Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2016

Bakat dan Kreatifitas

Sebagai orang desa, sudah selayaknya kita memiiki kreatifitas. Berikut faktor yang mendukung dan menghambat kreatifitas.   Aspek Faktor Pendukung Faktor Penghambat Bakat Internal: ·    minat ·    motif berprestasi memadai ·    keberanian mengambil resiko ·    ulet dan tekun ·    kegigihan dan daya juang. Internal: ·    motivasi berprestasi rendah ·    takut mencoba sesuatu yang belum pernah dilakukan ·    mudah menyerah ·    malas Eksternal: ·    kesempatan maksimal untuk mengembangkan diri ·    sarana dan prasarana yang mendukung ·    dorongan orang tua/keluarga ·    pola asuh. Eksternal: ·    lingkungan yang tidak memberikan kesempatan anak untuk mengembangkan bakat ·    tidak tersedia...

Fenomena Cara Berpikir Linear dan Lateral

Studi Pembangunan Pedesaan merupakan ilmu yang membutuhkan kreatifitas, maka dari itu harus ada cara berpikir yang mendukungnya. Kekuatan aqliyya (akal budi) sebagai kekuatan utama para pelaku modernitas pada dasarnya memiliki konsep-konsep berpikir yang tidak hanya bersandar pada alur ilmiah dan logis yang bersifat linear semata tetapi juga pada alur yang berada pada  beyond the linear thinking  atau sering juga disebut sebagai  out the box  yakni cara-cara berpikir kreatif “menyamping” yang disebut de Bono sebagai “lateral thinking” (Edward de Bono, The Use of Lateral Thinking, 1967). Alur ilmiah dalam tataran paradigma positivisme sangat berguna dan mutlak diperlukan keberadaannya bagi pengembangan ilmu pasti alam (exacta and natural sciences). Pada sisi ini kekuatan berpikir linear memang sangat perlu ditumbuhkan karena terkait dengan konsistensi pada hasil keilmuan. Sesuatu disebut ilmiah dalam arti terukur dan empirik apabila proses dan prosedur yang dilalu...

Masyarakat Kita Belum Cerdas

Kenyataan sejarah menunjukan bahwa sejak tahun 1945 tingkat perkembangan masyarakat Indonesia dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat abad ke-21, baik ekonomi, politik dan Iptek jauh tertinggal dari negara-negara di dunia. Di bidang ekonomi kita adalah produsen bahan mentah dan pasar segala produk industri, di bidang Iptek kita adalah konsumen Iptek negara lain.   Fenomena berikut merupakan bukti belum cerdasnya kehidupan bangsa. (1)     Ketidakmampuan kita untuk tidak kekurangan air bersih dan bahan makanan di musim kering; (2)     Ketidakmampuan kita untuk mengatasi banjir dan tanah longsor di musim hujan; (3)     Ketidakmampuan kita untuk menemukan obat bagi penyakit yang berulang (secara periodik) mewabah di Indonesia, seperti demam berdarah; (4)     Ketergantungan kita pada teknoogi negara lain; (5)     Ketidakmampuan kita untuk menemukan, mengolah, mengelola dan memanfaatkan sumber daya ...

Investasi Sumber Daya Manusia

Para penganut teori human capital berpendapat bahwa pendidikan adalah sebagai investasi sumber daya manusia yang memberi manfaat moneter ataupun nonmoneter. Manfaat nonmoneter dari pendidikan adalah diperolehnya kondisi kerja yang lebih baik, kepuasan kerja, efisiensi konsumsi, kepuasan menikmati masa pensiun dan manfaat hidup yang lebih lama karena peningkatan gizi dan kesehatan. Manfaat moneter adalah manfaat ekonomis yaitu berupa tambahan pendapatan seseorang yang telah menyelesaikan tingkat pendidikan tertentu dibandingkan dengan pendapatan lulusan pendidikan di bawahnya. (Walter W. McMahon dan Terry G. Geske, Financing Education: Overcoming Inefficiency and Inequity , USA: University of Illionis, 1982, h.121). Sumber daya manusia yang berpendidikan akan menjadi modal utama pembangunan nasional, terutama untuk perkembangan ekonomi. Semakin banyak orang yang berpendidikan maka semakin mudah bagi suatu negara untuk membangun bangsanya. Hal ini dikarenakan telah dikuasainya ketera...