Sabtu, 21 Februari 2026

Ketidakberdayaan Orang Tua Menyediakan Lapangan Kerja untuk Generasi Selanjutnya

Saya mulai dengan persepsi manusia akan waktu. Tanpa mengesampingkan faktor lain, kiranya persepsi akan waktu ini menjadi sebab mendasar ketika satu generasi tidak sanggup menyediakan lapangan kerja untuk generasi penerus. Bagaimanapun, waktu yang terus berjalan hingga berganti generasi mesti bisa "digapai" agar bisa mengerti apa yang dibutuhkan manusia lain setelah satu orang manusia tiada di dunia. 


Jika kita beranggapan bahwa waktu tidaklah selesai setelah mati, maka tidak akan segera menganggap pekerjaan pun selesai. Setelah mati, waktu akan tetap berlanjut walaupun dalam bentuk yang berbeda. Kematian hanyalah dimensi lain bagi satu orang tetapi masih dimensi yang sama bagi orang yang berbeda.

Banyak warga yang menganggap jika waktu "berulang" sebagaimana roda berputar. Titik yang semula berada di bawah akan turun kembali ke bawah apabila telah selesai berada di atas. Bagi saya, waktu merupakan proses yang linier selayaknya sebuah garis. Tidak ada momen untuk mundur atau turun kembali ke bawah selayaknya roda. Karena waktu tak memiliki momen "memulai kembali" maka seharusnya berpikir jika apa yang dikerjakan hari ini untuk menyambut waktu selanjutnya.  

Peta jalan atau rencana, saya pikir itulah hal yang tidak ada dalam benak para orang tua. Banyak orang yang menyangka jika kehidupan di dunia terjadi begitu saja. Menerima takdir tanpa berpikir jika takdir bisa diubah, atau merasa jika Tuhan-lah yang memiliki rencana sedangkan manusia tidak berhak untuk memiliki rencana. Seakan lancang jika manusia punya rencana. Padahal, membuka lapangan kerja merupakan bagian dari sebuah rencana besar dalam mengarungi masa. 

Ketiadaan rencana ini bisa menjadi jawaban atas pertanyaan, kenapa Bapak saya tidak pernah menyampaikan cita-cita masa depan kepada anak-anaknya?  

Sebuah cita-cita dianggap sebagai sebuah angan-angan. Padahal, rencana dan cita-cita bisa dibilang sebagai bentuk "penyerahan proposal" kepada Yang Maha Kuasa. Jika manusia dianggap tak pantas memiliki rencana, bukankah manusia boleh untuk menyampaikan sebuah pengajuan dalam bentuk doa. Hubungannya dengan pembukaan lapangan kerja, tentu hal ini pun sebagai bentuk upaya pertama untuk penyediaannya. Sesaat sebelum pekerjaan yang dicita-citakan kaum muda tercipta maka kaum tua mesti punya gambaran dalam kepala.  

Nah, membuat gambaran dalam kepala itu bukan perkara mudah. Membutuhkan wawasan yang luas agar seorang insan bisa menghubungkan setiap gejala alam sehingga diperoleh kebermanfaatan bagi manusia. Andaikan seorang lelaki turun dari helikopter dan kakinya menapaki tanah di hutan. Berdasarkan wawasan yang dimiliki, tidak akan ada kebingungan. Dia tahu apa yang harus dilakukan. Andaikan kala itu tidak ada seorang pun yang turut membantu, maka kepalanya akan menuntun tangan dan kaki untuk melakukan sesuatu.

Ini ada hubungannya dengan harapan yang tak pernah padam. Ketidakberdayaan muncul bukan hanya karena ketidaktahuan atau ketiadaan modal, ketidakberdayaan pun muncul ketika sekumpulan manusia kehilangan harapan. Saya pikir semua orang akan setuju jika pengharapan justru menjadi modal utama sebelum sebuah generasi memegang modal produksi untuk membangun usaha. Memang benar jika harapan merupakan sesuatu yang abstrak, sedangkan modal produksi adalah benda kongkrit. Namun, berdasarkan pengamatan saya selama ini justru ketiadaan benda abstrak inilah penyebab tidak terbentuknya usaha untuk menyediakan lapangan kerja. Saya pikir, ketidakberdayaan senantiasa berkelindan dengan ketiadaan pengharapan. 

Kalau semua orang berpikir tentang akumulasi modal, maka modal yang dimaksud tidak akan terkumpul. Kenyataannya modal bisa dikatakan sebagai barang langka. Namun, cita-cita dan harapan bukan barang langka. Semuanya ada di dalam kepala.