Langsung ke konten utama

PENDIDIKAN MENENGAH YANG TERABAIKAN

Di negara terbelakang, termasuk Indonesia, mengabaikan fokus pada pendidikan menengah. Profesor Lewis menganggap orang-orang dengan pendidikan menengah sebagai "perwira dan perwira cadangan" dari suatu sistem ekonomi dan sosial.
Sebagian kecil warga melanjutkan ke perguruan tinggi, tetapi jumlah personil yang diperlukan dengan pendidikan tinggi sangatlah kecil dimana rata-rata negara yang berpenduduk sampai lima juta dapat menguasainya dengan cukup baik tanpa memiliki universitas sendiri.
Pejabat bisnis tingkat menengah dan atas hampir seluruhnya terdiri dari produk sekolah menengah, dan produk ini juga merupakan tulang punggung administrasi negara.
Selain itu, pendidikan pertanian, pendidikan orang dewasa dan program latihan kerja diabaikan. Pendidikan orang dewasa akan membantu mengubah pandangan petani, mengasah keterampilannya dalam mengambil keputusan dan memberikan informasi yang diperlukan tentang praktek pertanian mutakhir.
Pada perekonomian yang berorientasi pertanian, pendidikan ini mempunyai tujuan ganda. Ia menyiapkan anak-anak berpindah ke kota untuk mendapatkan pekerjaan di bidang nonpertanian. Kedua, ia memompa keterampilan dan pengetahuan teknik pertanian yang baru dan lebih baik.
Di samping pendidikan formal, kepada anak-anak harus pula diberikan PENDIDIKAN KEJURUAN.
(Kutipan Ekonomi Pembangunan dan Perencanaan, ML. Jhingan. H. 526-8)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kayu Bakar untuk Bertahan Di Tengah Kesulitan

Ketika ktia kelelahan mencari sesuatu yang tidak ada atau jauh dari kediaman, maka melihat ke sekeliling bisa menjadi solusi. Bapa saya akhir-akhir ini rajin membelah kayu-kayu yang tumbuh di sekitar rumah. Untuk bahan bakar, demi menghemat anggaran belanja. Menanak nasi dan memasak air di atas tungku, tidak banyak menggunakan kompor demi usaha penghematan. Ketika banyak orang, sibuk mencari uang untuk membeli kebutuhan rumah tangga maka Bapa saya lebih suka menanam pepohonan. Ketika pohon itu sudah besar, manfaatnya begitu banyak. Salah satu yang saat ini dirasakan adalah kesanggupan kami untuk sekedar bertahan hidup di kala ekonomi sedang tidak baik. Meskipun negara sedang dilanda banyak bencana, kami bisa bertahan demi sekedar makan. Alhamdulillah.

Beternak Kerbau Rawa di Pinggiran Hutan Rawa

  Kerbau Rawa di Kalimantan (Sumber: Antara) Saya punya rencana untuk mengembalikan fungsi lahan kebun sawit menjadi tutupan hutan dengan memanfaatkan peran kerbau rawa. Jika sebelumnya hutan "dikeringkan" untuk ditanami bibit sawit maka harus kembali "dibasahkan" dengan mengalirkan air sungai. Untuk keperluan pupuk dan sumber pendapatan warga maka kerbau rawa bisa menjadi alternatif.  Dalam bayangan pikiran saya, akan ada lahan sawit yang tidak produktif lagi karena faktor usia tanaman. Dalam keadaan demikian, waktu yang tepat untuk segera mengembalikan fungsi hutan. Namun, saya tahu ini bukanlah usaha yang mudah. Penduduk akan lebih tertarik untuk mengalihkan fungsi lahan untuk sesuatu yang komersil. Hanya saja, mengembalikan fungsi hutan merupakan sebuah keharusan. Tentu tidak mengorbankan warga yang membutuhkan sumber pendapatan.  Memelihara kerbau rawa adalah solusi. Ini dipilih karena beberapa alasan.  Pertama, penduduk punya kegiatan untuk mengalihkan énergi ...

Logika Matematika Tidak Cocok untuk Membangun Desa

Sudah bertahun-tahun saya hidup di desa. Selama ini pula saya mencari cara bagaimana membangun desa. Dimulai dari mencari landasan berpikir dalam bertindak hingga mempelajari hal-hal yang bersifat teknis. Dalam masa pencarian itu, saya mulai mendapati bahwa ada begitu banyak cara untuk membangun desa. Dan, cara-cara itu memiliki landasan berpikir yang berbeda antara satu sama lain.  Misalnya, jika kita bermaksud membangun selokan untuk mengairi sawah maka kita perlu berpijak pada hukum logika. Perhitungan matematis mutlak diterapkan.  Namun, ada juga hal yang tidak bisa dilandaskan pada pijakan berpikir logika matematika. Misalnya, ketika kita mengembangkan usaha ternak. Dalam mengembangkannya, peternakan memerlukan landasan berpikir non-logis. Karena, ternak-ternak itu adalah makhluk bernyawa yang tidak bisa diuukur secara matematis. Coba bayangkan, jika saya beternak 2 ekor domba. Dalam waktu tertentu domba itu bisa bertambah menjadi 3,4,5 dst. Namun, sangat mungkin domba sa...