Langsung ke konten utama

Menyambut Kawasan Industri di Desa Kami

Sekitar sepuluh tahun yang lalu, saya sudah menulis tentang industrialisasi di pedesaan. Sekarang, apa yang dibayangkan dalam pikiran perlahan menjadi kenyataan. 

Salah satu tulisan tentang persepsi warga desa pada investasi asing, harus dibenahi terlebih dahulu sebelum investasi datang sebagaimana sekarang. Warga tidak menjadikan investasi asing sebagai pendatang yang akan merusak tatanan tetapi dianggap sebagai bagian dari solusi ketika begitu banyak kesulitan memperoleh pendapatan. 

Ada lagi tulisan lain tentang paradigma yang harus ada dalam warga desa yakni paradigma industrialis. Sebuah paradigma untuk menambah nilai tambah pada suatu barang dan jasa. Warga desa tidak hanya melihat produk dari desa sebagai barang mentah yang tidak diolah terlebih dahulu sebelum dijual.  

Andaikan paradigma tersebut sudah ada sejak lama maka ketika investasi datang ke desa setidaknya secara mental telah siap. Setelah sekian lama warga terbiasa dengan paradigma agraris, wajar jika ada rasa yang berbeda setelah industrialisasi berjalan. 

Nah, ketika pemerintah Kabupaten Garut sudah menetapkan desa kami sebagai kawasan industri, setidaknya kami siap untuk kondisi yang mengubah lanskap desa. Warga tidak terkejut ketika masa yang telah direncanakan tersebut datang. Permasalahan bukan hanya tentang kondisi di lapangan, tetapi isi kepala kita sendiri. Masih banyak warga desa yang bernostalgia dengan masa lalu dimana desa menjadi tempat melepas lelah semata. Padahal, ketika investasi berdatangan maka seketika itu pula peran desa berubah. 


Jangan terus berpikir jika desa hanya menjadi tempat untuk mengisi masa tua tanpa berbuat apa-apa. Kini, desa menjadi tempat berlaga yang sebenarnya. Sebagaimana dahulu, kota selalu dianggap sebagai tempat untuk mengadu nasib maka kini nasib itu datang sendiri. 

Coba perhatikan, ketika jalan raya semakin ramai, bahkan jalan tol pun akan dibangun maka tidak ada cara lain selain menyambut industrialisasi di desa kami. Bahkan, ketika fungsi kereta api dimaksimalkan maka hal demikian menjadi opportunity yang tidak bisa diabaikan. Dan, bandar udara baru di Majalengka telah dibangun maka hambatan keterhubungan tidak ada lagi. 

Sekarang, semua terserah kepada kita sebagai orang yang sedang ada di desa. Mau menjadi penonton atau pemain?

Saya tahu jika akan ada perubahan lanskap alam pedesaan. Bukit-bukit nan hijau bakal berubah menjadi deretan atap pabrik berwarna terang. Kesejukan mata setelah melepas lelah di sawah perlahan berubah. Tetapi, kesejukan mata pun tidak akan serta merta ada apabila kesejahteraan tidak terasa.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Merambah Lahan Digital

Di desa kami, lahan pertanian mulai sempit. Tentu saja bukan tanahnya yang berkurang, kini wajah désa berubah setelah ada pembangunan pemukiman dan pabrik. Bagi mereka yang masih bergantung pada sektor pertanian, maka dianggap sebagai sebuah ancaman .  Seberapa serius ancaman itu, saya sendiri belum meneliti. Perlu ada ahli yang menentukan seberapa besar ancaman yang dimaksud. Atau, sebaliknya ini dianggap sebagai sebuah peluang ?  Sudah diramalkan sejak bertahun-tahun sebelumnya jika wajah désa kami akan berubah menjadi areal industri. Bertani hanya menjadi profesi penopang ketika sektor industri belum bisa dijadikan sumber pendapatan utama. Meskipun euforia industrialisasi itu senantiasa ada, belum tentu menjadi sektor yang tetap kokoh di tengah terpaan dinamika global.    Sebagaimana diketahui, perubahan haluan pembangunan di desa bisa terjadi lantaran ada kebutuhan yang mendesak. Karena berbagai penyebab, maka industri membawa angin segar bagi mereka yang tidak k...

Pohon Belajar

Dalam belajar, kita ikuti filosofi pohon. Seperti pohon, kita awali belajar dengan pelajaran dasar layaknya akar. Akar itu kuat menghujam tanah, juga menyerap saripati tanah untuk pertumbuhannya. Al-Qur'an dan As-Sunnah layaknya akar. Batang layaknya minat dan bakat yang sudah ada sejak lahir. Sedangkan, daun dan ranting adalah ilmu yang "menyesuaikan" dengan lingkungan. Akhirnya, maka akan ada buah yang bisa "dipetik". Minat dan bakat, harus menjadi yang utama dipelajari setelah pelajaran dasar. Kenapa? Karena ilmu yang berkenaan dengan minat dan bakat bisa dipelajari dengan "semangat" dan tidak perlu "disuruh-suruh". Ilmu yang berkenaan dengan minat dan bakat menjadi "acuan" akan seperti apa seseorang di masa depan. Layaknya, batang pohon maka minat dan bakat kuat meskipun diterpa angin dan hujan. Terakhir, ilmu lain yang menyesuaikan dengan kebutuhan. Ilmu-ilmu itu akan sangat banyak sesuai dengan kebutuhan...

Kesulitan Mengkomunikasikan Isi Pikiran kepada Warga Desa

Saya ini tipe orang yang langka bicara. Ada alasannya, obrolan warga begitu sering mengangkat topik yang tidak menarik. Tentu saja saya pun tidak tertarik untuk mendengarkan apalagi ikut nimbrung dalam kerumunan. Hal yang bisa dilakukan hanyalah menulis di blog, media sosial, dan buku. Andaikan suatu saat dibutuhkan, maka mereka yang tertarik dengan isi pikiran saya maka cukup membuka di sana. Tidak usah banyak bertanya dan berharap akan memaparkan lebih lanjut, saya tidak akan melakukannya. Misalnya, ketika saya memiliki ide tentang kandang kelinci yang bagus . Orang yang pertama kali menolak ide tentu saja bapa saya sendiri. Beliau tipe orang yang harus diyakinkan dengan banyak bicara atau "diceramahi" terlebih dahulu. Masalahnya, saya gampang bosan untuk banyak bicara. Mendengar ceramah pun mudah ngantuk.  Kandang kelinci dibuat alakadarnya, tanpa estetika yang memuaskan hasrat visual. Saya pun mengalah, ya namanya juga orang tua mana sanggup saya mendebat. Apalagi, Bapa ...