Langsung ke konten utama

Ajari Kami Hidup Di Desa Sejak Muda

Desa Sukamerang, Kersamanah, Garut

Kalau hidup di desa ketika sudah tua maka hampir tidak punya tenaga untuk mengubah keadaan di desa. Namun, para orang tua kami tidak menginginkan anak-anaknya  hidup di desa sejak muda.

Ya, begitulah cara berpikir orang desa, walaupun tidak semuanya. Kami di desa, berambisi untuk bisa menyaingi orang kota dalam hal harta dan gaya. Ketika usia sudah mulai dewasa, kami disuruh mencari sumber penghidupan ke perkotaan demi mengubah nasib yang terlanjur tak membaik sejak zaman penjajahan.

Kami orang desa, sangat ingin punya kehidupan yang layak sebagaimana diprogramkan oleh negara sejak lama. Kami mencoba meniru pola kehidupan orang sukses baik yang mempunyai usaha di kota atau sukses menjadi sarjana.

Pola itu sudah umum dimaklumi. Bahkan, jangan aneh banyak diantara kami rela meninggalkan sanak keluarga hingga menyeberang ke negeri orang. Bukan hanya negeri tetangga, tetapi lintas benua nan jauh di sana.

Satu sisi itu bagus buat kesejahteraan kami di desa. Tetapi, di sisi lain desa kami jadi sepi pembangunan dan perkotaan jadi kepadatan.

Di desa, kami tak pernah diajarkan bagaimana hidup di desa. Jangankan untuk membangunnya. Untuk sekedar bertahan hidup pun, kami tidak pernah diajarkan.

Coba cek saja pembelajaran di sekolah-sekolah. Hampir tidak ada pelajaran bagaimana kami harus hidup di desa dan berusaha mengubah keadaannya. Di rumah, kami masih suka berleha-leha apalagi orang tua kami pun tidak punya usaha untuk dikelola. Kalau ada tanah untuk digarap, ya hanya itu yang bisa dilakukan. Itu pun harus menunggu musim hujan.

***

Saya pikir kami anak desa harus diajarkan bagaimana punya kehidupan di desa. Memanfaatkan apa yang ada mulai dari udara, air dan tanah bahkan cahaya matahari yang melimpah. Tuhan sudah berbaik hati untuk kita tetapi kami tidak tahu bagaimana memanfaatkannya.

Di sekolah, wacana yang diangkat masih berkutat tentang kehidupan yang "baik" di Barat. Ilmu pengetahuan hingga impian kemajuan tidak jauh seputar contoh Amerika, Eropa dan Naga Asia.

Bukan hal salah apabila itu disampaikan, hanya saja terkadang tidak relevan dengan kebutuhan kami yang hidup di pedesaan. Apalagi di era keterbukaan, ilmu pengetahuan menjadi membingungkan karena kebanyakan.

Saya masih berharap bahwa menggali pengetahuan yang relevan dengan kebutuhan lokal adalah batu loncatan untuk mengubah keadaan. Penting atau tidak penting tentang pengetahuan, biarlah kami yang melakukan penilaian.

***

Bila hari ini Mendikbud mencanangkan kurikulum yang sesuai kebutuhan pasar kerja, maka kami pun membutuhkan kurikulum yang sesuai kebutuhan lingkungan di desa. Pasar kerja bisa berubah sebagaimana berubahnya karakter industri di suatu daerah.

Bagi kami, tidaklah mudah menebak seperti apa kebutuhan pasar kerja di masa depan. Hal yang kami butuhkan adalah bagaimana kami bisa siap menghadapi ketidakpastian di masa depan.

Situasi sosial-ekonomi di pedesaan berbeda dengan perkotaan begitupun cara kami memahami kehidupan. Janganlah melulu kami dididik untuk menjadi pekerja di perkotaan. Cara berpikir dan bertindak layaknya orang kota, sehingga lupa identitas dan potensi alami yang kami miliki.

Perubahan kultur memang suatu keniscayaan. Hanya saja, perubahan itu tidak serta merta membuat kehidupan kami di desa tambah merana. Apabila para penentu kebijakan di Jakarta bersikeras ingin membangun desa kami sesuai selera mereka, ya tak apalah, tapi jangan jadikan kami korban dari kebijakan itu.

Ajaklah kami berdiskusi sejak dini. Orang yang harus mendapat perhatian bukanlah para orang tua yang tidak akan merasakan perubahan. Bisa jadi orang tua kami terlalu konservatif untuk menerima berubahnya keadaan. Kami anak muda yang akan turut serta dalam derap langkah pembangunan. Sekali lagi, turut serta, bukan menderita.

Sumber:
Ziaduddin Sardar, Tantangan Dunia Islam Abad 21: Menjangkau Informasi,1988.
Muhammad Yunus, Bank Kaum Miskin, 2007.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Merambah Lahan Digital

Di desa kami, lahan pertanian mulai sempit. Tentu saja bukan tanahnya yang berkurang, kini wajah désa berubah setelah ada pembangunan pemukiman dan pabrik. Bagi mereka yang masih bergantung pada sektor pertanian, maka dianggap sebagai sebuah ancaman .  Seberapa serius ancaman itu, saya sendiri belum meneliti. Perlu ada ahli yang menentukan seberapa besar ancaman yang dimaksud. Atau, sebaliknya ini dianggap sebagai sebuah peluang ?  Sudah diramalkan sejak bertahun-tahun sebelumnya jika wajah désa kami akan berubah menjadi areal industri. Bertani hanya menjadi profesi penopang ketika sektor industri belum bisa dijadikan sumber pendapatan utama. Meskipun euforia industrialisasi itu senantiasa ada, belum tentu menjadi sektor yang tetap kokoh di tengah terpaan dinamika global.    Sebagaimana diketahui, perubahan haluan pembangunan di desa bisa terjadi lantaran ada kebutuhan yang mendesak. Karena berbagai penyebab, maka industri membawa angin segar bagi mereka yang tidak k...

Pohon Belajar

Dalam belajar, kita ikuti filosofi pohon. Seperti pohon, kita awali belajar dengan pelajaran dasar layaknya akar. Akar itu kuat menghujam tanah, juga menyerap saripati tanah untuk pertumbuhannya. Al-Qur'an dan As-Sunnah layaknya akar. Batang layaknya minat dan bakat yang sudah ada sejak lahir. Sedangkan, daun dan ranting adalah ilmu yang "menyesuaikan" dengan lingkungan. Akhirnya, maka akan ada buah yang bisa "dipetik". Minat dan bakat, harus menjadi yang utama dipelajari setelah pelajaran dasar. Kenapa? Karena ilmu yang berkenaan dengan minat dan bakat bisa dipelajari dengan "semangat" dan tidak perlu "disuruh-suruh". Ilmu yang berkenaan dengan minat dan bakat menjadi "acuan" akan seperti apa seseorang di masa depan. Layaknya, batang pohon maka minat dan bakat kuat meskipun diterpa angin dan hujan. Terakhir, ilmu lain yang menyesuaikan dengan kebutuhan. Ilmu-ilmu itu akan sangat banyak sesuai dengan kebutuhan...

Kesulitan Mengkomunikasikan Isi Pikiran kepada Warga Desa

Saya ini tipe orang yang langka bicara. Ada alasannya, obrolan warga begitu sering mengangkat topik yang tidak menarik. Tentu saja saya pun tidak tertarik untuk mendengarkan apalagi ikut nimbrung dalam kerumunan. Hal yang bisa dilakukan hanyalah menulis di blog, media sosial, dan buku. Andaikan suatu saat dibutuhkan, maka mereka yang tertarik dengan isi pikiran saya maka cukup membuka di sana. Tidak usah banyak bertanya dan berharap akan memaparkan lebih lanjut, saya tidak akan melakukannya. Misalnya, ketika saya memiliki ide tentang kandang kelinci yang bagus . Orang yang pertama kali menolak ide tentu saja bapa saya sendiri. Beliau tipe orang yang harus diyakinkan dengan banyak bicara atau "diceramahi" terlebih dahulu. Masalahnya, saya gampang bosan untuk banyak bicara. Mendengar ceramah pun mudah ngantuk.  Kandang kelinci dibuat alakadarnya, tanpa estetika yang memuaskan hasrat visual. Saya pun mengalah, ya namanya juga orang tua mana sanggup saya mendebat. Apalagi, Bapa ...