Langsung ke konten utama

Investasi Pengetahuan

 

Siput di halaman rumah.

Pengetahuan bukan sekedar apa yang kita tahu dari buku. Pengetahuan juga berasal dari sekitar kita.

Saya selalu berpikir jika buku bukan lagi satu-satunya "kitab rujukan" bagi pengetahuan kita. Apabila masih ada dalam pikiran kita jika apa yang terjadi di sekitar adalah hal biasa, maka  pikiran itu perlu dikoreksi. 

Apa yang kita anggap angin lalu dimasa lalu maka dimasa depan akan menjadi sumber kehidupan. Saat ini, Abad 21 bisa disebut juga sebagai Abad Pengetahuan. Modal kehidupan bukan hanya bicara tentang uang dan sumberdaya alam yang luas. Pengetahuan yang terorganisir juga menjadi kapital bagi perubahan peradaban.

Bisa dipahami jika banyak yang menganggap begitu. Karena, ketika sumberdaya alam yang semakin sedikit diperebutkan oleh begitu banyak orang maka setiap orang akan kebagian sedikit sekali.

Saya mengalami sendiri bagaimana keluarga kami tidak kebagian tanah untuk sekedar menanam bahan pangan. Sawah yang digarap oleh Bapa saya juga itu milik orang lain. Lalu, jika begitu apa yang bisa kami investasikan untuk anak cucu?

Jawabannya, ada pada filosofi siput. Siput sangat lambat dalam bergerak. Tetapi, katanya siput adalah makhluk di bumi yang belum punah padahal dia binatang yang sudah hadir di bumi jauh sebelum manusia ada.

Keterlambatan siput malah menjadi cara dia untuk bertahan hidup. Siput tidak tergesa-gesa untuk menjadi makhluk yang unggul di muka bumi. Tapi, berhasil bertahan dengan menyebarkan pengaruhnya dalam radius yang tidak terlalu luas.

Sebagai orang desa, berinvestasi pengetahuan tentang sekitarnya yang tidak terlalu luas bisa menjadi bekal untuk bertahan. Pengetahuan tidak harus selalu sesuatu yang luas dan diluar jangkauan, karena bisa jadi kebingungan antara realita dan kata-kata semata.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Merambah Lahan Digital

Di desa kami, lahan pertanian mulai sempit. Tentu saja bukan tanahnya yang berkurang, kini wajah désa berubah setelah ada pembangunan pemukiman dan pabrik. Bagi mereka yang masih bergantung pada sektor pertanian, maka dianggap sebagai sebuah ancaman .  Seberapa serius ancaman itu, saya sendiri belum meneliti. Perlu ada ahli yang menentukan seberapa besar ancaman yang dimaksud. Atau, sebaliknya ini dianggap sebagai sebuah peluang ?  Sudah diramalkan sejak bertahun-tahun sebelumnya jika wajah désa kami akan berubah menjadi areal industri. Bertani hanya menjadi profesi penopang ketika sektor industri belum bisa dijadikan sumber pendapatan utama. Meskipun euforia industrialisasi itu senantiasa ada, belum tentu menjadi sektor yang tetap kokoh di tengah terpaan dinamika global.    Sebagaimana diketahui, perubahan haluan pembangunan di desa bisa terjadi lantaran ada kebutuhan yang mendesak. Karena berbagai penyebab, maka industri membawa angin segar bagi mereka yang tidak k...

Pohon Belajar

Dalam belajar, kita ikuti filosofi pohon. Seperti pohon, kita awali belajar dengan pelajaran dasar layaknya akar. Akar itu kuat menghujam tanah, juga menyerap saripati tanah untuk pertumbuhannya. Al-Qur'an dan As-Sunnah layaknya akar. Batang layaknya minat dan bakat yang sudah ada sejak lahir. Sedangkan, daun dan ranting adalah ilmu yang "menyesuaikan" dengan lingkungan. Akhirnya, maka akan ada buah yang bisa "dipetik". Minat dan bakat, harus menjadi yang utama dipelajari setelah pelajaran dasar. Kenapa? Karena ilmu yang berkenaan dengan minat dan bakat bisa dipelajari dengan "semangat" dan tidak perlu "disuruh-suruh". Ilmu yang berkenaan dengan minat dan bakat menjadi "acuan" akan seperti apa seseorang di masa depan. Layaknya, batang pohon maka minat dan bakat kuat meskipun diterpa angin dan hujan. Terakhir, ilmu lain yang menyesuaikan dengan kebutuhan. Ilmu-ilmu itu akan sangat banyak sesuai dengan kebutuhan...

Kesulitan Mengkomunikasikan Isi Pikiran kepada Warga Desa

Saya ini tipe orang yang langka bicara. Ada alasannya, obrolan warga begitu sering mengangkat topik yang tidak menarik. Tentu saja saya pun tidak tertarik untuk mendengarkan apalagi ikut nimbrung dalam kerumunan. Hal yang bisa dilakukan hanyalah menulis di blog, media sosial, dan buku. Andaikan suatu saat dibutuhkan, maka mereka yang tertarik dengan isi pikiran saya maka cukup membuka di sana. Tidak usah banyak bertanya dan berharap akan memaparkan lebih lanjut, saya tidak akan melakukannya. Misalnya, ketika saya memiliki ide tentang kandang kelinci yang bagus . Orang yang pertama kali menolak ide tentu saja bapa saya sendiri. Beliau tipe orang yang harus diyakinkan dengan banyak bicara atau "diceramahi" terlebih dahulu. Masalahnya, saya gampang bosan untuk banyak bicara. Mendengar ceramah pun mudah ngantuk.  Kandang kelinci dibuat alakadarnya, tanpa estetika yang memuaskan hasrat visual. Saya pun mengalah, ya namanya juga orang tua mana sanggup saya mendebat. Apalagi, Bapa ...