Langsung ke konten utama

Masa Depan Desa Ada Dalam Pikiran Anak-anak

 


Saya bingung ketika harus menjawab pertanyaan, bagaimana masa depan desa kita? Awalnya, saya mencoba mencari jawabannya dalam buku dan beberapa literatur. Namun, pada akhirnya didapatlah kesimpulan jika masa depan desa ada dalam pikiran anak-anak.

Menggali "informasi" tentang masa depan ada dalam pikiran anak. Memang hal yang terdengar mengherankan tetapi demikianlah adanya.

Anak-anak memiliki alam pikiran yang disiapkan untuk menghadapi masa depan. Mereka masih jauh dari paparan budaya yang "tidak perlu". Ketika diajak untuk memikirkan masa depan maka anak akan bicara jujur. Mereka bicara apa adanya tanpa banyak pertimbangan.

Saya bisa menyimpulkan demikian karena menyaksikan sendiri bagaimana orang dewasa kebingungan bagaimana menentukan masa depan desanya sendiri. Orang dewasa menjadi minim ide. Pikirannya masih terbelit masalah kebutuhan dasar.

Saya percaya jika seorang anak dilahirkan pada suatu waktu dan tempat memiliki maksud tertentu. Berdasarkan atas pengalaman sendiri, saya diberi minat dan bakat yang bermanfaat bagi kehidupan di desa. 

Ketika seorang anak memiliki keinginan, angan, cita-cita atau apa pun namanya, kemungkinan besar "dibimbing" oleh Yang Maha Segala untuk kehidupannya kelak. Dalam diri si anak tertanam bekal untuk mengarungi hidup. 

Ketika anak itu hidup di desa, maka dia "menyatu" dengan lingkungan tempatnya hidup. Suatu pemikiran yang keliru jika manusia harus menjauh dari lingkungannya sendiri. Manusia harus menjaga jarak dengan alam bahkan dengan budayanya. Tidak begitu. Ketika anak tumbuh dan berkembang dalam suatu lingkungan maka bukan hanya lingkungan yang membentuk karakternya. Namun, lingkungan adalah bekal baginya.

Bahkan, lingkungan yang dianggap buruk sekalipun. Itu adalah modal baginya untuk berpikir dan menggali potensi dirinya.

Anak memiliki cara unik untuk menggali potensinya kemudian menunjukkannya dalam ranah kehidupan. Diawali dari ranah terdekat hingga suatu saat nanti terlihat dalam lingkup yang lebih besar.

Anak memiliki "sirkuit" otak yang berguna sebagai petunjuk bagi jalan hidupnya. Dalam bahasa sederhana, anak memiliki pola pikir sendiri untuk menentukan jalan hidupnya. Dan, orang dewasa bertugas memberikan bimbingan. 

Ketika orang dewasa tidak sanggup membimbing, biarlah mereka tumbuh sebagaimana biji yang dijatuhkan seekor burung di sembarang tempat. Dia akan berusaha untuk tumbuh dan mengubah keadaan tanah yang gersang menjadi hijau dan meneduhkan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kayu Bakar untuk Bertahan Di Tengah Kesulitan

Ketika ktia kelelahan mencari sesuatu yang tidak ada atau jauh dari kediaman, maka melihat ke sekeliling bisa menjadi solusi. Bapa saya akhir-akhir ini rajin membelah kayu-kayu yang tumbuh di sekitar rumah. Untuk bahan bakar, demi menghemat anggaran belanja. Menanak nasi dan memasak air di atas tungku, tidak banyak menggunakan kompor demi usaha penghematan. Ketika banyak orang, sibuk mencari uang untuk membeli kebutuhan rumah tangga maka Bapa saya lebih suka menanam pepohonan. Ketika pohon itu sudah besar, manfaatnya begitu banyak. Salah satu yang saat ini dirasakan adalah kesanggupan kami untuk sekedar bertahan hidup di kala ekonomi sedang tidak baik. Meskipun negara sedang dilanda banyak bencana, kami bisa bertahan demi sekedar makan. Alhamdulillah.

Beternak Kerbau Rawa di Pinggiran Hutan Rawa

  Kerbau Rawa di Kalimantan (Sumber: Antara) Saya punya rencana untuk mengembalikan fungsi lahan kebun sawit menjadi tutupan hutan dengan memanfaatkan peran kerbau rawa. Jika sebelumnya hutan "dikeringkan" untuk ditanami bibit sawit maka harus kembali "dibasahkan" dengan mengalirkan air sungai. Untuk keperluan pupuk dan sumber pendapatan warga maka kerbau rawa bisa menjadi alternatif.  Dalam bayangan pikiran saya, akan ada lahan sawit yang tidak produktif lagi karena faktor usia tanaman. Dalam keadaan demikian, waktu yang tepat untuk segera mengembalikan fungsi hutan. Namun, saya tahu ini bukanlah usaha yang mudah. Penduduk akan lebih tertarik untuk mengalihkan fungsi lahan untuk sesuatu yang komersil. Hanya saja, mengembalikan fungsi hutan merupakan sebuah keharusan. Tentu tidak mengorbankan warga yang membutuhkan sumber pendapatan.  Memelihara kerbau rawa adalah solusi. Ini dipilih karena beberapa alasan.  Pertama, penduduk punya kegiatan untuk mengalihkan énergi ...

Perencanaan Sosial

Perencanaan sosial ( social planning ) pada dewasa ini menjadi ciri yang umum bagi masyarakat-masyarakat yang sedang mengalami perubahan-perubahan atau perkembangan. Sebenarnya perencanaan sosial yang bertujuan untuk melihat jauh ke depan telah ada sejak dahulu dan telah pula dipikirkan oleh para sosiolog . Auguste Comte misalnya, berpendapat bahwa manusia mempunyai kemampuan untuk melihat jauh ke depan serta mengendalikan tujuannya. Pernyataan tadi kemudian diperkembangkan lebih lanjut oleh Lester F. Ward yang mempergunakan istilah social telesis  untuk menunjuk pada arah yang dituju suatu masyarakat. [1] Menurut sosiologi, suatu perencanaan sosial harus didasarkan pada pengertian mendalam tentang bagaimana kebudayaan berkembang dari taraf yang rendah ke taraf modern dan kompleks dimana dikenal industri, peradaban kota dan selanjutnya . Selain itu harus pula ada pengertian terhadap hubungan manusia dengan alam sekitarnya, hubungan antara golongan-golongan dalam masyarakat ...