Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2024

Kesulitan Mengkomunikasikan Isi Pikiran kepada Warga Desa

Saya ini tipe orang yang langka bicara. Ada alasannya, obrolan warga begitu sering mengangkat topik yang tidak menarik. Tentu saja saya pun tidak tertarik untuk mendengarkan apalagi ikut nimbrung dalam kerumunan. Hal yang bisa dilakukan hanyalah menulis di blog, media sosial, dan buku. Andaikan suatu saat dibutuhkan, maka mereka yang tertarik dengan isi pikiran saya maka cukup membuka di sana. Tidak usah banyak bertanya dan berharap akan memaparkan lebih lanjut, saya tidak akan melakukannya. Misalnya, ketika saya memiliki ide tentang kandang kelinci yang bagus . Orang yang pertama kali menolak ide tentu saja bapa saya sendiri. Beliau tipe orang yang harus diyakinkan dengan banyak bicara atau "diceramahi" terlebih dahulu. Masalahnya, saya gampang bosan untuk banyak bicara. Mendengar ceramah pun mudah ngantuk.  Kandang kelinci dibuat alakadarnya, tanpa estetika yang memuaskan hasrat visual. Saya pun mengalah, ya namanya juga orang tua mana sanggup saya mendebat. Apalagi, Bapa ...

Terkoneksi dengan Sumber Ilmu Pengetahuan

Membaca buku sambil ngopi dan mendengarkan radio menjadi kegiatan di pagi hari (dokpri.) Saya punya hobi membaca sejak masa remaja. Kebetulan, Bapa mengoleksi buku terbitan lama. Buku-buku itu dibelinya dari toko di kota. Namun, ada masa dimana kegiatan membeli buku terhenti karena tidak ada yang bepergian ke sana. Hingga, suatu waktu internet memudahkan saya untuk bertransaksi dengan toko buku yang jauh dari desa. Buku bisa dipesan, menunggu beberapa hari, kemudian kurir mengantarkan pesanan hingga ke rumah. Sensasi Ketika Paket Tiba Ada perasaan senang ketika kurir JNE tiba di depan pintu. Salah seorang diantara kami sudah bisa menebak bagaimana perasaan masing-masing. Dalam hati, menerka jika Si Akang Kurir senang karena bisa menyelesaikan tugasnya. Begitu pun sebaliknya, dia akan mendapati rona wajah yang sudah familiar ketika mendatangi pelanggan.  Saya perhatikan, barang yang menumpuk di sepeda motor sang kurir masih banyak. Bisa menjadi pertanda jika warga sekampung melakuka...

Rendah Hatilah dalam Menyampaikan Pengetahuan

  Jika saja saya membaca buku ini sekira 30-20 tahun lalu maka kemungkinan bisa merancang sendiri pelajaran apa yang dibutuhkan. Bisa mempelajari hal yang berbasis minat, bakat serta potensi di sekitar tanpa harus terlalu banyak input pengetahuan lain. Pada awalnya, saya merupakan tipe anak yang penurut dan percaya pada apa yang dibicarakan oleh orang dewasa. Perkataan mereka adalah sebuah kebenaran. Bahkan, nasihat orang dewasa berlandaskan suatu filsafat yang memiliki makna mendalam. Ternyata, tidak demikian.  Ada saatnya, ketika orang dewasa bicara kepada anak-anak hanyalah sebuah cara untuk menunjukkan kekuasaan. Hal yang dibicarakan hanyalah sebuah asumsi, opini atau sekedar cara untuk menutupi kelemahan diri. Terkadang, orang dewasa enggan terlihat  lemah di depan anak-anak. Makanya, mereka menjadi sangat banyak bicara. Membicarakan pengalaman yang tidak relevan dengan zaman seakan hal demikian merupakan pertaruhan. Semata membanggakan diri jika mereka telah melakuk...

Bangga dengan Harta Produktif

Kebanggaan akan harta, itu hal lumrah bagi seorang manusia. Harta sebagai simbol dari hasil jerih payah kita setelah menghabiskan banyak waktu dan tenaga dalam bekerja. Karena harta pula, derajat Anda terangkat secara otomatis tanpa harus ada upacara penyematan lencana atau tanda pangkat. Anda punya banyak harta maka warga pasti akan mencap sebagai orang kaya.  Hanya saja, kebanggaan akan harta akan lebih bermakna bagi banyak orang apabila berbentuk harta produktif. Warga akan menilai Anda sebagai orang kaya yang layak dibela. Mereka yang merasakan manfaat dari kekayaan yang berlimpah akan sama merasa kehilangan jika suatu saat aset tersebut pergi.  Andaikan kita punya sawah yang luas, maka akan banyak warga yang dilibatkan tatkala musim tanam dan musim panen tiba. Orang yang mempekerjakan banyak tenaga sama dengan sedekah yang menghidupi setidaknya tiga orang manusia. Si buruh tani, istrinya serta minimal satu orang anak.  Apabila Tuan dan Puan bangga akan aset sebuah pa...

Fungsi Kalénder Hanya Penanda Tanggal Bukan Penanda Musim

  Kalender tidak lagi berfungsi sebagai penanda musim. Hal tersebut bisa kami konfirmasi.   Dunia tidak lagi sinkron dengan kalender. Hal tersebut bukan karena peredaran bumi terhadap matahari berubah apalagi keluar dari orbit. Begitupula, bulan tidak pernah melenceng dari jalur semestinya dia mengitari bumi.  Semua terjadi karena ulah manusia.   Namun, saya tidak akan membicarakan hal tersebut terlalu panjang lebar. Mari kita membicarakan hal yang sederhana dimana kebetulan terjadi di depan mata. Bukan perkara politik global atau wacana pergantian kekuasaan. Ini tentang peran kalénder yang tidak berguna. Tentu hanya pada situasi tertentu, kalender menjadi tidak berguna. Misal, perkara memprediksi kenaikan harga bahan pangan.  Coba perhatikan, kenaikan harga biasa terjadi beberapa hari menjelang hari raya. Mungkin semata faktor budaya konsumsi yang meningkat pada momen Lebaran. Kapan tahu akan ada peningkatan permintaan tentu setelah melihat kalender. ...

Jadwal Musim Tanam yang Bergeser

  Jadwal tanam kali ini bergeser jika dibandingkan dengan jadwal tanam sebelumnya. Bisa dilihat dalam foto, ketika saya memotretnya hari ini 12/2/2024 para petani baru saja menanam bibit padi di sawah.  Hal yang dirasa kurang menggembirakan. Ternyata perubahan iklim benar-benar berdampak kepada jadwal para petani menanam padi . Saya khawatir jika hal ini pun akan berimbas kepada pasokan pangan dalam skala komunitas maupun skala regional.  Padi milik petani sisa musim tanam sebelumnya sudah berkurang banyak. Di gudang, cadangan pun mulai menipis.  Mungkin saja situasi ini berimbas kepada harga beras di pasar. Pasokan yang berkurang membuat orang berebut pangan kemudian harga merangkak naik. Jika diperhatikan, ini bukanlah sesuatu yang belum diprediksi. Sudah jauh-jauh hari Al Gore _mantan wapres AS_ memperingatkan jika perubahan iklim dan dampak kepada pasokan pangan adalah nyata . Bukan isapan jempol belaka.  Dampak perubahan iklim bisa terjadi hingga pereb...

Berada dalam Dua Dimensi Masa

Dimensi masa yang saya maksud tentu saja bukan lorong waktu. Sebuah portal yang dibuat selayaknya Doktor Strange, bukan itu. Tetapi, kami warga desa dihadapkan pada generasi yang merasa jika masa lampau masih menjadi andalan untuk menetapkan arah hidup. Kemudian ada generasi yang selalu menatap masa depan sekaligus bergairah meninggalkan cara-cara lama.  Pada mulanya, saya kebingungan bagaimana membaca pola maksud dari para orang tua yang enggan mengubah cara-cara lama. Sekaligus, saya pun harus bisa mengerti orang-orang yang sekuat tenaga ingin mengubah cara hidup yang dianggap usang.  Adakalanya, saya harus tetap menggunakan cara-cara lama dengan berbagai alasan. Misalnya, demi menghemat biaya maka bercocok tanam pun tetap menggunakan cara tradisional yang telah berlangsung selama beberapa dekade. Namun, adakalanya saya pun harus berpikir tentang kemungkinan masa depan. Misalnya, bagaimana memutuskan untuk berinvestasi di ranah digital.  Terkadang saya merasa kelelahan ...