Sumber : google.com |
Beberapa waktu lalu Presiden Joko Widodo
berkunjung ke luar negeri untuk menghadiri 3 forum internasional secara
berurutan yakni Forum Apec, forum Asean dan forum G-20. Dalam pertemuan
tersebut, beliau secara lugas mengundang para investor dari berbagai negara
untuk menanamkan dananya di Indonesia pada berbagai sektor.
Suatu hal yang tidak bisa dipungkiri bahwa
Indonesia sudah masuk ke dalam arena perdagangan bebas dimana investasi asing
bisa dengan mudah masuk ke tanah air. Apabila ada yang berminat membuka
usahanya di Indonesia maka siapa pun tidak berhak untuk menghalangi. Pemerintah
berjanji memberikan berbagai fasilitas yang diperlukan bagi para investor
terutama investor yang ingin bergerak di bidang kemaritiman.
Saya berpikir bahwa di masa depan kita jangan
heran apabila ada pengusaha asing yang bermaksud mendirikan usahanya di desa
tempat tinggal kita. Sebagai warga desa,
kita tidak bisa menghalang-halangi orang untuk membuka usahanya. Sebagaimana banyak
perusahaan yang sudah ada, pabrik-pabrik atau lahan-lahan milik perusahaan
asing berada di tengah-tengah lahan milik warga desa. Derasnya investasi asing,
memberikan pengaruh bagi kondisi sosial dan ekonomi warga desa.
Sebagai warga desa, hendaknya kita mempunyai
sikap yang proporsional atas berdatangannya investor asing. Sangat tidak bijak
jika kita 'mengusir ' mereka begitu saja dengan alasan akan 'memeras' kekayaan
alam milik kita. Juga tidak baik jika kita hanya menjadi 'penonton' saja atas
aktifitas perusahaan dimana sebagai warga kita tidak dilibatkan. Suatu dilema,
satu sisi investasi diundang masuk hingga ke desa-desa tetapi di sisi lain bisa
saja ada penolakan warga lokal karena berbagai alasan.
Sebagai warga lokal (pribumi) sebaiknya orang
desa mempunyai daya tawar. Apabila perusahaan membawa serta modalnya ke desa
maka harus ada timbal balik bagi kebaikan warga desa sendiri. Bukan sebaliknya,
lingkungan pedesaan menjadi rusak akibat aktifitas perusahaan. Itulah yang
sering terjadi di banyak tempat karena 'lemahnya' daya tawar masyarakat desa
sendiri. Ketika perusahaan asing datang dengan segala kemegahannya, warga
seperti 'terkejut'. Padahal tidak harus begitu, malahan kita anggap mereka
sebagai rekan bisnis yang akan memberikan banyak keuntungan.
Bagaimanapun, perusahaan asing itu sengaja
diundang oleh Pemerintah untuk mensejahterakan rakyatnya. Terlepas dari segala
kontroversi, perusahaan asing dibutuhkan untuk turut serta menggerakan roda
perekonomian nasional. Investasi asing _dengan modal yang besar dan manajemen
berpengalaman_ dianggap lebih mampu memanfaatkan potensi ekonomi yang ada di
daerah di seluruh Indonesia. Sebenarnya ini menjadi peluang bagi pengusaha
lokal untuk 'belajar' dan menjalin kerja
sama demi kepentingan bersama.
Untuk memperkuat daya tawar warga desa maka
sebaiknya warga desa meyodorkan beberapa persyaratan atas pendirian usaha, diantaranya:
· Menanamkan investasi di pedesaan harus turut serta membuka lapangan
kerja baru sebanyak mungkin. Mendahulukan usaha padat karya akan lebih
bijaksana dibandingkan usaha padat modal.
· Perusahaan harus turut serta membangun infrastruktur desa dimana dananya
diambil dari sebagian keuntungan usaha.
· Perusahaan harus menjamin kenyamanan bagi warga. Jangan sampai
keberadaan perusahaan justru membuat perubahan tatanan kehidupan menjadi lebih
buruk. Perusahaan jangan menjadi 'perusak' lingkungan pedesaan yang sudah asri.
· Perusahaan harus memiliki peranan sosial di tengah warga desa. Malahan perusahaan
sebaiknya menjadi lokomotif bagi pembangunan desa sendiri.
Warga desa sebaiknya memiliki proposal
kerjasama yang jelas. Melalui aparat Pemerintah Desa dan Badan Perwakilan Desa,
masyarakat bisa mengajukan berbagai tawaran kerjasama yang saling
menguntungkan. Warga bisa menjadi 'pengawas' yang baik keberlangsungan usaha. Begitupun,
perusahaan bisa menjalankan aktifitasnya dengan lancar. Saya berharap jangan
ada konflik antara perusahaan dengan warga sekitar sebagaimana yang sering
dilihat di media massa. Mungkin, konflik terjadi karena tidak proposal
kerjasama yang bisa disepakati antara keduabelah pihak.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Komentar...