Langsung ke konten utama

Memikirkan Masa Depan Desa

Apa yang Anda pikirkan ketika berbicara tentang desa?

Saya menggambar isi pikiran tentang desa kemudian ditempel di dinding kamar.
Alam pikiran kita mungkin tidak dipenuhi harapan yang melambung tinggi. Pesimisme tentang kehidupan desa bisa merasuki jiwa. Desa, masih dianggap sebagai entitas tidak menguntungkan bagi sebagian karena melihat kondisinya yang sekarang. Buat saya, ketika melihat masa depan harus dilihat dari berbagai perspektif. 

  • Ada desa yang lebih mengutamakan kemajuan atau lebih tepatnya 'ikut-ikutan' apa yang terjadi di kota; dan
  • Ada desa yang melihat masa depannya justru ingin kembali ke masa lalu. Masa dimana desa belum ada dan masih berupa hutan belantara.
Di Cina, ada desa-desa yang diubah kembali menjadi hutan. Reforestasi yang dilakukan Pemerintah Cina memaksa desa mengubah wajahnya menjadi alam yang asli dan apa adanya. Pohon-pohon kembali tumbuh dan menghasilkan oksigen.

Tetapi, bila Anda menginginkan desa seperti kota-kota satelit sekitat Jakarta maka itu juga hal yang lumrah. Tangerang, Bekasi dan Bogor yang awalnya pedesaan berubah menjadi kota yang ramai. Disana-sini penuh dengan pembangunan fisik mulai dari rumah, gedung hingga pabrik.

Saya sudah memenuhi pikiran tentang masa depan pedesaan. Satu sisi, pikiran saya menginginkan desa kembali asri tanpa banyak polusi. Sisi lain, saya ingin desa menjadi sejahtera penuh dengan pemenuhan kebutuhan penghuninya.

Permasalahannya, banyak pikiran di desa ini sehingga harus ada kesepemahaman diantara kita. Saya dan tetangga, bisa jadi memiliki keinginan yang berbeda.

Perbedaan keinginan mungkin berawal dari perbedaan kebutuhan. Jika saya butuh banyak oksigen, tetangga saya justru membutuhkan banyak uang. Jika saya ingin membangun gedung tinggi, tetangga saya malah membutuhkan lahan luas untuk mengembala ternak.

Kata Napoleon Hill, apa yang terjadi di dunia ini berawal dari pikiran seseorang. Jadi, pikirkan saja hal-hal baik tentang masa depan desa kita. Semoga semua menjadi kenyataan.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kayu Bakar untuk Bertahan Di Tengah Kesulitan

Ketika ktia kelelahan mencari sesuatu yang tidak ada atau jauh dari kediaman, maka melihat ke sekeliling bisa menjadi solusi. Bapa saya akhir-akhir ini rajin membelah kayu-kayu yang tumbuh di sekitar rumah. Untuk bahan bakar, demi menghemat anggaran belanja. Menanak nasi dan memasak air di atas tungku, tidak banyak menggunakan kompor demi usaha penghematan. Ketika banyak orang, sibuk mencari uang untuk membeli kebutuhan rumah tangga maka Bapa saya lebih suka menanam pepohonan. Ketika pohon itu sudah besar, manfaatnya begitu banyak. Salah satu yang saat ini dirasakan adalah kesanggupan kami untuk sekedar bertahan hidup di kala ekonomi sedang tidak baik. Meskipun negara sedang dilanda banyak bencana, kami bisa bertahan demi sekedar makan. Alhamdulillah.

Beternak Kerbau Rawa di Pinggiran Hutan Rawa

  Kerbau Rawa di Kalimantan (Sumber: Antara) Saya punya rencana untuk mengembalikan fungsi lahan kebun sawit menjadi tutupan hutan dengan memanfaatkan peran kerbau rawa. Jika sebelumnya hutan "dikeringkan" untuk ditanami bibit sawit maka harus kembali "dibasahkan" dengan mengalirkan air sungai. Untuk keperluan pupuk dan sumber pendapatan warga maka kerbau rawa bisa menjadi alternatif.  Dalam bayangan pikiran saya, akan ada lahan sawit yang tidak produktif lagi karena faktor usia tanaman. Dalam keadaan demikian, waktu yang tepat untuk segera mengembalikan fungsi hutan. Namun, saya tahu ini bukanlah usaha yang mudah. Penduduk akan lebih tertarik untuk mengalihkan fungsi lahan untuk sesuatu yang komersil. Hanya saja, mengembalikan fungsi hutan merupakan sebuah keharusan. Tentu tidak mengorbankan warga yang membutuhkan sumber pendapatan.  Memelihara kerbau rawa adalah solusi. Ini dipilih karena beberapa alasan.  Pertama, penduduk punya kegiatan untuk mengalihkan énergi ...

Perencanaan Sosial

Perencanaan sosial ( social planning ) pada dewasa ini menjadi ciri yang umum bagi masyarakat-masyarakat yang sedang mengalami perubahan-perubahan atau perkembangan. Sebenarnya perencanaan sosial yang bertujuan untuk melihat jauh ke depan telah ada sejak dahulu dan telah pula dipikirkan oleh para sosiolog . Auguste Comte misalnya, berpendapat bahwa manusia mempunyai kemampuan untuk melihat jauh ke depan serta mengendalikan tujuannya. Pernyataan tadi kemudian diperkembangkan lebih lanjut oleh Lester F. Ward yang mempergunakan istilah social telesis  untuk menunjuk pada arah yang dituju suatu masyarakat. [1] Menurut sosiologi, suatu perencanaan sosial harus didasarkan pada pengertian mendalam tentang bagaimana kebudayaan berkembang dari taraf yang rendah ke taraf modern dan kompleks dimana dikenal industri, peradaban kota dan selanjutnya . Selain itu harus pula ada pengertian terhadap hubungan manusia dengan alam sekitarnya, hubungan antara golongan-golongan dalam masyarakat ...