Langsung ke konten utama

Budaya Berpikir Masyarakat Desa

Jika berpikir itu permainan, mungkin akan terasa menyenangkan.

Sayangnya, saya memperoleh doktrin jika kegiatan berpikir bukanlah bentuk permainan. Berpikir merupakan sesuatu yang serius, dianggap berbeda dengan permainan. Kata permainan identik dengan kesenangan dan membuang-buang waktu. Dalam bayangan, permainan identik dengan sepakbola, catur, atau gim video. Sedangkan berpikir senantiasa identik dengan logika matematika dan hitung-hitungan.  

Kegiatan ini bukanlah menjadi bagian dari budaya kami. Entah sejak kapan, masyarakat kami tidak dibentuk oleh prosés berpikir. Bahkan, mendengar kata "berpikir" pun terkesan berat serta jauh dari jangkauan. 

Menurut KBBI pengertian berpikir adalah menggunakan akal budi untuk mempertimbangkan dan memutuskan sesuatu; menimbang-nimbang dalam ingatan. Saya merasa tidak puas dengan pengertian berpikir sebagaimana demikian, belum bisa menguraikan bagaimana prosés berpikir hingga mencapai hasil akhir. Saya pun membuka sebuah artikel dari Kompas yang merangkum pengertian berpikir dari beberapa ahli.  

Dari begitu banyak pengertian, saya menyoroti dua hal, yakni informasi/pengetahuan yang tersimpan di otak dan pengolahan informasi tersebut.

Jika berpikir dianggap sebagai kegiatan mengolah informasi, lantas mengapa orang enggan untuk mengumpulkan informasi?

Padahal, media massa sudah tersedia sejak lama. Bahkan, sampai hingga ke desa-desa. Lantas, apakah informasi yang tersedia dijadikan bahan untuk berpikir? 

Hingga saat ini saya masih penasaran mengenai hal seperti apa yang bisa memantik warga untuk berpikir. Andaikan lingkungan tidak mendesak untuk berpikir, tampaknya tak ada keinginan untuk segera menggunakan otak. Andaikan berpikir harus dikenai biaya, sungguh bisa dipahami jika tak tertarik untuk melakukan kegiatan mental tersebut. Namun, jika berpikir begitu murah bahkan gratis masih saja tidak tertarik. 

Saya pun berkesimpulan, jika berpikir akan menjadi kegiatan rutin andaikan warga memiliki sebuah tujuan. Tujuan akan menjadi bahan bakar untuk kegiatan berpikir. Coba bayangkan jika seorang manusia tak memiliki tujuan, maka bisa dimengerti jika sekedar ikut-ikutan. Permasalahannya, tidak semua orang memiliki tujuan memajukan dan mengembangkan kehidupan di desanya. Sekian banyak orang akan segera meninggalkan desa sesaat setelah dia dewasa dan merasa mampu hidup mandiri.  

Tatkala menuju satu tujuan, berpikir selalu menjadi panglima. Terkadang lupa menggunakan perasaan, intuisi, dan tradisi. 

Saya tahu jika berpikir menjadi ciri masyarakat modern, sebuah masyarakat yang diidamkan oleh banyak orang. Para penganut kemajuan, menganggap jika semua aspek kehidupan bermasyarakat ditata secara rasional berdasarkan analisis.

Pengambilan keputusan dalam berbagai hal didasarkan kepada kerangka arguméntasi yang didukung penalaran yang kuat. Kekuatan berpikir akan bersifat dominan dan mendesak ke belakang (bahkan meninggalkan jauh) cara penarikan kesimpulan berdasarkan intuisi, perasaan, dan tradisi. Perlu ditanyakan, bahwa masyarakat modern pun memberi tempat bagi intuisi, perasaan, dan tradisi. Namun, peranan ketiga sumber pengetahuan ini menjadi rélatif kurang penting dibandingkan dengan berpikir. 

Jika diperhatikan, keadaan masyarakat di berbagai tempat yang saya jumpai tidak selalu menjadikan berpikir sebagai cara utama untuk pengambilan sebuah keputusan. Dalam masyarakat sekarang, keadaan ini bersifat terbalik dimana justru intuisi, perasaan, dan tradisi itulah yang bersifat dominan. Peranan berpikir belum mendapat tempat dengan prioritas yang relatif rendah.   

Akan ada perdebatan panjang tentang peran intuisi tatkala berpikir. Masyarakat desa yang sudah terbiasa menggunakan intuisi ketika memutuskan sebuah perkara akan bertentangan dengan cara berpikir logis analitis. Saya tidak menolak intuisi, perasaan, dan tradisi yang melingkupi proses berpikir. Hanya saja, tidaklah mudah memilih dan memilah poin mana yang layak diikutsertakan selama pengambilan keputusan. 

Coba perhatikan, ketika seorang warga sedang memikirkan masa depan anaknya maka banyak hal yang harus dijadikan bahan pertimbangan. Mungkin dia akan mengikuti tradisi dimana seorang lelaki diharuskan merantau selayaknya pergi berperang. Sedangkan perempuan tetap menjadi penunggu rumah hingga ada lelaki yang meminangnya. Si orang tua pun akan mempertimbangkan perasaan tidak tenang andaikan melepaskan anaknya untuk pergi jauh padahal kepergian tersebut demi menempuh pendidikan yang menjadi kebutuhan. Terlebih, secara intuisi sang orang tua tidak yakin jika anaknya akan mengalami keberhasilan. 

Kegiatan berpikir untuk mengambil keputusan dan menyelesaikan masalah ini tidak sepenuhnya menggunakan logika. Itu wajar saja, seberapa banyak peran perasaan, intuisi, dan tradisi juga hal penting. 
 
Saya selalu kagum kepada orang yang memiliki rentang berpikir yang panjang. Dia bisa memikirkan rencana hingga ke masa depan yang jauh sekaligus bisa menjalankan rencana tersebut secara bertahap. Pola sebab-akibat senantiasa menjadi bahan pertimbangan. Andaikan melakukan ini, maka akan terjadi begini. Apabila tidak melakukan itu, maka akan begitu. Sayangnya, tidak mudah pula memahami sebab akibat itu apabila manusia minim mengumpulkan pengetahuan. 

Membutuhkan ketekunan untuk mengumpulkan pengetahuan. Membutuhkan waktu banyak agar koleksi informasi menumpuk di otak. Dan, ketekunan merupakan sesuatu yang mahal di zaman sekarang. 

Sayangnya, sekolah tidak selalu membuat orang berpikir menggunakan akalnya. Sekolah yang mengajarkan logika, bisa saja masih kalah berguna dengan budaya setempat yang masih enggan mengedepankan logika. 

____________________________
Sumber:
Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer, Jujun S. Suriasumantri, Jakarta: Pustaka Harapan, (2013).

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Merambah Lahan Digital

Di desa kami, lahan pertanian mulai sempit. Tentu saja bukan tanahnya yang berkurang, kini wajah désa berubah setelah ada pembangunan pemukiman dan pabrik. Bagi mereka yang masih bergantung pada sektor pertanian, maka dianggap sebagai sebuah ancaman .  Seberapa serius ancaman itu, saya sendiri belum meneliti. Perlu ada ahli yang menentukan seberapa besar ancaman yang dimaksud. Atau, sebaliknya ini dianggap sebagai sebuah peluang ?  Sudah diramalkan sejak bertahun-tahun sebelumnya jika wajah désa kami akan berubah menjadi areal industri. Bertani hanya menjadi profesi penopang ketika sektor industri belum bisa dijadikan sumber pendapatan utama. Meskipun euforia industrialisasi itu senantiasa ada, belum tentu menjadi sektor yang tetap kokoh di tengah terpaan dinamika global.    Sebagaimana diketahui, perubahan haluan pembangunan di desa bisa terjadi lantaran ada kebutuhan yang mendesak. Karena berbagai penyebab, maka industri membawa angin segar bagi mereka yang tidak k...

Pohon Belajar

Dalam belajar, kita ikuti filosofi pohon. Seperti pohon, kita awali belajar dengan pelajaran dasar layaknya akar. Akar itu kuat menghujam tanah, juga menyerap saripati tanah untuk pertumbuhannya. Al-Qur'an dan As-Sunnah layaknya akar. Batang layaknya minat dan bakat yang sudah ada sejak lahir. Sedangkan, daun dan ranting adalah ilmu yang "menyesuaikan" dengan lingkungan. Akhirnya, maka akan ada buah yang bisa "dipetik". Minat dan bakat, harus menjadi yang utama dipelajari setelah pelajaran dasar. Kenapa? Karena ilmu yang berkenaan dengan minat dan bakat bisa dipelajari dengan "semangat" dan tidak perlu "disuruh-suruh". Ilmu yang berkenaan dengan minat dan bakat menjadi "acuan" akan seperti apa seseorang di masa depan. Layaknya, batang pohon maka minat dan bakat kuat meskipun diterpa angin dan hujan. Terakhir, ilmu lain yang menyesuaikan dengan kebutuhan. Ilmu-ilmu itu akan sangat banyak sesuai dengan kebutuhan...

Kesulitan Mengkomunikasikan Isi Pikiran kepada Warga Desa

Saya ini tipe orang yang langka bicara. Ada alasannya, obrolan warga begitu sering mengangkat topik yang tidak menarik. Tentu saja saya pun tidak tertarik untuk mendengarkan apalagi ikut nimbrung dalam kerumunan. Hal yang bisa dilakukan hanyalah menulis di blog, media sosial, dan buku. Andaikan suatu saat dibutuhkan, maka mereka yang tertarik dengan isi pikiran saya maka cukup membuka di sana. Tidak usah banyak bertanya dan berharap akan memaparkan lebih lanjut, saya tidak akan melakukannya. Misalnya, ketika saya memiliki ide tentang kandang kelinci yang bagus . Orang yang pertama kali menolak ide tentu saja bapa saya sendiri. Beliau tipe orang yang harus diyakinkan dengan banyak bicara atau "diceramahi" terlebih dahulu. Masalahnya, saya gampang bosan untuk banyak bicara. Mendengar ceramah pun mudah ngantuk.  Kandang kelinci dibuat alakadarnya, tanpa estetika yang memuaskan hasrat visual. Saya pun mengalah, ya namanya juga orang tua mana sanggup saya mendebat. Apalagi, Bapa ...