Langsung ke konten utama

Kenapa Ilmu Budaya Tidak Tertanam di Kepala?

 Tak ada yang salah dengan anak-anak yang belajar ilmu budaya tetapi tidak diterapkan dalam kehidupan nyata. Tak ada yang salah dengan guru setelah susah payah mengajarkan mereka untuk tetap melestarikan budaya. Saya berpikir demikian agar pembaca pun tidak memfokuskan diri pada proses pembelajaran di sekolah. Mari kita memusatkan pikiran pada cara pandang kita akan budaya dan ilmu budaya. 

Ilmu ini berguna atau tidak untuk kita, dari sanalah saya memulai pembahasan ini.  

Saya pernah mengalami masa dimana ilmu humaniora dianggap tak berguna. Lebih tepatnya, kami tidak tahu bagaimana memanfaatkan ilmu humaniora dalam kehidupan nyata. Saya pernah berpikir jika pengetahuan abstrak seperti ini tidaklah sanggup mengubah kehidupan. Bagaimana cara "mempraktekan" ilmu humaniora di sawah atau di pasar? Pelajaran ini begitu abstrak. Frustasi sempat menghinggapi pikiran. Namun, perkiraan saya salah. 

Humaniora senantiasa membahas masalah kemanusiaan. Itulah inti ajarannya. Bukan perkara-perkara fisik seperti rumah, kendaraan, atau infrastruktur désa. Kenyataannya pikiran manusia harus "menjauh" dari perkara materi ketika mempelajari pengetahuan humanioris. Mengawali pelajaran dengan mengenali diri sendiri. 

Bagi saya ini penting. Sesuatu yang lumrah apabila otak manusia belum sanggup berpikir luas. Memikirkan hal besar seperti peradaban Eropa yang tak tersentuh malah bisa membuat siswa jenuh. Justru, memahami diri sendiri bisa mengundang makna dari sebuah pelajaran. Mengenali dunia memang penting tetapi mengenali diri sendiri lebih penting.  

Dunia yang luas membutuhkan "kerangka kerja" agar tidak terjerumus dalam kekacauan. Nah, siswa atau siapa pun yang belajar humaniora mesti diberi contoh tentang kekacauan tersebut. Realita yang kacau bisa bermula dari kamar tidur yang berantakan. Ini bukan perkara teknis tentang bagaimana membereskan kamar agar rapi. Ini tentang sebuah dasar pemikiran, tujuan, serta filosofis dari kekacauan itu sendiri. Saya menyoroti kekacauan karena begitu banyak contoh di sekitar kita. Perkara ini bukan untuk diperdebatkan, bahkan kemampuan pelajar untuk memaparkan kekacauan adalah poin plus tersendiri. 

Perlahan, kita beranjak kepada perkara yang lebih besar dan lebih luas. Masih mengacu kepada kekacauan, senantiasa bertanya bagaimana jika manusia tidak selaras dengan sekitarnya? Keselarasan bukanlah sesuatu yang terasa romantis. Toh, kenyataannya sesuatu yang romantis malah sering dianggap sebagai hiburan semata. Tengoklah pelajaran sastra di sekolah. Padahal, sastra dibuat bukan semata meromantisasi keadaan tetapi mengajak manusia untuk selaras. 

Andaikan pelajar bisa memahami arti penting pelajaran ilmu budaya maka dia akan berlomba-lomba untuk meraup pengetahuan labuh luas. Silakan perhatikan seorang remaja yang gemar membaca. Biasanya dia penyuka pelajaran humaniora. Sebagian besar bahan bacaan bukan sains dan teknologi, justru lingkup budaya manusia yang luas. Setelah memiliki kegemaran akan ilmu budaya maka selanjutnya guru atau siapa pun tidak perlu mengajarinya lebih lanjut. 

Sesungguhnya ilmu budaya merupakan bidang keilmuan yang menarik untuk dipelajari. Jangkauan pengetahuannya yang luas bisa mengajak pikiran untuk berkelana ke banyak tempat bahkan menerawang masa silam. Perkelanaan inilah yang bisa membawa seorang pelajar untuk terus menggali pengetahuan. Seakan bertualang di béntang alam yang indah, tidak akan rasa jemu. Setiap elemen budaya memiliki daya tarik. Memang, setiap individu memiliki ketertarikan tersendiri akan sesuatu. Namun, itulah arti pentingnya ilmu budaya. Ketika ketertarikan akan satu atau lebih elemen budaya maka akan menjadi pemicu untuk tetap melestarikan bahkan mengembangkannya.  

Sayangnya, kesan tidak menarik lebih dulu mengalahkan arti pentingnya. Sistem belajar hapalan telah mematikan ketertarikan siswa. Dengan segala hormat, ada banyak guru yang tidak bisa berkreasi untuk membaut sebuah pembelajaran sebagai "pertunjukan". 


Saya mengamati jika ada masalah dalam hal jangkauan berpikir seseorang untuk bisa memahami arti penting pembelajaran ilmu budaya. Ya itu tadi, jangkauan luas tentang kajian budaya bukannya disajikan sebagai perhelatan yang bisa membuka cakrawala berpikir. Ada banyak kegiatan belajar masih bergaya kolonial. Waktu, tempat, dan peristiwa tidak dimaknai agar masuk ke dalam hati sanubari. Sayang sekali, tatkala teknologi informasi menguasai bumi justru manusia sebagai makhluk yang diberi amanat untuk mengurusi malah kehilangan pegangan. 



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kayu Bakar untuk Bertahan Di Tengah Kesulitan

Ketika ktia kelelahan mencari sesuatu yang tidak ada atau jauh dari kediaman, maka melihat ke sekeliling bisa menjadi solusi. Bapa saya akhir-akhir ini rajin membelah kayu-kayu yang tumbuh di sekitar rumah. Untuk bahan bakar, demi menghemat anggaran belanja. Menanak nasi dan memasak air di atas tungku, tidak banyak menggunakan kompor demi usaha penghematan. Ketika banyak orang, sibuk mencari uang untuk membeli kebutuhan rumah tangga maka Bapa saya lebih suka menanam pepohonan. Ketika pohon itu sudah besar, manfaatnya begitu banyak. Salah satu yang saat ini dirasakan adalah kesanggupan kami untuk sekedar bertahan hidup di kala ekonomi sedang tidak baik. Meskipun negara sedang dilanda banyak bencana, kami bisa bertahan demi sekedar makan. Alhamdulillah.

Beternak Kerbau Rawa di Pinggiran Hutan Rawa

  Kerbau Rawa di Kalimantan (Sumber: Antara) Saya punya rencana untuk mengembalikan fungsi lahan kebun sawit menjadi tutupan hutan dengan memanfaatkan peran kerbau rawa. Jika sebelumnya hutan "dikeringkan" untuk ditanami bibit sawit maka harus kembali "dibasahkan" dengan mengalirkan air sungai. Untuk keperluan pupuk dan sumber pendapatan warga maka kerbau rawa bisa menjadi alternatif.  Dalam bayangan pikiran saya, akan ada lahan sawit yang tidak produktif lagi karena faktor usia tanaman. Dalam keadaan demikian, waktu yang tepat untuk segera mengembalikan fungsi hutan. Namun, saya tahu ini bukanlah usaha yang mudah. Penduduk akan lebih tertarik untuk mengalihkan fungsi lahan untuk sesuatu yang komersil. Hanya saja, mengembalikan fungsi hutan merupakan sebuah keharusan. Tentu tidak mengorbankan warga yang membutuhkan sumber pendapatan.  Memelihara kerbau rawa adalah solusi. Ini dipilih karena beberapa alasan.  Pertama, penduduk punya kegiatan untuk mengalihkan énergi ...

Perencanaan Sosial

Perencanaan sosial ( social planning ) pada dewasa ini menjadi ciri yang umum bagi masyarakat-masyarakat yang sedang mengalami perubahan-perubahan atau perkembangan. Sebenarnya perencanaan sosial yang bertujuan untuk melihat jauh ke depan telah ada sejak dahulu dan telah pula dipikirkan oleh para sosiolog . Auguste Comte misalnya, berpendapat bahwa manusia mempunyai kemampuan untuk melihat jauh ke depan serta mengendalikan tujuannya. Pernyataan tadi kemudian diperkembangkan lebih lanjut oleh Lester F. Ward yang mempergunakan istilah social telesis  untuk menunjuk pada arah yang dituju suatu masyarakat. [1] Menurut sosiologi, suatu perencanaan sosial harus didasarkan pada pengertian mendalam tentang bagaimana kebudayaan berkembang dari taraf yang rendah ke taraf modern dan kompleks dimana dikenal industri, peradaban kota dan selanjutnya . Selain itu harus pula ada pengertian terhadap hubungan manusia dengan alam sekitarnya, hubungan antara golongan-golongan dalam masyarakat ...