Saya membaca sesuatu yang menarik perhatian dalam buku Santri dan Abangan di Jawa (Muchtarom, 1988). Ada kalimat yang tertulis jika masa dulu profesi pedagang dianggap sebagai pilihan buruk. Bagi saya ini mengherankan. Menurut idéologi Hindu, seorang pedagang hanya seorang makhluk tingkat yang lebih rendah daripada warga bangsa-bangsa yang lebih tinggi. Setelah membaca tulisan ini, jadi bertanya-tanya. Apakah Bapa saya tidak suka menjadi pedagang karena masih menganggap jika pedagang bukanlah profesi terhormat yang layak dicita-citakan? Saya tidak pernah diarahkan untuk menjadi seorang pedagang. Tak ada bahasa yang terucap dengan tegas jika kami harus menjadi pedagang. Lebih parah lagi, anak-anak tidak pernah diberi pelatihan tentang bagaimana menjalankan usaha perdagangan. Tak ada kegiatan transaksi jual beli. Bapa malah menghabiskan waktu dan energi anak-anaknya untuk menjalankan pekerjaan administratif. Padahal, keahlian seperti ini tidak bisa dipraktekk...
Selamat datang di blog pribadi ayomembangundesa.blogspot.com. Tempat untuk kita berbagi cerita.