Selasa, 11 Agustus 2026

Beternak Kerbau Rawa di Pinggiran Hutan Rawa

 

Kerbau Rawa
Kerbau Rawa di Kalimantan
(Sumber: Antara)
Saya punya rencana untuk mengembalikan fungsi lahan kebun sawit menjadi tutupan hutan dengan memanfaatkan peran kerbau rawa. Jika sebelumnya hutan "dikeringkan" untuk ditanami bibit sawit maka harus kembali "dibasahkan" dengan mengalirkan air sungai. Untuk keperluan pupuk dan sumber pendapatan warga maka kerbau rawa bisa menjadi alternatif. 

Dalam bayangan pikiran saya, akan ada lahan sawit yang tidak produktif lagi karena faktor usia tanaman. Dalam keadaan demikian, waktu yang tepat untuk segera mengembalikan fungsi hutan. Namun, saya tahu ini bukanlah usaha yang mudah. Penduduk akan lebih tertarik untuk mengalihkan fungsi lahan untuk sesuatu yang komersil. Hanya saja, mengembalikan fungsi hutan merupakan sebuah keharusan. Tentu tidak mengorbankan warga yang membutuhkan sumber pendapatan. 

Memelihara kerbau rawa adalah solusi. Ini dipilih karena beberapa alasan. 

Pertama, penduduk punya kegiatan untuk mengalihkan énergi dan waktunya khusus untuk memelihara kerbau. Dengan begini, keinginan untuk merambah hutan bisa dihilangkan setelah fokus beternak. 

Kedua, kerbau rawa merupakan agen penting untuk memelihara hutan. Mereka mampu menjaga hutan agar tetap lembab sehingga berguna untuk menumbuhkan kembali biji yang tercecer. Ditambah, feces kerbau membantu menyuburkan tanah untuk kembali menghidupkan hamparan lahan.  

Untuk alasan yang bersifat ilmiah, Anda bisa mencarinya di berbagai artikel dan jurnal yang tersedia secara gratis di internet. Saya hanya ingin menyampaikan betapa ide sederhana ini bisa dijalankan. Toh, orang-orang di Kalimantan sudah menjalankan tradisi memelihara kerbau ini sejak lama. Untuk ke depan, kita hanya perlu usaha untuk memperluas kebiasaan ini. 

Saya menganggap jika kerbau rawa bisa disebut sebagai agen bagi perubahan habitat. Para pengkritik lahan sawit bisa saja bicara banyak tentang dampak buruknya terhadap lingkungan. Namun, saya yakin jika kerbau tidak akan banyak bicara untuk perlahan memperbaiki keadaan.  

Hal pertama yang harus dilakukan adalah membuka jalan bagi air sungai. Sebelumnya, ada upaya untuk mengeringkan lahan dengan membangun parit maka kali ini parit tersebut ditutup agar ada genangan. Air yang menggenang disukai oleh kerbau. Mereka akan senang jika ada kubangan di tengah-tengah lahan yang basah. Ini bukan hanya dimaksudkan untuk memanjakan kawanan hewan bertanduk tersebut. Genangan air berfungsi untuk membuat lahan selalu basah sehingga terhindar dari kebakaran. Dengan lahan basah, diharapkan biji-bijian akan tumbuh dengan sendirinya.

Karena menggembala kerbau di lahan basah, maka memiliki sampan menjadi keharusan. Bila perlu, membangun pondokan di tengah hutan sebagai persiapan untuk menghadapi cuaca terik atau hujan. Kawanan kerbau diajak hingga ke hutan yang baru agar mereka bisa meninggalkan kotoran sebagai pupuk. Bahkan, bila perlu pembangunan kandang berada jauh dari permukiman. Berharap, mereka membuat kubangan lumpur andaikan musim kemarau tiba. Kubangan itulah cikal bakal terbentuknya danau-danau di tengah hutan. 

Saya membayangkan jika menggiring kawanan kerbau menjadi hiburan tersendiri bagi peternak. Kala senja, semburat cahaya mentari menghiasi lanskap yang bisa menjadi objek fotografi dan videografi yang menarik. Bagi mereka yang tertarik untuk menonton, bisa berwisata murah di sana. Bukan hanya kawanan kerbau, bangau dan burung-burung air pun turut serta menjadi penghias ekosistem yang sedang memperbaiki diri tersebut.

Apa yang sedang saya impikan ini berasal dari pengalaman sederhana. Di kampung kami, air bisa menjadi pemicu bagi banyak hal. Selain bertugas membantu pertumbuhan padi, air pun menjadi sumber kehidupan bagi kawanan burung. Di sana, katak, ikan, dan serangga sebagai sumber pakan mengundang hewan liar untuk mampir bahkan bersarang. Apabila konsep sederhana ini diterapkan pada lahan sawit yang sudah tidak produktif maka tutupan hutan kembali terbentuk dengan sendirinya. 

Pada dasarnya, tugas manusia hanya menjaga. Membiarkan makhluk hidup berkreasi sendiri sebagai upaya agar ekosistem tetap lestari.