Langsung ke konten utama

Keotentikan Kultural: Modal Berselancar di Dunia Digital

Keotentikan kultural merupakan modal kita untuk "memenuhi" konten di dunia digital. Meskipun Barat punya teknologi informasi super canggih, tetapi kontennya kita bisa isi dengan "sumber lokal".
Pernahkah kita berpikir, bagaimana mengisi media sosial yang menjadi keseharian kita. Sudah banyak bukti, bahwa media sosial dengan menampilkan 'konten lokal' punya "follower" setia. Pengikutnya, tidak hanya saudara senegara tetapi juga saudara dari mancanegara.
Konsep ini sudah saya coba di Instagram. Saya menampilkan kondisi alam sekitar desa mulai dari flora, fauna hingga suasana kesehariannya. Ternyata, ada banyak orang yang tidak saya kenal menyukainya. Sayangnya, Bahasa Inggris saya yang jelek membuat saya kurang komunikatif.

Keotentikan kultural merupakan gagasan yang perlu dipertimbangkan dalam menghadapi era informasi digital. Hal ini tidak saja berarti bahwa kultur-kultur tradisional, lingkungan dan nilai-nilai  harus dihormati. Tetapi, juga berarti bahwa sistem-sistem tradisional harus dilihat sebagai sumber kekuatan dan solusi-solusi untuk masalah yang dihadapi masyarakat harus diupayakan didalamnya.

Pertama, keotentikan kultural memerlukan penekanan atas pembangunan yang berasal dari kultur-kultur pedesaan dan perlindungan atas kultur-kultur tradisional dari serbuan pola-pola konsumsi Barat dan barang-barang konsumsi yang mencerminkan kemahakuasaan teknologi. Diperlukan rasa hormat yang dalam terhadap norma-norma, bahasa, keyakinan-keyakinan, kesusateraan dan kesenian, serta ke-prigel-an masyarakat _ faktor-faktor yang membuat hidup masyarakat itu kaya dan bermakna.

Kedua, arti keotentikan kultural ialah bahwa sistem-sistem tradisional -yang ternyata secara ekologis lebih sehat dan berorientasi konservasi daripada sistem-sistem modern -- harus dilindungi dan dibantu.

Misalnya, di banyak negara berkembang masih terdapat sistem-sistem pengobatan tradisional. Bila sistem-sistem itu didukung, dikembangkan dan dipadukan dengam sistem pengobatan modern, maka sistem kesehatan di Dunia Ketiga akan semakin meningkat mutunya, dan kebergantungan pada perusahaan-perusahaan  farmasi pun akan tereduksikan.

Begitupula, teknik-teknik perumahan tradisional, metode-metode perikanan dan teknologi-teknologi lokal harus menjadi komponen-komponen dasar pembangunan yang bersifat mandiri. Sebagaimana kita tahu, teknik-teknik tradisional justru lebih mampu bertahan di tengah kondisi keterbatasan finansial. Saya sendiri mengalami bagaimana sistem pertanian tradisional masih bisa diterapkan dibandingkan sistem pertanian "modern" yang padat modal. Saya pernah merasa "tersandera" ilmu dari Barat yang diperoleh di perkuliahan. Setelah berusaha keras untuk diterapkan, ternyata kendala biaya lagi-lagi menjadi halangan.

Dengan demikian, hal-hal ini merupakan sebagian dari blok-blok bangunan dasar bagi pengertian baru tentang pembangunan.

(Sumber: Ziaduddin Sardar, Tantangan Abad 21)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kayu Bakar untuk Bertahan Di Tengah Kesulitan

Ketika ktia kelelahan mencari sesuatu yang tidak ada atau jauh dari kediaman, maka melihat ke sekeliling bisa menjadi solusi. Bapa saya akhir-akhir ini rajin membelah kayu-kayu yang tumbuh di sekitar rumah. Untuk bahan bakar, demi menghemat anggaran belanja. Menanak nasi dan memasak air di atas tungku, tidak banyak menggunakan kompor demi usaha penghematan. Ketika banyak orang, sibuk mencari uang untuk membeli kebutuhan rumah tangga maka Bapa saya lebih suka menanam pepohonan. Ketika pohon itu sudah besar, manfaatnya begitu banyak. Salah satu yang saat ini dirasakan adalah kesanggupan kami untuk sekedar bertahan hidup di kala ekonomi sedang tidak baik. Meskipun negara sedang dilanda banyak bencana, kami bisa bertahan demi sekedar makan. Alhamdulillah.

Beternak Kerbau Rawa di Pinggiran Hutan Rawa

  Kerbau Rawa di Kalimantan (Sumber: Antara) Saya punya rencana untuk mengembalikan fungsi lahan kebun sawit menjadi tutupan hutan dengan memanfaatkan peran kerbau rawa. Jika sebelumnya hutan "dikeringkan" untuk ditanami bibit sawit maka harus kembali "dibasahkan" dengan mengalirkan air sungai. Untuk keperluan pupuk dan sumber pendapatan warga maka kerbau rawa bisa menjadi alternatif.  Dalam bayangan pikiran saya, akan ada lahan sawit yang tidak produktif lagi karena faktor usia tanaman. Dalam keadaan demikian, waktu yang tepat untuk segera mengembalikan fungsi hutan. Namun, saya tahu ini bukanlah usaha yang mudah. Penduduk akan lebih tertarik untuk mengalihkan fungsi lahan untuk sesuatu yang komersil. Hanya saja, mengembalikan fungsi hutan merupakan sebuah keharusan. Tentu tidak mengorbankan warga yang membutuhkan sumber pendapatan.  Memelihara kerbau rawa adalah solusi. Ini dipilih karena beberapa alasan.  Pertama, penduduk punya kegiatan untuk mengalihkan énergi ...

Logika Matematika Tidak Cocok untuk Membangun Desa

Sudah bertahun-tahun saya hidup di desa. Selama ini pula saya mencari cara bagaimana membangun desa. Dimulai dari mencari landasan berpikir dalam bertindak hingga mempelajari hal-hal yang bersifat teknis. Dalam masa pencarian itu, saya mulai mendapati bahwa ada begitu banyak cara untuk membangun desa. Dan, cara-cara itu memiliki landasan berpikir yang berbeda antara satu sama lain.  Misalnya, jika kita bermaksud membangun selokan untuk mengairi sawah maka kita perlu berpijak pada hukum logika. Perhitungan matematis mutlak diterapkan.  Namun, ada juga hal yang tidak bisa dilandaskan pada pijakan berpikir logika matematika. Misalnya, ketika kita mengembangkan usaha ternak. Dalam mengembangkannya, peternakan memerlukan landasan berpikir non-logis. Karena, ternak-ternak itu adalah makhluk bernyawa yang tidak bisa diuukur secara matematis. Coba bayangkan, jika saya beternak 2 ekor domba. Dalam waktu tertentu domba itu bisa bertambah menjadi 3,4,5 dst. Namun, sangat mungkin domba sa...