Saya menghabiskan waktu hampir 3 jam untuk menonton dokumenter tentang kebangkitan Cina. Dimulai dari keruntuhan Dinasti Qing hingga Xi Jinping bertugas menjadi presiden hingga perempat abad 21. Ada banyak hal yang bisa dijadikan bahan pelajaran. Namun, ada satu hal yang mesti saya ajukan sebuah pujian kepada bangsa besar ini. Mereka pekerja keras sekaligus pemikir keras . Kami di sini bekerja keras. Setiap pagi bangun lebih awal dibandingkan anak-anak kami. Namun, harus diakui jika bangun pagi bukan langsung memikirkan diri apalagi memikirkan bagaimana seharusnya dunia ini menata diri. Apa yang dikerjakan hari ini bukan demi keberlangsungan generasi tetapi sekedar memenuhi kebutuhan sehari-hari atau memaksakan nafsu diri. Orang Cina, sepertinya tidak berpikir sependek ini. Mereka diajarkan untuk berpikir besar sejak usia dini. Maaf, ini bukan bermaksud untuk menjadi inferior. Namun, berpikir menjadi superior ternyata dibutuhkan bagi bangsa yang ingin menjadi bes...
Saya membaca sesuatu yang menarik perhatian dalam buku Santri dan Abangan di Jawa (Muchtarom, 1988). Ada kalimat yang tertulis jika masa dulu profesi pedagang dianggap sebagai pilihan buruk. Bagi saya ini mengherankan. Menurut idéologi Hindu, seorang pedagang hanya seorang makhluk tingkat yang lebih rendah daripada warga bangsa-bangsa yang lebih tinggi. Setelah membaca tulisan ini, jadi bertanya-tanya. Apakah Bapa saya tidak suka menjadi pedagang karena masih menganggap jika pedagang bukanlah profesi terhormat yang layak dicita-citakan? Saya tidak pernah diarahkan untuk menjadi seorang pedagang. Tak ada bahasa yang terucap dengan tegas jika kami harus menjadi pedagang. Lebih parah lagi, anak-anak tidak pernah diberi pelatihan tentang bagaimana menjalankan usaha perdagangan. Tak ada kegiatan transaksi jual beli. Bapa malah menghabiskan waktu dan energi anak-anaknya untuk menjalankan pekerjaan administratif. Padahal, keahlian seperti ini tidak bisa dipraktekk...