![]() |
| Kerbau Rawa di Kalimantan (Sumber: Antara) |
![]() |
| Kerbau Rawa di Kalimantan (Sumber: Antara) |
Akhir-akhir ini, warga desa direpotkan oleh serangan hama tikus. Jumlah mereka tak terhingga sampai tak tahu harus berbuat apalagi demi menghadapi gerombolan makhluk pengerat itu. Namun, dalam tulisan ini saya bukan hendak membahas hama. Justru, saya tertarik bagaimana petani di desa kami menanggapi ini.
Sejak lama, saya memang tertarik untuk mengulik kehidupan petani. Bagaimana seorang petani berpikir, bekerja, dan ada saatnya untuk berencana. Pada dasarnya, selalu tertarik kepada isi mental manusia. Khususnya petani, kami tak memiliki kurikulum khusus untuk membangun kerangka berpikir.
Saya sempat kebingungan untuk menentukan cara berpikir. Kebingungan pula bagaimana menanggapi kenyataan yang tersaji di hadapan. Manusia seakan dihadapkan kepada kenyataan begitu saja. Lantas, tidak tahu harus melakukan apa. Tidak ada filosofi yang menjadi dasar berpikir, justru semakin bingung ketika terlalu banyak manusia bicara di luar sana.
Dalam hal ini mari kita membicarakan bagaimana petani menanggapi situasi. Seorang petani sering dihadapkan kepada cuaca yang tidak menentu, ditambah hama yang senantiasa menyerang tanaman. Sebagaimana dalam kasus di kampung saya, tikus telah mengurangi hasil panén secara signifikan. Ternyata, kami tetap dikasih pilihan untuk menanggapi kenyataan. Menerima dengan lapang dada atau menyesali keadaan, pilihan ada di tangan.
Setelah membaca banyak buku dan artikel, ada hal menarik mengenai "tanggapan atau respon" kita sebagai diri. Mari perhatikan ilustrasi sederhana di atas. Ketika ada rangsangan atau stimulus, ternyata ada wilayah dimana seorang manusia punya pilihan untuk memberikan tanggapan.
Kebebasan untuk memilih tanggapan ini sebuah keistimewaan.
Saya pun baru paham, proses berpikir berkaitan erat dengan respon seseorang terhadap stimulan dari lingkungan. Ini pelajaran sederhana yang telah disampaikan oleh guru biologi. Ada seekor binatang yang melihat dengan samar satu sosok yang dianggap sebagai predator. Sang binatang memiliki waktu sepersekian detik untuk berpikir, berlari atau akan berakhir sebagai mangsa nan malang.
Begitupun manusia, tatkala merespon tantangan alam dan tantangan zaman senantiasa diajak untuk berpikir.
Mari kita perhatikan diri kita sendiri. Bangun di kala pagi, sering dihadapkan oleh tuntutan profési, keluarga yang meminta perhatian, atau malah--sebaliknya--kesendirian. Sudah menjadi hak istimewa manusia untuk menanggapi setiap keadaan berbeda tersebut. Andaikan dia memberikan tanggapan yang tidak tepat maka tak heran akan dianggap sebagai hari yang buruk.
Tak ada hari yang buruk bagi mereka yang memilih untuk menilai jika hari ini sebagai sebuah tantangan. Tak ada hari yang sia-sia jika memilih untuk menilai hari ini sebagai ruang belajar yang sempurna. Memang terdengar sebagai usaha untuk "lari" dari realita. Namun, bagi saya berbeda.
Lari dari kenyataan benar-benar tak ingin memikirkan situasi. Banyak manusia seperti ini. Sedangkan memilih tanggapan adalah menyiapkan otak dan otot untuk menyesuaikan diri. Memang keadaan bisa menjadi tak terkendali, bukan berada di kendali kita sebagai individu. Sekali lagi, manusia memiliki keistimewaan untuk memberikan tanggapan yang proporsional.
Oke, sekarang mari kita kembali membicarakan perbedaan cara berpikir petani dengan cara berpikir para pedagang; janji sebagaimana judul blog ini. Tentu bukan membedah respon keduanya akan perkara teknis. Jelas berbeda.
Saya berusaha untuk menyoroti bagaimana respon petani ketika menghadapi kerugian. Tidak seperti pedagang, tidak akan mengganti komoditas. Bagaimana bisa petani mengganti varietas yang hendak ditanam padahal begitu dibutuhkan warga.
Sudah sejak lama saya penasaran akan isi pikiran petani ketika merespon kerugian. Ketika memilih untuk memandang kerugian sebagai bentuk pasrah, mungkin ada yang menyimpulkan ini sebagai pikiran yang rendah. Hanya saja, apabila diperhatikan dari sisi lain sikap ini merupakan bentuk respon untuk tidak memilih marah. Kerugian bisa dianggap sebagai pola yang mungkin ada selain keuntungan.
Memang tidak akan ada titik temu apabila seorang pedagang dan petani berdiskusi tentang kerugian. Petani tidak menggunakan matematika dalam merespon untung-rugi. Apalagi semata dikonversi dengan uang. Begitu sulit rasanya untuk memperoleh keuntungan andaikan semua petani berpikir demikian.
Sekarang, mari kita berandai jika tengah menjalani suatu profesi. Seorang petani yang serba unik di satu hari kemudian beralih menjadi pedagang di hari lain.
Hal yang mesti dipersiapkan bukan hanya modal, tetapi juga mental. Cara berpikir seseorang tatkala menjalani profesi tertentu--saya yakin--bisa membawa orang tersebut kuat ketika menghadapi tantangan. Begitupula, hari ini seorang petani mesti harus siap untuk hari yang menguntungkan sekaligus merugikan dalam satu waktu. Apabila hasrat untuk menanam terhenti, sangat dikhawatirkan manusia akan kehilangan sumber pangan. Petani tidak bisa pergi dari lahan bahkan ketika profesi lain sedang menikmati liburan.
_____________
Buku bacaan:
Man's Search of Meaning, Victor Frankl, 1946.
The 8th Habit: From Effectiveness to Greatness, Stephen Covey, 2004.
Saya mulai dengan persepsi manusia akan waktu. Tanpa mengesampingkan faktor lain, kiranya persepsi akan waktu ini menjadi sebab mendasar ketika satu generasi tidak sanggup menyediakan lapangan kerja untuk generasi penerus. Bagaimanapun, waktu yang terus berjalan hingga berganti generasi mesti bisa "digapai" agar bisa mengerti apa yang dibutuhkan manusia lain setelah satu orang manusia tiada di dunia.
Banyak warga yang menganggap jika waktu "berulang" sebagaimana roda berputar. Titik yang semula berada di bawah akan turun kembali ke bawah apabila telah selesai berada di atas. Bagi saya, waktu merupakan proses yang linier selayaknya sebuah garis. Tidak ada momen untuk mundur atau turun kembali ke bawah selayaknya roda. Karena waktu tak memiliki momen "memulai kembali" maka seharusnya berpikir jika apa yang dikerjakan hari ini untuk menyambut waktu selanjutnya.
Peta jalan atau rencana, saya pikir itulah hal yang tidak ada dalam benak para orang tua. Banyak orang yang menyangka jika kehidupan di dunia terjadi begitu saja. Menerima takdir tanpa berpikir jika takdir bisa diubah, atau merasa jika Tuhan-lah yang memiliki rencana sedangkan manusia tidak berhak untuk memiliki rencana. Seakan lancang jika manusia punya rencana. Padahal, membuka lapangan kerja merupakan bagian dari sebuah rencana besar dalam mengarungi masa.
Ketiadaan rencana ini bisa menjadi jawaban atas pertanyaan, kenapa Bapak saya tidak pernah menyampaikan cita-cita masa depan kepada anak-anaknya?
Sebuah cita-cita dianggap sebagai sebuah angan-angan. Padahal, rencana dan cita-cita bisa dibilang sebagai bentuk "penyerahan proposal" kepada Yang Maha Kuasa. Jika manusia dianggap tak pantas memiliki rencana, bukankah manusia boleh untuk menyampaikan sebuah pengajuan dalam bentuk doa. Hubungannya dengan pembukaan lapangan kerja, tentu hal ini pun sebagai bentuk upaya pertama untuk penyediaannya. Sesaat sebelum pekerjaan yang dicita-citakan kaum muda tercipta maka kaum tua mesti punya gambaran dalam kepala.
Nah, membuat gambaran dalam kepala itu bukan perkara mudah. Membutuhkan wawasan yang luas agar seorang insan bisa menghubungkan setiap gejala alam sehingga diperoleh kebermanfaatan bagi manusia. Andaikan seorang lelaki turun dari helikopter dan kakinya menapaki tanah di hutan. Berdasarkan wawasan yang dimiliki, tidak akan ada kebingungan. Dia tahu apa yang harus dilakukan. Andaikan kala itu tidak ada seorang pun yang turut membantu, maka kepalanya akan menuntun tangan dan kaki untuk melakukan sesuatu.
Ini ada hubungannya dengan harapan yang tak pernah padam. Ketidakberdayaan muncul bukan hanya karena ketidaktahuan atau ketiadaan modal, ketidakberdayaan pun muncul ketika sekumpulan manusia kehilangan harapan. Saya pikir semua orang akan setuju jika pengharapan justru menjadi modal utama sebelum sebuah generasi memegang modal produksi untuk membangun usaha. Memang benar jika harapan merupakan sesuatu yang abstrak, sedangkan modal produksi adalah benda kongkrit. Namun, berdasarkan pengamatan saya selama ini justru ketiadaan benda abstrak inilah penyebab tidak terbentuknya usaha untuk menyediakan lapangan kerja. Saya pikir, ketidakberdayaan senantiasa berkelindan dengan ketiadaan pengharapan.
Kalau semua orang berpikir tentang akumulasi modal, maka modal yang dimaksud tidak akan terkumpul. Kenyataannya modal bisa dikatakan sebagai barang langka. Namun, cita-cita dan harapan bukan barang langka. Semuanya ada di dalam kepala.
Akhir-akhir ini saya membaca buku Etika Jawa karya dari Franz Magnis Suseno, memperoleh sebuah pengetahuan baru tentang bagaimana orang-orang Jawa berpikir. Sebagai orang Sunda, pengetahuan ini sesuatu yang menarik dan dianggap berguna. Jika selama ini kesulitan untuk membuat kerangka berpikir sebagai warga desa, mungkin etika orang Jawa bisa saya terapkan.
Mengapa kesulitan membuat kerangka berpikir?
Alasannya, orang tua di lingkungan kami tidak memberikan "bekal mental" dalam mengarungi zaman malah menyerahkan cara untuk bersikap kepada lembaga pendidikan. Sebagaimana diketahui, pendidikan di dalam negeri tidak serta menganut ide-ide asli dari budaya sendiri. Ah, membicarakan pendidikan harus ada kesempatan lain, Blog ini terlalu pendek untuk menulis permasalahan yang sangat kompleks.
Sebagai manusia pedesaan, kerangka berpikir teramat penting. Bukan hanya penting, tetapi butuh. Bahkan, menurut saya terasa mendesak di tengah gempuran informasi yang terlampau banyak dari hari ke hari. Apabila orang desa tidak memiliki kerangka berpikir, saya khawatir warga malah menjadi orang-orang yang mudah terombang-ambing keadaan. Ketika dirasa rugi, menyalahkan orang lain padahal diri sendiri tak punya pendirian.
Selanjutnya, kenapa Jawa? Jawabannya sederhana saja, etika Jawa terbukti bisa digunakan pada banyak bidang serta terbukti pula sesuai dengan kebutuhan.
Satu hal yang perlu disorot, keselarasan. Dalam buku tersebut, etika Jawa senantiasa mengedepankan keselarasan tatkala mengambil keputusan. Keputusan dalam apa saja. Sederhananya, jangan sampai ada konflik. Mungkin itu pula alasan jika pengamat politik menyarankan untuk menerapkan etika politik ala Jawa dalam skala nasional. Dengannya, sudah terbukti jika negeri ini minim sekali konflik horizontal padahal dihuni oleh begitu banyak suku nan berbeda budaya.
Kemudian, mari kita bicarakan bagaimana menerapkannya dalam kehidupan keseharian.
Selama ini, saya diberikan pelajaran bagaimana bertahan hidup di desa. Sesuatu yang penting karena desa tidak hanya tentang gaya hidup slow living tetapi juga gaya hidup yang senantiasa dekat dengan alam. Ada hal lain yang belum saya peroleh yakni bagaimana harus berpikir sebagai orang desa. Realitanya, cara berpikir warga kota tidak bisa diterapkan di desa. Meskipun kecakapan teknis ada dalam setiap program pembelajaran orang tua kepada anak-anaknya, tetapi perkara-perkara nonteknis sering membuat kami kebingungan. Sikap responsif terhadap perubahan pun belum cukup apabila tidak memiliki prinsip kuat agar perubahan tersebut tidak berbalik menjadi mesin penggilas kehidupan.
Kami diajari bagaimana menanam padi di sawah, tetapi tidak pernah diajarkan bagaimana mempertahankan lahan persawahan agar tidak berubah menjadi tanah minim fungsi.
Setelah membaca buku Etika Jawa, saya baru mengerti jika berpikir orang Jawa tidaklah selalu mengedepankan logika. Tidak semua hal bisa nyambung dengan logika. Adakalanya logika jadi tak berguna. Warga Indonesia memang dipaksa untuk berpikir dengan logika karena terlalu banyak elemen mistis dalam budaya. Namun, perkara demikian tidak selalu salah. Kenyataannya, logika malah membuat warga kebingungan.
Mari kita perhatikan désa sekitar. Siapa yang bisa menjawab dengan logika tentang masa depannya?
Perhitungan seperti apa yang bisa digunakan untuk memprediksi masa depan, saya pikir warga tidak membutuhkannya. Apabila ada ilmu khusus yang bisa memprediksi masa depan suatu wilayah kemudian keputusan berdasarkan hasil perhitungannya, nampaknya hanya berlaku bagi ilmuwan di laboratorium. Sedangkan warga desa tidak memiliki perangkat untuk hal demikian. Warga hanya membutuhkan intuisi serta perhitungan berdasarkan naluri.
Hanya saja, intuisi manusia tidak lahir begitu saja. Hal tersebut ada karena pengalaman begitu lama serta berlaku turun-temurun. Dan, budaya bisa menjawab segala kegelisahan manusia tentang masa depan--setidaknya untuk aspek tertentu.
Ketekunan pun bisa lahir dari kerangka berpikir yang tepat. Tatkala manusia sudah tau perannya di dunia, maka secara sadar dia akan menjalankan peran tersebut. Pikiran untuk menyalahkan nasib sepertinya akan menjauh bahkan hilang. Dia tahu jika dunia memiliki aturan main sendiri sehingga tidak akan iri kepada manusia lain yang memiliki kelebihan atau keistimewaan. Seorang petani akan sadar dengan perannya. Begitupun kepala desa akan paham dengan tugasnya. Satu sama lain bukan saling menjatuhkan tetapi mendukung demi sebuah keselarasan.
Sebelum manusia menyadari perannya, maka tidak heran akan terus mencari hingga mati. Berpindah-pindah tempat, berpindah profesi, atau berubah haluan hidup berkali-kali karena kebingungan. Orang yang tekun tidak akan seperti itu. Sedangkan perdesaan membutuhkan manusia yang memiliki tujuan. Adapun penyesuaian terjadi sekedar menjaga keselarasan bukan karena ikut-ikutan.
Menahan diri, juga hal lain yang menarik perhatian dalam etika Jawa. Demi keselarasan dan menghindari konflik maka menahan diri untuk tidak meluapkan emosi serta ambisi bisa menjadi jalan yang terbaik. Hal ini pula yang bisa menjawab keheranan saya ketika orang Jawa begitu kuat untuk mencapai cita-cita tetapi tidak tampak ambisius. Perihal menahan diri pun bisa menjadi cara untuk beradaptasi di tengah situasi yang serba baru, atau tidak menentu. Andaikan manusia tak bisa menahan diri serta mengedepankan isi pikirannya agar teraktualisasi, keselarasan bisa terganggu. Tatanan menjadi kacau, cita-cita bersama pun jauh dari tercapai.
Hal penting lainnya yang perlu ditiru oleh warga désa di mana pun adalah cara pandang jika kehidupan tidak berpusat pada manusia (antroposentrisme). Sikap antroposentris ala Barat masa kolonial tidak berlaku bagi orang Jawa. Manusia harus selaras dengan alam. Warga desa pun diajak untuk memanfaatkan potensi alam sekedarnya saja, sesuai dengan kebutuhan. Tidak ada keserakahan yang tampak di permukaan. Saya pikir, sikap demikian sangat diperlukan apabila seorang menusia ingin menjadi pribadi yang memuaskan secara mental dan finansial.
Terakhir, ketentraman spiritual pun akan datang dengan sendirinya tatkala memiliki jalan pikiran yang ajeg. Sebuah etika lahir dari rahim budaya yang kompleks tetapi berguna. Andaikan dirasa memiliki perbedaan dengan cara pandang yang dianggap lebih kekinian, percayalah jika orang Jawa telah lama membuktikan kebergunaannya.
Memunculkan kreatifitas ternyata susah.
Saya selalu kagum kepada bangsa yang bisa mengubah alam liar menjadi peradaban yang maju. Mereka datang dari tempat yang jauh ke tempat yang tak tersentuh. Awalnya daerah hutan belantara, bertahun-tahun kemudian berubah menjadi kota. Bagaimana caranya semua itu bisa terjadi?
Menurut Napoleon Hill, semua yang terjadi di dunia ini berawal dari pikiran manusia. Saya pun merasa jika perubahan yang terjadi berawal dari dalam pikiran. Masalahnya, bagaimanakah seharusnya kita berpikir agar peradaban itu bisa terwujud? Bagaimanakah seharusnya kita berpikir agar lanskap yang semula tak tersentuh manusia kini menjadi sumber kehidupan yang bermanfaat?
Apakah ada hubungannya antara sikap inferior warga desa dengan kreatifitas yang tumpul?
Sebelum kreatifitas muncul, seharusnya kita bertanya kepada diri sendiri, "apa tujuan hidup kita di dunia?" Jika pertanyaan demikian terlalu luas untuk sebuah jawaban, maka kita turunkan dengan menjawab pertanyaan, "apa tujuan hidup kita di desa?"
Saya setuju jika ada orang yang bilang apabila tujuan hidup penting.
Tidak selamanya kesempatan datang, kadangkala harus diciptakan. Tidak selalu hidup bisa mengalir begitu saja, mengikuti arus kalau ternyata arus tidak cukup deras untuk membawa kita ke muara. Andaikan saat ini kita sedang berada dalam sebuah perahu, tepat di tengah sungai yang berarus deras maka cukup yakin akan sampai di muara impian. Namun, bagaimana jadinya jika saat ini tak ada arus yang membawa untuk sampai di muara?
Tentu saja harus berpikir bagaimana caranya perahu bisa melaju. Entah menggunakan dayung atau mesin tempel.
Tidak ada alasan untuk menerapkan filsafat fatalisme di tengah abad 21 yang penuh tentangan. Filsafat nerimo atau terima nasib ini meredupkan gairah, menghancurkan ambisi. Selanjutnya, mendatangkan kemalasan untuk berpikir.
Saya merasakan sendiri, jika kemiskinan bisa membuat orang enggan untuk mengubah diri. Seakan strata sosial yang diembannya sebuah kutukan yang tak mau diubah. Masalahnya, bukan sekedar jumlah harta yang tak bertambah tetapi sikap toleransi terhadap kemalasan dan keengganan untuk menata diri. Seakan-seakan orang miskin boleh hidup berantakan, compang-camping, dan hidup tanpa aturan. Orang miskin terlanjur menerima cap jelek sejak masa kolonial.
Tidak perlu penelitian untuk bagaimana cara berpikir orang miskin. Keluarga kami bagian dari sekian juta orang miskin di Indonesia. Entah apa kriteria orang miskin menurut Badan Pusat Statistik, pokoknya keluarga saya dilabeli miskin. Namun, bukan berarti menjadi orang yang enggan untuk berpikir.
Ingat, kemiskinan bukan berarti alasan bagi kemalasan untuk berpikir.
Anak-anak harus disekolahkan, bagaimana keadaan ekonomi keluarganya. Alasan yang bisa diterima jika bersekolah sebagai cara untuk keluar dari jerat kemiskinan. Sayang, hal demikian tidak selalu berhasil. Ada banyak hambatan--selain pendidikan--apabila lingkaran kemiskinan susah terentaskan. Lantas, pada akhirnya diserahkan kepada setiap individu untuk menyelesaikan masalahnya sendiri.
Kata orang, sekolah bisa mengasah ketajaman berpikir seseorang. Sayang, siswa yang dijejali hafalan malah menumpulkan pikiran. Orang demikian tidak terangsang untuk berpikir. Bagi mereka, belajar adalah suatu proses yang membosankan bukannya menyenangkan. Saya pun mengira jika kebosanan inilah yang membuat kreativitas tidak muncul ke permukaan. Katanya, kegiatan yang berulang dan membosankan bisa membuat orang tidak kreatif. Tidak terangsang untuk melakukan sesuatu yang baru. Begitu pula keadaan yang begitu tenang tanpa rangsangan.
Sekolah telah usai dilaksanakan, kini berdiri menatap tepat di bingkai pintu. Apa yang harus dilakukan? Berdiam diri saja atau melakukan sesuatu, tentu dengan sebuah tujuan.
Jika kamu melihat sekeliling, alam pedesaan gitu meninabobokan. Justru berbanding terbaik dari penjelajah yang tadi saya bicarakan, melihat alam liar seakan sebuah potensi besar yang harus dioptimalkan kebermanfaatannya.
Kalau orang kreatifitas itulah yang melihat sesuatu yang tampak tidak berguna atau setidaknya terlihat biasa saja akan menjadi sesuatu yang luar biasa. Pada fase inilah kreativitas sangat dibutuhkan. Saya pikir tidak bisa kalau alam hanya dibiarkan begitu saja tanpa dimanfaatkan sebagaimana mestinya. Sekali lagi, seharusnya alam merangsang manusia untuk berpikir. Kalau bukan alam, lantas siapa yang merangsang manusia untuk berpikir?
![]() |
| Gambar: Antara via Pikiran Rakyat |