Langsung ke konten utama

Merasa Terjebak Dalam Budaya yang Tidak Sesuai Keinginan

 

Burung Cekakak Sungai

Pernahkah anda berpikir jika diri anda terlahir di tempat yang salah? 

Merasa dilingkupi oleh budaya yang tidak membuat raga tak nyaman serta hati tak tenteram. Orang-orang di sekitar menjadi pihak yang senantiasa bertolak belakang dalam berbagai prinsip dan cara pandang terhadap dunia sekitarnya. 

Saya pun terkadang merasa demikian. Merasa sulit untuk menerima jika ada "gap" antara harapan dan kenyataan. Bahkan terpikir jika diri ini salah tempat lahir. Dunia di sekitar kita malah menjadi beban psikologis bukannya pemicu untuk tetap berpikir maju. 

Ada banyak hal yang tidak disetujui ketika mencermati budaya negeri sendiri. Misalnya, warga tidak peduli kepada masalah kerapihan dan kebersihan. 

Di negeri ini, problematika sampah akan terus bergulir hingga generasi selanjutnya. Permasalahan bukan hanya dalam tataran teknis. Namun, saya yakin jika ini sudah menjadi masalah psikologis. Dimana setiap individu warga memang tidak berpikir jika kebersihan merupakan salah satu cara untuk meningkatkan harga diri agar lebih dihormati.

Ada contoh lain yang membuat saya merasa terjebak dalam lingkungan budaya yang tidak dikehendaki. Budaya kolektif kita sangat mengunggulkan tren dibandingkan keunikan pribadi. Warga pun sangat mengedepankan tren sesaat bukan berusaha menggali potensi setiap diri.

Dalam keadaan demikian, saya merasa bingung. Apakah harus mengikuti arus budaya atau "beda sendiri" diantara keseragaman tipe manusia?


Mencari Keunikan 

Saya pikir, daripada marah-marah serta menyalahkan keadaan mendingan kita mencari keunikan dari lingkungan sekitar.  Kendalikan pikiran, jangan sampai emosi sesaat malah mengaburkan masalah sebenarnya yang kita hadapi. 

Diantara sekian banyak hal yang tidak  disukai dari sekitar, saya yakin ada satu atau dua hal yang kita sukai. 

Mensyukuri hal yang  disukai tersebut sambil menegaskan dalam hati, "oh, ternyata masih ada hal yang patut aku syukuri." Mungkin kita hidup di tengah tumpukan sampah yang membuat sesak namun ada barang bekas yang masih bisa dimanfaatkan. Bahkan, tumpukan sampah itu sendiri benar-benar menjadi berkah bagi orang yang pandai mengolah.

Diawali dengan "mengolah" pikiran. Lantaran, semua berawal dari sana. 

Terkadang, manusia hanya berfokus kepada sekumpulan fakta-fakta. Tumpukan fakta itu direspon dengan cara yang keliru. Kita tidak mengolah fakta-fakta tersebut sebagai sebuah informasi yang berguna. Alhasil, pikiran menjadi lelah tanpa tahu harus melakukan apa. 

Andaikan bisa mengolah informasi dengan baik, saya yakin kita bisa menemukan keunikan diantara tumpukan "sampah" informasi yang tersedia. Bisa saja kelakukan tetangga yang tidak berkenan di hati, polusi udara yang menyesakkan pernafasan atau konflik dengan saudara yang tak kunjung reda. Nah, sekumpulan fakta tersebut semestinya bisa kita olah sehingga bisa "menemukan" celah keunikannya. 

Saya sendiri akan menjadikan hal demikian sebagai sumber inspirasi untuk menulis naskah cerita. Terlepas dari dinamika di sekitar, pada realitanya keputusan ada di tangan kita. Apakah akan menjadikannya sebagai sumber kesulitan atau sumber pendapatan?


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Merambah Lahan Digital

Di desa kami, lahan pertanian mulai sempit. Tentu saja bukan tanahnya yang berkurang, kini wajah désa berubah setelah ada pembangunan pemukiman dan pabrik. Bagi mereka yang masih bergantung pada sektor pertanian, maka dianggap sebagai sebuah ancaman .  Seberapa serius ancaman itu, saya sendiri belum meneliti. Perlu ada ahli yang menentukan seberapa besar ancaman yang dimaksud. Atau, sebaliknya ini dianggap sebagai sebuah peluang ?  Sudah diramalkan sejak bertahun-tahun sebelumnya jika wajah désa kami akan berubah menjadi areal industri. Bertani hanya menjadi profesi penopang ketika sektor industri belum bisa dijadikan sumber pendapatan utama. Meskipun euforia industrialisasi itu senantiasa ada, belum tentu menjadi sektor yang tetap kokoh di tengah terpaan dinamika global.    Sebagaimana diketahui, perubahan haluan pembangunan di desa bisa terjadi lantaran ada kebutuhan yang mendesak. Karena berbagai penyebab, maka industri membawa angin segar bagi mereka yang tidak k...

Pohon Belajar

Dalam belajar, kita ikuti filosofi pohon. Seperti pohon, kita awali belajar dengan pelajaran dasar layaknya akar. Akar itu kuat menghujam tanah, juga menyerap saripati tanah untuk pertumbuhannya. Al-Qur'an dan As-Sunnah layaknya akar. Batang layaknya minat dan bakat yang sudah ada sejak lahir. Sedangkan, daun dan ranting adalah ilmu yang "menyesuaikan" dengan lingkungan. Akhirnya, maka akan ada buah yang bisa "dipetik". Minat dan bakat, harus menjadi yang utama dipelajari setelah pelajaran dasar. Kenapa? Karena ilmu yang berkenaan dengan minat dan bakat bisa dipelajari dengan "semangat" dan tidak perlu "disuruh-suruh". Ilmu yang berkenaan dengan minat dan bakat menjadi "acuan" akan seperti apa seseorang di masa depan. Layaknya, batang pohon maka minat dan bakat kuat meskipun diterpa angin dan hujan. Terakhir, ilmu lain yang menyesuaikan dengan kebutuhan. Ilmu-ilmu itu akan sangat banyak sesuai dengan kebutuhan...

Kesulitan Mengkomunikasikan Isi Pikiran kepada Warga Desa

Saya ini tipe orang yang langka bicara. Ada alasannya, obrolan warga begitu sering mengangkat topik yang tidak menarik. Tentu saja saya pun tidak tertarik untuk mendengarkan apalagi ikut nimbrung dalam kerumunan. Hal yang bisa dilakukan hanyalah menulis di blog, media sosial, dan buku. Andaikan suatu saat dibutuhkan, maka mereka yang tertarik dengan isi pikiran saya maka cukup membuka di sana. Tidak usah banyak bertanya dan berharap akan memaparkan lebih lanjut, saya tidak akan melakukannya. Misalnya, ketika saya memiliki ide tentang kandang kelinci yang bagus . Orang yang pertama kali menolak ide tentu saja bapa saya sendiri. Beliau tipe orang yang harus diyakinkan dengan banyak bicara atau "diceramahi" terlebih dahulu. Masalahnya, saya gampang bosan untuk banyak bicara. Mendengar ceramah pun mudah ngantuk.  Kandang kelinci dibuat alakadarnya, tanpa estetika yang memuaskan hasrat visual. Saya pun mengalah, ya namanya juga orang tua mana sanggup saya mendebat. Apalagi, Bapa ...