Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2026

Kenapa Ilmu Budaya Tidak Tertanam di Kepala?

 Tak ada yang salah dengan anak-anak yang belajar ilmu budaya tetapi tidak diterapkan dalam kehidupan nyata. Tak ada yang salah dengan guru setelah susah payah mengajarkan mereka untuk tetap melestarikan budaya. Saya berpikir demikian agar pembaca pun tidak memfokuskan diri pada proses pembelajaran di sekolah. Mari kita memusatkan pikiran pada cara pandang kita akan budaya dan ilmu budaya.  Ilmu ini berguna atau tidak untuk kita, dari sanalah saya memulai pembahasan ini.   Saya pernah mengalami masa dimana ilmu humaniora dianggap tak berguna. Lebih tepatnya, kami tidak tahu bagaimana memanfaatkan ilmu humaniora dalam kehidupan nyata. Saya pernah berpikir jika pengetahuan abstrak seperti ini tidaklah sanggup mengubah kehidupan. Bagaimana cara "mempraktekan" ilmu humaniora di sawah atau di pasar? Pelajaran ini begitu abstrak. Frustasi sempat menghinggapi pikiran. Namun, perkiraan saya salah.  Humaniora senantiasa membahas masalah kemanusiaan. Itulah inti ajarannya...

Pendidikan yang Dibutuhkan oleh Perdesaan

Sekarang, mari kita membicarakan perkara pendidikan yang lebih spesifik. Tidak usah membayangkan konsep pendidikan yang terlampau luas dan kompleks. Perhatikan saja sekitar kita, apa yang dibutuhkan oleh désa, perdesaan, dan tentu saja warga desa--baik secara individual atau komunal. 

Pohon-pohon Besar Ini Pelindung Kampung

Foto ini diambil ketika hari masih pagi, hanya beberapa hari yang lalu. Bagi saya, ini sebuah momen yang menarik. Unik sekaligus memberikan makna betapa pohon-pohon besar memiliki peran besar. Tanpa mereka, lingkungan kami akan terasa sangat gersang dan panas.  Dokpri . Apabila di tempat tinggal Anda sudah langka akan pohon-pohon besar, maka tidak heran jika suhu udara begitu tinggi. Tidak usah mengomel akan keadaan yang tak menyenangkan. Tidak usah pula uring-uringan andaikan musim kemarau terasa di gurun Arabia. Padahal, hunian dibangun ketika negara Anda masih bernama Indonesia. Sebuah negeri yang dilintasi oleh garis khatulistiwa. Kenyataannya, koordinat tempat kini berdiri bukan jaminan akan kenyamanan. Dan, inilah resiko sebuah pembangunan yang serampangan.   Blog ini tentang pembangunan desa, tetapi bukan berarti merusak lingkungannya. Bukan pembangunan yang serampangan, tanpa perencanaan. Bukan pula pembangunan yang tak mengindahkan keselarasan. Bukan, bukan pemba...

Beternak Kerbau Rawa di Pinggiran Hutan Rawa

  Kerbau Rawa di Kalimantan (Sumber: Antara) Saya punya rencana untuk mengembalikan fungsi lahan kebun sawit menjadi tutupan hutan dengan memanfaatkan peran kerbau rawa. Jika sebelumnya hutan "dikeringkan" untuk ditanami bibit sawit maka harus kembali "dibasahkan" dengan mengalirkan air sungai. Untuk keperluan pupuk dan sumber pendapatan warga maka kerbau rawa bisa menjadi alternatif.  Dalam bayangan pikiran saya, akan ada lahan sawit yang tidak produktif lagi karena faktor usia tanaman. Dalam keadaan demikian, waktu yang tepat untuk segera mengembalikan fungsi hutan. Namun, saya tahu ini bukanlah usaha yang mudah. Penduduk akan lebih tertarik untuk mengalihkan fungsi lahan untuk sesuatu yang komersil. Hanya saja, mengembalikan fungsi hutan merupakan sebuah keharusan. Tentu tidak mengorbankan warga yang membutuhkan sumber pendapatan.  Memelihara kerbau rawa adalah solusi. Ini dipilih karena beberapa alasan.  Pertama, penduduk punya kegiatan untuk mengalihkan énergi ...