Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label lingkungan

Terikat dengan Tanah

Saya menonton tayangan tentang bangsa Mongol yang memiliki tradisi menggembala di padang rumput. Keadaan mereka jauh berbeda dengan kami di pulau Jawa.  Padang rumput yang hijau di musim panas dihiasi oleh kawanan domba berbulu putih dan belang-belang. Kawanan itu hanya diawasi oleh satu atau dua orang saja. Tidak jauh dari tempat si ternak merumput, ada sebuah ger berbahan kulit ternak. Di sampingnya, ada seorang wanita yang sedang memasak. Tampak asap mengepul ke udara membentuk garis putih di sela hijaunya padang rumput dan langit yang biru cerah.  Saya tidak sedang menceritakan lanskap Mongolia yang indah. Mari kita cermati bagaimana perilaku bangsa nomaden Mongolia yang tidak memiliki kebiasaan mengolah tanah. Sebuah bangsa yang terkenal haus akan petualangan serta pengalaman menjelajahi dunia baru. Menganggap jika menetap bisa satu tempat terasa membosankan. Atau, gairah untuk mencari suasana baru memang lebih besar dibandingkan menikmati apa yang telah ada dalam waktu l...

Memanfaatkan Benda-benda Sederhana, Kenapa Orang Desa Enggan Melakukannya?

Botol bekas menjadi hiasan (Dokpri.) Sudah berkali-kali saya menulis kata bermanfaat , memanfaatkan , atau manfaat dalam blog ini. Berkali-kali pula mempertanyakan kenapa orang-orang enggan memanfaatkan hal-hal sederhana di sekitarnya?  Jawaban dari pertanyaan tersebut bisa beragam. Saya pun hanya bisa mengumpulkan beberapa jawaban walaupun belum begitu memuaskan. Diawali dengan mengamati orang-orang terdekat yang mengelilingi kehidupan sehari-hari. Ditambah, memperhatikan pula media massa yang menyampaikan hal serupa. Ada pula pemberitaan yang menyampaikan kebalikan dari realita yang ditemui tetapi tidak terserap secara indrawi. Sedikit-sedikit, membuka buku dan membaca jurnal yang tersebar di internet. Melalui semua itu, saya mulai menyimpulkan jika perkara keengganan warga desa memanfaatkan hal sederhana bermula dari pendidikan. Kasihan juga ya, ibu-bapa guru senantiasa dijadikan objek dari akibat segala macam sesuatu yang jelek. Namun, mau bagaimana lagi. Segalanya berhulu dar...

Mempertahankan dan Memanfaatkan Bekal Hidup yang Sederhana

  Dokumen pribadi. Saya berada dalam persimpangan, apakah meninggalkan domba-domba ini demi mencari yang "lebih besar", atau melestarikan mereka? Bukan keputusan yang mudah diambil. Ada banyak pertimbangan untuk segera mengambil keputusan kemudian bertindak. Sejak masa kanak-kanak, keluarga kami terbiasa memelihara kawanan domba. Kegunaan hewan berbulu ini sungguhlah besar bagi kehidupan keluarga. Selain kegunaan secara fisik, ternyata domba memiliki pengaruh yang kuat dalam kesehatan mental.  Sebagaimana yang pernah ditulis sebelumnya, domba-domba ini bisa menghasilkan daging yang nikmat juga menghasilkan pupuk kandang yang menyuburkan tanah. Andaikan tidak ada kotoran hewan, kami bisa kesulitan mencari solusi untuk kembali meningkatkan unsur hara di tanah. Sawah-sawah yang telah digunakan dalam waktu lama mengalami penurunan tingkat kesuburan. Telapak kaki saya pun merasakan betapa keras postur tanah yang sudah jenuh. Hamparan lahan di pedesaan perlu peremajaan. Ketika domb...

Merasa Terjebak Dalam Budaya yang Tidak Sesuai Keinginan

  Pernahkah anda berpikir jika diri anda terlahir di tempat yang salah?  Merasa dilingkupi oleh budaya yang tidak membuat raga tak nyaman serta hati tak tenteram. Orang-orang di sekitar menjadi pihak yang senantiasa bertolak belakang dalam berbagai prinsip dan cara pandang terhadap dunia sekitarnya.  Saya pun terkadang merasa demikian. Merasa sulit untuk menerima jika ada "gap" antara harapan dan kenyataan. Bahkan terpikir jika diri ini salah tempat lahir. Dunia di sekitar kita malah menjadi beban psikologis bukannya pemicu untuk tetap berpikir maju.  Ada banyak hal yang tidak disetujui ketika mencermati budaya negeri sendiri. Misalnya, warga tidak peduli kepada masalah kerapihan dan kebersihan.  Di negeri ini, problematika sampah akan terus bergulir hingga generasi selanjutnya. Permasalahan bukan hanya dalam tataran teknis. Namun, saya yakin jika ini sudah menjadi masalah psikologis. Dimana setiap individu warga memang tidak berpikir jika kebersihan merupakan s...

Logika Matematika Tidak Cocok untuk Membangun Desa

Sudah bertahun-tahun saya hidup di desa. Selama ini pula saya mencari cara bagaimana membangun desa. Dimulai dari mencari landasan berpikir dalam bertindak hingga mempelajari hal-hal yang bersifat teknis. Dalam masa pencarian itu, saya mulai mendapati bahwa ada begitu banyak cara untuk membangun desa. Dan, cara-cara itu memiliki landasan berpikir yang berbeda antara satu sama lain.  Misalnya, jika kita bermaksud membangun selokan untuk mengairi sawah maka kita perlu berpijak pada hukum logika. Perhitungan matematis mutlak diterapkan.  Namun, ada juga hal yang tidak bisa dilandaskan pada pijakan berpikir logika matematika. Misalnya, ketika kita mengembangkan usaha ternak. Dalam mengembangkannya, peternakan memerlukan landasan berpikir non-logis. Karena, ternak-ternak itu adalah makhluk bernyawa yang tidak bisa diuukur secara matematis. Coba bayangkan, jika saya beternak 2 ekor domba. Dalam waktu tertentu domba itu bisa bertambah menjadi 3,4,5 dst. Namun, sangat mungkin domba sa...

Sikap 'Bertahan' Di Tengah Peradaban, Sungguh Merugikan

  Taktik sepakbola menyerang. (Ilustrasi: Bandit Football) "Taktik terbaik untuk bertahan adalah menyerang." Ditengah peradaban yang serba kompleks, sekedar "bertahan" untuk hidup hanyalah kerugian. Saya, tumbuh di tengah peradaban yang lebih banyak bertahan dibanding menyerang. Sebagai orang Sunda, bertahan dari serbuan bangsa lain sudah menjadi bagian dari budaya. Berdasarkan sejarah yang saya baca, sikap orang Sunda ini malah menjadi prinsip yang dilihat sebagai kekuatan tetapi nyatanya adalah bentuk kelemahan. Bertahan dari serbuan budaya lain, tepatnya dominasi peradaban bangsa lain, hanya bisa bertahan dalam jangka pendek. Juga, hanya berlaku pada manusia-manusia idealis yang jumlahnya sedikit. Lama-kelamaan kemampuan bertahan itu akan "bobol" juga. Ketika pertahanan sudah rapuh, maka dengan mudah bangsa lain memporakporandakan bangunan budaya yang tercipta sejak lama. Lalu, kita hanya gigit jari dan merasakan penyesalan teramat dalam karena tidak me...

Kayu Bakar untuk Bertahan Di Tengah Kesulitan

Ketika ktia kelelahan mencari sesuatu yang tidak ada atau jauh dari kediaman, maka melihat ke sekeliling bisa menjadi solusi. Bapa saya akhir-akhir ini rajin membelah kayu-kayu yang tumbuh di sekitar rumah. Untuk bahan bakar, demi menghemat anggaran belanja. Menanak nasi dan memasak air di atas tungku, tidak banyak menggunakan kompor demi usaha penghematan. Ketika banyak orang, sibuk mencari uang untuk membeli kebutuhan rumah tangga maka Bapa saya lebih suka menanam pepohonan. Ketika pohon itu sudah besar, manfaatnya begitu banyak. Salah satu yang saat ini dirasakan adalah kesanggupan kami untuk sekedar bertahan hidup di kala ekonomi sedang tidak baik. Meskipun negara sedang dilanda banyak bencana, kami bisa bertahan demi sekedar makan. Alhamdulillah.