi -apalagi Sunda-, keinginan untuk sejahtera bersama itu rasanya tidak ada. Mungkin, masih ada orang yang melanggengkan 'kasta sosial'.

Perbedaan kekayaan itu hal yang lumrah, hanya saja orang kaya itu "lupa" bahwa supaya mereka tetap kaya bukan dengan 'menjaganya' tetapi 'mengembangkannya'. Dan tentu saja, mengembangkan kekayaan itu perlu melibatkan orang lain.

Ikatan yang terkesan 'pragmatis' itu seperti mengesampingkan ikatan setumpah dan sedarah. Hanya saja, slogan tentang ikatan sebangsa dan setanah air yang sering didengungkan banyak orang justru melupakan tujuan bernegara yang sebenarnya yakni mencapai kesejahteraan bersama.

Ada keinginan kuat untuk maju bersama, menjadi ikatan yang relevan di era globalisasi seperti sekarang ini. Apabila keinginan untuk sejahtera itu hanya untuk diri sendiri, ternyata tidak berlangsung lama. Dalam satu generasi, kekayaan itu bisa habis.

Apabila ada keinginan untuk sejahtera bersama, maka orang dengan kasta sosial lebih tinggi akan 'mengangkat' saudaranya. Kelanggengan kesejahteraan terbukti telah terjadi bagi masyarakat yang mau saling membantu sama-lain.

πŸš›

Berbagi.
Kata itulah yang mesti dipegang oleh orang desa. Para taipan dengan kekayaan 'seabreg' itu mengumpulkan kekayaan tidak sekedar bentuk keserakahan, tetapi keinginan untuk berbagi.

Pertanyaan: "untuk apa kita hidup di dunia?", bisa dijawab dengan jelas bagi orang-orang Cina. Maaf, persepsi mengenai berbagi sepertinya masih sempit dalam budaya pribumi. Berbagi itu tidak hanya "memberi secara cuma-cuma", tetapi "membantu memenuhi kebutuhan orang yang membutuhkan".

Menyediakan ribuan bahkan jutaan lapangan kerja adalah bentuk berbagi yang tidak 'menyinggung' harga diri. Bekerja merupakan cara untuk mengaktualisasikan diri dan meningkatkan harga diri. Seorang suami merasa dihargai jika memiliki pekerjaan. Akan berbeda rasanya, jika dia mendapatkan rezeki karena diberi.

Kembali kepada kata kunci "kebutuhan". Menelisik kebutuhan setiap individu dan berusaha membantu memenuhinya merupakan bentuk gotong-royong dan bentuk keguyuban yang 'tidak akan ditelan zaman'.

Coba bandingkan dengan konsep gotong-royong yang masih bersifat "sukarela". Jangankan di kota, di desa pun konsep itu sudah mulai luntur. Karena desakan kebutuhan itu tadi, bekerja secara sukarela rasanya enggan. Keengganan itu dapat dimaklumi, karena seorang suami lebih mementingkan anak-istri.

🚜

Industrialisasi kerap dianggap sebagai biang keladi dari melonggar ikatan keguyuban di desa. Industrialisasi sering dianggap mengalihkan tujuan hidup bermasyarakat pada sikap materialistis.

Namun, saya mencoba untuk "menerima takdir"  jika waktu dan tempat mengalami perubahan. Di desa, harus menjalani industrialisasi. Tentu saja, harus ada ikatan baru demi terjalinnya kehidupan yang berkelanjutan. Industri hanya sarana untuk mencapai kesejahteraan bersama. Industri bukan biang keladi dari sikap mementingkan diri sendiri. Karena, jika tanpa industri bagaimana warga desa bisa menghidupi dirinya sendiri?

Sumber:
Sori Ersa Siregar & Kencana Tirta Widya, Liem Sioe Liong: Dari Futching ke Mancanegara, Pustaka Merdeka, 1988.
Gareth Alexander, Silent Invasion: Orang Cina di Asia Tenggara. versi e-book.

Rabu, 24 Oktober 2018

Memetik Hikmah dari Kejadian Sekitar: Cara Mudah Belajar Orang Desa

Sumber : staticflickr.com
Ada suatu paradigma bahwa belajar harus di sekolah atau kuliah. Paradigma ini jelas tidak salah. Namun, membatasi diri pada belajar formal saja membuat orang tidak ingin belajar dari kejadian sehari-hari.

Memperhatikan apa yang terjadi di sekitar kita juga adalah bentuk belajar. Warga desa sangat didorong untuk terus belajar memahami apa yang terjadi. Pembelajaran ini sebagai suatu bentuk cara orang desa "bertahan hidup" di tengah perubahan zaman yang sulit diprediksi.

Sumber pembelajaran orang desa tidak melulu harus dari orang kota. Saya sering didorong untuk mencari ilmu ke kota. Namun, tidak didorong untuk mempelajari apa yang sedang terjadi di desa.

Apakah kita menyadari, bahwa kurikulum pembelajaran yang meniru orang kota membuat kita lupa akan potensi daerah sendiri. Saya mengalami hal itu. Saat ini, saya sendiri banyak 'tidak tahu' nama binatang yang hidup di sekitar rumah. Nama-nama binatang itu seakan 'asing' di telinga karena di sekolah pun tidak pernah dipelajari.

Akhir-akhir ini saya "keranjingan" memfoto hewan dan tumbuhan di sekitar rumah. Indah. Itu alasan menjadi percaya diri untuk mengirimnya di Instagram. Ada orang Eropa dan Amerika yang memuji hasil jepretan saya. Setelah beberapa kali, saya mulai sadar ternyata lingkungan sekitar menjadi sumber belajar yang "menjual".

🐍

Mencari dan terus menggali. Hal itulah yang sebaiknya ditekankan dalam pembelajaran di sekolah. Antusiasme anak-anak dalam mempelajari pengetahuan di sekitarnya sebaiknya menjadi fokus perhatian pendidikan warga desa.

Saya selalu percaya bahwa antusiasme belajar itu selalu ada dalam diri setiap orang. Namun, persepsi 'belajar harus dipaksa' masih melekat dalam persepsi masyarakat kita. Orang Indonesia sepertinya masih merasa "terjajah" sehingga belajar masih dianggap sebagai bentuk perlawanan terhadap penjajah.

Generasi saat ini tidak merasakan bagaimana perihnya kebodohan karena penjajahan. Hal yang dirasakan saat ini adalah persaingan global. Maka dari itu, belajar adalah untuk bersaing. Selayaknya permainan sepakbola, seseorang akan antusias "mencetak gol" untuk menjadi pemenang.

Jadi, kita belajar untuk memenangkan persaingan, bukan melawan penjajahan. Orang asing yang datang ke Indonesia bukan untuk menjajah, tetapi mereka mengajak untuk "bersaing dalam permainan".

Saya selalu "menikmati" persaingan itu. Hal yang sulit dihindari apabila orang desa menjadi bagian dari warga global. Investasi dalam berbagai bentuk akan berdatangan ke desa. Maka tidaklah terlalu pusing bagaimana sebaiknya orang desa belajar. Ya, pelajarilah apa yang ada di desa.

Menikmati persaingan, selayaknya menikmati sebuah permainan, membuat kita terus antusias untuk menggali potensi di sekitar sembari terus belajar dari "sumber luar" melalui berbagai media.

πŸŽ“

Menurut para ahli pendidikan, filosofi pembelajaran memang begitu penting untuk 'ditegaskan'. Warga desa memiliki filosofi yang agak berbeda dengan orang kota. Filosofi ini mempengaruhi persepsi mengenai pembelajaran itu sendiri.

Dalam belajar, orang kota lebih berpikir praktis karena mempunyai bayangan akan seperti apa suatu ilmu digunakan. Sedangkan, orang desa masih "mengagungkan" ilmu tanpa banyak berpikir apa kegunaan ilmu itu.

Saya agak heran, ketika di kota besar bermunculan sekolah alam. Pendidikan setingkat Sekolah Dasar, dilaksanakan di alam terbuka. Bahkan, mereka tidak belajar di dalam kelas selayaknya SD Negeri. Anak-anak dibuat nyaman belajar di "saung" tanpa kursi dan dinding pembatas. Mengherankannya lagi, di halaman sekolah ada sawah, kebun dan hewan ternak. Bukankah ini pemandangan umum di pedesaan?

πŸ“•

Saya melihat filosofi belajar yang belum meresap dalam pemikiran orang desa sangat mempengaruhi bagaimana melihat kejadian sehari-hari. Kejadian-kejadian alam bisa dianggap sebuah pembelajaran atau dianggap angin lalu saja.

Filosofi pembelajaran yang "tidak praktis" menggiring anak-anak untuk tidak berpikir praktis. Agama yang semestinya mengandung konsep praktis pun menjadi sangat tidak praktis. Apakah filosofi beragama orang desa pun turut mempengaruhi filosofi pembelajaran "ilmu praktis" pula?

Saya sependapat dengan "prinsip beragama" ala Aa Gym. Beliau benar-benar membuat "praktis" agama. Konsep beragama yang rumit dibuat praktis, tentu saja dengan implementasi di dunia nyata.

Ilmu yang terkesan khayalan, benar-benar direalisasikan. Sumber ilmu yang berasal dari teks dan konteks, disatukan tanpa banyak pemisahan. Dengan begitu, akan ada gambaran awal 'untuk apa kita belajar'.

《(Diolah dari berbagai sumber)》

Senin, 08 Oktober 2018

Mengubah Budaya Desa: Agrikultur Menjadi Industri

Sumber: okezone.com
Dasar pemikiran dari judul di atas adalah suatu kenyataan dimana di beberapa desa terjadi over populasi. Produksi pertanian sangat rendah apabila dibandingkan dengan jumlah manusia yang dipergunakan dalam produksi tersebut.

Proses urbanisasi bisa terjadi dalam waktu cepat atau lambat, bergantung daripada keadaan masyarakat yang bersangkutan. Sebagaimana yang disampaikan Soerjono Soekanto, proses tersebut terjadi dengan menyangkut dua aspek, yaitu:

(a) berubahnya masyarakat desa menjadi masyarakat kota;
(b) bertambahnya penduduk kota yang disebabkan oleh mengalirnya penduduk yang berasal dari desa-desa (pada umumnya disebabkan karena penduduk desa merasa tertarik oleh keadaan dikota).

Saya melihat bahwa kemungkinan pertama (huruf a) diatas menjadi penyebab akan adanya perubahan budaya di desa. Suatu desa (terutama di Pulau Jawa) -mau tidak mau- akan berubah menjadi "desa industri". Pada awalnya hanya sebuah desa dengan industri sebagai penopang kehidupan, namun lambat laun suasananya pun akan terasa seperti kota.

Contohnya, di Kabupaten Bandung masih banyak wilayah dengan administratif desa. Namun, suasananya sudah seperti kota.

πŸ”©

Perubahan budaya di desa, menurut saya perlu dilakukan. Masyarakat pertanian yang serba menggantungkan hidupnya pada alam, harus dipaksa untuk memaksimalkan potensi dirinya.

Warga desa, tidak bisa melulu berpikir untuk bergantung pada 'perubahan cuaca' saja. Tapi, warga desa harus berpikir bahwa: di lingkungannya terjadi juga 'perubahan tren konsumsi' masyarakat.

Warga desa harus mengubah cara hidup. Perubahan ini bukan sekedar gaya hidup konsumtif yang ditiru dari warga kota, namun perubahan pola produksi dari berdasarkan pola tanam menjadi berdasarkan "kebutuhan pasar".

Cara berpikir dan cara bertindak seorang industrialis memang berbeda dengan seorang petani tradisional. Lahan pertanian, tidak dipandang sebagai areal tanam "kurang berharga" tetapi juga adalah "pabrik produksi" pangan. Perbedaan persepsi ini jelas mempengaruhi bagaimana orang desa memperlakukan setiap jengkal tanah yang diinjaknya.

Tanah akan dianggap sebagai investasi yang sangat berharga. Harga tanah akan sangat mahal. Sehingga, warga desa akan "memanfaatkan" setiap jengkal tanah dengan maksimal.

Warga pedesaan sepertinya masih terkungkung dalam "persepsi profesi" yang keliru. Orang desa masih menganggap profesi hanya ada tiga yakni pegawai pemerintah, petani dan pedagang.

Profesi industrialis pun masih belum populer di pedesaan. Mungkin karena orang desa kebingungan memasarkan hasil produksi dalam industri yang tidak langsung berhadapan dengan konsumen. Tidak aneh, jika orang desa ingin jadi pengusaha maka dia akan pergi ke kota. Pikirnya, betapa sulitnya memasarkan produknya  di desa yang sepi pembeli.

🏒

Masyarakat desa akan berubah seperti "orang kota". Kenapa ini terjadi?

Warga desa akan memiliki ragam pilihan profesi. Di masyarakat industri, kejelasan jabatan dan deskripsi kerja begitu dikedepankan.

Cara berpikir yang mendasari manajemen di pertanian tradisional jauh berbeda dengan industri. Namun, bukankah segala perubahan ini diawali dengan cara manusia berpikir. Orang desa harus belajar untuk mengubah cara berpikirnya.

Perubahan pola pikir ini bisa dijalankan dengan dirangsang atau dipaksa. Dirangsang dengan pendidikan formal ataupun nonformal. Juga, tentu saja dengan cara pemaksaan dimana investasi didatangkan ke pedesaan. Para industrialis-kapitalis dirayu untuk membuka usahanya di desa. Lambat laun, perubahan pola pikir itu akan terjadi.

🏭

Kita sebagai orang desa, harus setuju terlebih dahulu pada perubahan kondisi sosial ekonomi masyarakat. Jika ada yang tidak setuju, biasanya terjadi pertentangan yang bisa menghambat tujuan pembangunan.

Ketidaksetujuan orang desa pada perubahan budaya, dapat dimengerti. Kenyamanan yang selama ini dirasakan akan 'hilang'. Namun, sadarkah kita bahwa "kenyamanan" juga bisa membuat kita terlena. Ketika dunia berlomba untuk saling mengungguli, orang desa tidak bisa 'santai-santai saja'.

《πŸ“šSoerjono Soekanto, Pengantar Sosiologi》

Jumat, 21 September 2018

Memanfaatkan Infrastruktur Jalan Tol dan Rel Kereta Api

Sumber: detik.com
Tulisan ini saya fokuskan pada pembangunan jalan tol dan jalan kereta api. Kedua infrastruktur ini mempunyai ciri khas dalam merangsang pembangunan di daerah. Kedua infrastruktur ini bisa menjadi alat distribusi utama bagi industri-industri di daerah.

Sumber: goodnewsfromindonesia.id
Kalangan industri kurang "puas" menggunakan jalan arteri karena akan dihalangi oleh kemacetan di sana-sini. Jalan tol dan kereta api jelas memberi pengaruh besar dalam biaya distribusi barang yang diproduksi. Kalangan industri biasanya "bergairah" berinvestasi di daerah dimana ada kemudahan distribusi.

Walaupun industri itu berada di daerah 'terpencil', apabila barang hasil produksi bisa disalurkan dengan aman dan nyaman maka biasanya industri bertumbuh di sana.

Kebetulan, di daerah saya Kabupaten Garut akan dibangun jalan tol dan pengaktifan kembali jalan kereta api. Rel kereta ini sebetulnya  sudah ada sejak jaman penjajahan. Namun, tidak berfungsi lagi karena berbagai alasan. Sedangkan jalan tol, dibangun sebagai terusan jalan tol Purbaleunyi.

Isu pembangunan ini menjadi hangat karena masyarakat "seperti belum siap" menerima perubahan. Padahal, cepat atau lambat perubahan itu akan ada. Karena, perubahan itu adalah "hukum alam".


πŸš‚***

Persepsi kita sebagai warga desa mengenai infrastruktur begitu penting. Saya masih melihat ada dualisme pandangan antara orang yang mendukung penuh pembangunan infrastuktur dan sebaliknya.

Perbedaan pandangan ini memang sangat mendasar. Para pendukung pembangunan infrastruktur menginginkan daerahnya berubah menjadi lebih maju. Meskipun ada banyak hal yang 'dikorbankan', laju zaman menuntut adanya "pemenuhan kebutuhan".

Sedangkan, para penentang pembangunan infrastruktur berdalih bahwa kehidupan pedesaan harus dikembalikan seperti sedia kala. Sayangnya, para penentang ini pun belum bisa memberikan 'solusi tandingan' demi sebuah kemajuan pedesaan.

🚈***

Bagi masyarakat, infrastruktur bisa dilihat sebagai sarana menuju perubahan yang lebih baik. Namun, bisa juga pembangunan infrastruktur justru dianggap 'menghancurkan' tatanan yang sudah ada.

Apabila warga desa menganggap infrastruktur jalan tol dan rel kereta api sebagai sarana pembantu pembangunan, maka harus ada dukungan penuh. Meskipun akan ada resiko dalam proses realisasinya. Bentang alam yang sudah ada akan mengalami perubahan. Bahkan, tatanan sosial kemasyarakatan bisa mengalami perubahan.

Masyarakat desa yang dihuni oleh petani, suatu saat bisa berubah menjadi masyarakat industri. Namun, itulah cara kita menyediakan lapangan kerja untuk kesejahteraan.

Apabila proyek sudah berjalan, kita manfaatkan saja demi kemajuan bersama. Daripada kita ramai-ramai menolak, mending kita jadikan itu sebagai sarana menuju kemajuan desa kita sendiri. Penolakan dengan alasan apapun, akan lebih 'lemah' dari sisi argumentasi karena manfaat kedua infrastruktur itu lebih besar dibanding resikonya.

🚍***

Semua yang akan dibangun, berawal dari pikiran manusia. Apabila cara kita berpikir berbeda, maka wajar akan terjadi perbedaan pendapat dalam melihat bagaimana seharusnya desa kita dibangun. Saya sendiri pendukung industrialisasi pedesaan. Maka, saya mendukung apa pun yang bisa menggeliatkan industri di pedesaan.

Saat ini, kita harus "melihat" dengan pikiran kita. Maksudnya, kita bayangkan manfaat dari sebuah pembangunan bukan sekedar melihat 'kerusakan' yang terlihat secara kasat mata. Itulah, dasar pemikiran dari sebuah pembangunan. Apabila kita sudah memahami apa yang  dibutuhkan, maka cara kita memandang masa depan desa cenderung menuju arah kemajuan _bukan sebaliknya.

《(Tulisan diolah dari berbagai sumber)》

Rabu, 05 September 2018

Pohon Belajar



Dalam belajar, kita ikuti filosofi pohon. Seperti pohon, kita awali belajar dengan pelajaran dasar layaknya akar. Akar itu kuat menghujam tanah, juga menyerap saripati tanah untuk pertumbuhannya.

Al-Qur'an dan As-Sunnah layaknya akar. Batang layaknya minat dan bakat yang sudah ada sejak lahir. Sedangkan, daun dan ranting adalah ilmu yang "menyesuaikan" dengan lingkungan. Akhirnya, maka akan ada buah yang bisa "dipetik".

Minat dan bakat, harus menjadi yang utama dipelajari setelah pelajaran dasar. Kenapa? Karena ilmu yang berkenaan dengan minat dan bakat bisa dipelajari dengan "semangat" dan tidak perlu "disuruh-suruh". Ilmu yang berkenaan dengan minat dan bakat menjadi "acuan" akan seperti apa seseorang di masa depan. Layaknya, batang pohon maka minat dan bakat kuat meskipun diterpa angin dan hujan.

Terakhir, ilmu lain yang menyesuaikan dengan kebutuhan. Ilmu-ilmu itu akan sangat banyak sesuai dengan kebutuhan di sepanjang hidupnya.

Kamis, 30 Agustus 2018

Keotentikan Kultural: Modal Berselancar di Dunia Digital

Keotentikan kultural merupakan modal kita untuk "memenuhi" konten di dunia digital. Meskipun Barat punya teknologi informasi super canggih, tetapi kontennya kita bisa isi dengan "sumber lokal".
Pernahkah kita berpikir, bagaimana mengisi media sosial yang menjadi keseharian kita. Sudah banyak bukti, bahwa media sosial dengan menampilkan 'konten lokal' punya "follower" setia. Pengikutnya, tidak hanya saudara senegara tetapi juga saudara dari mancanegara.
Konsep ini sudah saya coba di Instagram. Saya menampilkan kondisi alam sekitar desa mulai dari flora, fauna hingga suasana kesehariannya. Ternyata, ada banyak orang yang tidak saya kenal menyukainya. Sayangnya, Bahasa Inggris saya yang jelek membuat saya kurang komunikatif.

Keotentikan kultural merupakan gagasan yang perlu dipertimbangkan dalam menghadapi era informasi digital. Hal ini tidak saja berarti bahwa kultur-kultur tradisional, lingkungan dan nilai-nilai  harus dihormati. Tetapi, juga berarti bahwa sistem-sistem tradisional harus dilihat sebagai sumber kekuatan dan solusi-solusi untuk masalah yang dihadapi masyarakat harus diupayakan didalamnya.

Pertama, keotentikan kultural memerlukan penekanan atas pembangunan yang berasal dari kultur-kultur pedesaan dan perlindungan atas kultur-kultur tradisional dari serbuan pola-pola konsumsi Barat dan barang-barang konsumsi yang mencerminkan kemahakuasaan teknologi. Diperlukan rasa hormat yang dalam terhadap norma-norma, bahasa, keyakinan-keyakinan, kesusateraan dan kesenian, serta ke-prigel-an masyarakat _ faktor-faktor yang membuat hidup masyarakat itu kaya dan bermakna.

Kedua, arti keotentikan kultural ialah bahwa sistem-sistem tradisional -yang ternyata secara ekologis lebih sehat dan berorientasi konservasi daripada sistem-sistem modern -- harus dilindungi dan dibantu.

Misalnya, di banyak negara berkembang masih terdapat sistem-sistem pengobatan tradisional. Bila sistem-sistem itu didukung, dikembangkan dan dipadukan dengam sistem pengobatan modern, maka sistem kesehatan di Dunia Ketiga akan semakin meningkat mutunya, dan kebergantungan pada perusahaan-perusahaan  farmasi pun akan tereduksikan.

Begitupula, teknik-teknik perumahan tradisional, metode-metode perikanan dan teknologi-teknologi lokal harus menjadi komponen-komponen dasar pembangunan yang bersifat mandiri. Sebagaimana kita tahu, teknik-teknik tradisional justru lebih mampu bertahan di tengah kondisi keterbatasan finansial. Saya sendiri mengalami bagaimana sistem pertanian tradisional masih bisa diterapkan dibandingkan sistem pertanian "modern" yang padat modal. Saya pernah merasa "tersandera" ilmu dari Barat yang diperoleh di perkuliahan. Setelah berusaha keras untuk diterapkan, ternyata kendala biaya lagi-lagi menjadi halangan.

Dengan demikian, hal-hal ini merupakan sebagian dari blok-blok bangunan dasar bagi pengertian baru tentang pembangunan.

(Sumber: Ziaduddin Sardar, Tantangan Abad 21)