Langsung ke konten utama

Jadwal Musim Tanam yang Bergeser

 

Jadwal tanam kali ini bergeser jika dibandingkan dengan jadwal tanam sebelumnya. Bisa dilihat dalam foto, ketika saya memotretnya hari ini 12/2/2024 para petani baru saja menanam bibit padi di sawah. 

Hal yang dirasa kurang menggembirakan. Ternyata perubahan iklim benar-benar berdampak kepada jadwal para petani menanam padi. Saya khawatir jika hal ini pun akan berimbas kepada pasokan pangan dalam skala komunitas maupun skala regional. 

Padi milik petani sisa musim tanam sebelumnya sudah berkurang banyak. Di gudang, cadangan pun mulai menipis. 

Mungkin saja situasi ini berimbas kepada harga beras di pasar. Pasokan yang berkurang membuat orang berebut pangan kemudian harga merangkak naik.

Jika diperhatikan, ini bukanlah sesuatu yang belum diprediksi. Sudah jauh-jauh hari Al Gore _mantan wapres AS_ memperingatkan jika perubahan iklim dan dampak kepada pasokan pangan adalah nyata. Bukan isapan jempol belaka. 

Dampak perubahan iklim bisa terjadi hingga perebutan sumberdaya mendasar seperti sumber air dan sumber makanan. Bukan hal yang bersifat utopis sebagaimana film Hollywood. Hanya saja, kami para warga desa memang benar-benar berjibaku dan berhadapan langsung dengan dampak perubahan iklim ini.

Fenomena Él Nino sangat berpengaruh kepada jadwal tanam. Pesawahan di desa kami kering dalam waktu yang lama. Terlebih tidak ada saluran irigasi sebagai pengganti curahan air hujan yang dibutuhkan oleh tanaman.  

Jika jadwal tanam terus mengalami pergeseran maka banyak hal yang akan terpengaruh. Bagi seorang petani tentu saja pola kerja musiman dalam satu tahun pun akan berubah. Dimana warga akan mencari pekerjaan ke kota terdekat jika belum masuk masa tanam. Dengan begitu, biasanya petani memiliki cukup tabungan meskipun tidak mengandalkan hasil panen. Maka perubahan jadwal tanam sungguh memberatkan apabila tidak ada proyek atau pekerjaan sampingan untuk menambah pendapatan.  

Hal yang bisa dilakukan oleh petani hanyalah berhemat. Tidak menjual gabah dalam jumlah banyak. Menyisakan cadangan di gudang setidaknya untuk satu tahun ke depan. 

Dan, bersyukur karena masih diberi karunia oleh-Nya.  


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kayu Bakar untuk Bertahan Di Tengah Kesulitan

Ketika ktia kelelahan mencari sesuatu yang tidak ada atau jauh dari kediaman, maka melihat ke sekeliling bisa menjadi solusi. Bapa saya akhir-akhir ini rajin membelah kayu-kayu yang tumbuh di sekitar rumah. Untuk bahan bakar, demi menghemat anggaran belanja. Menanak nasi dan memasak air di atas tungku, tidak banyak menggunakan kompor demi usaha penghematan. Ketika banyak orang, sibuk mencari uang untuk membeli kebutuhan rumah tangga maka Bapa saya lebih suka menanam pepohonan. Ketika pohon itu sudah besar, manfaatnya begitu banyak. Salah satu yang saat ini dirasakan adalah kesanggupan kami untuk sekedar bertahan hidup di kala ekonomi sedang tidak baik. Meskipun negara sedang dilanda banyak bencana, kami bisa bertahan demi sekedar makan. Alhamdulillah.

Beternak Kerbau Rawa di Pinggiran Hutan Rawa

  Kerbau Rawa di Kalimantan (Sumber: Antara) Saya punya rencana untuk mengembalikan fungsi lahan kebun sawit menjadi tutupan hutan dengan memanfaatkan peran kerbau rawa. Jika sebelumnya hutan "dikeringkan" untuk ditanami bibit sawit maka harus kembali "dibasahkan" dengan mengalirkan air sungai. Untuk keperluan pupuk dan sumber pendapatan warga maka kerbau rawa bisa menjadi alternatif.  Dalam bayangan pikiran saya, akan ada lahan sawit yang tidak produktif lagi karena faktor usia tanaman. Dalam keadaan demikian, waktu yang tepat untuk segera mengembalikan fungsi hutan. Namun, saya tahu ini bukanlah usaha yang mudah. Penduduk akan lebih tertarik untuk mengalihkan fungsi lahan untuk sesuatu yang komersil. Hanya saja, mengembalikan fungsi hutan merupakan sebuah keharusan. Tentu tidak mengorbankan warga yang membutuhkan sumber pendapatan.  Memelihara kerbau rawa adalah solusi. Ini dipilih karena beberapa alasan.  Pertama, penduduk punya kegiatan untuk mengalihkan énergi ...

Perencanaan Sosial

Perencanaan sosial ( social planning ) pada dewasa ini menjadi ciri yang umum bagi masyarakat-masyarakat yang sedang mengalami perubahan-perubahan atau perkembangan. Sebenarnya perencanaan sosial yang bertujuan untuk melihat jauh ke depan telah ada sejak dahulu dan telah pula dipikirkan oleh para sosiolog . Auguste Comte misalnya, berpendapat bahwa manusia mempunyai kemampuan untuk melihat jauh ke depan serta mengendalikan tujuannya. Pernyataan tadi kemudian diperkembangkan lebih lanjut oleh Lester F. Ward yang mempergunakan istilah social telesis  untuk menunjuk pada arah yang dituju suatu masyarakat. [1] Menurut sosiologi, suatu perencanaan sosial harus didasarkan pada pengertian mendalam tentang bagaimana kebudayaan berkembang dari taraf yang rendah ke taraf modern dan kompleks dimana dikenal industri, peradaban kota dan selanjutnya . Selain itu harus pula ada pengertian terhadap hubungan manusia dengan alam sekitarnya, hubungan antara golongan-golongan dalam masyarakat ...