Langsung ke konten utama

Memanfaatkan Infrastruktur Jalan Tol dan Rel Kereta Api

Sumber: detik.com
Tulisan ini saya fokuskan pada pembangunan jalan tol dan jalan kereta api. Kedua infrastruktur ini mempunyai ciri khas dalam merangsang pembangunan di daerah. Kedua infrastruktur ini bisa menjadi alat distribusi utama bagi industri-industri di daerah.

Sumber: goodnewsfromindonesia.id
Kalangan industri kurang "puas" menggunakan jalan arteri karena akan dihalangi oleh kemacetan di sana-sini. Jalan tol dan kereta api jelas memberi pengaruh besar dalam biaya distribusi barang yang diproduksi. Kalangan industri biasanya "bergairah" berinvestasi di daerah dimana ada kemudahan distribusi.

Walaupun industri itu berada di daerah 'terpencil', apabila barang hasil produksi bisa disalurkan dengan aman dan nyaman maka biasanya industri bertumbuh di sana.

Kebetulan, di daerah saya Kabupaten Garut akan dibangun jalan tol dan pengaktifan kembali jalan kereta api. Rel kereta ini sebetulnya  sudah ada sejak jaman penjajahan. Namun, tidak berfungsi lagi karena berbagai alasan. Sedangkan jalan tol, dibangun sebagai terusan jalan tol Purbaleunyi.

Isu pembangunan ini menjadi hangat karena masyarakat "seperti belum siap" menerima perubahan. Padahal, cepat atau lambat perubahan itu akan ada. Karena, perubahan itu adalah "hukum alam".


🚂***

Persepsi kita sebagai warga desa mengenai infrastruktur begitu penting. Saya masih melihat ada dualisme pandangan antara orang yang mendukung penuh pembangunan infrastuktur dan sebaliknya.

Perbedaan pandangan ini memang sangat mendasar. Para pendukung pembangunan infrastruktur menginginkan daerahnya berubah menjadi lebih maju. Meskipun ada banyak hal yang 'dikorbankan', laju zaman menuntut adanya "pemenuhan kebutuhan".

Sedangkan, para penentang pembangunan infrastruktur berdalih bahwa kehidupan pedesaan harus dikembalikan seperti sedia kala. Sayangnya, para penentang ini pun belum bisa memberikan 'solusi tandingan' demi sebuah kemajuan pedesaan.

🚈***

Bagi masyarakat, infrastruktur bisa dilihat sebagai sarana menuju perubahan yang lebih baik. Namun, bisa juga pembangunan infrastruktur justru dianggap 'menghancurkan' tatanan yang sudah ada.

Apabila warga desa menganggap infrastruktur jalan tol dan rel kereta api sebagai sarana pembantu pembangunan, maka harus ada dukungan penuh. Meskipun akan ada resiko dalam proses realisasinya. Bentang alam yang sudah ada akan mengalami perubahan. Bahkan, tatanan sosial kemasyarakatan bisa mengalami perubahan.

Masyarakat desa yang dihuni oleh petani, suatu saat bisa berubah menjadi masyarakat industri. Namun, itulah cara kita menyediakan lapangan kerja untuk kesejahteraan.

Apabila proyek sudah berjalan, kita manfaatkan saja demi kemajuan bersama. Daripada kita ramai-ramai menolak, mending kita jadikan itu sebagai sarana menuju kemajuan desa kita sendiri. Penolakan dengan alasan apapun, akan lebih 'lemah' dari sisi argumentasi karena manfaat kedua infrastruktur itu lebih besar dibanding resikonya.

🚍***

Semua yang akan dibangun, berawal dari pikiran manusia. Apabila cara kita berpikir berbeda, maka wajar akan terjadi perbedaan pendapat dalam melihat bagaimana seharusnya desa kita dibangun. Saya sendiri pendukung industrialisasi pedesaan. Maka, saya mendukung apa pun yang bisa menggeliatkan industri di pedesaan.

Saat ini, kita harus "melihat" dengan pikiran kita. Maksudnya, kita bayangkan manfaat dari sebuah pembangunan bukan sekedar melihat 'kerusakan' yang terlihat secara kasat mata. Itulah, dasar pemikiran dari sebuah pembangunan. Apabila kita sudah memahami apa yang  dibutuhkan, maka cara kita memandang masa depan desa cenderung menuju arah kemajuan _bukan sebaliknya.

《(Tulisan diolah dari berbagai sumber)》

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kayu Bakar untuk Bertahan Di Tengah Kesulitan

Ketika ktia kelelahan mencari sesuatu yang tidak ada atau jauh dari kediaman, maka melihat ke sekeliling bisa menjadi solusi. Bapa saya akhir-akhir ini rajin membelah kayu-kayu yang tumbuh di sekitar rumah. Untuk bahan bakar, demi menghemat anggaran belanja. Menanak nasi dan memasak air di atas tungku, tidak banyak menggunakan kompor demi usaha penghematan. Ketika banyak orang, sibuk mencari uang untuk membeli kebutuhan rumah tangga maka Bapa saya lebih suka menanam pepohonan. Ketika pohon itu sudah besar, manfaatnya begitu banyak. Salah satu yang saat ini dirasakan adalah kesanggupan kami untuk sekedar bertahan hidup di kala ekonomi sedang tidak baik. Meskipun negara sedang dilanda banyak bencana, kami bisa bertahan demi sekedar makan. Alhamdulillah.

Beternak Kerbau Rawa di Pinggiran Hutan Rawa

  Kerbau Rawa di Kalimantan (Sumber: Antara) Saya punya rencana untuk mengembalikan fungsi lahan kebun sawit menjadi tutupan hutan dengan memanfaatkan peran kerbau rawa. Jika sebelumnya hutan "dikeringkan" untuk ditanami bibit sawit maka harus kembali "dibasahkan" dengan mengalirkan air sungai. Untuk keperluan pupuk dan sumber pendapatan warga maka kerbau rawa bisa menjadi alternatif.  Dalam bayangan pikiran saya, akan ada lahan sawit yang tidak produktif lagi karena faktor usia tanaman. Dalam keadaan demikian, waktu yang tepat untuk segera mengembalikan fungsi hutan. Namun, saya tahu ini bukanlah usaha yang mudah. Penduduk akan lebih tertarik untuk mengalihkan fungsi lahan untuk sesuatu yang komersil. Hanya saja, mengembalikan fungsi hutan merupakan sebuah keharusan. Tentu tidak mengorbankan warga yang membutuhkan sumber pendapatan.  Memelihara kerbau rawa adalah solusi. Ini dipilih karena beberapa alasan.  Pertama, penduduk punya kegiatan untuk mengalihkan énergi ...

Perencanaan Sosial

Perencanaan sosial ( social planning ) pada dewasa ini menjadi ciri yang umum bagi masyarakat-masyarakat yang sedang mengalami perubahan-perubahan atau perkembangan. Sebenarnya perencanaan sosial yang bertujuan untuk melihat jauh ke depan telah ada sejak dahulu dan telah pula dipikirkan oleh para sosiolog . Auguste Comte misalnya, berpendapat bahwa manusia mempunyai kemampuan untuk melihat jauh ke depan serta mengendalikan tujuannya. Pernyataan tadi kemudian diperkembangkan lebih lanjut oleh Lester F. Ward yang mempergunakan istilah social telesis  untuk menunjuk pada arah yang dituju suatu masyarakat. [1] Menurut sosiologi, suatu perencanaan sosial harus didasarkan pada pengertian mendalam tentang bagaimana kebudayaan berkembang dari taraf yang rendah ke taraf modern dan kompleks dimana dikenal industri, peradaban kota dan selanjutnya . Selain itu harus pula ada pengertian terhadap hubungan manusia dengan alam sekitarnya, hubungan antara golongan-golongan dalam masyarakat ...