Tak ada yang salah dengan anak-anak yang belajar ilmu budaya tetapi tidak diterapkan dalam kehidupan nyata. Tak ada yang salah dengan guru setelah susah payah mengajarkan mereka untuk tetap melestarikan budaya. Saya berpikir demikian agar pembaca pun tidak memfokuskan diri pada proses pembelajaran di sekolah. Mari kita memusatkan pikiran pada cara pandang kita akan budaya dan ilmu budaya.
Ilmu ini berguna atau tidak untuk kita, dari sanalah saya memulai pembahasan ini.
Saya pernah mengalami masa dimana ilmu humaniora dianggap tak berguna. Lebih tepatnya, kami tidak tahu bagaimana memanfaatkan ilmu humaniora dalam kehidupan nyata. Saya pernah berpikir jika pengetahuan abstrak seperti ini tidaklah sanggup mengubah kehidupan. Bagaimana cara "mempraktekan" ilmu humaniora di sawah atau di pasar? Pelajaran ini begitu abstrak. Frustasi sempat menghinggapi pikiran. Namun, perkiraan saya salah.
Humaniora senantiasa membahas masalah kemanusiaan. Itulah inti ajarannya. Bukan perkara-perkara fisik seperti rumah, kendaraan, atau infrastruktur désa. Kenyataannya pikiran manusia harus "menjauh" dari perkara materi ketika mempelajari pengetahuan humanioris. Mengawali pelajaran dengan mengenali diri sendiri.
Bagi saya ini penting. Sesuatu yang lumrah apabila otak manusia belum sanggup berpikir luas. Memikirkan hal besar seperti peradaban Eropa yang tak tersentuh malah bisa membuat siswa jenuh. Justru, memahami diri sendiri bisa mengundang makna dari sebuah pelajaran. Mengenali dunia memang penting tetapi mengenali diri sendiri lebih penting.
Dunia yang luas membutuhkan "kerangka kerja" agar tidak terjerumus dalam kekacauan. Nah, siswa atau siapa pun yang belajar humaniora mesti diberi contoh tentang kekacauan tersebut. Realita yang kacau bisa bermula dari kamar tidur yang berantakan. Ini bukan perkara teknis tentang bagaimana membereskan kamar agar rapi. Ini tentang sebuah dasar pemikiran, tujuan, serta filosofis dari kekacauan itu sendiri. Saya menyoroti kekacauan karena begitu banyak contoh di sekitar kita. Perkara ini bukan untuk diperdebatkan, bahkan kemampuan pelajar untuk memaparkan kekacauan adalah poin plus tersendiri.
Perlahan, kita beranjak kepada perkara yang lebih besar dan lebih luas. Masih mengacu kepada kekacauan, senantiasa bertanya bagaimana jika manusia tidak selaras dengan sekitarnya? Keselarasan bukanlah sesuatu yang terasa romantis. Toh, kenyataannya sesuatu yang romantis malah sering dianggap sebagai hiburan semata. Tengoklah pelajaran sastra di sekolah. Padahal, sastra dibuat bukan semata meromantisasi keadaan tetapi mengajak manusia untuk selaras.
Andaikan pelajar bisa memahami arti penting pelajaran ilmu budaya maka dia akan berlomba-lomba untuk meraup pengetahuan labuh luas. Silakan perhatikan seorang remaja yang gemar membaca. Biasanya dia penyuka pelajaran humaniora. Sebagian besar bahan bacaan bukan sains dan teknologi, justru lingkup budaya manusia yang luas. Setelah memiliki kegemaran akan ilmu budaya maka selanjutnya guru atau siapa pun tidak perlu mengajarinya lebih lanjut.
Sesungguhnya ilmu budaya merupakan bidang keilmuan yang menarik untuk dipelajari. Jangkauan pengetahuannya yang luas bisa mengajak pikiran untuk berkelana ke banyak tempat bahkan menerawang masa silam. Perkelanaan inilah yang bisa membawa seorang pelajar untuk terus menggali pengetahuan. Seakan bertualang di béntang alam yang indah, tidak akan rasa jemu. Setiap elemen budaya memiliki daya tarik. Memang, setiap individu memiliki ketertarikan tersendiri akan sesuatu. Namun, itulah arti pentingnya ilmu budaya. Ketika ketertarikan akan satu atau lebih elemen budaya maka akan menjadi pemicu untuk tetap melestarikan bahkan mengembangkannya.
Sayangnya, kesan tidak menarik lebih dulu mengalahkan arti pentingnya. Sistem belajar hapalan telah mematikan ketertarikan siswa. Dengan segala hormat, ada banyak guru yang tidak bisa berkreasi untuk membaut sebuah pembelajaran sebagai "pertunjukan".


Komentar
Posting Komentar
Komentar...