Langsung ke konten utama

Mengubah Budaya Desa: Agrikultur Menjadi Industri

Sumber: okezone.com
Dasar pemikiran dari judul di atas adalah suatu kenyataan dimana di beberapa desa terjadi over populasi. Produksi pertanian sangat rendah apabila dibandingkan dengan jumlah manusia yang dipergunakan dalam produksi tersebut.

Proses urbanisasi bisa terjadi dalam waktu cepat atau lambat, bergantung daripada keadaan masyarakat yang bersangkutan. Sebagaimana yang disampaikan Soerjono Soekanto, proses tersebut terjadi dengan menyangkut dua aspek, yaitu:

(a) berubahnya masyarakat desa menjadi masyarakat kota;
(b) bertambahnya penduduk kota yang disebabkan oleh mengalirnya penduduk yang berasal dari desa-desa (pada umumnya disebabkan karena penduduk desa merasa tertarik oleh keadaan dikota).

Saya melihat bahwa kemungkinan pertama (huruf a) diatas menjadi penyebab akan adanya perubahan budaya di desa. Suatu desa (terutama di Pulau Jawa) -mau tidak mau- akan berubah menjadi "desa industri". Pada awalnya hanya sebuah desa dengan industri sebagai penopang kehidupan, namun lambat laun suasananya pun akan terasa seperti kota.

Contohnya, di Kabupaten Bandung masih banyak wilayah dengan administratif desa. Namun, suasananya sudah seperti kota.

🔩

Perubahan budaya di desa, menurut saya perlu dilakukan. Masyarakat pertanian yang serba menggantungkan hidupnya pada alam, harus dipaksa untuk memaksimalkan potensi dirinya.

Warga desa, tidak bisa melulu berpikir untuk bergantung pada 'perubahan cuaca' saja. Tapi, warga desa harus berpikir bahwa: di lingkungannya terjadi juga 'perubahan tren konsumsi' masyarakat.

Warga desa harus mengubah cara hidup. Perubahan ini bukan sekedar gaya hidup konsumtif yang ditiru dari warga kota, namun perubahan pola produksi dari berdasarkan pola tanam menjadi berdasarkan "kebutuhan pasar".

Cara berpikir dan cara bertindak seorang industrialis memang berbeda dengan seorang petani tradisional. Lahan pertanian, tidak dipandang sebagai areal tanam "kurang berharga" tetapi juga adalah "pabrik produksi" pangan. Perbedaan persepsi ini jelas mempengaruhi bagaimana orang desa memperlakukan setiap jengkal tanah yang diinjaknya.

Tanah akan dianggap sebagai investasi yang sangat berharga. Harga tanah akan sangat mahal. Sehingga, warga desa akan "memanfaatkan" setiap jengkal tanah dengan maksimal.

Warga pedesaan sepertinya masih terkungkung dalam "persepsi profesi" yang keliru. Orang desa masih menganggap profesi hanya ada tiga yakni pegawai pemerintah, petani dan pedagang.

Profesi industrialis pun masih belum populer di pedesaan. Mungkin karena orang desa kebingungan memasarkan hasil produksi dalam industri yang tidak langsung berhadapan dengan konsumen. Tidak aneh, jika orang desa ingin jadi pengusaha maka dia akan pergi ke kota. Pikirnya, betapa sulitnya memasarkan produknya  di desa yang sepi pembeli.

🏢

Masyarakat desa akan berubah seperti "orang kota". Kenapa ini terjadi?

Warga desa akan memiliki ragam pilihan profesi. Di masyarakat industri, kejelasan jabatan dan deskripsi kerja begitu dikedepankan.

Cara berpikir yang mendasari manajemen di pertanian tradisional jauh berbeda dengan industri. Namun, bukankah segala perubahan ini diawali dengan cara manusia berpikir. Orang desa harus belajar untuk mengubah cara berpikirnya.

Perubahan pola pikir ini bisa dijalankan dengan dirangsang atau dipaksa. Dirangsang dengan pendidikan formal ataupun nonformal. Juga, tentu saja dengan cara pemaksaan dimana investasi didatangkan ke pedesaan. Para industrialis-kapitalis dirayu untuk membuka usahanya di desa. Lambat laun, perubahan pola pikir itu akan terjadi.

🏭

Kita sebagai orang desa, harus setuju terlebih dahulu pada perubahan kondisi sosial ekonomi masyarakat. Jika ada yang tidak setuju, biasanya terjadi pertentangan yang bisa menghambat tujuan pembangunan.

Ketidaksetujuan orang desa pada perubahan budaya, dapat dimengerti. Kenyamanan yang selama ini dirasakan akan 'hilang'. Namun, sadarkah kita bahwa "kenyamanan" juga bisa membuat kita terlena. Ketika dunia berlomba untuk saling mengungguli, orang desa tidak bisa 'santai-santai saja'.

《📚Soerjono Soekanto, Pengantar Sosiologi》

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kayu Bakar untuk Bertahan Di Tengah Kesulitan

Ketika ktia kelelahan mencari sesuatu yang tidak ada atau jauh dari kediaman, maka melihat ke sekeliling bisa menjadi solusi. Bapa saya akhir-akhir ini rajin membelah kayu-kayu yang tumbuh di sekitar rumah. Untuk bahan bakar, demi menghemat anggaran belanja. Menanak nasi dan memasak air di atas tungku, tidak banyak menggunakan kompor demi usaha penghematan. Ketika banyak orang, sibuk mencari uang untuk membeli kebutuhan rumah tangga maka Bapa saya lebih suka menanam pepohonan. Ketika pohon itu sudah besar, manfaatnya begitu banyak. Salah satu yang saat ini dirasakan adalah kesanggupan kami untuk sekedar bertahan hidup di kala ekonomi sedang tidak baik. Meskipun negara sedang dilanda banyak bencana, kami bisa bertahan demi sekedar makan. Alhamdulillah.

Beternak Kerbau Rawa di Pinggiran Hutan Rawa

  Kerbau Rawa di Kalimantan (Sumber: Antara) Saya punya rencana untuk mengembalikan fungsi lahan kebun sawit menjadi tutupan hutan dengan memanfaatkan peran kerbau rawa. Jika sebelumnya hutan "dikeringkan" untuk ditanami bibit sawit maka harus kembali "dibasahkan" dengan mengalirkan air sungai. Untuk keperluan pupuk dan sumber pendapatan warga maka kerbau rawa bisa menjadi alternatif.  Dalam bayangan pikiran saya, akan ada lahan sawit yang tidak produktif lagi karena faktor usia tanaman. Dalam keadaan demikian, waktu yang tepat untuk segera mengembalikan fungsi hutan. Namun, saya tahu ini bukanlah usaha yang mudah. Penduduk akan lebih tertarik untuk mengalihkan fungsi lahan untuk sesuatu yang komersil. Hanya saja, mengembalikan fungsi hutan merupakan sebuah keharusan. Tentu tidak mengorbankan warga yang membutuhkan sumber pendapatan.  Memelihara kerbau rawa adalah solusi. Ini dipilih karena beberapa alasan.  Pertama, penduduk punya kegiatan untuk mengalihkan énergi ...

Perencanaan Sosial

Perencanaan sosial ( social planning ) pada dewasa ini menjadi ciri yang umum bagi masyarakat-masyarakat yang sedang mengalami perubahan-perubahan atau perkembangan. Sebenarnya perencanaan sosial yang bertujuan untuk melihat jauh ke depan telah ada sejak dahulu dan telah pula dipikirkan oleh para sosiolog . Auguste Comte misalnya, berpendapat bahwa manusia mempunyai kemampuan untuk melihat jauh ke depan serta mengendalikan tujuannya. Pernyataan tadi kemudian diperkembangkan lebih lanjut oleh Lester F. Ward yang mempergunakan istilah social telesis  untuk menunjuk pada arah yang dituju suatu masyarakat. [1] Menurut sosiologi, suatu perencanaan sosial harus didasarkan pada pengertian mendalam tentang bagaimana kebudayaan berkembang dari taraf yang rendah ke taraf modern dan kompleks dimana dikenal industri, peradaban kota dan selanjutnya . Selain itu harus pula ada pengertian terhadap hubungan manusia dengan alam sekitarnya, hubungan antara golongan-golongan dalam masyarakat ...