Saya membaca sesuatu yang menarik perhatian dalam buku Santri dan Abangan di Jawa (Muchtarom, 1988). Ada kalimat yang tertulis jika masa dulu profesi pedagang dianggap sebagai pilihan buruk. Bagi saya ini mengherankan. Menurut idéologi Hindu, seorang pedagang hanya seorang makhluk tingkat yang lebih rendah daripada warga bangsa-bangsa yang lebih tinggi. Setelah membaca tulisan ini, jadi bertanya-tanya. Apakah Bapa saya tidak suka menjadi pedagang karena masih menganggap jika pedagang bukanlah profesi terhormat yang layak dicita-citakan? Saya tidak pernah diarahkan untuk menjadi seorang pedagang. Tak ada bahasa yang terucap dengan tegas jika kami harus menjadi pedagang. Lebih parah lagi, anak-anak tidak pernah diberi pelatihan tentang bagaimana menjalankan usaha perdagangan. Tak ada kegiatan transaksi jual beli. Bapa malah menghabiskan waktu dan energi anak-anaknya untuk menjalankan pekerjaan administratif. Padahal, keahlian seperti ini tidak bisa dipraktekk...
Tak ada yang salah dengan anak-anak yang belajar ilmu budaya tetapi tidak diterapkan dalam kehidupan nyata. Tak ada yang salah dengan guru setelah susah payah mengajarkan mereka untuk tetap melestarikan budaya. Saya berpikir demikian agar pembaca pun tidak memfokuskan diri pada proses pembelajaran di sekolah. Mari kita memusatkan pikiran pada cara pandang kita akan budaya dan ilmu budaya. Ilmu ini berguna atau tidak untuk kita, dari sanalah saya memulai pembahasan ini. Saya pernah mengalami masa dimana ilmu humaniora dianggap tak berguna. Lebih tepatnya, kami tidak tahu bagaimana memanfaatkan ilmu humaniora dalam kehidupan nyata. Saya pernah berpikir jika pengetahuan abstrak seperti ini tidaklah sanggup mengubah kehidupan. Bagaimana cara "mempraktekan" ilmu humaniora di sawah atau di pasar? Pelajaran ini begitu abstrak. Frustasi sempat menghinggapi pikiran. Namun, perkiraan saya salah. Humaniora senantiasa membahas masalah kemanusiaan. Itulah inti ajarannya...