Langsung ke konten utama

Berpikir Besar, Terlaksanakah?

Ilustrasi: aquariuslearning.co.id

Memikirkan hal-hal besar dalam hidup, mungkin biasa bagi bangsa besar yang menguasai peradaban dunia. Hasil dari pemikiran besar mereka di masa lalu, kini sudah terwujud. Jadi, jika anak-cucu mereka berpikir jauh lebih besar ya wajar.

Berpikir besar, bagi saya, belum menjadi bagian dari budaya keluarga. Kami masih disibukan dengan pemikiran bagaimana memenuhi kebutuhan dasar. Makanya, jangan aneh jika kebutuhan dasar sudah terpenuhi tidak ada lagi gairah untuk memikirkan atau melakukan hal lain. Pensiun.

Imajinasi hari tua yang sejahtera dan bahagia memang menjadi tujuan banyak orang. Sayangnya, setelah pensiun ya _maaf_ hanya menunggu kematian. Nyaris tidak ada harapan untuk membangun warisan lebih besar kepada sanak keluarganya.

Keberadaan seseorang tidak terlalu berpengaruh pada peradaban. Terlalu egois, karena hanya memikirkan isi perut masing-masing.

***

Memang menjadi pertanyaan besar, apakah berpikir besar bisa terlaksana? Saya sudah mencari di dunia maya atau dunia nyata jika hal-hal besar bisa terjadi jika diawali pemikiran besar. Pelaksanaan sebuah hasil pemikiran, tidaklah terjadi dalam sekejap mata. Mungkin saja behari-hari, berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun. Namun, pemikiran besar bisa menjadi bagian dari budaya sekumpulan manusia.

Saya sering gemas pada sikap kita yang tidak mau berpikir besar. Alhasil, jiwa tidak terdorong untuk bertindak. Bahkan untuk melakukan hal sederhana seperti membuang sampah. Dalam budaya kita, sampah dianggap hal sepele maka beginilah jadinya. Sungai jadi tempat sampah terbesar!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kayu Bakar untuk Bertahan Di Tengah Kesulitan

Ketika ktia kelelahan mencari sesuatu yang tidak ada atau jauh dari kediaman, maka melihat ke sekeliling bisa menjadi solusi. Bapa saya akhir-akhir ini rajin membelah kayu-kayu yang tumbuh di sekitar rumah. Untuk bahan bakar, demi menghemat anggaran belanja. Menanak nasi dan memasak air di atas tungku, tidak banyak menggunakan kompor demi usaha penghematan. Ketika banyak orang, sibuk mencari uang untuk membeli kebutuhan rumah tangga maka Bapa saya lebih suka menanam pepohonan. Ketika pohon itu sudah besar, manfaatnya begitu banyak. Salah satu yang saat ini dirasakan adalah kesanggupan kami untuk sekedar bertahan hidup di kala ekonomi sedang tidak baik. Meskipun negara sedang dilanda banyak bencana, kami bisa bertahan demi sekedar makan. Alhamdulillah.

Beternak Kerbau Rawa di Pinggiran Hutan Rawa

  Kerbau Rawa di Kalimantan (Sumber: Antara) Saya punya rencana untuk mengembalikan fungsi lahan kebun sawit menjadi tutupan hutan dengan memanfaatkan peran kerbau rawa. Jika sebelumnya hutan "dikeringkan" untuk ditanami bibit sawit maka harus kembali "dibasahkan" dengan mengalirkan air sungai. Untuk keperluan pupuk dan sumber pendapatan warga maka kerbau rawa bisa menjadi alternatif.  Dalam bayangan pikiran saya, akan ada lahan sawit yang tidak produktif lagi karena faktor usia tanaman. Dalam keadaan demikian, waktu yang tepat untuk segera mengembalikan fungsi hutan. Namun, saya tahu ini bukanlah usaha yang mudah. Penduduk akan lebih tertarik untuk mengalihkan fungsi lahan untuk sesuatu yang komersil. Hanya saja, mengembalikan fungsi hutan merupakan sebuah keharusan. Tentu tidak mengorbankan warga yang membutuhkan sumber pendapatan.  Memelihara kerbau rawa adalah solusi. Ini dipilih karena beberapa alasan.  Pertama, penduduk punya kegiatan untuk mengalihkan énergi ...

Perencanaan Sosial

Perencanaan sosial ( social planning ) pada dewasa ini menjadi ciri yang umum bagi masyarakat-masyarakat yang sedang mengalami perubahan-perubahan atau perkembangan. Sebenarnya perencanaan sosial yang bertujuan untuk melihat jauh ke depan telah ada sejak dahulu dan telah pula dipikirkan oleh para sosiolog . Auguste Comte misalnya, berpendapat bahwa manusia mempunyai kemampuan untuk melihat jauh ke depan serta mengendalikan tujuannya. Pernyataan tadi kemudian diperkembangkan lebih lanjut oleh Lester F. Ward yang mempergunakan istilah social telesis  untuk menunjuk pada arah yang dituju suatu masyarakat. [1] Menurut sosiologi, suatu perencanaan sosial harus didasarkan pada pengertian mendalam tentang bagaimana kebudayaan berkembang dari taraf yang rendah ke taraf modern dan kompleks dimana dikenal industri, peradaban kota dan selanjutnya . Selain itu harus pula ada pengertian terhadap hubungan manusia dengan alam sekitarnya, hubungan antara golongan-golongan dalam masyarakat ...