Langsung ke konten utama

Obrolan Warga Desa

Foto: Hartono Subagio via www.pexels.com
Sejak masa kanak-kanak, saya senantiasa kebingungan ketika memilih topik obrolan. Bukan karena tidak mengerti apa yang diobrolkan oleh orang-orang di sekitar. Saya hanya heran, kenapa orang-orang sekitar enggan untuk membicarakan perihal perkara di luar keseharian?

Sebuah kejadian yang berulang, apabila ada saudara atau tetangga--kebetulan banyak pula tetangga masih ada ikatan saudara--yang datang ke rumah. Tanpa ditanya tak dinyana, mereka yang tiba langsung membuka obrolan. Topik pembicaraan ringan.

"Eh, tahu nggak sih, si Fulan tuh begini-begitu."

Kami yang sedang menikmati tontonan televisi, lantas tak bisa mengelak untuk memperhatikan pertanyaan. 

Maka terjadilah obrolan keseharian yang sudah bisa ditebak akhirnya. 

Begitulah, banyak orang di sekitar saya enggan untuk membicarakan perihal abstrak. Apabila membicarakan sesuatu yang belum pernah dicerap oleh indera, maka mereka ramai-ramai untuk menolak. 

Kultur kami, seakan membangun dinding yang tebal dengan dunia luar. Kalau Anda membayangkan bénténg berbahan batu di abad pertengahan, tebal kan? Mungkin setebal itu pemisah antara kami dengan dunia luar. Tentu bukan pemisah secara fisik, tetapi pemisah mental. 

Kultur kami yang menutup diri terhadap informasi cukup mengejutkan saya ketika beranjak dewasa. Agak percuma jika teknologi informasi semacam televisi hadir ke tengah-tengah rumah. Toh, embaran yang tergambar di sana tidak dianggap berharga.

Padahal, ketika sekolah dulu, saya senantiasa diajak untuk mengenal bagian lain dari dunia. Oleh guru, kami diharuskan untuk tahu nama-nama negara di berbagai benua. Kami pun diajari sejarah bagaimana negara tersebut bisa terbentuk atau kembali runtuh. Namun, sayangnya tidak semua murid menganggap jika pengetahuan akan dunia luas layak dijadikan bahan obrolan.

Kecuali, khusus empat keponakan saya yang masih usia belia. Mereka begitu tertarik berbicara tentang dunia di luar apa yang terindera. Terkadang membicarakan nama hewan khas Afrika, suku bangsa di Malaysia, atau artis Korea yang mereka suka.

Memperhatikan ini, sepertinya saya menemukan sebuah pola.  

Ada orang-orang yang enggan berbicara tentang hal di luar keseharian. Sebaliknya, ada orang-orang yang tertarik dengan hal di luar keseharian. Setidaknya, dua tipe manusia ini mesti dihadapi dengan cara yang berbeda. Tipe pertama, saya hanya berusaha untuk mendengarkan sembari berusaha agar tidak menyela obrolan. Orang-orang seperti ini hanya butuh untuk didengarkan. Malahan, jika kita beri tanggapan, bisa jadi mereka tersinggung. Tipe kedua, orang-orang yang membutuhkan kawan bicara untuk menerawang ke lain dunia. Mereka memang tertarik dengan dunia luar, penasaran dengan apa yang terjadi di sana, tanggapi obrolan berdasarkan topik yang disampaikan.

Jadi, kalau pagi-pagi buta ada saudara yang ingin bicara banyak untuk sekedar menyampaikan pengalaman, cukup perhatikan. Apabila keponakan tertarik untuk membicarakan tontonan, ajak mereka untuk masuk ke dalam dunia yang tak tersentuh tangan tersebut. Dengan begitu, selalu ada interaksi serta komunikasi di antara kami. 

Ngobrol nggak penting, yang penting ngobrol.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kayu Bakar untuk Bertahan Di Tengah Kesulitan

Ketika ktia kelelahan mencari sesuatu yang tidak ada atau jauh dari kediaman, maka melihat ke sekeliling bisa menjadi solusi. Bapa saya akhir-akhir ini rajin membelah kayu-kayu yang tumbuh di sekitar rumah. Untuk bahan bakar, demi menghemat anggaran belanja. Menanak nasi dan memasak air di atas tungku, tidak banyak menggunakan kompor demi usaha penghematan. Ketika banyak orang, sibuk mencari uang untuk membeli kebutuhan rumah tangga maka Bapa saya lebih suka menanam pepohonan. Ketika pohon itu sudah besar, manfaatnya begitu banyak. Salah satu yang saat ini dirasakan adalah kesanggupan kami untuk sekedar bertahan hidup di kala ekonomi sedang tidak baik. Meskipun negara sedang dilanda banyak bencana, kami bisa bertahan demi sekedar makan. Alhamdulillah.

Beternak Kerbau Rawa di Pinggiran Hutan Rawa

  Kerbau Rawa di Kalimantan (Sumber: Antara) Saya punya rencana untuk mengembalikan fungsi lahan kebun sawit menjadi tutupan hutan dengan memanfaatkan peran kerbau rawa. Jika sebelumnya hutan "dikeringkan" untuk ditanami bibit sawit maka harus kembali "dibasahkan" dengan mengalirkan air sungai. Untuk keperluan pupuk dan sumber pendapatan warga maka kerbau rawa bisa menjadi alternatif.  Dalam bayangan pikiran saya, akan ada lahan sawit yang tidak produktif lagi karena faktor usia tanaman. Dalam keadaan demikian, waktu yang tepat untuk segera mengembalikan fungsi hutan. Namun, saya tahu ini bukanlah usaha yang mudah. Penduduk akan lebih tertarik untuk mengalihkan fungsi lahan untuk sesuatu yang komersil. Hanya saja, mengembalikan fungsi hutan merupakan sebuah keharusan. Tentu tidak mengorbankan warga yang membutuhkan sumber pendapatan.  Memelihara kerbau rawa adalah solusi. Ini dipilih karena beberapa alasan.  Pertama, penduduk punya kegiatan untuk mengalihkan énergi ...

Perencanaan Sosial

Perencanaan sosial ( social planning ) pada dewasa ini menjadi ciri yang umum bagi masyarakat-masyarakat yang sedang mengalami perubahan-perubahan atau perkembangan. Sebenarnya perencanaan sosial yang bertujuan untuk melihat jauh ke depan telah ada sejak dahulu dan telah pula dipikirkan oleh para sosiolog . Auguste Comte misalnya, berpendapat bahwa manusia mempunyai kemampuan untuk melihat jauh ke depan serta mengendalikan tujuannya. Pernyataan tadi kemudian diperkembangkan lebih lanjut oleh Lester F. Ward yang mempergunakan istilah social telesis  untuk menunjuk pada arah yang dituju suatu masyarakat. [1] Menurut sosiologi, suatu perencanaan sosial harus didasarkan pada pengertian mendalam tentang bagaimana kebudayaan berkembang dari taraf yang rendah ke taraf modern dan kompleks dimana dikenal industri, peradaban kota dan selanjutnya . Selain itu harus pula ada pengertian terhadap hubungan manusia dengan alam sekitarnya, hubungan antara golongan-golongan dalam masyarakat ...