Langsung ke konten utama

Fungsi Kalénder Hanya Penanda Tanggal Bukan Penanda Musim

 

Kalender tidak lagi berfungsi sebagai penanda musim. Hal tersebut bisa kami konfirmasi. 
Dunia tidak lagi sinkron dengan kalender. Hal tersebut bukan karena peredaran bumi terhadap matahari berubah apalagi keluar dari orbit. Begitupula, bulan tidak pernah melenceng dari jalur semestinya dia mengitari bumi. 

Semua terjadi karena ulah manusia.  

Namun, saya tidak akan membicarakan hal tersebut terlalu panjang lebar. Mari kita membicarakan hal yang sederhana dimana kebetulan terjadi di depan mata. Bukan perkara politik global atau wacana pergantian kekuasaan. Ini tentang peran kalénder yang tidak berguna.

Tentu hanya pada situasi tertentu, kalender menjadi tidak berguna. Misal, perkara memprediksi kenaikan harga bahan pangan. 

Coba perhatikan, kenaikan harga biasa terjadi beberapa hari menjelang hari raya. Mungkin semata faktor budaya konsumsi yang meningkat pada momen Lebaran. Kapan tahu akan ada peningkatan permintaan tentu setelah melihat kalender. 

Sekarang saya sedang berada di tepian pesawahan. Memandangi hamparan lahan yang baru saja dibajak. Belum ada kegiatan memanen, tentu saja membutuhkan waktu hingga tiga sampai empat bulan ke depan. 

Dalam waktu sekian bulan tersebut, bisakah petani memperkirakan harga pangan? Mungkin nanti di masa panen harga beras akan turun. Penawaran melimpah di banyak tempat. Sentra produksi beras sedang dibanjiri stok. 

Ah, itu cerita masa lalu. 

Sulit untuk memprediksi harga pangan. Meskipun kita bisa tahu kapan hari besar dirayakan.  

Sekarang, kenaikan harga pangan terjadi  jauh sebelum hari raya. Pengamat ekonomi bisa saja mengarang cerita tentang penyebab kenaikan harga. Mungkin karena stok menipis, permintaan jelang tahun politik atau kurs nilai tukar dollar yang stabil bahkan perang Timur Tengah pun bisa dikait-kaitkan. 

Artinya, kalender hanya penanda kapan para tengkulak harus bersepakat menaikan harga. Kalender pula sebagai jadwal kapan berita harus disiarkan untuk menyebar kepanikan. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kayu Bakar untuk Bertahan Di Tengah Kesulitan

Ketika ktia kelelahan mencari sesuatu yang tidak ada atau jauh dari kediaman, maka melihat ke sekeliling bisa menjadi solusi. Bapa saya akhir-akhir ini rajin membelah kayu-kayu yang tumbuh di sekitar rumah. Untuk bahan bakar, demi menghemat anggaran belanja. Menanak nasi dan memasak air di atas tungku, tidak banyak menggunakan kompor demi usaha penghematan. Ketika banyak orang, sibuk mencari uang untuk membeli kebutuhan rumah tangga maka Bapa saya lebih suka menanam pepohonan. Ketika pohon itu sudah besar, manfaatnya begitu banyak. Salah satu yang saat ini dirasakan adalah kesanggupan kami untuk sekedar bertahan hidup di kala ekonomi sedang tidak baik. Meskipun negara sedang dilanda banyak bencana, kami bisa bertahan demi sekedar makan. Alhamdulillah.

Beternak Kerbau Rawa di Pinggiran Hutan Rawa

  Kerbau Rawa di Kalimantan (Sumber: Antara) Saya punya rencana untuk mengembalikan fungsi lahan kebun sawit menjadi tutupan hutan dengan memanfaatkan peran kerbau rawa. Jika sebelumnya hutan "dikeringkan" untuk ditanami bibit sawit maka harus kembali "dibasahkan" dengan mengalirkan air sungai. Untuk keperluan pupuk dan sumber pendapatan warga maka kerbau rawa bisa menjadi alternatif.  Dalam bayangan pikiran saya, akan ada lahan sawit yang tidak produktif lagi karena faktor usia tanaman. Dalam keadaan demikian, waktu yang tepat untuk segera mengembalikan fungsi hutan. Namun, saya tahu ini bukanlah usaha yang mudah. Penduduk akan lebih tertarik untuk mengalihkan fungsi lahan untuk sesuatu yang komersil. Hanya saja, mengembalikan fungsi hutan merupakan sebuah keharusan. Tentu tidak mengorbankan warga yang membutuhkan sumber pendapatan.  Memelihara kerbau rawa adalah solusi. Ini dipilih karena beberapa alasan.  Pertama, penduduk punya kegiatan untuk mengalihkan énergi ...

Logika Matematika Tidak Cocok untuk Membangun Desa

Sudah bertahun-tahun saya hidup di desa. Selama ini pula saya mencari cara bagaimana membangun desa. Dimulai dari mencari landasan berpikir dalam bertindak hingga mempelajari hal-hal yang bersifat teknis. Dalam masa pencarian itu, saya mulai mendapati bahwa ada begitu banyak cara untuk membangun desa. Dan, cara-cara itu memiliki landasan berpikir yang berbeda antara satu sama lain.  Misalnya, jika kita bermaksud membangun selokan untuk mengairi sawah maka kita perlu berpijak pada hukum logika. Perhitungan matematis mutlak diterapkan.  Namun, ada juga hal yang tidak bisa dilandaskan pada pijakan berpikir logika matematika. Misalnya, ketika kita mengembangkan usaha ternak. Dalam mengembangkannya, peternakan memerlukan landasan berpikir non-logis. Karena, ternak-ternak itu adalah makhluk bernyawa yang tidak bisa diuukur secara matematis. Coba bayangkan, jika saya beternak 2 ekor domba. Dalam waktu tertentu domba itu bisa bertambah menjadi 3,4,5 dst. Namun, sangat mungkin domba sa...