Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2018

Keguyuban Orang Desa, Masih Adakah?

Gambar: http://ppid.sukoharjokab.go.id/ Ikatan apa yang bisa menyatukan orang desa di tengah arus globalisasi seperti ini? *** Pertanyaan diatas sulit dijawab karena beberapa alasan (setidaknya menurut pengamatan penulis), diantaranya: Pertama, kultur keagamaan orang desa yang sudah 'memisahkan'  diri dari kehidupan riil masyarakat. Orang dulu, beragama sekaligus membangun desa. Tokoh-tokoh agama tidak hanya memimpin ritual tetapi juga memimpin aktifitas aktual. Saya baca profil Teungku Daud Beureuh di Aceh, Kiai Hasyim Asy'ari di Jawa, dan juga Kiai Ahmad Dahlan, mereka benar-benar membangun masyarakat dalam ranah aktual. Hal-hal yang berhubungan dengan kebutuhan dasar warga diperhatikan. Mulai dari pengairan di sawah, perdagangan di pasar, pendidikan hingga kesehatan diperhatikan. Kedua, kebutuhan yang semakin beragam. Orang desa zaman dahulu, memiliki profesi yang cenderung seragam yakni sebagai petani atau nelayan. Namun, saat ini profesi warisan leluhur ter...

Memetik Hikmah dari Kejadian Sekitar: Cara Mudah Belajar Orang Desa

Sumber : staticflickr.com Ada suatu paradigma bahwa belajar harus di sekolah atau kuliah. Paradigma ini jelas tidak salah. Namun, membatasi diri pada belajar formal saja membuat orang tidak ingin belajar dari kejadian sehari-hari. Memperhatikan apa yang terjadi di sekitar kita juga adalah bentuk belajar. Warga desa sangat didorong untuk terus belajar memahami apa yang terjadi. Pembelajaran ini sebagai suatu bentuk cara orang desa "bertahan hidup" di tengah perubahan zaman yang sulit diprediksi. Sumber pembelajaran orang desa tidak melulu harus dari orang kota. Saya sering didorong untuk mencari ilmu ke kota. Namun, tidak didorong untuk mempelajari apa yang sedang terjadi di desa. Apakah kita menyadari, bahwa kurikulum pembelajaran yang meniru orang kota membuat kita lupa akan potensi daerah sendiri. Saya mengalami hal itu. Saat ini, saya sendiri banyak 'tidak tahu' nama binatang yang hidup di sekitar rumah. Nama-nama binatang itu seakan 'asing' di te...

Mengubah Budaya Desa: Agrikultur Menjadi Industri

Sumber: okezone.com Dasar pemikiran dari judul di atas adalah suatu kenyataan dimana di beberapa desa terjadi over populasi. Produksi pertanian sangat rendah apabila dibandingkan dengan jumlah manusia yang dipergunakan dalam produksi tersebut. Proses urbanisasi bisa terjadi dalam waktu cepat atau lambat, bergantung daripada keadaan masyarakat yang bersangkutan. Sebagaimana yang disampaikan Soerjono Soekanto, proses tersebut terjadi dengan menyangkut dua aspek, yaitu: (a) berubahnya masyarakat desa menjadi masyarakat kota; (b) bertambahnya penduduk kota yang disebabkan oleh mengalirnya penduduk yang berasal dari desa-desa (pada umumnya disebabkan karena penduduk desa merasa tertarik oleh keadaan dikota). Saya melihat bahwa kemungkinan pertama (huruf a) diatas menjadi penyebab akan adanya perubahan budaya di desa. Suatu desa (terutama di Pulau Jawa) -mau tidak mau- akan berubah menjadi "desa industri". Pada awalnya hanya sebuah desa dengan industri sebagai penopang k...

Memanfaatkan Infrastruktur Jalan Tol dan Rel Kereta Api

Sumber: detik.com Tulisan ini saya fokuskan pada pembangunan jalan tol dan jalan kereta api. Kedua infrastruktur ini mempunyai ciri khas dalam merangsang pembangunan di daerah. Kedua infrastruktur ini bisa menjadi alat distribusi utama bagi industri-industri di daerah. Sumber: goodnewsfromindonesia.id Kalangan industri kurang "puas" menggunakan jalan arteri karena akan dihalangi oleh kemacetan di sana-sini. Jalan tol dan kereta api jelas memberi pengaruh besar dalam biaya distribusi barang yang diproduksi. Kalangan industri biasanya "bergairah" berinvestasi di daerah dimana ada kemudahan distribusi. Walaupun industri itu berada di daerah 'terpencil', apabila barang hasil produksi bisa disalurkan dengan aman dan nyaman maka biasanya industri bertumbuh di sana. Kebetulan, di daerah saya Kabupaten Garut akan dibangun jalan tol dan pengaktifan kembali jalan kereta api. Rel kereta ini sebetulnya  sudah ada sejak jaman penjajahan. Namun, tidak berfun...

Pohon Belajar

Dalam belajar, kita ikuti filosofi pohon. Seperti pohon, kita awali belajar dengan pelajaran dasar layaknya akar. Akar itu kuat menghujam tanah, juga menyerap saripati tanah untuk pertumbuhannya. Al-Qur'an dan As-Sunnah layaknya akar. Batang layaknya minat dan bakat yang sudah ada sejak lahir. Sedangkan, daun dan ranting adalah ilmu yang "menyesuaikan" dengan lingkungan. Akhirnya, maka akan ada buah yang bisa "dipetik". Minat dan bakat, harus menjadi yang utama dipelajari setelah pelajaran dasar. Kenapa? Karena ilmu yang berkenaan dengan minat dan bakat bisa dipelajari dengan "semangat" dan tidak perlu "disuruh-suruh". Ilmu yang berkenaan dengan minat dan bakat menjadi "acuan" akan seperti apa seseorang di masa depan. Layaknya, batang pohon maka minat dan bakat kuat meskipun diterpa angin dan hujan. Terakhir, ilmu lain yang menyesuaikan dengan kebutuhan. Ilmu-ilmu itu akan sangat banyak sesuai dengan kebutuhan...

Keotentikan Kultural: Modal Berselancar di Dunia Digital

Keotentikan kultural merupakan modal kita untuk "memenuhi" konten di dunia digital. Meskipun Barat punya teknologi informasi super canggih, tetapi kontennya kita bisa isi dengan "sumber lokal". Pernahkah kita berpikir, bagaimana mengisi media sosial yang menjadi keseharian kita. Sudah banyak bukti, bahwa media sosial dengan menampilkan 'konten lokal' punya "follower" setia. Pengikutnya, tidak hanya saudara senegara tetapi juga saudara dari mancanegara. Konsep ini sudah saya coba di Instagram. Saya menampilkan kondisi alam sekitar desa mulai dari flora, fauna hingga suasana kesehariannya. Ternyata, ada banyak orang yang tidak saya kenal menyukainya. Sayangnya, Bahasa Inggris saya yang jelek membuat saya kurang komunikatif. Keotentikan kultural merupakan gagasan yang perlu dipertimbangkan dalam menghadapi era informasi digital. Hal ini tidak saja berarti bahwa kultur-kultur tradisional, lingkungan dan nilai-nilai  harus dihormati. Tetapi, juga be...

Memahami Pola Kehidupan Sehari-hari

Jika suatu perjalanan hidup seseorang bisa dipahami polanya, maka dia tidak perlu "was-was" akan masa depannya. Seorang manusia bisa menerawang masa depannya meskipun saat ini dia belum bisa mewujudkan apa yang dipikirkannya. Saya membaca novel Origin karya Dan Brown. Disana ditulis, bahwa masa depan ummat manusia bisa 'diprediksi' dengan pola-pola komputerisasi. Namun, tentu saja harus ada data yang relevan. Selanjutnya, bagaimana kita memahami pola-pola kehidupan sehari-hari tanpa aplikasi komputer? 🔃 Saya mencoba belajar memahami cara berpikir anak kecil. Maksudnya, pola-pola pikiran itu diharapkan bisa membawa kita pada "bagaimana cara manusia belajar". Setelah tahu, orang dewasa tidak perlu lagi bersusah payah membuat "kurikulum" yang bersifat general. Bila anak sudah punya cara belajar sendiri, dia akan memahami sendiri pola-pola di kehidupannya sendiri. Pola belajar anak kecil ini sangat penting untuk "dipatenk...

Mengkombinasikan Belajar Aktual dan Digital

Cara belajar seperti ini bisa mengantisipasi ilmu masa kini yang tidak relevan di masa depan.

Menegaskan Tujuan atau Meramalkan Capaian

Tujuan menjadi sangat berarti dalam usaha kita membangun kehidupan. Tujuan sangat erat kaitannya dengan kondisi masa depan.  Maka tidak aneh antara tujuan dan realita masa depan sering berbeda, itu karena tidak tegasnya sebuah tujuan. 'Martabat' manusia yang tinggi yakni memiliki akal menjadikan manusia berbeda dengan makhluk lain. Sepengetahuan saya, kekuatan akal ini tidak hanya mencerna apa yang ada di depan mata tetapi juga diajak untuk berimajinasi. Surga dan neraka adalah imajinatif. Namun, dengan keyakinan banyak orang berusaha untuk mencapai atau menghindarinya. Sayangnya, fungsi akal ini menjadi 'salah kaprah' karena dogma agama yang tidak pada tempatnya. Ketika orang Atheis tidak percaya agama karena dianggap tidak bisa merekayasa kondisi didunia, maka kaum agamis harus meyakinkan diri bahwa masa depan dunia tidak lepas dari agama. Agama tidak hanya berbicara moral belaka tetapi juga harus membicarakan konsep perbaikan lingkungan. * Akal kita menjadi...

Alat: Jika Tidak Digunakan, Ya Tidak Bermanfaat

Coba lihat disekeliling kita, begitu banyak alat yang bisa kita gunakan. Berapa banyak  yang sudah digunakan dengan optimal? Alat sesederhana seperti sapu pun jarang digunakan. Bila sering, kenapa lingkungan kita masih kotor. Sampah berserakan dimana-mana. Bila kita punya sebilah golok, buat digunakan apa? Untuk membuat kerajinan, menebang pohon atau 'membunuh orang'? Alat bisa berfungsi jika ADA RENCANA. Untuk urusan rencana ini, saya ingin menekankan bahwa kita tidak usah membatasi diri. Persepsi kita tentang hari akhirat dan kematian semestinya bukan membatasi kita untuk punya 'rencana masa depan' bagi anak-cucu. Warisan tidak hanya materi, tetapi juga 'warisan immateri' berupa ide-ide dan rencana aksi demi mendapatkan ridho Illahi. Saya menyaksikan sendiri, bagaimana suatu komunitas menjadi 'kebingungan' karena tidak adanya kompas. Layaknya kapal yang ditinggal mati oleh nahkodanya, komunitas itu terombang-ambing tanpa jelas tujuan. Para kr...

Insinyur Memimpin Desa

Lihatlah, desa kita 'nyaris tidak ada apa-apa'. Mau jadi apa? Desa kita perlu dibangun. Tetapi, dibangun apa? Pertanyaan itu ada dalam otak para insinyur. Bukan otak para pedagang. Pedagang kurang tertarik membangun karena sulit mencari untung. Sedangkan insinyur, punya otak 'pencipta' dimana bagi mereka untung datang belakangan. 'Imajinasi' sang insinyur adalah 'anugerah Illahi' yang  terhubung dengan alam semesta, bahkan hingga ke 'tempat yang jauh dari jangkauan'. Para insinyur berpikir teknis. Tetapi, tentu saja mereka pun tidak akan melupakan sisi humanis karena kita tidak sedang hidup di negara atheis. Pola pikir teknis sangat diperlukan dalam pembangunan karena bisa melihat alam ini sebagai sistem yang dibangun bukan sistem yang 'terbangun begitu saja'. Pemimpin dari kalangan 'teknisi' senantiasa memiliki ambisi mengisi hari. Bukan berarti dari kalangan lain tidak punya ambisi, hanya saja persepsinya tentang ...

Kepemimpinan di Pedesaan: Kultural atau Struktural?

Masih ada yang tidak sadar bahwa kepemimpinan tidak hanya struktural/formal tetapi juga ada/masih berlaku kepemimpinan kultural/informal di pedesaan. Sebagai contoh, seorang Kyai tentu saja pemimpin kultural dimana tidak ada jabatan formal yang diembannya. Namun, keputusan pembangunan di pedesaan masih dipegang olehnya. Arah pembangunan seperti apa yang diinginkan masih bergantung padanya. Setidaknya, begitulah yang terjadi di banyak desa. Fokus perhatian kepemimpinan di pedesaan beralih dari waktu ke waktu. Siapa yang bisa memenuhi 'kebutuhan' warga maka dia yang dianggap 'layak memimpin'. Membentuk lembaga formal _seperti lembaga non-profit_, belum tentu menjadi efektif dan efisien demi pembangunan pedesaan. Pergeseran 'kebutuhan'. Setidaknya itulah yang  sering saya lihat di pedesaan.  Jika dahulu lembaga non-profit begitu mempengaruhi pembangunan, saat ini lembaga seperti dianggap belum bisa menjawab persoalan 'klasik' di desa. Kita soroti...

Apa Sarana yang Paling Cocok Untuk Perubahan Sosial di Desa Kita?

Mau lembaga pendidikan, lembaga keagamaan, industri atau lembaga nirlaba, itu bergantung pada 'kebutuhan'. Setiap waktu dan tempat memiliki cerita yang berbeda. Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain pula ikannya, begitu pepatah bilang. Pemikiran itu bercermin di desa saya sendiri. Dimana saat ini lembaga pendidikan sudah sulit untuk 'mengubah' kondisi sosial. Mungkin karena kebutuhan zaman. Dahulu pendidikan begitu 'dibutuhkan', sekarang pendidikan menjadi 'pilihan'. Untuk itu, harus ada upaya menelaah terlebih dahulu apa kebutuhan desa kita. Perbedaan kebutuhan ini diharapkan bisa menjadi dasar untuk menentukan sarana apa yang cocok bagi perubahan sosial di desa. Bagaimana kita menelaah kebutuhan, itu juga bukan perkara gampang. Dalam menentukan kebutuhan itu, sangat dipengaruhi oleh filsafat hidup yang dianut. Teori dengan perhitungan matematis sepertinya sulit mengukur kebutuhan itu. Namun, filsafat hidup, dimana tidak perlu perhitungan mat...

PIKIRAN YANG GEMBIRA

Suasana pikiran yang gembira dan optimis berhadapan dengan kesulitan-kesulitan membangkitkan tenaga dalam diri kita yang dapat melawan kesulitan-kesulitan itu dan segera memungkinkan kita melihat dengan terang kembali, bertindak dengan cerdik dan mendapat hasil-hasil yang diinginkan, daripada terus jadi korban dari pikiran kalut kita sendiri dan suasana-suasana yang telah ditariknya pada kita. Kalau anda cenderung menyalahkan suatu peristiwa kepada orang lain atau hal-hal di luar kemampuan anda -atau dikatakan "nasib buruk" -kesampingkanlah semua sikap mental yang merusak ini dan kendalikanlah diri sendiri. Bertekadlah untuk mengubah seluruh tinjaun hidup anda dalam waktu singkat. Ini dapat dilakukan. Dan, dengan gembira anda akan menyadari bahwa tidak ada kejadian yang kebetulan itu, bahwa selamanya ada tenaga penggerak di balik kejadian yang bagaimanapun tak berarti. (Dale Carnegie)

PENDIDIKAN MENENGAH YANG TERABAIKAN

Di negara terbelakang, termasuk Indonesia, mengabaikan fokus pada pendidikan menengah. Profesor Lewis menganggap orang-orang dengan pendidikan menengah sebagai "perwira dan perwira cadangan" dari suatu sistem ekonomi dan sosial. Sebagian kecil warga melanjutkan ke perguruan tinggi, tetapi jumlah personil yang diperlukan dengan pendidikan tinggi sangatlah kecil dimana rata-rata negara yang berpenduduk sampai lima juta dapat menguasainya dengan cukup baik tanpa memiliki universitas sendiri. Pejabat bisnis tingkat menengah dan atas hampir seluruhnya terdiri dari produk sekolah menengah, dan produk ini juga merupakan tulang punggung administrasi negara. Selain itu, pendidikan pertanian, pendidikan orang dewasa dan program latihan kerja diabaikan. Pendidikan orang dewasa akan membantu mengubah pandangan petani, mengasah keterampilannya dalam mengambil keputusan dan memberikan informasi yang diperlukan tentang praktek pertanian mutakhir. Pada perekonomian yang berorientasi pe...