Langsung ke konten utama

Pohon-pohon Besar Ini Pelindung Kampung

 

Dokpri.

Foto ini diambil ketika hari masih pagi, hanya beberapa hari yang lalu. Bagi saya, ini sebuah momen yang menarik. Unik sekaligus memberikan makna betapa pohon-pohon besar memiliki peran besar. Tanpa mereka, lingkungan kami akan terasa sangat gersang dan panas. 

Apabila di tempat tinggal Anda sudah langka akan pohon-pohon besar, maka tidak heran apabila suhu udara begitu tinggi. Tidak usah mengomel akan keadaan yang tak menyenangkan. Tidak usah pula uring-uringan jika musim kemarau terasa berasa di gurun Arabia. Padahal, hunian dibangun ketika negara Anda masih bernama Indonesia. Sebuah negeri yang dilintasi oleh garis khatulistiwa. Kenyataannya, koordinat tempat kini berdiri bukan jaminan akan kenyamanan. Dan, inilah resiko sebuah pembangunan yang serampangan.  

Blog ini tentang pembangunan desa, tetapi bukan berarti merusak lingkungannya. Bukan pembangunan yang serampangan, tanpa perencanaan. Bukan pula pembangunan yang tak mengindahkan keselarasan. Bukan, bukan pembangunan seperti itu yang saya anjurkan. 

Salah satu elemen yang tidak boleh dihilangkan adalah ruang bagi pohon. Flora ini memberikan banyak manfaat kepada manusia. Andaikan keberadaanya terganggu oleh sebilah kapak maka kerugiannya lumayan besar. Oleh karena itu, si pohon perlu untuk diajak "bicara". Bagaimana pun pohon-pohon itu makhluk hidup. Mereka bisa terluka apabila manusia memperlakukannya dengan semena-mena. 

Sebagaimana yang tampak pada foto, pohon-pohon besar ini sebagian kecil dari mereka yang tersisa. Sesungguhnya warga tak suka kepada sifatnya yang menghalangi cahaya. Menimbulkan sampah dedaunan kering pun alasan untuk segera menyingkirkan sang pohon yang telah bertahan lama. Padahal, apabila duduk tepat di bawah naungannya justru kesejukan yang akan didapatkan. Burung pun senang membangun sarang di sana. Itu artinya peran mereka bukan sekedar menyediakan kayu sebagai bahan bangunan. Sayangnya, manusia-manusia penakut menganggap deretan pohon sebagai sarang setan.      

Manusia sahabat pohon

Kedekatan manusia dengan pohon bisa saja berawal dari saling membutuhkan. Memang tidak bermula dari saling mencintai. Setiap kali ada kekhawatiran jika sang pohon akan mengundang bencana maka berpikirlah kembali mereka adalah kawan. Ya, selayaknya manusia pohon pun ada yang membawa bencana. Namun, selayaknya manusia, tidak semua pohon itu jahat. Mereka adalah pelindung kampung. 

Jika bercerita tentang kampung, mari kita bayangkan untuk selalu menaruh pohon di tengahnya. Ingat, bukan kampung kumuh di tengah ibu kota. Meskipun banyak tempat dinamai dengan awalan "kampung" tetapi sudah tak bisa disebut asri apabila tak ada sebatang pohon. Mereka berkumpul membentuk kerimbunan bukan kerumunan. Tempat bagi anak-anak untuk menghabiskan waktu luang. Bukan tempat bagi kuntilanak untuk bergelantungan. 

Ya, memang bisa dimengerti apabila ada orang yang membenci pohon. Ulat dan ular akan selalu menjadi alasan akan ketiadaannya. Padahal, bisa mengundang burung kutilang untuk hinggap dan berkicau. Bisa pula mengundang burung hantu bertengger kemudian bernyanyi kala dini hari. 

Sebaliknya, sang pecinta pohon mendambakan udara segar kala pagi. Saat malam, serangga menempel di dahan. Mereka akan menjadi teman kala sepi. Bagi kamu pencari inspirasi, pohon bisa menjadi sumber inspirasi sejati.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Merambah Lahan Digital

Di desa kami, lahan pertanian mulai sempit. Tentu saja bukan tanahnya yang berkurang, kini wajah désa berubah setelah ada pembangunan pemukiman dan pabrik. Bagi mereka yang masih bergantung pada sektor pertanian, maka dianggap sebagai sebuah ancaman .  Seberapa serius ancaman itu, saya sendiri belum meneliti. Perlu ada ahli yang menentukan seberapa besar ancaman yang dimaksud. Atau, sebaliknya ini dianggap sebagai sebuah peluang ?  Sudah diramalkan sejak bertahun-tahun sebelumnya jika wajah désa kami akan berubah menjadi areal industri. Bertani hanya menjadi profesi penopang ketika sektor industri belum bisa dijadikan sumber pendapatan utama. Meskipun euforia industrialisasi itu senantiasa ada, belum tentu menjadi sektor yang tetap kokoh di tengah terpaan dinamika global.    Sebagaimana diketahui, perubahan haluan pembangunan di desa bisa terjadi lantaran ada kebutuhan yang mendesak. Karena berbagai penyebab, maka industri membawa angin segar bagi mereka yang tidak k...

Pohon Belajar

Dalam belajar, kita ikuti filosofi pohon. Seperti pohon, kita awali belajar dengan pelajaran dasar layaknya akar. Akar itu kuat menghujam tanah, juga menyerap saripati tanah untuk pertumbuhannya. Al-Qur'an dan As-Sunnah layaknya akar. Batang layaknya minat dan bakat yang sudah ada sejak lahir. Sedangkan, daun dan ranting adalah ilmu yang "menyesuaikan" dengan lingkungan. Akhirnya, maka akan ada buah yang bisa "dipetik". Minat dan bakat, harus menjadi yang utama dipelajari setelah pelajaran dasar. Kenapa? Karena ilmu yang berkenaan dengan minat dan bakat bisa dipelajari dengan "semangat" dan tidak perlu "disuruh-suruh". Ilmu yang berkenaan dengan minat dan bakat menjadi "acuan" akan seperti apa seseorang di masa depan. Layaknya, batang pohon maka minat dan bakat kuat meskipun diterpa angin dan hujan. Terakhir, ilmu lain yang menyesuaikan dengan kebutuhan. Ilmu-ilmu itu akan sangat banyak sesuai dengan kebutuhan...

Kesulitan Mengkomunikasikan Isi Pikiran kepada Warga Desa

Saya ini tipe orang yang langka bicara. Ada alasannya, obrolan warga begitu sering mengangkat topik yang tidak menarik. Tentu saja saya pun tidak tertarik untuk mendengarkan apalagi ikut nimbrung dalam kerumunan. Hal yang bisa dilakukan hanyalah menulis di blog, media sosial, dan buku. Andaikan suatu saat dibutuhkan, maka mereka yang tertarik dengan isi pikiran saya maka cukup membuka di sana. Tidak usah banyak bertanya dan berharap akan memaparkan lebih lanjut, saya tidak akan melakukannya. Misalnya, ketika saya memiliki ide tentang kandang kelinci yang bagus . Orang yang pertama kali menolak ide tentu saja bapa saya sendiri. Beliau tipe orang yang harus diyakinkan dengan banyak bicara atau "diceramahi" terlebih dahulu. Masalahnya, saya gampang bosan untuk banyak bicara. Mendengar ceramah pun mudah ngantuk.  Kandang kelinci dibuat alakadarnya, tanpa estetika yang memuaskan hasrat visual. Saya pun mengalah, ya namanya juga orang tua mana sanggup saya mendebat. Apalagi, Bapa ...