Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2025

Budaya Berpikir Masyarakat Desa

Jika berpikir itu permainan, mungkin akan terasa menyenangkan. Sayangnya, saya memperoleh doktrin jika kegiatan berpikir bukanlah bentuk permainan. Berpikir merupakan sesuatu yang serius, dianggap berbeda dengan permainan. Kata permainan identik dengan kesenangan dan membuang-buang waktu. Dalam bayangan, permainan identik dengan sepakbola, catur, atau gim video. Sedangkan berpikir senantiasa identik dengan logika matematika dan hitung-hitungan.   Kegiatan ini bukanlah menjadi bagian dari budaya kami. Entah sejak kapan, masyarakat kami tidak dibentuk oleh prosés berpikir. Bahkan, mendengar kata "berpikir" pun terkesan berat serta jauh dari jangkauan.  Menurut KBBI pengertian berpikir adalah menggunakan akal budi untuk mempertimbangkan dan memutuskan sesuatu; menimbang-nimbang dalam ingatan. Saya merasa tidak puas dengan pengertian berpikir sebagaimana demikian, belum bisa menguraikan bagaimana prosés berpikir hingga mencapai hasil akhir. Saya pun membuka sebuah artikel da...

Sudah Ada Bahan di Alam, Kreatifitas yang Tidak Ada

Memunculkan kreatifitas ternyata susah. Saya selalu kagum kepada bangsa yang bisa mengubah alam liar menjadi peradaban yang maju. Mereka datang dari tempat yang jauh ke tempat yang tak tersentuh. Awalnya daerah hutan belantara, bertahun-tahun kemudian berubah menjadi kota. Bagaimana caranya semua itu bisa terjadi?  Menurut Napoleon Hill, semua yang terjadi di dunia ini berawal dari pikiran manusia. Saya pun merasa jika perubahan yang terjadi berawal dari dalam pikiran. Masalahnya, bagaimanakah seharusnya kita berpikir agar peradaban itu bisa terwujud? Bagaimanakah seharusnya kita berpikir agar lanskap yang semula tak tersentuh manusia kini menjadi sumber kehidupan yang bermanfaat? Apakah ada hubungannya antara sikap inferior warga desa dengan kreatifitas yang tumpul?  Sebelum kreatifitas muncul, seharusnya kita bertanya kepada diri sendiri, "apa tujuan hidup kita di dunia?" Jika pertanyaan demikian terlalu luas untuk sebuah jawaban, maka kita turunkan dengan menjawab pertanya...

Menyambut Jalan Tol Getaci

Jika ingin makmur, maka bangunlah jalan raya. Ungkapan tersebut adalah pepatah kuno Tiongkok yang populer di kalangan warga desa di wilayah-wilayah pegunungan terpencil. Saya membaca dari Halaman Facebook Xinhua, sebuah berita tentang pembangunan jalan raya telah menjadi prioritas dalam upaya pengentasan kemiskinan di Cina. Pepatah Cina tersebut sepertinya bukan hanya berlaku bagi orang sana. Membangun jalan memang sebuah keharusan. Di mana pun manusia berada maka membangun jalan sebuah keniscayaan, kebutuhan untuk mobilitas, keterbukaan informasi, dan ekspansi.  Gambar: Antara via Pikiran Rakyat Ketika mendapati berita tentang pembangunan jalan tol Gedebage-Tasikmalaya-Cilacap saya hanya ingin tahu bagaimana persepsi  warga . Apakah hal yang terpikir dalam benak warga sama dengan apa yang ada dalam pikiran saya tentang betapa pentingnya sebuah pembangunan jalan tol. Jika orang Cina menganggap pembangunan jalan raya sebagai sebuah cara untuk mencapai kemakmuran maka saya meras...

Terikat dengan Tanah

Saya menonton tayangan tentang bangsa Mongol yang memiliki tradisi menggembala di padang rumput. Keadaan mereka jauh berbeda dengan kami di pulau Jawa.  Padang rumput yang hijau di musim panas dihiasi oleh kawanan domba berbulu putih dan belang-belang. Kawanan itu hanya diawasi oleh satu atau dua orang saja. Tidak jauh dari tempat si ternak merumput, ada sebuah ger berbahan kulit ternak. Di sampingnya, ada seorang wanita yang sedang memasak. Tampak asap mengepul ke udara membentuk garis putih di sela hijaunya padang rumput dan langit yang biru cerah.  Saya tidak sedang menceritakan lanskap Mongolia yang indah. Mari kita cermati bagaimana perilaku bangsa nomaden Mongolia yang tidak memiliki kebiasaan mengolah tanah. Sebuah bangsa yang terkenal haus akan petualangan serta pengalaman menjelajahi dunia baru. Menganggap jika menetap bisa satu tempat terasa membosankan. Atau, gairah untuk mencari suasana baru memang lebih besar dibandingkan menikmati apa yang telah ada dalam waktu l...

Obrolan Warga Desa

Foto: Hartono Subagio via www.pexels.com Sejak masa kanak-kanak, saya senantiasa kebingungan ketika memilih topik obrolan. Bukan karena tidak mengerti apa yang diobrolkan oleh orang-orang di sekitar. Saya hanya heran, kenapa orang-orang sekitar enggan untuk membicarakan perihal perkara di luar keseharian? Sebuah kejadian yang berulang, apabila ada saudara atau tetangga--kebetulan banyak pula tetangga masih ada ikatan saudara--yang datang ke rumah. Tanpa ditanya tak dinyana, mereka yang tiba langsung membuka obrolan. Topik pembicaraan ringan. " Eh , tahu nggak sih , si Fulan tuh begini-begitu." Kami yang sedang menikmati tontonan televisi, lantas tak bisa mengelak untuk memperhatikan pertanyaan.  Maka terjadilah obrolan keseharian yang sudah bisa ditebak akhirnya.  Begitulah, banyak orang di sekitar saya enggan untuk membicarakan perihal abstrak. Apabila membicarakan sesuatu yang belum pernah dicerap oleh indera, maka mereka ramai-ramai untuk menolak.  Kultur kami, seakan...

Terhubung dengan Ruang di Pedesaan

Manusia désa senantiasa terhubung dengan manusia désa lainnya. Sayangnya, kita sering lupa untuk terhubung dengan ruang . Ada banyak alasan kenapa hal demikian terjadi. Bisa jadi, sikap  guyub   bukan hadir karena alasan kemanusiaan. Sikap guyub warga sekedar keinginan untuk diperhatikan oleh manusia lain. Manusia désa semata menjadi kumpulan warga-warga yang berdomisili dalam satu kawasan. Padahal, keterhubungan kita terjadi karena adanya ikatan batiniah sesama makhluk Tuhan . Saya curiga, jika sesungguhnya manusia désa pun individualis . Kita menjalin hubungan semata karena ada kepentingan . Andaikan tetangga dan saudara tidak bisa memberikan timbal balik, mungkin saja sikap guyub itu pun sirna. Kita merasa dekat bersama orang-orang yang memberikan kita kenyamanan. Apabila orang-orang terdekat kita tidak memberikan kenyamanan, masih maukah kita hidup berdampingan? Nah , fokus perhatian seseorang kepada orang lainnya inilah yang mengesampingkan perhatian kepada ruang. ...

Merambah Lahan Digital

Di desa kami, lahan pertanian mulai sempit. Tentu saja bukan tanahnya yang berkurang, kini wajah désa berubah setelah ada pembangunan pemukiman dan pabrik. Bagi mereka yang masih bergantung pada sektor pertanian, maka dianggap sebagai sebuah ancaman .  Seberapa serius ancaman itu, saya sendiri belum meneliti. Perlu ada ahli yang menentukan seberapa besar ancaman yang dimaksud. Atau, sebaliknya ini dianggap sebagai sebuah peluang ?  Sudah diramalkan sejak bertahun-tahun sebelumnya jika wajah désa kami akan berubah menjadi areal industri. Bertani hanya menjadi profesi penopang ketika sektor industri belum bisa dijadikan sumber pendapatan utama. Meskipun euforia industrialisasi itu senantiasa ada, belum tentu menjadi sektor yang tetap kokoh di tengah terpaan dinamika global.    Sebagaimana diketahui, perubahan haluan pembangunan di desa bisa terjadi lantaran ada kebutuhan yang mendesak. Karena berbagai penyebab, maka industri membawa angin segar bagi mereka yang tidak k...

Urbanisasi yang Didorong oleh Tradisi

 " Aa, ulin atuh ka kota !" saran seorang guru sekolah saya ketika berkunjung ke rumah.  Saya pun menanggapi anjuran itu hanya dengan sebuah senyuman. Tidak ada untaian kata yang terucap dari mulut. Meskipun tahu jika kalimat dari Bu Guru terucap setelah melihat saya tidak pergi ke kota sebagaimana pemuda desa lainnya. Ungkapan tidak segera ditanggapi karena dalam pikiran ada banyak opsi untuk disampaikan sebagai jawaban. Bingung pula mesti menyampaikan pilihan kata yang mana. Opsi pertama, saya akan memberikan alasan kenapa masih berada di desa karena tidak tahu jika urbanisasi adalah sebuah tradisi. Saya pikir pergi ke kota hanyalah kebutuhan belaka. Andaikan seorang manusia tidak terdesak untuk pergi ke kota maka melangkahkan kaki meninggalkan désa bukanlah sebuah perkara yang wajib.  Opsi kedua, saya akan menyampaikan alasan keberadaan di desa karena keadaan keluarga mengharuskan tetap berada di rumah. Artinya, setiap keluarga memiliki situasi yang tidak sama. Bahkan,...

Memanfaatkan Benda-benda Sederhana, Kenapa Orang Desa Enggan Melakukannya?

Botol bekas menjadi hiasan (Dokpri.) Sudah berkali-kali saya menulis kata bermanfaat , memanfaatkan , atau manfaat dalam blog ini. Berkali-kali pula mempertanyakan kenapa orang-orang enggan memanfaatkan hal-hal sederhana di sekitarnya?  Jawaban dari pertanyaan tersebut bisa beragam. Saya pun hanya bisa mengumpulkan beberapa jawaban walaupun belum begitu memuaskan. Diawali dengan mengamati orang-orang terdekat yang mengelilingi kehidupan sehari-hari. Ditambah, memperhatikan pula media massa yang menyampaikan hal serupa. Ada pula pemberitaan yang menyampaikan kebalikan dari realita yang ditemui tetapi tidak terserap secara indrawi. Sedikit-sedikit, membuka buku dan membaca jurnal yang tersebar di internet. Melalui semua itu, saya mulai menyimpulkan jika perkara keengganan warga desa memanfaatkan hal sederhana bermula dari pendidikan. Kasihan juga ya, ibu-bapa guru senantiasa dijadikan objek dari akibat segala macam sesuatu yang jelek. Namun, mau bagaimana lagi. Segalanya berhulu dar...

Mempertahankan dan Memanfaatkan Bekal Hidup yang Sederhana

  Dokumen pribadi. Saya berada dalam persimpangan, apakah meninggalkan domba-domba ini demi mencari yang "lebih besar", atau melestarikan mereka? Bukan keputusan yang mudah diambil. Ada banyak pertimbangan untuk segera mengambil keputusan kemudian bertindak. Sejak masa kanak-kanak, keluarga kami terbiasa memelihara kawanan domba. Kegunaan hewan berbulu ini sungguhlah besar bagi kehidupan keluarga. Selain kegunaan secara fisik, ternyata domba memiliki pengaruh yang kuat dalam kesehatan mental.  Sebagaimana yang pernah ditulis sebelumnya, domba-domba ini bisa menghasilkan daging yang nikmat juga menghasilkan pupuk kandang yang menyuburkan tanah. Andaikan tidak ada kotoran hewan, kami bisa kesulitan mencari solusi untuk kembali meningkatkan unsur hara di tanah. Sawah-sawah yang telah digunakan dalam waktu lama mengalami penurunan tingkat kesuburan. Telapak kaki saya pun merasakan betapa keras postur tanah yang sudah jenuh. Hamparan lahan di pedesaan perlu peremajaan. Ketika domb...