Langsung ke konten utama

Apa Sarana yang Paling Cocok Untuk Perubahan Sosial di Desa Kita?

Mau lembaga pendidikan, lembaga keagamaan, industri atau lembaga nirlaba, itu bergantung pada 'kebutuhan'. Setiap waktu dan tempat memiliki cerita yang berbeda. Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain pula ikannya, begitu pepatah bilang.

Pemikiran itu bercermin di desa saya sendiri. Dimana saat ini lembaga pendidikan sudah sulit untuk 'mengubah' kondisi sosial. Mungkin karena kebutuhan zaman. Dahulu pendidikan begitu 'dibutuhkan', sekarang pendidikan menjadi 'pilihan'.

Untuk itu, harus ada upaya menelaah terlebih dahulu apa kebutuhan desa kita. Perbedaan kebutuhan ini diharapkan bisa menjadi dasar untuk menentukan sarana apa yang cocok bagi perubahan sosial di desa. Bagaimana kita menelaah kebutuhan, itu juga bukan perkara gampang.

Dalam menentukan kebutuhan itu, sangat dipengaruhi oleh filsafat hidup yang dianut. Teori dengan perhitungan matematis sepertinya sulit mengukur kebutuhan itu. Namun, filsafat hidup, dimana tidak perlu perhitungan matematis, bisa menentukan dengan 'cepat'.

Filosofi desa industrialis -seperti di Jepang- berbeda dengan negara agraris -seperti di Jawa Barat- dalam menentukan kebutuhan itu. Hal ini berkaitan dengan bagaimana cara kita memandang "masa depan". Filosofi kaum industrialis akan melihat masa depan 'harus diciptakan'. Bagi kaum agraris, masa depan 'tercipta begitu saja'.

Sebagai contoh, saya tinggal di desa yang sama dengan orang tua saya. Kondisinya sama. Ada banyak pesawahan, hutan dan dekat dengan jalur tranportasi antar kota. Namun, orang tua saya 'keukeuh' melihat masa depan desa sebagai wilayah pertanian sebagaimana biasanya. Ayah saya banyak berinvestasi di bidang pertanian.

Saya berpikir sebaliknya. Desa ini harus menjadi desa industri. Saya melihat di masa depan akan semakin banyak orang yang membutuhkan pekerjaan. Dan itu, hanya bisa dipenuhi oleh sektor industri.

***

Melihat kondisi itu, mesti ada 'kesepemahaman' mengenai filosofi mana yang akan dianut. Untuk mengakomodirnya, perlu ada pionir/pemimpin yang membawa dan 'memaksa' ke arah perubahan yang diinginkan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kayu Bakar untuk Bertahan Di Tengah Kesulitan

Ketika ktia kelelahan mencari sesuatu yang tidak ada atau jauh dari kediaman, maka melihat ke sekeliling bisa menjadi solusi. Bapa saya akhir-akhir ini rajin membelah kayu-kayu yang tumbuh di sekitar rumah. Untuk bahan bakar, demi menghemat anggaran belanja. Menanak nasi dan memasak air di atas tungku, tidak banyak menggunakan kompor demi usaha penghematan. Ketika banyak orang, sibuk mencari uang untuk membeli kebutuhan rumah tangga maka Bapa saya lebih suka menanam pepohonan. Ketika pohon itu sudah besar, manfaatnya begitu banyak. Salah satu yang saat ini dirasakan adalah kesanggupan kami untuk sekedar bertahan hidup di kala ekonomi sedang tidak baik. Meskipun negara sedang dilanda banyak bencana, kami bisa bertahan demi sekedar makan. Alhamdulillah.

Beternak Kerbau Rawa di Pinggiran Hutan Rawa

  Kerbau Rawa di Kalimantan (Sumber: Antara) Saya punya rencana untuk mengembalikan fungsi lahan kebun sawit menjadi tutupan hutan dengan memanfaatkan peran kerbau rawa. Jika sebelumnya hutan "dikeringkan" untuk ditanami bibit sawit maka harus kembali "dibasahkan" dengan mengalirkan air sungai. Untuk keperluan pupuk dan sumber pendapatan warga maka kerbau rawa bisa menjadi alternatif.  Dalam bayangan pikiran saya, akan ada lahan sawit yang tidak produktif lagi karena faktor usia tanaman. Dalam keadaan demikian, waktu yang tepat untuk segera mengembalikan fungsi hutan. Namun, saya tahu ini bukanlah usaha yang mudah. Penduduk akan lebih tertarik untuk mengalihkan fungsi lahan untuk sesuatu yang komersil. Hanya saja, mengembalikan fungsi hutan merupakan sebuah keharusan. Tentu tidak mengorbankan warga yang membutuhkan sumber pendapatan.  Memelihara kerbau rawa adalah solusi. Ini dipilih karena beberapa alasan.  Pertama, penduduk punya kegiatan untuk mengalihkan énergi ...

Logika Matematika Tidak Cocok untuk Membangun Desa

Sudah bertahun-tahun saya hidup di desa. Selama ini pula saya mencari cara bagaimana membangun desa. Dimulai dari mencari landasan berpikir dalam bertindak hingga mempelajari hal-hal yang bersifat teknis. Dalam masa pencarian itu, saya mulai mendapati bahwa ada begitu banyak cara untuk membangun desa. Dan, cara-cara itu memiliki landasan berpikir yang berbeda antara satu sama lain.  Misalnya, jika kita bermaksud membangun selokan untuk mengairi sawah maka kita perlu berpijak pada hukum logika. Perhitungan matematis mutlak diterapkan.  Namun, ada juga hal yang tidak bisa dilandaskan pada pijakan berpikir logika matematika. Misalnya, ketika kita mengembangkan usaha ternak. Dalam mengembangkannya, peternakan memerlukan landasan berpikir non-logis. Karena, ternak-ternak itu adalah makhluk bernyawa yang tidak bisa diuukur secara matematis. Coba bayangkan, jika saya beternak 2 ekor domba. Dalam waktu tertentu domba itu bisa bertambah menjadi 3,4,5 dst. Namun, sangat mungkin domba sa...