Langsung ke konten utama

Membangun Imaji sebagai Awal Membangun Manusia Pedesaaan

Orang Desa Belajar
Orang desa yang sedang belajar (Dokpri.)

Beberapa tulisan saya sebelumnya, sering membahas masalah pembangunan fisik seperti pembangunan industri dsb. Namun, saya mulai "melupakan" jika pembangunan pedesaan tidak melulu tentang membangun sarana fisik tetapi juga membangun manusia dan pola pikirnya.

Manusia pedesaan bukan hanya sebagai objek pembangunan tetapi juga harus dianggap sebagai subjek pembangunan. Karena itu, orang desa harus diselidiki isi pikirannya sehingga kita tahu apa yang diinginkan dan dibutuhkan oleh orang desa.

Manusia memiliki bekal besar untuk mengarungi kehidupan. Bekal itu adalah pikiran dalam dirinya. Dengan pikiran, kita bisa mengkhayalkan, merencanakan bahkan mengubah masa depan.

Apa yang saya sampaikan bukan tentang suatu yang muluk-muluk. Ambil saja contoh kecil, bagaimana orang desa ingin memiliki tempat tinggal yang nyaman. Ternyata, itu berbeda-beda bergantung pada input pengetahuan yang dimilikinya.

Antara saya dan Bapa saya sendiri memiliki persepsi berbeda tentang bagaimana bentuk rumah yang nyaman itu. Bapa saya tidak suka tanaman hias di halaman rumah sedangkan saya sangat menyukainya. Solusinya, kita berkompromi. Di halaman, Bapa saya menanam pohon buah-buahan. Dan, saya tanami tanaman hias di area yang masih kosong.

***

Imaji, mungkin itulah yang perlu dibentuk dari manusia pedesaan. Imaji tentang kemajuan, imaji tentang peradaban, imaji tentang masa depan dan imaji tentang kehidupan setelah kematian.

Diantara kami _yang berbeda generasi_ perbedaan imaji itu selalu ada. Generasi lama yang masih terpengaruh pola pikir kolonial, masih mengharapkan desa dibangun oleh Pemerintah. Rasa ketergantungan yang begitu tinggi pada sosok atau pihak yang dianggap "berkuasa". Sedangkan, generasi millenial memiliki imaji tersendiri.

Buat generasi terkini, masa depan desa ditentukan oleh individu-individu yang menduduki wilayah itu. Alam dan seisinya justru kita yang menguasai. Kami tidak bisa terus berpangku tangan pada sosok yang tak kasat mata.

***

Ketika pendidikan formal belum sanggup mengubah imaji yang kami maksud maka kami mencari dari pendidikan non formal. Internet dan segala kecanggihannya menjadi sumber referensi.

Dengan dasar pemikiran seperti di atas, kami mulai mencari solusi sendiri sembari menafikan urgensi pendidikan formal. Buat kami, sekolah formal terlalu lamban merespon perubahan. Di kala zaman berlari, justru sekolah formal masih merangkak.

Kenapa itu terjadi?

Saya tidak tahu pasti. Tetapi, mungkin sekali dinding di sekolah terlalu kokoh sehingga menghalanginya dari realitas yang sedang dihadapi. Tembok penghalang itu sudah seharusnya dirubuhkan. 

Bagaimana caranya?

Sederhana. Lupakan ilmu dari sekolah! 

Kurikulum terbaru, tidak mengharuskan anak untuk terlalu fokus pada ilmu dari buku atau guru. Itu gambar gembira untuk orang desa, dimana ilmu dari sumber yang jauh dirasa tidak ada gunanya ...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kayu Bakar untuk Bertahan Di Tengah Kesulitan

Ketika ktia kelelahan mencari sesuatu yang tidak ada atau jauh dari kediaman, maka melihat ke sekeliling bisa menjadi solusi. Bapa saya akhir-akhir ini rajin membelah kayu-kayu yang tumbuh di sekitar rumah. Untuk bahan bakar, demi menghemat anggaran belanja. Menanak nasi dan memasak air di atas tungku, tidak banyak menggunakan kompor demi usaha penghematan. Ketika banyak orang, sibuk mencari uang untuk membeli kebutuhan rumah tangga maka Bapa saya lebih suka menanam pepohonan. Ketika pohon itu sudah besar, manfaatnya begitu banyak. Salah satu yang saat ini dirasakan adalah kesanggupan kami untuk sekedar bertahan hidup di kala ekonomi sedang tidak baik. Meskipun negara sedang dilanda banyak bencana, kami bisa bertahan demi sekedar makan. Alhamdulillah.

Beternak Kerbau Rawa di Pinggiran Hutan Rawa

  Kerbau Rawa di Kalimantan (Sumber: Antara) Saya punya rencana untuk mengembalikan fungsi lahan kebun sawit menjadi tutupan hutan dengan memanfaatkan peran kerbau rawa. Jika sebelumnya hutan "dikeringkan" untuk ditanami bibit sawit maka harus kembali "dibasahkan" dengan mengalirkan air sungai. Untuk keperluan pupuk dan sumber pendapatan warga maka kerbau rawa bisa menjadi alternatif.  Dalam bayangan pikiran saya, akan ada lahan sawit yang tidak produktif lagi karena faktor usia tanaman. Dalam keadaan demikian, waktu yang tepat untuk segera mengembalikan fungsi hutan. Namun, saya tahu ini bukanlah usaha yang mudah. Penduduk akan lebih tertarik untuk mengalihkan fungsi lahan untuk sesuatu yang komersil. Hanya saja, mengembalikan fungsi hutan merupakan sebuah keharusan. Tentu tidak mengorbankan warga yang membutuhkan sumber pendapatan.  Memelihara kerbau rawa adalah solusi. Ini dipilih karena beberapa alasan.  Pertama, penduduk punya kegiatan untuk mengalihkan énergi ...

Perencanaan Sosial

Perencanaan sosial ( social planning ) pada dewasa ini menjadi ciri yang umum bagi masyarakat-masyarakat yang sedang mengalami perubahan-perubahan atau perkembangan. Sebenarnya perencanaan sosial yang bertujuan untuk melihat jauh ke depan telah ada sejak dahulu dan telah pula dipikirkan oleh para sosiolog . Auguste Comte misalnya, berpendapat bahwa manusia mempunyai kemampuan untuk melihat jauh ke depan serta mengendalikan tujuannya. Pernyataan tadi kemudian diperkembangkan lebih lanjut oleh Lester F. Ward yang mempergunakan istilah social telesis  untuk menunjuk pada arah yang dituju suatu masyarakat. [1] Menurut sosiologi, suatu perencanaan sosial harus didasarkan pada pengertian mendalam tentang bagaimana kebudayaan berkembang dari taraf yang rendah ke taraf modern dan kompleks dimana dikenal industri, peradaban kota dan selanjutnya . Selain itu harus pula ada pengertian terhadap hubungan manusia dengan alam sekitarnya, hubungan antara golongan-golongan dalam masyarakat ...