Selasa, 11 Agustus 2026

Beternak Kerbau Rawa di Pinggiran Hutan Rawa

 

Kerbau Rawa
Kerbau Rawa di Kalimantan
(Sumber: Antara)
Saya punya rencana untuk mengembalikan fungsi lahan kebun sawit menjadi tutupan hutan dengan memanfaatkan peran kerbau rawa. Jika sebelumnya hutan "dikeringkan" untuk ditanami bibit sawit maka harus kembali "dibasahkan" dengan mengalirkan air sungai. Untuk keperluan pupuk dan sumber pendapatan warga maka kerbau rawa bisa menjadi alternatif. 

Dalam bayangan pikiran saya, akan ada lahan sawit yang tidak produktif lagi karena faktor usia tanaman. Dalam keadaan demikian, waktu yang tepat untuk segera mengembalikan fungsi hutan. Namun, saya tahu ini bukanlah usaha yang mudah. Penduduk akan lebih tertarik untuk mengalihkan fungsi lahan untuk sesuatu yang komersil. Hanya saja, mengembalikan fungsi hutan merupakan sebuah keharusan. Tentu tidak mengorbankan warga yang membutuhkan sumber pendapatan. 

Memelihara kerbau rawa adalah solusi. Ini dipilih karena beberapa alasan. 

Pertama, penduduk punya kegiatan untuk mengalihkan énergi dan waktunya khusus untuk memelihara kerbau. Dengan begini, keinginan untuk merambah hutan bisa dihilangkan setelah fokus beternak. 

Kedua, kerbau rawa merupakan agen penting untuk memelihara hutan. Mereka mampu menjaga hutan agar tetap lembab sehingga berguna untuk menumbuhkan kembali biji yang tercecer. Ditambah, feces kerbau membantu menyuburkan tanah untuk kembali menghidupkan hamparan lahan.  

Untuk alasan yang bersifat ilmiah, Anda bisa mencarinya di berbagai artikel dan jurnal yang tersedia secara gratis di internet. Saya hanya ingin menyampaikan betapa ide sederhana ini bisa dijalankan. Toh, orang-orang di Kalimantan sudah menjalankan tradisi memelihara kerbau ini sejak lama. Untuk ke depan, kita hanya perlu usaha untuk memperluas kebiasaan ini. 

Saya menganggap jika kerbau rawa bisa disebut sebagai agen bagi perubahan habitat. Para pengkritik lahan sawit bisa saja bicara banyak tentang dampak buruknya terhadap lingkungan. Namun, saya yakin jika kerbau tidak akan banyak bicara untuk perlahan memperbaiki keadaan.  

Hal pertama yang harus dilakukan adalah membuka jalan bagi air sungai. Sebelumnya, ada upaya untuk mengeringkan lahan dengan membangun parit maka kali ini parit tersebut ditutup agar ada genangan. Air yang menggenang disukai oleh kerbau. Mereka akan senang jika ada kubangan di tengah-tengah lahan yang basah. Ini bukan hanya dimaksudkan untuk memanjakan kawanan hewan bertanduk tersebut. Genangan air berfungsi untuk membuat lahan selalu basah sehingga terhindar dari kebakaran. Dengan lahan basah, diharapkan biji-bijian akan tumbuh dengan sendirinya.

Karena menggembala kerbau di lahan basah, maka memiliki sampan menjadi keharusan. Bila perlu, membangun pondokan di tengah hutan sebagai persiapan untuk menghadapi cuaca terik atau hujan. Kawanan kerbau diajak hingga ke hutan yang baru agar mereka bisa meninggalkan kotoran sebagai pupuk. Bahkan, bila perlu pembangunan kandang berada jauh dari permukiman. Berharap, mereka membuat kubangan lumpur andaikan musim kemarau tiba. Kubangan itulah cikal bakal terbentuknya danau-danau di tengah hutan. 

Saya membayangkan jika menggiring kawanan kerbau menjadi hiburan tersendiri bagi peternak. Kala senja, semburat cahaya mentari menghiasi lanskap yang bisa menjadi objek fotografi dan videografi yang menarik. Bagi mereka yang tertarik untuk menonton, bisa berwisata murah di sana. Bukan hanya kawanan kerbau, bangau dan burung-burung air pun turut serta menjadi penghias ekosistem yang sedang memperbaiki diri tersebut.

Apa yang sedang saya impikan ini berasal dari pengalaman sederhana. Di kampung kami, air bisa menjadi pemicu bagi banyak hal. Selain bertugas membantu pertumbuhan padi, air pun menjadi sumber kehidupan bagi kawanan burung. Di sana, katak, ikan, dan serangga sebagai sumber pakan mengundang hewan liar untuk mampir bahkan bersarang. Apabila konsep sederhana ini diterapkan pada lahan sawit yang sudah tidak produktif maka tutupan hutan kembali terbentuk dengan sendirinya. 

Pada dasarnya, tugas manusia hanya menjaga. Membiarkan makhluk hidup berkreasi sendiri sebagai upaya agar ekosistem tetap lestari. 

 

Senin, 27 Juli 2026

Cara Berpikir Petani Berbeda dengan Pedagang

Akhir-akhir ini, warga desa direpotkan oleh serangan hama tikus. Jumlah mereka tak terhingga sampai tak tahu harus berbuat apalagi demi menghadapi gerombolan makhluk pengerat itu. Namun, dalam tulisan ini saya bukan hendak membahas hama. Justru, saya tertarik bagaimana petani di desa kami menanggapi ini. 

Sejak lama, saya memang tertarik untuk mengulik kehidupan petani. Bagaimana seorang petani berpikir, bekerja, dan ada saatnya untuk berencana. Pada dasarnya, selalu tertarik kepada isi mental manusia. Khususnya petani, kami tak memiliki kurikulum khusus untuk membangun kerangka berpikir. 

Saya sempat kebingungan untuk menentukan cara berpikir. Kebingungan pula bagaimana menanggapi kenyataan yang tersaji di hadapan. Manusia seakan dihadapkan kepada kenyataan begitu saja. Lantas, tidak tahu harus melakukan apa. Tidak ada filosofi yang menjadi dasar berpikir, justru semakin bingung ketika terlalu banyak manusia bicara di luar sana.

Dalam hal ini mari kita membicarakan bagaimana petani menanggapi situasi. Seorang petani sering dihadapkan kepada cuaca yang tidak menentu, ditambah hama yang senantiasa menyerang tanaman. Sebagaimana dalam kasus di kampung saya, tikus telah mengurangi hasil panén secara signifikan. Ternyata, kami tetap dikasih pilihan untuk menanggapi kenyataan. Menerima dengan lapang dada atau menyesali keadaan, pilihan ada di tangan. 

Setelah membaca banyak buku dan artikel, ada hal menarik mengenai "tanggapan atau respon" kita sebagai diri. Mari perhatikan ilustrasi sederhana di atas. Ketika ada rangsangan atau stimulus, ternyata ada wilayah dimana seorang manusia punya pilihan untuk memberikan tanggapan.  

Kebebasan untuk memilih tanggapan ini sebuah keistimewaan.

Saya pun baru paham, proses berpikir berkaitan erat dengan respon seseorang terhadap stimulan dari lingkungan. Ini pelajaran sederhana yang telah disampaikan oleh guru biologi. Ada seekor binatang yang melihat dengan samar satu sosok yang dianggap sebagai predator. Sang binatang memiliki waktu sepersekian detik untuk berpikir, berlari atau akan berakhir sebagai mangsa nan malang.

Begitupun manusia, tatkala merespon tantangan alam dan tantangan zaman senantiasa diajak untuk berpikir.

Mari kita perhatikan diri kita sendiri. Bangun di kala pagi, sering dihadapkan oleh tuntutan profési, keluarga yang meminta perhatian, atau malah--sebaliknya--kesendirian. Sudah menjadi hak istimewa manusia untuk menanggapi setiap keadaan berbeda tersebut. Andaikan dia memberikan tanggapan yang tidak tepat maka tak heran akan dianggap sebagai hari yang buruk.

Tak ada hari yang buruk bagi mereka yang memilih untuk menilai jika hari ini sebagai sebuah tantangan. Tak ada hari yang sia-sia jika memilih untuk menilai hari ini sebagai ruang belajar yang sempurna. Memang terdengar sebagai usaha untuk "lari" dari realita. Namun, bagi saya berbeda.

Lari dari kenyataan benar-benar tak ingin memikirkan situasi. Banyak manusia seperti ini. Sedangkan memilih tanggapan adalah menyiapkan otak dan otot untuk menyesuaikan diri. Memang keadaan bisa menjadi tak terkendali, bukan berada di kendali kita sebagai individu. Sekali lagi, manusia memiliki keistimewaan untuk memberikan tanggapan yang proporsional.

Oke, sekarang mari kita kembali membicarakan perbedaan cara berpikir petani dengan cara berpikir para pedagang; janji sebagaimana judul blog ini. Tentu bukan membedah respon keduanya akan perkara teknis. Jelas berbeda.

Saya berusaha untuk menyoroti bagaimana respon petani ketika menghadapi kerugian. Tidak seperti pedagang, tidak akan mengganti komoditas. Bagaimana bisa petani mengganti varietas yang hendak ditanam padahal begitu dibutuhkan warga.

Sudah sejak lama saya penasaran akan isi pikiran petani ketika merespon kerugian. Ketika memilih untuk memandang kerugian sebagai bentuk pasrah, mungkin ada yang menyimpulkan ini sebagai pikiran yang rendah. Hanya saja, apabila diperhatikan dari sisi lain sikap ini merupakan bentuk respon untuk tidak memilih marah. Kerugian bisa dianggap sebagai pola yang mungkin ada selain keuntungan.

Memang tidak akan ada titik temu apabila seorang pedagang dan petani berdiskusi tentang kerugian. Petani tidak menggunakan matematika dalam merespon untung-rugi. Apalagi semata dikonversi dengan uang. Begitu sulit rasanya untuk memperoleh keuntungan andaikan semua petani berpikir demikian.

Sekarang, mari kita berandai jika tengah menjalani suatu profesi. Seorang petani yang serba unik di satu hari kemudian beralih menjadi pedagang di hari lain.

Hal yang mesti dipersiapkan bukan hanya modal, tetapi juga mental. Cara berpikir seseorang tatkala menjalani profesi tertentu--saya yakin--bisa membawa orang tersebut kuat ketika menghadapi tantangan. Begitupula, hari ini seorang petani mesti harus siap untuk hari yang menguntungkan sekaligus merugikan dalam satu waktu. Apabila hasrat untuk menanam terhenti, sangat dikhawatirkan manusia akan kehilangan sumber pangan. Petani tidak bisa pergi dari lahan bahkan ketika profesi lain sedang menikmati liburan.

_____________

Buku bacaan:

Man's Search of Meaning, Victor Frankl, 1946.

The 8th Habit: From Effectiveness to Greatness, Stephen Covey, 2004.





Sabtu, 21 Februari 2026

Ketidakberdayaan Orang Tua Menyediakan Lapangan Kerja untuk Generasi Selanjutnya

Saya mulai dengan persepsi manusia akan waktu. Tanpa mengesampingkan faktor lain, kiranya persepsi akan waktu ini menjadi sebab mendasar ketika satu generasi tidak sanggup menyediakan lapangan kerja untuk generasi penerus. Bagaimanapun, waktu yang terus berjalan hingga berganti generasi mesti bisa "digapai" agar bisa mengerti apa yang dibutuhkan manusia lain setelah satu orang manusia tiada di dunia. 


Jika kita beranggapan bahwa waktu tidaklah selesai setelah mati, maka tidak akan segera menganggap pekerjaan pun selesai. Setelah mati, waktu akan tetap berlanjut walaupun dalam bentuk yang berbeda. Kematian hanyalah dimensi lain bagi satu orang tetapi masih dimensi yang sama bagi orang yang berbeda.

Banyak warga yang menganggap jika waktu "berulang" sebagaimana roda berputar. Titik yang semula berada di bawah akan turun kembali ke bawah apabila telah selesai berada di atas. Bagi saya, waktu merupakan proses yang linier selayaknya sebuah garis. Tidak ada momen untuk mundur atau turun kembali ke bawah selayaknya roda. Karena waktu tak memiliki momen "memulai kembali" maka seharusnya berpikir jika apa yang dikerjakan hari ini untuk menyambut waktu selanjutnya.  

Peta jalan atau rencana, saya pikir itulah hal yang tidak ada dalam benak para orang tua. Banyak orang yang menyangka jika kehidupan di dunia terjadi begitu saja. Menerima takdir tanpa berpikir jika takdir bisa diubah, atau merasa jika Tuhan-lah yang memiliki rencana sedangkan manusia tidak berhak untuk memiliki rencana. Seakan lancang jika manusia punya rencana. Padahal, membuka lapangan kerja merupakan bagian dari sebuah rencana besar dalam mengarungi masa. 

Ketiadaan rencana ini bisa menjadi jawaban atas pertanyaan, kenapa Bapak saya tidak pernah menyampaikan cita-cita masa depan kepada anak-anaknya?  

Sebuah cita-cita dianggap sebagai sebuah angan-angan. Padahal, rencana dan cita-cita bisa dibilang sebagai bentuk "penyerahan proposal" kepada Yang Maha Kuasa. Jika manusia dianggap tak pantas memiliki rencana, bukankah manusia boleh untuk menyampaikan sebuah pengajuan dalam bentuk doa. Hubungannya dengan pembukaan lapangan kerja, tentu hal ini pun sebagai bentuk upaya pertama untuk penyediaannya. Sesaat sebelum pekerjaan yang dicita-citakan kaum muda tercipta maka kaum tua mesti punya gambaran dalam kepala.  

Nah, membuat gambaran dalam kepala itu bukan perkara mudah. Membutuhkan wawasan yang luas agar seorang insan bisa menghubungkan setiap gejala alam sehingga diperoleh kebermanfaatan bagi manusia. Andaikan seorang lelaki turun dari helikopter dan kakinya menapaki tanah di hutan. Berdasarkan wawasan yang dimiliki, tidak akan ada kebingungan. Dia tahu apa yang harus dilakukan. Andaikan kala itu tidak ada seorang pun yang turut membantu, maka kepalanya akan menuntun tangan dan kaki untuk melakukan sesuatu.

Ini ada hubungannya dengan harapan yang tak pernah padam. Ketidakberdayaan muncul bukan hanya karena ketidaktahuan atau ketiadaan modal, ketidakberdayaan pun muncul ketika sekumpulan manusia kehilangan harapan. Saya pikir semua orang akan setuju jika pengharapan justru menjadi modal utama sebelum sebuah generasi memegang modal produksi untuk membangun usaha. Memang benar jika harapan merupakan sesuatu yang abstrak, sedangkan modal produksi adalah benda kongkrit. Namun, berdasarkan pengamatan saya selama ini justru ketiadaan benda abstrak inilah penyebab tidak terbentuknya usaha untuk menyediakan lapangan kerja. Saya pikir, ketidakberdayaan senantiasa berkelindan dengan ketiadaan pengharapan. 

Kalau semua orang berpikir tentang akumulasi modal, maka modal yang dimaksud tidak akan terkumpul. Kenyataannya modal bisa dikatakan sebagai barang langka. Namun, cita-cita dan harapan bukan barang langka. Semuanya ada di dalam kepala. 

Senin, 12 Januari 2026

Bagaimana Orang Jawa Berpikir dan Bertindak, Perlu Ditiru Warga Desa

Akhir-akhir ini saya membaca buku Etika Jawa karya dari Franz Magnis Suseno, memperoleh sebuah pengetahuan baru tentang bagaimana orang-orang Jawa berpikir. Sebagai orang Sunda, pengetahuan ini sesuatu yang menarik dan dianggap berguna. Jika selama ini kesulitan untuk membuat kerangka berpikir sebagai warga desa, mungkin etika orang Jawa bisa saya terapkan.

Mengapa kesulitan membuat kerangka berpikir? 

Alasannya, orang tua di lingkungan kami tidak memberikan "bekal mental" dalam mengarungi zaman malah menyerahkan cara untuk bersikap kepada lembaga pendidikan. Sebagaimana diketahui, pendidikan di dalam negeri tidak serta menganut ide-ide asli dari budaya sendiri. Ah, membicarakan pendidikan harus ada kesempatan lain, Blog ini terlalu pendek untuk menulis permasalahan yang sangat kompleks.

Sebagai manusia pedesaan, kerangka berpikir teramat penting. Bukan hanya penting, tetapi butuh. Bahkan, menurut saya terasa mendesak di tengah gempuran informasi yang terlampau banyak dari hari ke hari. Apabila orang desa tidak memiliki kerangka berpikir, saya khawatir warga malah menjadi orang-orang yang mudah terombang-ambing keadaan. Ketika dirasa rugi, menyalahkan orang lain padahal diri sendiri tak punya pendirian.  

Selanjutnya, kenapa Jawa? Jawabannya sederhana saja, etika Jawa terbukti bisa digunakan pada banyak bidang serta terbukti pula sesuai dengan kebutuhan. 

Satu hal yang perlu disorot, keselarasan. Dalam buku tersebut, etika Jawa senantiasa mengedepankan keselarasan tatkala mengambil keputusan. Keputusan dalam apa saja. Sederhananya, jangan sampai ada konflik. Mungkin itu pula alasan jika pengamat politik menyarankan untuk menerapkan etika politik ala Jawa dalam skala nasional. Dengannya, sudah terbukti jika negeri ini minim sekali konflik horizontal padahal dihuni oleh begitu banyak suku nan berbeda budaya. 

Kemudian, mari kita bicarakan bagaimana menerapkannya dalam kehidupan keseharian. 

Selama ini, saya diberikan pelajaran bagaimana bertahan hidup di desa. Sesuatu yang penting karena desa tidak hanya tentang gaya hidup slow living tetapi juga gaya hidup yang senantiasa dekat dengan alam. Ada hal lain yang belum saya peroleh yakni bagaimana harus berpikir sebagai orang desa. Realitanya, cara berpikir warga kota tidak bisa diterapkan di desa. Meskipun kecakapan teknis ada dalam setiap program pembelajaran orang tua kepada anak-anaknya, tetapi perkara-perkara nonteknis sering membuat kami kebingungan. Sikap responsif terhadap perubahan pun belum cukup apabila tidak memiliki prinsip kuat agar perubahan tersebut tidak berbalik menjadi mesin penggilas kehidupan.

Kami diajari bagaimana menanam padi di sawah, tetapi tidak pernah diajarkan bagaimana mempertahankan lahan persawahan agar tidak berubah menjadi tanah minim fungsi. 

Setelah membaca buku Etika Jawa, saya baru mengerti jika berpikir orang Jawa tidaklah selalu mengedepankan logika. Tidak semua hal bisa nyambung dengan logika. Adakalanya logika jadi tak berguna. Warga Indonesia memang dipaksa untuk berpikir dengan logika karena terlalu banyak elemen mistis dalam budaya. Namun, perkara demikian tidak selalu salah. Kenyataannya, logika malah membuat warga kebingungan.

Mari kita perhatikan désa sekitar. Siapa yang bisa menjawab dengan logika tentang masa depannya? 

Perhitungan seperti apa yang bisa digunakan untuk memprediksi masa depan, saya pikir warga tidak membutuhkannya. Apabila ada ilmu khusus yang bisa memprediksi masa depan suatu wilayah kemudian keputusan berdasarkan hasil perhitungannya, nampaknya hanya berlaku bagi ilmuwan di laboratorium. Sedangkan warga desa tidak memiliki perangkat untuk hal demikian. Warga hanya membutuhkan intuisi serta perhitungan berdasarkan naluri

Hanya saja, intuisi manusia tidak lahir begitu saja. Hal tersebut ada karena pengalaman begitu lama serta berlaku turun-temurun. Dan, budaya bisa menjawab segala kegelisahan manusia tentang masa depan--setidaknya untuk aspek tertentu. 

Ketekunan pun bisa lahir dari kerangka berpikir yang tepat. Tatkala manusia sudah tau perannya di dunia, maka secara sadar dia akan menjalankan peran tersebut. Pikiran untuk menyalahkan nasib sepertinya akan menjauh bahkan hilang. Dia tahu jika dunia memiliki aturan main sendiri sehingga tidak akan iri kepada manusia lain yang memiliki kelebihan atau keistimewaan. Seorang petani akan sadar dengan perannya. Begitupun kepala desa akan paham dengan tugasnya. Satu sama lain bukan saling menjatuhkan tetapi mendukung demi sebuah keselarasan.

Sebelum manusia menyadari perannya, maka tidak heran akan terus mencari hingga mati. Berpindah-pindah tempat, berpindah profesi, atau berubah haluan hidup berkali-kali karena kebingungan. Orang yang tekun tidak akan seperti itu. Sedangkan perdesaan membutuhkan manusia yang memiliki tujuan. Adapun penyesuaian terjadi sekedar menjaga keselarasan bukan karena ikut-ikutan.

Menahan diri, juga hal lain yang menarik perhatian dalam etika Jawa. Demi keselarasan dan menghindari konflik maka menahan diri untuk tidak meluapkan emosi serta ambisi bisa menjadi jalan yang terbaik. Hal ini pula yang bisa menjawab keheranan saya ketika orang Jawa begitu kuat untuk mencapai cita-cita tetapi tidak tampak ambisius. Perihal menahan diri pun bisa menjadi cara untuk beradaptasi di tengah situasi yang serba baru, atau tidak menentu. Andaikan manusia tak bisa menahan diri serta mengedepankan isi pikirannya agar teraktualisasi, keselarasan bisa terganggu. Tatanan menjadi kacau, cita-cita bersama pun jauh dari tercapai.  

Hal penting lainnya yang perlu ditiru oleh warga désa di mana pun adalah cara pandang jika kehidupan tidak berpusat pada manusia (antroposentrisme). Sikap antroposentris ala Barat masa kolonial tidak berlaku bagi orang Jawa. Manusia harus selaras dengan alam. Warga desa pun diajak untuk memanfaatkan potensi alam sekedarnya saja, sesuai dengan kebutuhan. Tidak ada keserakahan yang tampak di permukaan. Saya pikir, sikap demikian sangat diperlukan apabila seorang menusia ingin menjadi pribadi yang memuaskan secara mental dan finansial. 

Terakhir, ketentraman spiritual pun akan datang dengan sendirinya tatkala memiliki jalan pikiran yang ajeg. Sebuah etika lahir dari rahim budaya yang kompleks tetapi berguna. Andaikan dirasa memiliki perbedaan dengan cara pandang yang dianggap lebih kekinian, percayalah jika orang Jawa telah lama membuktikan kebergunaannya.

Rabu, 17 Desember 2025

Budaya Berpikir Masyarakat Desa

Jika berpikir itu permainan, mungkin akan terasa menyenangkan.

Sayangnya, saya memperoleh doktrin jika kegiatan berpikir bukanlah bentuk permainan. Berpikir merupakan sesuatu yang serius, dianggap berbeda dengan permainan. Kata permainan identik dengan kesenangan dan membuang-buang waktu. Dalam bayangan, permainan identik dengan sepakbola, catur, atau gim video. Sedangkan berpikir senantiasa identik dengan logika matematika dan hitung-hitungan.  

Kegiatan ini bukanlah menjadi bagian dari budaya kami. Entah sejak kapan, masyarakat kami tidak dibentuk oleh prosés berpikir. Bahkan, mendengar kata "berpikir" pun terkesan berat serta jauh dari jangkauan. 

Menurut KBBI pengertian berpikir adalah menggunakan akal budi untuk mempertimbangkan dan memutuskan sesuatu; menimbang-nimbang dalam ingatan. Saya merasa tidak puas dengan pengertian berpikir sebagaimana demikian, belum bisa menguraikan bagaimana prosés berpikir hingga mencapai hasil akhir. Saya pun membuka sebuah artikel dari Kompas yang merangkum pengertian berpikir dari beberapa ahli.  

Dari begitu banyak pengertian, saya menyoroti dua hal, yakni informasi/pengetahuan yang tersimpan di otak dan pengolahan informasi tersebut.

Jika berpikir dianggap sebagai kegiatan mengolah informasi, lantas mengapa orang enggan untuk mengumpulkan informasi?

Padahal, media massa sudah tersedia sejak lama. Bahkan, sampai hingga ke desa-desa. Lantas, apakah informasi yang tersedia dijadikan bahan untuk berpikir? 

Hingga saat ini saya masih penasaran mengenai hal seperti apa yang bisa memantik warga untuk berpikir. Andaikan lingkungan tidak mendesak untuk berpikir, tampaknya tak ada keinginan untuk segera menggunakan otak. Andaikan berpikir harus dikenai biaya, sungguh bisa dipahami jika tak tertarik untuk melakukan kegiatan mental tersebut. Namun, jika berpikir begitu murah bahkan gratis masih saja tidak tertarik. 

Saya pun berkesimpulan, jika berpikir akan menjadi kegiatan rutin andaikan warga memiliki sebuah tujuan. Tujuan akan menjadi bahan bakar untuk kegiatan berpikir. Coba bayangkan jika seorang manusia tak memiliki tujuan, maka bisa dimengerti jika sekedar ikut-ikutan. Permasalahannya, tidak semua orang memiliki tujuan memajukan dan mengembangkan kehidupan di desanya. Sekian banyak orang akan segera meninggalkan desa sesaat setelah dia dewasa dan merasa mampu hidup mandiri.  

Tatkala menuju satu tujuan, berpikir selalu menjadi panglima. Terkadang lupa menggunakan perasaan, intuisi, dan tradisi. 

Saya tahu jika berpikir menjadi ciri masyarakat modern, sebuah masyarakat yang diidamkan oleh banyak orang. Para penganut kemajuan, menganggap jika semua aspek kehidupan bermasyarakat ditata secara rasional berdasarkan analisis.

Pengambilan keputusan dalam berbagai hal didasarkan kepada kerangka arguméntasi yang didukung penalaran yang kuat. Kekuatan berpikir akan bersifat dominan dan mendesak ke belakang (bahkan meninggalkan jauh) cara penarikan kesimpulan berdasarkan intuisi, perasaan, dan tradisi. Perlu ditanyakan, bahwa masyarakat modern pun memberi tempat bagi intuisi, perasaan, dan tradisi. Namun, peranan ketiga sumber pengetahuan ini menjadi rélatif kurang penting dibandingkan dengan berpikir. 

Jika diperhatikan, keadaan masyarakat di berbagai tempat yang saya jumpai tidak selalu menjadikan berpikir sebagai cara utama untuk pengambilan sebuah keputusan. Dalam masyarakat sekarang, keadaan ini bersifat terbalik dimana justru intuisi, perasaan, dan tradisi itulah yang bersifat dominan. Peranan berpikir belum mendapat tempat dengan prioritas yang relatif rendah.   

Akan ada perdebatan panjang tentang peran intuisi tatkala berpikir. Masyarakat desa yang sudah terbiasa menggunakan intuisi ketika memutuskan sebuah perkara akan bertentangan dengan cara berpikir logis analitis. Saya tidak menolak intuisi, perasaan, dan tradisi yang melingkupi proses berpikir. Hanya saja, tidaklah mudah memilih dan memilah poin mana yang layak diikutsertakan selama pengambilan keputusan. 

Coba perhatikan, ketika seorang warga sedang memikirkan masa depan anaknya maka banyak hal yang harus dijadikan bahan pertimbangan. Mungkin dia akan mengikuti tradisi dimana seorang lelaki diharuskan merantau selayaknya pergi berperang. Sedangkan perempuan tetap menjadi penunggu rumah hingga ada lelaki yang meminangnya. Si orang tua pun akan mempertimbangkan perasaan tidak tenang andaikan melepaskan anaknya untuk pergi jauh padahal kepergian tersebut demi menempuh pendidikan yang menjadi kebutuhan. Terlebih, secara intuisi sang orang tua tidak yakin jika anaknya akan mengalami keberhasilan. 

Kegiatan berpikir untuk mengambil keputusan dan menyelesaikan masalah ini tidak sepenuhnya menggunakan logika. Itu wajar saja, seberapa banyak peran perasaan, intuisi, dan tradisi juga hal penting. 
 
Saya selalu kagum kepada orang yang memiliki rentang berpikir yang panjang. Dia bisa memikirkan rencana hingga ke masa depan yang jauh sekaligus bisa menjalankan rencana tersebut secara bertahap. Pola sebab-akibat senantiasa menjadi bahan pertimbangan. Andaikan melakukan ini, maka akan terjadi begini. Apabila tidak melakukan itu, maka akan begitu. Sayangnya, tidak mudah pula memahami sebab akibat itu apabila manusia minim mengumpulkan pengetahuan. 

Membutuhkan ketekunan untuk mengumpulkan pengetahuan. Membutuhkan waktu banyak agar koleksi informasi menumpuk di otak. Dan, ketekunan merupakan sesuatu yang mahal di zaman sekarang. 

Sayangnya, sekolah tidak selalu membuat orang berpikir menggunakan akalnya. Sekolah yang mengajarkan logika, bisa saja masih kalah berguna dengan budaya setempat yang masih enggan mengedepankan logika. 

____________________________
Sumber:
Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer, Jujun S. Suriasumantri, Jakarta: Pustaka Harapan, (2013).

Senin, 01 Desember 2025

Sudah Ada Bahan di Alam, Kreatifitas yang Tidak Ada

Memunculkan kreatifitas ternyata susah.

Saya selalu kagum kepada bangsa yang bisa mengubah alam liar menjadi peradaban yang maju. Mereka datang dari tempat yang jauh ke tempat yang tak tersentuh. Awalnya daerah hutan belantara, bertahun-tahun kemudian berubah menjadi kota. Bagaimana caranya semua itu bisa terjadi? 

Menurut Napoleon Hill, semua yang terjadi di dunia ini berawal dari pikiran manusia. Saya pun merasa jika perubahan yang terjadi berawal dari dalam pikiran. Masalahnya, bagaimanakah seharusnya kita berpikir agar peradaban itu bisa terwujud? Bagaimanakah seharusnya kita berpikir agar lanskap yang semula tak tersentuh manusia kini menjadi sumber kehidupan yang bermanfaat?

Apakah ada hubungannya antara sikap inferior warga desa dengan kreatifitas yang tumpul? 

Sebelum kreatifitas muncul, seharusnya kita bertanya kepada diri sendiri, "apa tujuan hidup kita di dunia?" Jika pertanyaan demikian terlalu luas untuk sebuah jawaban, maka kita turunkan dengan menjawab pertanyaan, "apa tujuan hidup kita di desa?"

Saya setuju jika ada orang yang bilang apabila tujuan hidup penting. 

Tidak selamanya kesempatan datang, kadangkala harus diciptakan. Tidak selalu hidup bisa mengalir begitu saja, mengikuti arus kalau ternyata arus tidak cukup deras untuk membawa kita ke muara. Andaikan saat ini kita sedang berada dalam sebuah perahu, tepat di tengah sungai yang berarus deras maka cukup yakin akan sampai di muara impian. Namun, bagaimana jadinya jika saat ini tak ada arus yang membawa untuk sampai di muara? 

Tentu saja harus berpikir bagaimana caranya perahu bisa melaju. Entah menggunakan dayung atau mesin tempel.

Tidak ada alasan untuk menerapkan filsafat fatalisme di tengah abad 21 yang penuh tentangan. Filsafat nerimo atau terima nasib ini meredupkan gairah, menghancurkan ambisi. Selanjutnya, mendatangkan kemalasan untuk berpikir. 

Saya merasakan sendiri, jika kemiskinan bisa membuat orang enggan untuk mengubah diri. Seakan strata sosial yang diembannya sebuah kutukan yang tak mau diubah. Masalahnya, bukan sekedar jumlah harta yang tak bertambah tetapi sikap toleransi terhadap kemalasan dan keengganan untuk menata diri. Seakan-seakan orang miskin boleh hidup berantakan, compang-camping, dan hidup tanpa aturan. Orang miskin terlanjur menerima cap jelek sejak masa kolonial. 

Tidak perlu penelitian untuk bagaimana cara berpikir orang miskin. Keluarga kami bagian dari sekian juta orang miskin di Indonesia. Entah apa kriteria orang miskin menurut Badan Pusat Statistik, pokoknya keluarga saya dilabeli miskin. Namun, bukan berarti menjadi orang yang enggan untuk berpikir. 

Ingat, kemiskinan bukan berarti alasan bagi kemalasan untuk berpikir. 

Anak-anak harus disekolahkan, bagaimana keadaan ekonomi keluarganya. Alasan yang bisa diterima jika bersekolah sebagai cara untuk keluar dari jerat kemiskinan. Sayang, hal demikian tidak selalu berhasil. Ada banyak hambatan--selain pendidikan--apabila lingkaran kemiskinan susah terentaskan. Lantas, pada akhirnya diserahkan kepada setiap individu untuk menyelesaikan masalahnya sendiri.

Kata orang, sekolah bisa mengasah ketajaman berpikir seseorang. Sayang, siswa yang dijejali hafalan malah menumpulkan pikiran. Orang demikian tidak terangsang untuk berpikir. Bagi mereka, belajar adalah suatu proses yang membosankan bukannya menyenangkan. Saya pun mengira jika kebosanan inilah yang membuat kreativitas tidak muncul ke permukaan. Katanya, kegiatan yang berulang dan membosankan bisa membuat orang tidak kreatif. Tidak terangsang untuk melakukan sesuatu yang baru. Begitu pula keadaan yang begitu tenang tanpa rangsangan. 

Sekolah telah usai dilaksanakan, kini berdiri menatap tepat di bingkai pintu. Apa yang harus dilakukan? Berdiam diri saja atau melakukan sesuatu, tentu dengan sebuah tujuan.

Jika kamu melihat sekeliling, alam pedesaan gitu meninabobokan. Justru berbanding terbaik dari penjelajah yang tadi saya bicarakan, melihat alam liar seakan sebuah potensi besar yang harus dioptimalkan kebermanfaatannya. 

Kalau orang kreatifitas itulah yang melihat sesuatu yang tampak tidak berguna atau setidaknya terlihat biasa saja akan menjadi sesuatu yang luar biasa. Pada fase inilah kreativitas sangat dibutuhkan. Saya pikir tidak bisa kalau alam hanya dibiarkan begitu saja tanpa dimanfaatkan sebagaimana mestinya. Sekali lagi, seharusnya alam merangsang manusia untuk berpikir. Kalau bukan alam, lantas siapa yang merangsang manusia untuk berpikir?

Sabtu, 22 November 2025

Menyambut Jalan Tol Getaci

Jika ingin makmur, maka bangunlah jalan raya.

Ungkapan tersebut adalah pepatah kuno Tiongkok yang populer di kalangan warga desa di wilayah-wilayah pegunungan terpencil. Saya membaca dari Halaman Facebook Xinhua, sebuah berita tentang pembangunan jalan raya telah menjadi prioritas dalam upaya pengentasan kemiskinan di Cina. Pepatah Cina tersebut sepertinya bukan hanya berlaku bagi orang sana. Membangun jalan memang sebuah keharusan. Di mana pun manusia berada maka membangun jalan sebuah keniscayaan, kebutuhan untuk mobilitas, keterbukaan informasi, dan ekspansi. 

Gambar: Antara via Pikiran Rakyat

Ketika mendapati berita tentang pembangunan jalan tol Gedebage-Tasikmalaya-Cilacap saya hanya ingin tahu bagaimana persepsi  warga. Apakah hal yang terpikir dalam benak warga sama dengan apa yang ada dalam pikiran saya tentang betapa pentingnya sebuah pembangunan jalan tol.

Jika orang Cina menganggap pembangunan jalan raya sebagai sebuah cara untuk mencapai kemakmuran maka saya merasa jika banyak warga yang berpikir sebaliknya. Jangan-jangan warga tidak menyambut gembira dengan rencana pembangunan ini. Walaupun begitu kita harus bisa melihat dari sudut pandang orang-orang tersebut. Lumrah saja jika pembangunan selalu menuai pro dan kontra. Atau, banyak pula warga yang menyambut gembira sebagaimana saya pun menganggap baik rencana pembangunan yang telah digadang-gadang sejak lama.

Saya selalu berusaha untuk optimis ketika menyambut sebuah proses pembangunan. Niat baik pemerintahan harus kita apresiasi. Sebuah tujuan baik harus kita dukung. Toh, ini pun untuk kebaikan bersama. Apabila tanpa dukungan, proyék besar seperti ini tidak akan bermanfaat bagi banyak orang.

Sikap optimis ketika menyambut pembangunan jalan tol ada karena membayangkan manfaat besar yang akan timbul. Apabila ada jalan tol, produk dari desa bisa diedarkan dengan mudah. Meskipun warga desa jauh dari pusat pemasaran, kehadiran jalan tol mempermudah barang untuk berpindah tangan. Masalah kesulitan pemasaran, setidaknya bisa teratasi dibandingkan tidak ada jalan tol bahkan tidak ada jalan raya sama sekali.

Saya berpikir jika jalan raya merupakan jalur koneksi untuk setiap daerah. Bayangkan apabila daerah terpencil yang jauh dari kota besar tidak dihubungkan oleh jalan raya yang baik. Andaikan sudah ada jalan, kalau rusak atau sempit bisa menyulitkan aktifitas perdagangan. Ongkos tranportasi yang mahal bisa membuat pengusaha enggan untuk berinvestasi di daerah terpencil tersebut. Padahal, potensi daerah senantiasa ada, sekecil apa pun.

Bayangkan sebuah daerah pedesaan yang semula sepi dari kegiatan ekonomi. Ketika warga desa menyaksikan sendiri kemudahan untuk memasarkan produk, saya yakin jiwa entrepreneur warga pun akan bangkit dan berkembang lebih besar. Niat warga untuk membuka usaha di kota bisa dibatalkan atau dialihkan dengan membuka perusahaan desa sendiri. Saya membayangkan betapa denyut nadi kehidupan akan lebih kencang dari sebelumnya. 

Apa yang saya bayangkan ini sejalan dengan pendapat para ekonom. Salah satunya menurut Faisal Basri, infrastruktur menopang percepatan pembangunan dan pertumbuhan ekonomi. Peningkatan stok infrastruktur merupakan salah satu persyaratan mutlak. Perbaikan infrastruktur juga menjadi faktor sangat penting untuk meningkatkan kualitas pertumbuhan dan memadukan berbagai potensi sumber daya sehingga daya saing perekonomian terus mengalami peningkatan. 

Walaupun, sejujurnya, saya pun punya kekhawatiran. Namun, bukan kekhawatiran tak beralasan. 

Ini perkara pemerataan pembangunan yang dilematis. Otto Soemarwoto pernah mencatat jika di dalam ekologi ada hukum yang menyatakan, apabila dua ekosistem yang berbeda tingkat perkembangannya berhubungan satu sama lain, terjadilah tukar-menukar materi, energi, dan informasi di antara keduanya. Namun, tukar-menukar materi, energi, dan informasi itu asimetris, yaitu arus dari ekosistem yang lebih berkembang ke ekosistem yang kurang berkembang ternyata lebih kecil dari yang sebaliknya. 

Jadi, yang lebih berkembang mendapatkan keuntungan yang lebih besar dari hubungan itu dibanding dengan ekosistem yang kurang berkembang. Dalam ekologi dikatakan ekosistem yang kurang berkembang dieksploitasi oleh yang lebih berkembang. Tingkat perkembangan ekosistem itu dapat diukur dari tingkat organisasi dan keanekaragaman, dan dalam ekosistem manusia juga dari tingkat pendidikan dan keterampilan. 

Dalam hal ini pembangunan jalan tol untuk menghubungkan kota dan desa. Membangun jalan itu sebenarnya membangun dua sarana yang saling bertentangan sekaligus, yaitu sarana pembangunan dan sarana eksploitasi desa oleh kota. Jalan tol memang sarana pembangunan, kita sadari itu tetapi kita tidak menyadari dia itu pun sebagai sarana eksploitasi. Akibatnya, walaupun desa dapat tumbuh, laju pertumbuhan desa lebih pelan dari kota dan kesenjangan antara keduanya semakin besar. Apabila eksploitasi terlalu intensif bahkan dapat terjadi desa malahan mundur dan akhirnya dapat ambruk. 

Walaupun desa tidak ambruk, kesenjangan yang terlalu besar akan menimbulkan pula keresahan yang dapat meledak. Ledakan itu dapat menyebabkan keambrukan desa dan kota. Karena itu kesenjangan merupakan unsur penting dalam menentukan kemampuan lingkungan untuk mendukung pembangunan. 

Resiko yang dihadapi oleh penduduk lokal pun adalah besar. Antara lain, hilangnya sumber mata pencaharian, ketegangan sosial, dan pencemaran. Misalnya, karena lahan dipakai untuk pabrik buruh tani kehilangan pekerjaannya tetapi mereka tidak menerima ganti rugi. Demikian pula buruh pengangkut hasil pertanian dan pedagang hasil bumi kehilangan sumber pendapatannya tanpa menerima ganti rugi. 

Dengan kedatangan orang dari daerah lain yang mempunyai latar belakang kebudayaan yang berbeda kenaikan kepadatan penduduk dan tingkat pendapatan yang berbeda antara pendatang dan penduduk lokal, terjadilah ketegangan sosial. Salah satu gejala fisik tentang adanya ketegangan sosial ialah naiknya tekanan darah di kalangan penduduk lokal. Konsentrasi buruh yang terpisah dari keluarganya sering memerlukan masalah prostitusi dan perjudian, yang selanjutnya meningkatkan kriminalitas. 

Karena judul artikel ini dibubuhi dengan kata menyambut, maka saya pikir warga harus memiliki persiapan. Sebagaimana yang sering disampaikan banyak pihak, kedatangan proyek pembangunan sekala besar harus dibarengi dengan pendidikan dan pelatihan penduduk lokal. Bentuknya beragam sesuai dengan potensi pribadi dan potensi daerahnya sendiri. Sehingga, pembangunan jalan tol ini benar-benar menguntungkan bagi daerah yang dilalui. Warga berlaku sebagai pemain bukan sekedar penonton.  

Saya sering memikirkan "jalan raya" sebagai sebuah latar dalam cerita. Jalan bisa menjadi penghubung antar adegan, bisa pula sebagai pengarah ke manakah cerita akan berlanjut. Apabila jalan raya yang saya bayangkan hanya akan ada dalam cerita fiksi, maka saat ini saya membayangkan jika jalan tol akan ada dalam kenyataan. Sebagaimana sebuah cerita, jalan tol tersebut mengarahkan warga untuk mencapai sebuah tujuan.

Daripada Pemerintah terus berkoar-koar tentang arah pembangunan. Maka membangun jalan raya sebagai instruksi monumental agar warga sadar ke manakah melangkahkan kaki. Tentu, melangkahkan jiwa pula.  

_________________________________

Sumber: 

Faisal Basri dan Haris Munandar, Lanskap Ekonomi Indonesia, Kencana, Jakarta: (2009)

Otto Soemarwoto, Ekologi Lingkungan Hidup dan Pembangunan, Djambatan, Jakarta: (1983)