Baca juga: Ketidakberdayaaan Orang Tua Menyediakan Pekerjaan untuk Anaknya
Mari kita mulai dari generasi muda yang ada di rumah. Bukan orang yang jauh dari hunian sehari-hari, tentu mereka adalah sosok-sosok yang setiap hari diajak berbincang. Mereka individu yang unik, berbeda dengan tetangganya, kawannya, bahkan saudaranya sendiri. Ya, saya mengajak Anda untuk berpikir jika kebutuhan individu setiap manusia akan pendidikan begitu berbeda. Artinya, tidak usah berpikir untuk senantiasa seragam meskipun anak sekolah mengenakan seragam.
Andaikan merasa kebingungan, sesungguhnya mudah saja mengatasinya. Menjadi pendengar yang baik, itu saja yang dibutuhkan oleh anak. Ketika menjadi dewasa, seakan merasa paling tahu kebutuhan anak-anak. Alasannya, karena orang dewasa lebih dulu hidup di dunia. Tidak, tidak begitu. Singkirkan pemikiran demikian. Memang benar jika orang dewasa paling berpengalaman, tetapi bukan sebuah jaminan untuk punya pemahaman. Saya pikir, mending kita menjadi manusia yang merasa serba tidak tahu saja. Menyerap aspirasi mereka yang apa adanya karena kepolosan itulah cerminan isi pikiran si anak yang sesungguhnya. Orang dewasa tidak tahu apa-apa tentang kebutuhan sang anak.
Ini artinya, anak tidak usah dibawa untuk masuk dalam kancah persaingan yang tidak penting. Dalam hal ini, orang dewasa tidak boleh terjebak dalam persaingan antara anak dalam sekelas. Ada benarnya jika seorang guru tidak mencantumkan rangking dalam buku rapor. Toh, sistem ini ternyata bisa "menyembunyikan" potensi lain seorang anak setelah terus terpaku kepada pemeringkatan. Padahal, nilai-nilai yang tertera dalam buku rapor bukan potensi anak yang sesungguhnya. Menurut saya, ada banyak kekeliruan orang dewasa yang tidak mencantumkan mata pelajaran yang sesuai potensi anak.
Apakah kemampuan anak untuk bersosialisasi dicantumkan dalam rapor? Apakah kemampuan anak untuk berinteraksi dengan alam dibubuhkan dalam rapor? Ternyata, tidak.
Saya lebih menyarankan agar membiarkan mereka tumbuh sebagai pribadi yang utuh. Anak-anak tidak dijadikan sebagai sebagai pribadi yang serba meniru tanpa tahu kapasitas dirinya. Keunikan mereka merupakan modal dasar untuk terus tumbuh di tengah pergaulan yang kompleks. Anak memiliki modal alamiah untuk bisa memahami dunianya sendiri. Tentu dengan kadar yang berbeda. Ketika seorang individu tak pandai matematika, bisa jadi dia lihai memelihara seekor ayam. Apabila seorang anak tak pandai menghapal pelajaran sejarah bisa jadi dia pandai mengarang cerita.
Sebetulnya, téori pendidikan apa pun tidak akan berguna ketika orang dewasa malah bersikap tinggi hati di depan anak-anak. Bersikap rendah hati menjadi mutlak dengan alasan bisa meruntuhkan dinding yang membatasi pikiran anak dan keinginan orang dewasa. Apabila ibu dan bapak masih egois maka tidak usah heran jika ujung-ujungnya anak akan merasa dikorbankan. Lambat-laun anak tidak lagi menghormati orang tua ketika dinilai hanya mendahulukan kepentingan sendiri di atas kepentingan anak.
Hingga, akan ada ketenangan jiwa dan pikiran dalam diri anak untuk terus belajar dan menggali potensi diri. Orang tua yang tidak sok tahu akan kebutuhan anak bisa terus membuka diri pada berbagai kemungkinan. Zaman yang senantiasa berubah diikuti oleh kebutuhan individu dan komunal yang senantiasa berubah. Nah, saya yakin apabila seorang anak tertantang untuk terus menyesuaikan diri dengan kebutuhan berawal dari sikap orang dewasa yang mau mengerti akan kebutuhan di anak sejak dini.

Komentar
Posting Komentar
Komentar...