Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2020

Menjaga Suasana Desa

Suasana desa yang khas harus selalu terjaga meskipun kultur suatu desa bisa berubah. Apabila tadinya desa itu berbasis pertanian kemudian berubah menjadi desa berbasis industri bukan berarti alam sekitarnya harus berubah. Hewan-hewan yang menjadi pembawa suasana itu harus tetap dilestarikan. Terutama burung yang bisa migrasi ke sana ke mari. Adanya perubahan kontur atau lanskap suatu desa, masih bisa dikunjungi si burung selama mereka nyaman hidup berdampingan dengan manusia. Kuntul adalah salah satu burung yang bisa hidup berdampingan dengan manusia. Saya membayangkan jika sekitar pemukiman ada danau buatan untuk kehidupan si kuntul. Jika sawah sudah tidak ada maka danau mesti ada sebagai tempat mereka mencari makan dan bersarang. Kita tidak usah membayangkan jika industrialisasi pedesaan mengubah kehidupan secara keseluruhan. Karena, bagaimanapun manusia industri perlu ditemani oleh teman lamanya yakni hewan-hewan dan tumbuhan. Jika nanti terpaksa harus membangun pabrik, maka menyedi...

Pembangunan Bukan Kerumunan

Ketika kita berkerumun bersama-sama orang-orang terdekat, diam saja tanpa bergerak maka itu tidak bisa disebut pembangunan. Pembangunan dimulai dari keterlibatan banyak pihak, walaupun tidak selalu serentak. Dalam pembangunan, perlu ada yang berperan sebagai penggerak dan yang digerakan. Jika semua bergerak begitu saja seperti suporter sepakbola, maka pembangunan tidak akan berjalan. Bagi kerumunan, sekelompok orang yang tidak terorganisir, maka pembangunan seperti gerakan spontan tanpa perencanaan. Padahal, pembangunan perlu landasan filosofis hingga perencanaan yang matang. Landasan filosofis berfungsi menggerakan sedangkan kerumunan bergerak tanpa landasan yang jelas. Kalaulah manusia hanya berduyun-duyun mengarungi zaman, apakah pembangunan akan berjalan? Lebah saja bisa memiliki pemikiran yang sama untuk membangun sebuah sarang, tetapi kenapa manusia sering sulit memiliki  visi yang sama untuk membangun bersama. Mari kita renungkan kembali tujuan kita hidup saling berdampingan...

Filosofi Dari Tingkah Alam

 Begitulah kenyataan yang saya saksikan di sekitar rumah. Buah mangga malah menjadi bahan makanan kelelawar. Dahulu, Bapa saya menanam pohon mangga untuk konsumsi keluarga tetapi keluarga satwa juga menikmati hasilnya. Ketika kita meniatkan "menanam" banyak hal maka sudah sewajarnya untuk dinikmati oleh orang lain bahkan makhluk lain. Ingat umur, karena inveatasi hari ini belum tentu bisa dinikmati hari ini juga.  Saya suka kagum pada cara berpikir orang Cina. Mereka suka memikirkan tiga generasi. Generasi dirinya, anaknya dan cucunya. Dengan begitu, apa yang dirasakan saat ini dan nanti adalah buah karya dari orang-orang menanam sebelumnya.

Berpikir Besar, Terlaksanakah?

Ilustrasi: aquariuslearning.co.id Memikirkan hal-hal besar dalam hidup, mungkin biasa bagi bangsa besar yang menguasai peradaban dunia. Hasil dari pemikiran besar mereka di masa lalu, kini sudah terwujud. Jadi, jika anak-cucu mereka berpikir jauh lebih besar ya wajar. Berpikir besar, bagi saya, belum menjadi bagian dari budaya keluarga. Kami masih disibukan dengan pemikiran bagaimana memenuhi kebutuhan dasar. Makanya, jangan aneh jika kebutuhan dasar sudah terpenuhi tidak ada lagi gairah untuk memikirkan atau melakukan hal lain. Pensiun. Imajinasi hari tua yang sejahtera dan bahagia memang menjadi tujuan banyak orang. Sayangnya, setelah pensiun ya _maaf_ hanya menunggu kematian. Nyaris tidak ada harapan untuk membangun warisan lebih besar kepada sanak keluarganya. Keberadaan seseorang tidak terlalu berpengaruh pada peradaban. Terlalu egois, karena hanya memikirkan isi perut masing-masing. *** Memang menjadi pertanyaan besar, apakah berpikir besar bisa terlaksana? Saya sudah mencari di ...

Sikap 'Bertahan' Di Tengah Peradaban, Sungguh Merugikan

  Taktik sepakbola menyerang. (Ilustrasi: Bandit Football) "Taktik terbaik untuk bertahan adalah menyerang." Ditengah peradaban yang serba kompleks, sekedar "bertahan" untuk hidup hanyalah kerugian. Saya, tumbuh di tengah peradaban yang lebih banyak bertahan dibanding menyerang. Sebagai orang Sunda, bertahan dari serbuan bangsa lain sudah menjadi bagian dari budaya. Berdasarkan sejarah yang saya baca, sikap orang Sunda ini malah menjadi prinsip yang dilihat sebagai kekuatan tetapi nyatanya adalah bentuk kelemahan. Bertahan dari serbuan budaya lain, tepatnya dominasi peradaban bangsa lain, hanya bisa bertahan dalam jangka pendek. Juga, hanya berlaku pada manusia-manusia idealis yang jumlahnya sedikit. Lama-kelamaan kemampuan bertahan itu akan "bobol" juga. Ketika pertahanan sudah rapuh, maka dengan mudah bangsa lain memporakporandakan bangunan budaya yang tercipta sejak lama. Lalu, kita hanya gigit jari dan merasakan penyesalan teramat dalam karena tidak me...

Hidup di Desa Tanpa Filosofi, Bisakah?

Manusia Indonesia yang hidup di desa, tentu saja memiliki filosofi sendiri dalam mengarungi hidupnya. Perbedaan cara pandang kita _sebagai orang desa_ terhadap desa kita perlu banyak peyesuaian. Coba kita bayangkan, mau seperti apa kehidupan kita di desa? Diam saja menunggu seperti cara pandang orang dahulu, saya pikir sudah tidak relevan lagi dengan tuntutan zaman. Menunggu, ya menunggu pemberian Pemerintah Pusat untuk membangun desa hanya membuat kita menjadi "beban" pembangunan. Padahal, manusia Indonesia sejatinya menjadi penggerak pembangunan itu sendiri. Saya hanya ingin mengajak bahwa hidup di desa itu harus menjadi modal utama bagi pembangunan kehidupan secara nasional bahkan secara global. Menjadi warga pedesaan bukan lagi "takdir" buruk akibat hidup ditengah serba keterbatasan. Menjadi warga desa malah menjadi modal penting dikala sedang terjadi restrukturisasi ekonomi global akibat pandemi. Dengan perubahan filosofi menjadi filosofi yang dinamis, maka sec...

Kayu Bakar untuk Bertahan Di Tengah Kesulitan

Ketika ktia kelelahan mencari sesuatu yang tidak ada atau jauh dari kediaman, maka melihat ke sekeliling bisa menjadi solusi. Bapa saya akhir-akhir ini rajin membelah kayu-kayu yang tumbuh di sekitar rumah. Untuk bahan bakar, demi menghemat anggaran belanja. Menanak nasi dan memasak air di atas tungku, tidak banyak menggunakan kompor demi usaha penghematan. Ketika banyak orang, sibuk mencari uang untuk membeli kebutuhan rumah tangga maka Bapa saya lebih suka menanam pepohonan. Ketika pohon itu sudah besar, manfaatnya begitu banyak. Salah satu yang saat ini dirasakan adalah kesanggupan kami untuk sekedar bertahan hidup di kala ekonomi sedang tidak baik. Meskipun negara sedang dilanda banyak bencana, kami bisa bertahan demi sekedar makan. Alhamdulillah.

Investasi Pengetahuan

  Pengetahuan bukan sekedar apa yang kita tahu dari buku. Pengetahuan juga berasal dari sekitar kita. Saya selalu berpikir jika buku bukan lagi satu-satunya "kitab rujukan" bagi pengetahuan kita. Apabila masih ada dalam pikiran kita jika apa yang terjadi di sekitar adalah hal biasa, maka  pikiran itu perlu dikoreksi.  Apa yang kita anggap angin lalu dimasa lalu maka dimasa depan akan menjadi sumber kehidupan. Saat ini, Abad 21 bisa disebut juga sebagai Abad Pengetahuan. Modal kehidupan bukan hanya bicara tentang uang dan sumberdaya alam yang luas. Pengetahuan yang terorganisir juga menjadi kapital bagi perubahan peradaban. Bisa dipahami jika banyak yang menganggap begitu. Karena, ketika sumberdaya alam yang semakin sedikit diperebutkan oleh begitu banyak orang maka setiap orang akan kebagian sedikit sekali. Saya mengalami sendiri bagaimana keluarga kami tidak kebagian tanah untuk sekedar menanam bahan pangan. Sawah yang digarap oleh Bapa saya juga itu milik orang lain. La...

Peran Orang Kaya di Desa

Sumber: palingseru.com Menjadi orang kaya di desa bukan hanya terpandang secara status sosial tetapi juga memiliki peran yang krusial. Dalam tatanan sosial, orang kaya di desa bisa memegang kendali pembangunan sekaligus membawa lingkungan di sekitarnya menuju kemakmuran. Menjadi kaya, bukan berarti harus bersikap feodal. Menjadi kaya bukan berarti menindas orang-orang di sekitarnya. Harta berupa tanah atau properti lainnya, malah menjadi modal dasar bagi bergerak ekonomi menuju kesejahteraan bersama. Saya selalu melihat orang kaya bukan sekedar ketimpangan kasta tetapi sebuah peran yang diberikan Tuhan dalam pembangunan. Tanpa orang kaya, sulit rasanya ekonomi bergerak. Setidaknya, para orang kaya bisa menanamkan modalnya untuk membuka lebih banyak lapangan kerja. Apabila orang kaya ini "diam saja" dalam artian tidak menggunakan hartanya untuk pembangunan, maka tidaklah heran harta itu bukannya bertambah malah menghilang begitu saja. Negara tidak terlalu bisa di...

Belajar Sejarah untuk Alternatif Pembangunan Pedesaan

Sejarah memang mengupas masa lalu. Tetapi, sejarah bisa dijadikan pelajaran untuk menata masa depan. Meskipun, bukan berarti untuk mengulangi runutan sejarah yang telah terjadi. Belajar sejarah mengarahkan pikiran kita pada persepsi waktu. Persepsi kita akan waktu tidak hanya sebatas sebuah jalan lurus yang tidak memiliki 'belokan'. Seakan kita tidak memiliki pilihan jalan mana yang harus ditempuh. Dengan belajar sejarah, pikiran kita dibawa mengelana pada masa dimana kita belum tahu apa-apa tentang alam semesta. Dalam sekup lebih kecil, sejarah bisa menunjukan seperti apa desa kita di masa lalu. Sejarah bisa menunjukan 'cetak biru' pembangunan pedesaan. Bukan berarti kita harus mundur lagi. Hanya saja, cetak biru itu bisa menjadi landasan untuk melalukan pembangunan di kemudian hari. Misalnya, saya merasa kebingungan kenapa desa kami sulit menjadi wilayah pertanian. Saya mulai berpikir jika orang dulu tidak mempunyai rencana untuk menjadikan daerah ini seba...

Hati-hati dengan Filosofi "Pendatang" Ketika Membangun Desa

Filosofi lokal sering dianggap tidak relevan dengan kebutuhan pembangunan pedesaan. Para pemangku kebijakan malah mengimpor filsafat Barat demi tercapainya kemajuan. Demokrasi, salah satu filsafat yang sering didengungkan. Sayangnya, demokrasi dalam pembangunan desa ini tidak jarang malah menjadi ajang perebutan kekuasaan. Di desa, dimana sistem pemerintahan lokal masih banyak yang cocok dengan oligarki dimana kekuasaan "cukup" diserahkan pada beberapa orang yang dianggap cakap. Entah berkaca darimana, demokrasi dengan sistem pemilihan belum tentu menjadi sarana relevan dalam pembangunan pedesaan. Karakter desa yang serba "tenang" tidak mesti digoncang dengan perpolitikan lokal yang mengganggu pembangunan. Dalam banyak konteks, orang desa tidak membutuhkan pergantian kepemimpinan yang terlalu sering tetapi membutuhkan sosok yang memiliki visi membangun dalam jangka panjang. Tidak jarang jika desa perlu orang yang berpikir untuk tiga generasi, ge...

Aset di Pedesaan, Dianggap Rendah Nilai?

Aset desa yang terhampar luas. (Dokpri.) Hanya ada dalam pikiran, ketika kita masih menganggap aset yang dimiliki warga pedesaan sebagai aset rendah nilai. Kalau kata Napoleon Hill, apa yang terjadi di dunia ini  pada awalnya ada dipikiran seseorang. Jadi, jika orang desa berpikir jika apa yang  dimilikinya memiliki nilai yang rendah maka jangan aneh benda itu nilainya menjadi rendah. Kasus yang sering terjadi pada kepemilikan tanah, dimana harganya tetap murah. Padahal, fungsi tanah menjadi sangat besar dibanding persepsi manusia akan keberadaannya. Manusia desa nampaknya masih memiliki sikap inferior akan keberadaannya di bumi. Mungkin, dalam pikiran sebagian orang desa menjadi warga desa bukan hal yang membuat bangga. Tanah subur masih dianggap sebagai aset yang tidak perlu dipertahankan. Tanah kurang subur malah dianggap memberatkan. Keberadaannya di muka bumi seperti beban tersendiri, maka bisa dengan murah dilego pada tuan tanah. *** Tidak hanya tanah, masih banyak aset ...

Memikirkan Masa Depan Desa

Apa yang Anda pikirkan ketika berbicara tentang desa? Saya menggambar isi pikiran tentang desa kemudian ditempel di dinding kamar. Alam pikiran kita mungkin tidak dipenuhi harapan yang melambung tinggi. Pesimisme tentang kehidupan desa bisa merasuki jiwa. Desa, masih dianggap sebagai entitas tidak menguntungkan bagi sebagian karena melihat kondisinya yang sekarang. Buat saya, ketika melihat masa depan harus dilihat dari berbagai perspektif.  Ada desa yang lebih mengutamakan kemajuan atau lebih tepatnya 'ikut-ikutan' apa yang terjadi di kota; dan Ada desa yang melihat masa depannya justru ingin kembali ke masa lalu. Masa dimana desa belum ada dan masih berupa hutan belantara. Di Cina, ada desa-desa yang diubah kembali menjadi hutan. Reforestasi yang dilakukan Pemerintah Cina memaksa desa mengubah wajahnya menjadi alam yang asli dan apa adanya. Pohon-pohon kembali tumbuh dan menghasilkan oksigen. Tetapi, bila Anda menginginkan desa seperti kota-kota satelit sekitat Jakarta maka i...

Ajari Kami Hidup Di Desa Sejak Muda

Desa Sukamerang, Kersamanah, Garut Kalau hidup di desa ketika sudah tua maka hampir tidak punya tenaga untuk mengubah keadaan di desa. Namun, para orang tua kami tidak menginginkan anak-anaknya  hidup di desa sejak muda. Ya, begitulah cara berpikir orang desa, walaupun tidak semuanya. Kami di desa, berambisi untuk bisa menyaingi orang kota dalam hal harta dan gaya. Ketika usia sudah mulai dewasa, kami disuruh mencari sumber penghidupan ke perkotaan demi mengubah nasib yang terlanjur tak membaik sejak zaman penjajahan. Kami orang desa, sangat ingin punya kehidupan yang layak sebagaimana diprogramkan oleh negara sejak lama. Kami mencoba meniru pola kehidupan orang sukses baik yang mempunyai usaha di kota atau sukses menjadi sarjana. Pola itu sudah umum dimaklumi. Bahkan, jangan aneh banyak diantara kami rela meninggalkan sanak keluarga hingga menyeberang ke negeri orang. Bukan hanya negeri tetangga, tetapi lintas benua nan jauh di sana. Satu sisi itu bagus buat kesejahte...