Langsung ke konten utama

Pedagang Bukan Orang yang Rakus Harta

 Saya membaca sesuatu yang menarik perhatian dalam buku Santri dan Abangan di Jawa (Muchtarom, 1988). Ada kalimat yang tertulis jika masa dulu profesi pedagang dianggap sebagai pilihan buruk. Bagi saya ini mengherankan. Menurut idéologi Hindu, seorang pedagang hanya seorang makhluk tingkat yang lebih rendah daripada warga bangsa-bangsa yang lebih tinggi.  


Setelah membaca tulisan ini, jadi bertanya-tanya. Apakah Bapa saya tidak suka menjadi pedagang karena masih menganggap jika pedagang bukanlah profesi terhormat yang layak dicita-citakan? 

Saya tidak pernah diarahkan untuk menjadi seorang pedagang. Tak ada bahasa yang terucap dengan tegas jika kami harus menjadi pedagang. Lebih parah lagi, anak-anak tidak pernah diberi pelatihan tentang bagaimana menjalankan usaha perdagangan. Tak ada kegiatan transaksi jual beli. Bapa malah menghabiskan waktu dan energi anak-anaknya untuk menjalankan pekerjaan administratif. Padahal, keahlian seperti ini tidak bisa dipraktekkan andaikan tak ada institusi yang mau mempekerjakan anaknya dewasa kelak. 

Mungkinkah bapak adalah salah satu dari sekian banyak orang yang masih menganggap jika pedagang tak layak dipertimbangkan untuk menjadi pilihan profesi. Mungkin pemikiran ini "warisan" dari zaman kerajaan Hindu dulu? Saya tidak bisa memperkirakan apa penyebabnya dengan jelas. Hanya saja, sikap enggan berdagang ini sangat mengganggu bagi pembangunan perdesaan. Warga tidak bisa terus menunggu pemerintah demi terbukanya lapangan kerja. Inisiatif warga adalah kunci berputarnya ekonomi desa. Lantas, jika warga enggan berdagang maka dari manakah kami bisa dapat uang?

Tipe orang sepeti bapak saya ini lebih terpesona oleh pekerjaan yang mengedepankan kegiatan klerikal. Bapa sangat terobsesi dengan aktifitas ketik-mengetik, cetak-mencetak huruf di atas kertas. Bahkan membicarakan perkara ini begitu antusias, padahal buat saya ini membosankan. Terlebih, sampah kertas bikin kesal. Ingin sekali saya membereskannya kemudian menjadikannya bahan bakar. 

Sebetulnya, kakek memberikan contoh agar bisa menjadi pedagang. Kakek saya seorang pengrajin anyaman bilik bambu. Sayangnya, bagi Bapa ini tak menarik. Sebaliknya, saya ingin menekuni profesi pengrajin. Alasannya, ada banyak bahan baku yang bisa termanfaatkan. Mulai dari kayu, bambu, bahkan bongkahan batu adalah sumber alam untuk diubah menjadi barang kriya bernilai lebih tinggi dari bahan mentah saja. 

Ah, ini membuat saya kesal. 

Karena alasan itu, mencari dasar pemikirannya dari Al-Quran, Hadits, hingga sejarah Islam. Justru, kaum muslimin adalah bangsa pedagang! Islam tiba di Indonesia melalui jalur perdagangan. Kaum pedagang pula yang mengembangkan Islam di Nusantara ini. Artinya, menjadi pedagang bukan hanya pilihan profesi tetapi keharusan demi perkembangan ekonomi ummat ini. 

Lantas kenapa ada "pemikiran yang terputus" dengan akar sejarahnya? Demi menjawab pertanyaan ini memang harus ada telaah lebih lanjut. Namun, saya memperkirakan jika sikap tidak suka berdagang ini adalah imbas dari pencitraan pegawai klerikal yang berlebihan ketika masa Hindia Belanda kemudian berlanjut hingga masa pasca kemerdekaan. Ya, memang berdagang tidak mengenakan seragam apalagi memakai dasi. Namun, uang tidak akan beredar tanpa peran pedagang. 

Memang benar, pedagang tak bekerja sambil membaca buku-buku tebal. Mereka tidak terkesan sebagai kaum intelektual. Namun, pedagang adalah pengatur kondisi finansial-kapital bukan orang yang rakus harta sebagaimana persepsi manusia yang "terlalu percaya diri akan menjadi penghuni surga". 

Sumber
Zaini Muchtarom, Santri dan Abangan di Jawa, Indonesian Netherlands Cooperation in Islamic Studies (INIS), Jakarta: 1988. 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kayu Bakar untuk Bertahan Di Tengah Kesulitan

Ketika ktia kelelahan mencari sesuatu yang tidak ada atau jauh dari kediaman, maka melihat ke sekeliling bisa menjadi solusi. Bapa saya akhir-akhir ini rajin membelah kayu-kayu yang tumbuh di sekitar rumah. Untuk bahan bakar, demi menghemat anggaran belanja. Menanak nasi dan memasak air di atas tungku, tidak banyak menggunakan kompor demi usaha penghematan. Ketika banyak orang, sibuk mencari uang untuk membeli kebutuhan rumah tangga maka Bapa saya lebih suka menanam pepohonan. Ketika pohon itu sudah besar, manfaatnya begitu banyak. Salah satu yang saat ini dirasakan adalah kesanggupan kami untuk sekedar bertahan hidup di kala ekonomi sedang tidak baik. Meskipun negara sedang dilanda banyak bencana, kami bisa bertahan demi sekedar makan. Alhamdulillah.

Beternak Kerbau Rawa di Pinggiran Hutan Rawa

  Kerbau Rawa di Kalimantan (Sumber: Antara) Saya punya rencana untuk mengembalikan fungsi lahan kebun sawit menjadi tutupan hutan dengan memanfaatkan peran kerbau rawa. Jika sebelumnya hutan "dikeringkan" untuk ditanami bibit sawit maka harus kembali "dibasahkan" dengan mengalirkan air sungai. Untuk keperluan pupuk dan sumber pendapatan warga maka kerbau rawa bisa menjadi alternatif.  Dalam bayangan pikiran saya, akan ada lahan sawit yang tidak produktif lagi karena faktor usia tanaman. Dalam keadaan demikian, waktu yang tepat untuk segera mengembalikan fungsi hutan. Namun, saya tahu ini bukanlah usaha yang mudah. Penduduk akan lebih tertarik untuk mengalihkan fungsi lahan untuk sesuatu yang komersil. Hanya saja, mengembalikan fungsi hutan merupakan sebuah keharusan. Tentu tidak mengorbankan warga yang membutuhkan sumber pendapatan.  Memelihara kerbau rawa adalah solusi. Ini dipilih karena beberapa alasan.  Pertama, penduduk punya kegiatan untuk mengalihkan énergi ...

Perencanaan Sosial

Perencanaan sosial ( social planning ) pada dewasa ini menjadi ciri yang umum bagi masyarakat-masyarakat yang sedang mengalami perubahan-perubahan atau perkembangan. Sebenarnya perencanaan sosial yang bertujuan untuk melihat jauh ke depan telah ada sejak dahulu dan telah pula dipikirkan oleh para sosiolog . Auguste Comte misalnya, berpendapat bahwa manusia mempunyai kemampuan untuk melihat jauh ke depan serta mengendalikan tujuannya. Pernyataan tadi kemudian diperkembangkan lebih lanjut oleh Lester F. Ward yang mempergunakan istilah social telesis  untuk menunjuk pada arah yang dituju suatu masyarakat. [1] Menurut sosiologi, suatu perencanaan sosial harus didasarkan pada pengertian mendalam tentang bagaimana kebudayaan berkembang dari taraf yang rendah ke taraf modern dan kompleks dimana dikenal industri, peradaban kota dan selanjutnya . Selain itu harus pula ada pengertian terhadap hubungan manusia dengan alam sekitarnya, hubungan antara golongan-golongan dalam masyarakat ...