Langsung ke konten utama

Pendidikan yang Dibutuhkan oleh Perdesaan


Sekarang, mari kita membicarakan perkara pendidikan yang lebih spesifik. Tidak usah membayangkan konsep pendidikan yang terlampau luas dan kompleks. Perhatikan saja sekitar kita, apa yang dibutuhkan oleh désa, perdesaan, dan tentu saja warga desa--baik secara individual atau komunal. 

Baca juga: Ketidakberdayaaan Orang Tua Menyediakan Pekerjaan untuk Anaknya

Mari kita mulai dari generasi muda yang ada di rumah. Bukan orang yang jauh dari hunian sehari-hari, tentu mereka adalah sosok-sosok yang setiap hari diajak berbincang. Mereka individu yang unik, berbeda dengan tetangganya, kawannya, bahkan saudaranya sendiri. Ya, saya mengajak Anda untuk berpikir jika kebutuhan individu setiap manusia akan pendidikan begitu berbeda. Artinya, tidak usah berpikir untuk senantiasa seragam meskipun anak sekolah mengenakan seragam. 

Andaikan merasa kebingungan, sesungguhnya mudah saja mengatasinya. Menjadi pendengar yang baik, itu saja yang dibutuhkan oleh anak. Ketika menjadi dewasa, seakan merasa paling tahu kebutuhan anak-anak. Alasannya, karena orang dewasa lebih dulu hidup di dunia. Tidak, tidak begitu. Singkirkan pemikiran demikian. Memang benar jika orang dewasa  paling berpengalaman, tetapi bukan sebuah jaminan untuk punya pemahaman. Saya pikir, mending kita menjadi manusia yang merasa serba tidak tahu saja. Menyerap aspirasi mereka yang apa adanya karena kepolosan itulah cerminan isi pikiran si anak yang sesungguhnya. Orang dewasa tidak tahu apa-apa tentang kebutuhan sang anak

Ini artinya, anak tidak usah dibawa untuk masuk dalam kancah persaingan yang tidak penting. Dalam hal ini, orang dewasa tidak boleh terjebak dalam persaingan antara anak dalam sekelas. Ada benarnya jika seorang guru tidak mencantumkan rangking dalam buku rapor. Toh, sistem ini ternyata bisa "menyembunyikan" potensi lain seorang anak setelah terus terpaku kepada pemeringkatan. Padahal, nilai-nilai yang tertera dalam buku rapor bukan potensi anak yang sesungguhnya. Menurut saya, ada banyak kekeliruan orang dewasa yang tidak mencantumkan mata pelajaran yang sesuai potensi anak. 

Apakah kemampuan anak untuk bersosialisasi dicantumkan dalam rapor? Apakah kemampuan anak untuk berinteraksi dengan alam dibubuhkan dalam rapor? Ternyata, tidak.  


Saya lebih menyarankan agar membiarkan mereka tumbuh sebagai pribadi yang utuh. Anak-anak tidak dijadikan sebagai sebagai pribadi yang serba meniru tanpa tahu kapasitas dirinya. Keunikan mereka merupakan modal dasar untuk terus tumbuh di tengah pergaulan yang kompleks. Anak memiliki modal alamiah untuk bisa memahami dunianya sendiri. Tentu dengan kadar yang berbeda. Ketika seorang individu tak pandai matematika, bisa jadi dia lihai memelihara seekor ayam. Apabila seorang anak tak pandai menghapal pelajaran sejarah bisa jadi dia pandai mengarang cerita.

Sebetulnya, téori pendidikan apa pun tidak akan berguna ketika orang dewasa malah bersikap tinggi hati di depan anak-anak. Bersikap rendah hati menjadi mutlak dengan alasan bisa meruntuhkan dinding yang membatasi pikiran anak dan keinginan orang dewasa. Apabila ibu dan bapak masih egois maka tidak usah heran jika ujung-ujungnya anak akan merasa dikorbankan. Lambat-laun anak tidak lagi menghormati orang tua ketika dinilai hanya mendahulukan kepentingan sendiri di atas kepentingan anak. 

Hingga, akan ada ketenangan jiwa dan pikiran dalam diri anak untuk terus belajar dan menggali potensi diri. Orang tua yang tidak sok tahu akan kebutuhan anak bisa terus membuka diri pada berbagai kemungkinan. Zaman yang senantiasa berubah diikuti oleh kebutuhan individu dan komunal yang senantiasa berubah. Nah, saya yakin apabila seorang anak tertantang untuk terus menyesuaikan diri dengan kebutuhan berawal dari sikap orang dewasa yang mau mengerti akan kebutuhan di anak sejak dini.   

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Merambah Lahan Digital

Di desa kami, lahan pertanian mulai sempit. Tentu saja bukan tanahnya yang berkurang, kini wajah désa berubah setelah ada pembangunan pemukiman dan pabrik. Bagi mereka yang masih bergantung pada sektor pertanian, maka dianggap sebagai sebuah ancaman .  Seberapa serius ancaman itu, saya sendiri belum meneliti. Perlu ada ahli yang menentukan seberapa besar ancaman yang dimaksud. Atau, sebaliknya ini dianggap sebagai sebuah peluang ?  Sudah diramalkan sejak bertahun-tahun sebelumnya jika wajah désa kami akan berubah menjadi areal industri. Bertani hanya menjadi profesi penopang ketika sektor industri belum bisa dijadikan sumber pendapatan utama. Meskipun euforia industrialisasi itu senantiasa ada, belum tentu menjadi sektor yang tetap kokoh di tengah terpaan dinamika global.    Sebagaimana diketahui, perubahan haluan pembangunan di desa bisa terjadi lantaran ada kebutuhan yang mendesak. Karena berbagai penyebab, maka industri membawa angin segar bagi mereka yang tidak k...

Pohon Belajar

Dalam belajar, kita ikuti filosofi pohon. Seperti pohon, kita awali belajar dengan pelajaran dasar layaknya akar. Akar itu kuat menghujam tanah, juga menyerap saripati tanah untuk pertumbuhannya. Al-Qur'an dan As-Sunnah layaknya akar. Batang layaknya minat dan bakat yang sudah ada sejak lahir. Sedangkan, daun dan ranting adalah ilmu yang "menyesuaikan" dengan lingkungan. Akhirnya, maka akan ada buah yang bisa "dipetik". Minat dan bakat, harus menjadi yang utama dipelajari setelah pelajaran dasar. Kenapa? Karena ilmu yang berkenaan dengan minat dan bakat bisa dipelajari dengan "semangat" dan tidak perlu "disuruh-suruh". Ilmu yang berkenaan dengan minat dan bakat menjadi "acuan" akan seperti apa seseorang di masa depan. Layaknya, batang pohon maka minat dan bakat kuat meskipun diterpa angin dan hujan. Terakhir, ilmu lain yang menyesuaikan dengan kebutuhan. Ilmu-ilmu itu akan sangat banyak sesuai dengan kebutuhan...

Kesulitan Mengkomunikasikan Isi Pikiran kepada Warga Desa

Saya ini tipe orang yang langka bicara. Ada alasannya, obrolan warga begitu sering mengangkat topik yang tidak menarik. Tentu saja saya pun tidak tertarik untuk mendengarkan apalagi ikut nimbrung dalam kerumunan. Hal yang bisa dilakukan hanyalah menulis di blog, media sosial, dan buku. Andaikan suatu saat dibutuhkan, maka mereka yang tertarik dengan isi pikiran saya maka cukup membuka di sana. Tidak usah banyak bertanya dan berharap akan memaparkan lebih lanjut, saya tidak akan melakukannya. Misalnya, ketika saya memiliki ide tentang kandang kelinci yang bagus . Orang yang pertama kali menolak ide tentu saja bapa saya sendiri. Beliau tipe orang yang harus diyakinkan dengan banyak bicara atau "diceramahi" terlebih dahulu. Masalahnya, saya gampang bosan untuk banyak bicara. Mendengar ceramah pun mudah ngantuk.  Kandang kelinci dibuat alakadarnya, tanpa estetika yang memuaskan hasrat visual. Saya pun mengalah, ya namanya juga orang tua mana sanggup saya mendebat. Apalagi, Bapa ...