Langsung ke konten utama

Minat dan Bakat sebagai Modal Membangun Desa

Gambar Anak

Saya menelaah cukup lama hubungan antara minat dan bakat dengan pembangunan di pedesaan. Tentu saja bukan telaah sebagaimana seorang peneliti dari lembaga ilmiah mengenai suatu objek namun sekedar telaah dengan pandangan mata. Semata berdasarkan pengamatan sederhana kemudian disimpulkan sementara agar memperoleh pelajaran penting dari pengamatan tersebut. 

Dalam beberapa waktu terakhir, saya mengamati jika orang-orang yang belum bisa menemukan minat dan bakatnya sejak dini memang akan dibingungkan oleh keadaan pedesaan yang minim stimulus. Di desa, rangsangan untuk berkreasi tidaklah sebanyak di perkotaan. Roda ekonomi yang berputar lambat ternyata tidak bisa menyadarkan seseorang akan minat dan bakatnya. 

Dalam pengamatan saya, jikalau seseorang tidak mengikuti minat dan bakatnya, ternyata membuat dia frustasi bahkan menjadi pemalas. Dalam kehidupan di desa, orang-orang yang enggan bergerak dan bertindak sungguh kentara. Kesehariannya hanya diisi dengan keluh kesah tentang banyak perkara.

Memang, bukan hal mudah menentukan apa minat dan bakat seseorang apalagi di tengah minimnya impuls dari sekitar. Hanya saja, ketika dia terus berusaha mencari maka disanalah produktifitas itu akan berlangsung. Tidak hanya diam menunggu seseorang mengajak atau malah menunggu "wangsit" turun dari langit. 

Berusaha mencari itu sendiri akan menimbulkan keadaan hidup yang lebih dinamis. Tidak stagnan sebagaimana seseorang yang duduk termangu. Pencarian merupakan kegiatan yang bisa berdampak, setidaknya pada pembentukan karakter mental seseorang. 

Apabila tidak ada kegiatan mencari, maka bisa dibayangkan tidak ada kegiatan yang berimbas kepada perubahan. Memang tidak akan terlihat dampaknya jika hanya dilakukan oleh satu orang. Tetapi, jika banyak orang berdiam diri maka akan jelas terlihat betapa kehidupan menjadi "mati".

Saya selalu percaya jika pencarian minat dan bakat bakat memberikan dampak kepada diri seseorang. Karena masa pencarian itu sendiri memberikan makna kepada dirinya sebagai individu. 

Manusia tercipta bukan tanpa alasan. Ketika dia hadir di muka bumi maka diharuskan menciptakan dampak bagi sekelilingnya. 

Hanya saja, kultur bisa menghambat seseorang menemukan minat dan bakatnya sendiri. Di kampung saya, seorang anak tidak diarahkan untuk mengenali minat dan bakatnya sejak dini. Wajar jika ketika dewasa dia tidak bisa menemukan "apa yang diinginkan dalam hidup".

Kami masih menganggap jika minat dan bakat hanya sebuah slogan semata. Minat dan bakat masih terkotak pada bidang-bidang yang menawarkan kemewahan serta gaji besar. Padahal, minat dan bakat bisa saja mengenai hal-hal sederhana.

Siapa tahu jika seorang anak terlahir berminat dan berbakat untuk menggali selokan? 

Apakah hal demikian hanya akan dianggap sebagai "angin lalu". Bahkan banyak orang dewasa melarangnya melakukan hal demikian karena dianggap sebagai pekerjaan kotor dan murahan. Alhasil, dia tidak menyadari jika membuat selokan di seantero desa memang sudah menjadi tugas dia serta menghasilkan pendapatan untuk memenuhi kebutuhan. 

Menurut saya, sekarang bukan zamannya lagi bagi orang dewasa untuk mengkotak-kotakkan minat dan bakat pada sebuah profesi. Karena besok-lusa pekerjaan yang didambakan banyak orang bisa saja sirna tergantikan oleh kecerdasan buatan. Mungkin ada "sesuatu yang baru" mengenai persepsi minat dan bakat itu sendiri. Karena alasan itu pula orang dewasa jangan menjadi pihak yang paling keras kepala dan merasa paling mengerti tentang masa depan anaknya. 

Saya percaya, minat dan bakat sangat unik bahkan spesifik pada setiap orang. Misalnya, saya suka menggambarkan apa yang ada dalam pikiran. Bukan berarti harus menjadi pelukis. Bisa saja menjadi seorang penulis. Andaikan sarana tidak memadai, kita bisa menggambarkan isi pikiran dalam sehelai daun atau di permukaan kayu sebagaimana orang-orang purba memahat ide-ide di permukaan batu.

Jadi, tidak ada alasan bagi siapa pun untuk tidak mencari apa minat dan bakatnya. Karena alasan hanya akan menjadi penghambat untuk membuat pikiran lebih terbuka pada setiap kesempatan yang ada ... di depan mata! 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Merambah Lahan Digital

Di desa kami, lahan pertanian mulai sempit. Tentu saja bukan tanahnya yang berkurang, kini wajah désa berubah setelah ada pembangunan pemukiman dan pabrik. Bagi mereka yang masih bergantung pada sektor pertanian, maka dianggap sebagai sebuah ancaman .  Seberapa serius ancaman itu, saya sendiri belum meneliti. Perlu ada ahli yang menentukan seberapa besar ancaman yang dimaksud. Atau, sebaliknya ini dianggap sebagai sebuah peluang ?  Sudah diramalkan sejak bertahun-tahun sebelumnya jika wajah désa kami akan berubah menjadi areal industri. Bertani hanya menjadi profesi penopang ketika sektor industri belum bisa dijadikan sumber pendapatan utama. Meskipun euforia industrialisasi itu senantiasa ada, belum tentu menjadi sektor yang tetap kokoh di tengah terpaan dinamika global.    Sebagaimana diketahui, perubahan haluan pembangunan di desa bisa terjadi lantaran ada kebutuhan yang mendesak. Karena berbagai penyebab, maka industri membawa angin segar bagi mereka yang tidak k...

Pohon Belajar

Dalam belajar, kita ikuti filosofi pohon. Seperti pohon, kita awali belajar dengan pelajaran dasar layaknya akar. Akar itu kuat menghujam tanah, juga menyerap saripati tanah untuk pertumbuhannya. Al-Qur'an dan As-Sunnah layaknya akar. Batang layaknya minat dan bakat yang sudah ada sejak lahir. Sedangkan, daun dan ranting adalah ilmu yang "menyesuaikan" dengan lingkungan. Akhirnya, maka akan ada buah yang bisa "dipetik". Minat dan bakat, harus menjadi yang utama dipelajari setelah pelajaran dasar. Kenapa? Karena ilmu yang berkenaan dengan minat dan bakat bisa dipelajari dengan "semangat" dan tidak perlu "disuruh-suruh". Ilmu yang berkenaan dengan minat dan bakat menjadi "acuan" akan seperti apa seseorang di masa depan. Layaknya, batang pohon maka minat dan bakat kuat meskipun diterpa angin dan hujan. Terakhir, ilmu lain yang menyesuaikan dengan kebutuhan. Ilmu-ilmu itu akan sangat banyak sesuai dengan kebutuhan...

Kesulitan Mengkomunikasikan Isi Pikiran kepada Warga Desa

Saya ini tipe orang yang langka bicara. Ada alasannya, obrolan warga begitu sering mengangkat topik yang tidak menarik. Tentu saja saya pun tidak tertarik untuk mendengarkan apalagi ikut nimbrung dalam kerumunan. Hal yang bisa dilakukan hanyalah menulis di blog, media sosial, dan buku. Andaikan suatu saat dibutuhkan, maka mereka yang tertarik dengan isi pikiran saya maka cukup membuka di sana. Tidak usah banyak bertanya dan berharap akan memaparkan lebih lanjut, saya tidak akan melakukannya. Misalnya, ketika saya memiliki ide tentang kandang kelinci yang bagus . Orang yang pertama kali menolak ide tentu saja bapa saya sendiri. Beliau tipe orang yang harus diyakinkan dengan banyak bicara atau "diceramahi" terlebih dahulu. Masalahnya, saya gampang bosan untuk banyak bicara. Mendengar ceramah pun mudah ngantuk.  Kandang kelinci dibuat alakadarnya, tanpa estetika yang memuaskan hasrat visual. Saya pun mengalah, ya namanya juga orang tua mana sanggup saya mendebat. Apalagi, Bapa ...