Langsung ke konten utama

Sikap 'Bertahan' Di Tengah Peradaban, Sungguh Merugikan

 

Taktik sepakbola menyerang. (Ilustrasi: Bandit Football)

"Taktik terbaik untuk bertahan adalah menyerang."


Ditengah peradaban yang serba kompleks, sekedar "bertahan" untuk hidup hanyalah kerugian. Saya, tumbuh di tengah peradaban yang lebih banyak bertahan dibanding menyerang.

Sebagai orang Sunda, bertahan dari serbuan bangsa lain sudah menjadi bagian dari budaya. Berdasarkan sejarah yang saya baca, sikap orang Sunda ini malah menjadi prinsip yang dilihat sebagai kekuatan tetapi nyatanya adalah bentuk kelemahan.

Bertahan dari serbuan budaya lain, tepatnya dominasi peradaban bangsa lain, hanya bisa bertahan dalam jangka pendek. Juga, hanya berlaku pada manusia-manusia idealis yang jumlahnya sedikit. Lama-kelamaan kemampuan bertahan itu akan "bobol" juga.

Ketika pertahanan sudah rapuh, maka dengan mudah bangsa lain memporakporandakan bangunan budaya yang tercipta sejak lama. Lalu, kita hanya gigit jari dan merasakan penyesalan teramat dalam karena tidak menyerang balik sejak awal.

***

Saya menyaksikan dengan mata kepala sendiri betapa sikap bertahan ala orang Sunda malah membuat orang Sunda terasing dari akar budayanya sendiri. Semua aspek "kalah telak", sehingga menyerah begitu saja. Mulai dari ekonomi, politik hingga teknologi, orang Sunda hanya menjadi bangsa yang kalah. Hampir tidak ada lagi yang bisa dibanggakan.

Lucunya, kekalahan ini malah ditimpakan menjadi kesalahan orang lain. Menyalahkan orang Cina bahkan menyalahkan Tuhan. Sungguh keterlaluan!

Orang Sunda tidak berdaya untuk bangkit lagi dari kekalahan. Tertunduk lesu. Orang Sunda hanya bisa menjadi bangsa "setengah budak" dari bangsa lain yang berdatangan ke tanah Pajajaran. Kami, menjadi mayoritas yang terpinggirkan. Hanya bangga dengan kuantitas tetapi memalukan secara kualitas. ...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kayu Bakar untuk Bertahan Di Tengah Kesulitan

Ketika ktia kelelahan mencari sesuatu yang tidak ada atau jauh dari kediaman, maka melihat ke sekeliling bisa menjadi solusi. Bapa saya akhir-akhir ini rajin membelah kayu-kayu yang tumbuh di sekitar rumah. Untuk bahan bakar, demi menghemat anggaran belanja. Menanak nasi dan memasak air di atas tungku, tidak banyak menggunakan kompor demi usaha penghematan. Ketika banyak orang, sibuk mencari uang untuk membeli kebutuhan rumah tangga maka Bapa saya lebih suka menanam pepohonan. Ketika pohon itu sudah besar, manfaatnya begitu banyak. Salah satu yang saat ini dirasakan adalah kesanggupan kami untuk sekedar bertahan hidup di kala ekonomi sedang tidak baik. Meskipun negara sedang dilanda banyak bencana, kami bisa bertahan demi sekedar makan. Alhamdulillah.

Beternak Kerbau Rawa di Pinggiran Hutan Rawa

  Kerbau Rawa di Kalimantan (Sumber: Antara) Saya punya rencana untuk mengembalikan fungsi lahan kebun sawit menjadi tutupan hutan dengan memanfaatkan peran kerbau rawa. Jika sebelumnya hutan "dikeringkan" untuk ditanami bibit sawit maka harus kembali "dibasahkan" dengan mengalirkan air sungai. Untuk keperluan pupuk dan sumber pendapatan warga maka kerbau rawa bisa menjadi alternatif.  Dalam bayangan pikiran saya, akan ada lahan sawit yang tidak produktif lagi karena faktor usia tanaman. Dalam keadaan demikian, waktu yang tepat untuk segera mengembalikan fungsi hutan. Namun, saya tahu ini bukanlah usaha yang mudah. Penduduk akan lebih tertarik untuk mengalihkan fungsi lahan untuk sesuatu yang komersil. Hanya saja, mengembalikan fungsi hutan merupakan sebuah keharusan. Tentu tidak mengorbankan warga yang membutuhkan sumber pendapatan.  Memelihara kerbau rawa adalah solusi. Ini dipilih karena beberapa alasan.  Pertama, penduduk punya kegiatan untuk mengalihkan énergi ...

Perencanaan Sosial

Perencanaan sosial ( social planning ) pada dewasa ini menjadi ciri yang umum bagi masyarakat-masyarakat yang sedang mengalami perubahan-perubahan atau perkembangan. Sebenarnya perencanaan sosial yang bertujuan untuk melihat jauh ke depan telah ada sejak dahulu dan telah pula dipikirkan oleh para sosiolog . Auguste Comte misalnya, berpendapat bahwa manusia mempunyai kemampuan untuk melihat jauh ke depan serta mengendalikan tujuannya. Pernyataan tadi kemudian diperkembangkan lebih lanjut oleh Lester F. Ward yang mempergunakan istilah social telesis  untuk menunjuk pada arah yang dituju suatu masyarakat. [1] Menurut sosiologi, suatu perencanaan sosial harus didasarkan pada pengertian mendalam tentang bagaimana kebudayaan berkembang dari taraf yang rendah ke taraf modern dan kompleks dimana dikenal industri, peradaban kota dan selanjutnya . Selain itu harus pula ada pengertian terhadap hubungan manusia dengan alam sekitarnya, hubungan antara golongan-golongan dalam masyarakat ...