Langsung ke konten utama

Bagaimana Orang Jawa Berpikir dan Bertindak, Perlu Ditiru Warga Desa

Akhir-akhir ini saya membaca buku Etika Jawa karya dari Franz Magnis Suseno, memperoleh sebuah pengetahuan baru tentang bagaimana orang-orang Jawa berpikir. Sebagai orang Sunda, pengetahuan ini sesuatu yang menarik dan dianggap berguna. Jika selama ini kesulitan untuk membuat kerangka berpikir sebagai warga desa, mungkin etika orang Jawa bisa saya terapkan.

Mengapa kesulitan membuat kerangka berpikir? 

Alasannya, orang tua di lingkungan kami tidak memberikan "bekal mental" dalam mengarungi zaman malah menyerahkan cara untuk bersikap kepada lembaga pendidikan. Sebagaimana diketahui, pendidikan di dalam negeri tidak serta menganut ide-ide asli dari budaya sendiri. Ah, membicarakan pendidikan harus ada kesempatan lain, Blog ini terlalu pendek untuk menulis permasalahan yang sangat kompleks.

Sebagai manusia pedesaan, kerangka berpikir teramat penting. Bukan hanya penting, tetapi butuh. Bahkan, menurut saya terasa mendesak di tengah gempuran informasi yang terlampau banyak dari hari ke hari. Apabila orang desa tidak memiliki kerangka berpikir, saya khawatir warga malah menjadi orang-orang yang mudah terombang-ambing keadaan. Ketika dirasa rugi, menyalahkan orang lain padahal diri sendiri tak punya pendirian.  

Selanjutnya, kenapa Jawa? Jawabannya sederhana saja, etika Jawa terbukti bisa digunakan pada banyak bidang serta terbukti pula sesuai dengan kebutuhan. 

Satu hal yang perlu disorot, keselarasan. Dalam buku tersebut, etika Jawa senantiasa mengedepankan keselarasan tatkala mengambil keputusan. Keputusan dalam apa saja. Sederhananya, jangan sampai ada konflik. Mungkin itu pula alasan jika pengamat politik menyarankan untuk menerapkan etika politik ala Jawa dalam skala nasional. Dengannya, sudah terbukti jika negeri ini minim sekali konflik horizontal padahal dihuni oleh begitu banyak suku nan berbeda budaya. 

Kemudian, mari kita bicarakan bagaimana menerapkannya dalam kehidupan keseharian. 

Selama ini, saya diberikan pelajaran bagaimana bertahan hidup di desa. Sesuatu yang penting karena desa tidak hanya tentang gaya hidup slow living tetapi juga gaya hidup yang senantiasa dekat dengan alam. Ada hal lain yang belum saya peroleh yakni bagaimana harus berpikir sebagai orang desa. Realitanya, cara berpikir warga kota tidak bisa diterapkan di desa. Meskipun kecakapan teknis ada dalam setiap program pembelajaran orang tua kepada anak-anaknya, tetapi perkara-perkara nonteknis sering membuat kami kebingungan. Sikap responsif terhadap perubahan pun belum cukup apabila tidak memiliki prinsip kuat agar perubahan tersebut tidak berbalik menjadi mesin penggilas kehidupan.

Kami diajari bagaimana menanam padi di sawah, tetapi tidak pernah diajarkan bagaimana mempertahankan lahan persawahan agar tidak berubah menjadi tanah minim fungsi. 

Setelah membaca buku Etika Jawa, saya baru mengerti jika berpikir orang Jawa tidaklah selalu mengedepankan logika. Tidak semua hal bisa nyambung dengan logika. Adakalanya logika jadi tak berguna. Warga Indonesia memang dipaksa untuk berpikir dengan logika karena terlalu banyak elemen mistis dalam budaya. Namun, perkara demikian tidak selalu salah. Kenyataannya, logika malah membuat warga kebingungan.

Mari kita perhatikan désa sekitar. Siapa yang bisa menjawab dengan logika tentang masa depannya? 

Perhitungan seperti apa yang bisa digunakan untuk memprediksi masa depan, saya pikir warga tidak membutuhkannya. Apabila ada ilmu khusus yang bisa memprediksi masa depan suatu wilayah kemudian keputusan berdasarkan hasil perhitungannya, nampaknya hanya berlaku bagi ilmuwan di laboratorium. Sedangkan warga desa tidak memiliki perangkat untuk hal demikian. Warga hanya membutuhkan intuisi serta perhitungan berdasarkan naluri

Hanya saja, intuisi manusia tidak lahir begitu saja. Hal tersebut ada karena pengalaman begitu lama serta berlaku turun-temurun. Dan, budaya bisa menjawab segala kegelisahan manusia tentang masa depan--setidaknya untuk aspek tertentu. 

Ketekunan pun bisa lahir dari kerangka berpikir yang tepat. Tatkala manusia sudah tau perannya di dunia, maka secara sadar dia akan menjalankan peran tersebut. Pikiran untuk menyalahkan nasib sepertinya akan menjauh bahkan hilang. Dia tahu jika dunia memiliki aturan main sendiri sehingga tidak akan iri kepada manusia lain yang memiliki kelebihan atau keistimewaan. Seorang petani akan sadar dengan perannya. Begitupun kepala desa akan paham dengan tugasnya. Satu sama lain bukan saling menjatuhkan tetapi mendukung demi sebuah keselarasan.

Sebelum manusia menyadari perannya, maka tidak heran akan terus mencari hingga mati. Berpindah-pindah tempat, berpindah profesi, atau berubah haluan hidup berkali-kali karena kebingungan. Orang yang tekun tidak akan seperti itu. Sedangkan perdesaan membutuhkan manusia yang memiliki tujuan. Adapun penyesuaian terjadi sekedar menjaga keselarasan bukan karena ikut-ikutan.

Menahan diri, juga hal lain yang menarik perhatian dalam etika Jawa. Demi keselarasan dan menghindari konflik maka menahan diri untuk tidak meluapkan emosi serta ambisi bisa menjadi jalan yang terbaik. Hal ini pula yang bisa menjawab keheranan saya ketika orang Jawa begitu kuat untuk mencapai cita-cita tetapi tidak tampak ambisius. Perihal menahan diri pun bisa menjadi cara untuk beradaptasi di tengah situasi yang serba baru, atau tidak menentu. Andaikan manusia tak bisa menahan diri serta mengedepankan isi pikirannya agar teraktualisasi, keselarasan bisa terganggu. Tatanan menjadi kacau, cita-cita bersama pun jauh dari tercapai.  

Hal penting lainnya yang perlu ditiru oleh warga désa di mana pun adalah cara pandang jika kehidupan tidak berpusat pada manusia (antroposentrisme). Sikap antroposentris ala Barat masa kolonial tidak berlaku bagi orang Jawa. Manusia harus selaras dengan alam. Warga desa pun diajak untuk memanfaatkan potensi alam sekedarnya saja, sesuai dengan kebutuhan. Tidak ada keserakahan yang tampak di permukaan. Saya pikir, sikap demikian sangat diperlukan apabila seorang menusia ingin menjadi pribadi yang memuaskan secara mental dan finansial. 

Terakhir, ketentraman spiritual pun akan datang dengan sendirinya tatkala memiliki jalan pikiran yang ajeg. Sebuah etika lahir dari rahim budaya yang kompleks tetapi berguna. Andaikan dirasa memiliki perbedaan dengan cara pandang yang dianggap lebih kekinian, percayalah jika orang Jawa telah lama membuktikan kebergunaannya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Beternak Kerbau Rawa di Pinggiran Hutan Rawa

  Kerbau Rawa di Kalimantan (Sumber: Antara) Saya punya rencana untuk mengembalikan fungsi lahan kebun sawit menjadi tutupan hutan dengan memanfaatkan peran kerbau rawa. Jika sebelumnya hutan "dikeringkan" untuk ditanami bibit sawit maka harus kembali "dibasahkan" dengan mengalirkan air sungai. Untuk keperluan pupuk dan sumber pendapatan warga maka kerbau rawa bisa menjadi alternatif.  Dalam bayangan pikiran saya, akan ada lahan sawit yang tidak produktif lagi karena faktor usia tanaman. Dalam keadaan demikian, waktu yang tepat untuk segera mengembalikan fungsi hutan. Namun, saya tahu ini bukanlah usaha yang mudah. Penduduk akan lebih tertarik untuk mengalihkan fungsi lahan untuk sesuatu yang komersil. Hanya saja, mengembalikan fungsi hutan merupakan sebuah keharusan. Tentu tidak mengorbankan warga yang membutuhkan sumber pendapatan.  Memelihara kerbau rawa adalah solusi. Ini dipilih karena beberapa alasan.  Pertama, penduduk punya kegiatan untuk mengalihkan énergi ...

Perencanaan Sosial

Perencanaan sosial ( social planning ) pada dewasa ini menjadi ciri yang umum bagi masyarakat-masyarakat yang sedang mengalami perubahan-perubahan atau perkembangan. Sebenarnya perencanaan sosial yang bertujuan untuk melihat jauh ke depan telah ada sejak dahulu dan telah pula dipikirkan oleh para sosiolog . Auguste Comte misalnya, berpendapat bahwa manusia mempunyai kemampuan untuk melihat jauh ke depan serta mengendalikan tujuannya. Pernyataan tadi kemudian diperkembangkan lebih lanjut oleh Lester F. Ward yang mempergunakan istilah social telesis  untuk menunjuk pada arah yang dituju suatu masyarakat. [1] Menurut sosiologi, suatu perencanaan sosial harus didasarkan pada pengertian mendalam tentang bagaimana kebudayaan berkembang dari taraf yang rendah ke taraf modern dan kompleks dimana dikenal industri, peradaban kota dan selanjutnya . Selain itu harus pula ada pengertian terhadap hubungan manusia dengan alam sekitarnya, hubungan antara golongan-golongan dalam masyarakat ...

Merasa Terjebak Dalam Budaya yang Tidak Sesuai Keinginan

  Pernahkah anda berpikir jika diri anda terlahir di tempat yang salah?  Merasa dilingkupi oleh budaya yang tidak membuat raga tak nyaman serta hati tak tenteram. Orang-orang di sekitar menjadi pihak yang senantiasa bertolak belakang dalam berbagai prinsip dan cara pandang terhadap dunia sekitarnya.  Saya pun terkadang merasa demikian. Merasa sulit untuk menerima jika ada "gap" antara harapan dan kenyataan. Bahkan terpikir jika diri ini salah tempat lahir. Dunia di sekitar kita malah menjadi beban psikologis bukannya pemicu untuk tetap berpikir maju.  Ada banyak hal yang tidak disetujui ketika mencermati budaya negeri sendiri. Misalnya, warga tidak peduli kepada masalah kerapihan dan kebersihan.  Di negeri ini, problematika sampah akan terus bergulir hingga generasi selanjutnya. Permasalahan bukan hanya dalam tataran teknis. Namun, saya yakin jika ini sudah menjadi masalah psikologis. Dimana setiap individu warga memang tidak berpikir jika kebersihan merupakan s...