Langsung ke konten utama

Hati-hati dengan Filosofi "Pendatang" Ketika Membangun Desa



Filosofi lokal sering dianggap tidak relevan dengan kebutuhan pembangunan pedesaan. Para pemangku kebijakan malah mengimpor filsafat Barat demi tercapainya kemajuan.


Demokrasi, salah satu filsafat yang sering didengungkan. Sayangnya, demokrasi dalam pembangunan desa ini tidak jarang malah menjadi ajang perebutan kekuasaan. Di desa, dimana sistem pemerintahan lokal masih banyak yang cocok dengan oligarki dimana kekuasaan "cukup" diserahkan pada beberapa orang yang dianggap cakap.

Entah berkaca darimana, demokrasi dengan sistem pemilihan belum tentu menjadi sarana relevan dalam pembangunan pedesaan. Karakter desa yang serba "tenang" tidak mesti digoncang dengan perpolitikan lokal yang mengganggu pembangunan.

Dalam banyak konteks, orang desa tidak membutuhkan pergantian kepemimpinan yang terlalu sering tetapi membutuhkan sosok yang memiliki visi membangun dalam jangka panjang. Tidak jarang jika desa perlu orang yang berpikir untuk tiga generasi, generasi dirinya, anaknya hingga cucunya.

Dan, menjaring seorang pemimpian "ideal" seperti itu bukan dengan sistem pemilihan serba langsung. Desa lebih memerlukan sosok yang bisa mengayomi dan memahami realita kehidupan sekitarnya bukan sekedar "tenaga administratif".

***

Demokrasi hanya salah satu contoh saja betapa sebuah dasar pemikiran dalam bertindak begitu dipaksakan untuk diterapkan. Desa, dengan kenyataan sejarah yang menyertainya tidak bisa begitu saja dipaksa ikut serta menjadi bagian dari globalisasi atau westernisasi. Desa, harus memiliki citra diri yang mandiri sehingga memiliki ciri khas untuk menghadapi perubahan zaman yang sedang berjalan.

Desa adalah entitas unik di tengah kekalutan dunia yang sering terjadi. Jika filosofi saja harus mengikuti apa kata bangsa yang berbeda tradisi, bagaimana bisa desa bertahan di tengah kekalutan itu.

Bagi saya, justru filosofi yang khas malah menjadikan desa siap bertahan. Filosofi impor bisa jadi malah membawa kita sebagai orang yang sentiasa bisa dikendalikan oleh mereka. ...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Merambah Lahan Digital

Di desa kami, lahan pertanian mulai sempit. Tentu saja bukan tanahnya yang berkurang, kini wajah désa berubah setelah ada pembangunan pemukiman dan pabrik. Bagi mereka yang masih bergantung pada sektor pertanian, maka dianggap sebagai sebuah ancaman .  Seberapa serius ancaman itu, saya sendiri belum meneliti. Perlu ada ahli yang menentukan seberapa besar ancaman yang dimaksud. Atau, sebaliknya ini dianggap sebagai sebuah peluang ?  Sudah diramalkan sejak bertahun-tahun sebelumnya jika wajah désa kami akan berubah menjadi areal industri. Bertani hanya menjadi profesi penopang ketika sektor industri belum bisa dijadikan sumber pendapatan utama. Meskipun euforia industrialisasi itu senantiasa ada, belum tentu menjadi sektor yang tetap kokoh di tengah terpaan dinamika global.    Sebagaimana diketahui, perubahan haluan pembangunan di desa bisa terjadi lantaran ada kebutuhan yang mendesak. Karena berbagai penyebab, maka industri membawa angin segar bagi mereka yang tidak k...

Pohon Belajar

Dalam belajar, kita ikuti filosofi pohon. Seperti pohon, kita awali belajar dengan pelajaran dasar layaknya akar. Akar itu kuat menghujam tanah, juga menyerap saripati tanah untuk pertumbuhannya. Al-Qur'an dan As-Sunnah layaknya akar. Batang layaknya minat dan bakat yang sudah ada sejak lahir. Sedangkan, daun dan ranting adalah ilmu yang "menyesuaikan" dengan lingkungan. Akhirnya, maka akan ada buah yang bisa "dipetik". Minat dan bakat, harus menjadi yang utama dipelajari setelah pelajaran dasar. Kenapa? Karena ilmu yang berkenaan dengan minat dan bakat bisa dipelajari dengan "semangat" dan tidak perlu "disuruh-suruh". Ilmu yang berkenaan dengan minat dan bakat menjadi "acuan" akan seperti apa seseorang di masa depan. Layaknya, batang pohon maka minat dan bakat kuat meskipun diterpa angin dan hujan. Terakhir, ilmu lain yang menyesuaikan dengan kebutuhan. Ilmu-ilmu itu akan sangat banyak sesuai dengan kebutuhan...

Kesulitan Mengkomunikasikan Isi Pikiran kepada Warga Desa

Saya ini tipe orang yang langka bicara. Ada alasannya, obrolan warga begitu sering mengangkat topik yang tidak menarik. Tentu saja saya pun tidak tertarik untuk mendengarkan apalagi ikut nimbrung dalam kerumunan. Hal yang bisa dilakukan hanyalah menulis di blog, media sosial, dan buku. Andaikan suatu saat dibutuhkan, maka mereka yang tertarik dengan isi pikiran saya maka cukup membuka di sana. Tidak usah banyak bertanya dan berharap akan memaparkan lebih lanjut, saya tidak akan melakukannya. Misalnya, ketika saya memiliki ide tentang kandang kelinci yang bagus . Orang yang pertama kali menolak ide tentu saja bapa saya sendiri. Beliau tipe orang yang harus diyakinkan dengan banyak bicara atau "diceramahi" terlebih dahulu. Masalahnya, saya gampang bosan untuk banyak bicara. Mendengar ceramah pun mudah ngantuk.  Kandang kelinci dibuat alakadarnya, tanpa estetika yang memuaskan hasrat visual. Saya pun mengalah, ya namanya juga orang tua mana sanggup saya mendebat. Apalagi, Bapa ...