Langsung ke konten utama

Menggali Pengetahuan dari Sekitar Kita

 

Rencana belajar yang saya tulis di jendela.



Jika kita sudah tahu apa yang dibutuhkan maka biasanya tahu juga ilmu apa yang harus dipelajari. Begitupun ilmu yang digali dari desa, tidak serta-merta diambil begitu saja tanpa mengetahui apa kegunaannya. 

Ya, kerangka pengetahuan yang harus terlebih dahulu dimiliki sebelum menggali atau mengambil pengetahuan yang "berserakan" di sekitar kita. Kerangka pengetahuan ini memang tidak diajarkan di sekolah. Dan, saya pun memahami kenapa itu tidak dilakukan karena filosofi belajar setiap orang berbeda-beda.

Kerangka pengetahuan yang saya maksudkan adalah semacam program belajar selayaknya kita mengarungi kehidupan sehari-hari. Jika di sekolah ada yang namanya kurikulum, maka dalam kehidupan manusia dewasa pun kurikulum itu harus ada. Hanya saja, membentuk kurikulum belajar seorang manusia dewasa jelas tidak bisa disamaratakan untuk setiap orang.

Agar lebih mudah, kerangka belajar kita haruslah mengacu pada cita-cita kita untuk apa hidup di dunia. Saya menyenderkan program belajar manusia dewasa pada cita-cita karena itulah yang bisa memicu untuk belajar. Percaya atau tidak, dengan tetap mengacu pada cita-cita maka kerangka belajar kita pun terbentuk dengan sendirinya.

Saya sangat menyarankan agar belajar benar-benar mengikuti minat kita akan cita-cita. Maksudnya, belajar bukan karena ajakan atau suruhan orang lain. Ingat, kita bukan anak kecil lagi yang masih harus memiliki bimbingan. Termasuk menentukan pengetahuan apa yang harus masuk ke otak.

Saya mencontohkan apa yang dialami sendiri, diantaranya cita-cita saya untuk membangun desa. Memang sebuah cita-cita yang terdengar "besar" dan "tampak sulit tercapai".

Namun, pengetahuan tentang apa dan bagaimana membangun desa itu "terus bermunculan" dalam pikiran. Buku-buku yang berserakan dan data di internet yang berdesakan bisa dengan "mudah" dipilih dan dipilah. Kemudian dipelajari.

Cita-cita bisa memotifasi dan mempengaruhi perbuatan manusia, begitupun pengetahuan yang akan mengisi pikirannya. Berpikir dan bertindak berdasarkan cita-cita lumrah adanya bagi manusia.  Pikiran pun bukan hanya berisi tentang kegamangan tetapi juga berisi unsur-unsur pengetahuan yang menunjang tercapainya cita-cita itu. 

Saya ingin menggarisbawahi bahwa cita-cita bukan hanya tentang profesi akan dijalani. Cita-cita harus lebih besar dari itu. Profesi hanya sebagian kecil dari sebuah cita-cita. Apabila dalam pikiran terpatri sebuah cita-cita maka istilah 'semesta mendukung' bisa dipahami cara kerjanya.

Pikiran akan terhubung dengan objek-objek yang menunjang cita-cita kita. Objek-objek itulah sumber pengetahuan penting dalam menempuh perjalanan menuju cita-cita itu. Objek itu bisa kongkrit atau abstrak. Mulai dari burung terbang hingga filsafat yang dianut suatu bangsa adalah contoh objek yang menunjang cita-cita. 

Cakupan pengetahuan itu sangat luas. Namun, keluasannya tidak akan membingungkan. Sebagaimana nahkoda tidak bingung berlayar di lautan luas karena memiliki kompas dan peta dalam pikirannya.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kayu Bakar untuk Bertahan Di Tengah Kesulitan

Ketika ktia kelelahan mencari sesuatu yang tidak ada atau jauh dari kediaman, maka melihat ke sekeliling bisa menjadi solusi. Bapa saya akhir-akhir ini rajin membelah kayu-kayu yang tumbuh di sekitar rumah. Untuk bahan bakar, demi menghemat anggaran belanja. Menanak nasi dan memasak air di atas tungku, tidak banyak menggunakan kompor demi usaha penghematan. Ketika banyak orang, sibuk mencari uang untuk membeli kebutuhan rumah tangga maka Bapa saya lebih suka menanam pepohonan. Ketika pohon itu sudah besar, manfaatnya begitu banyak. Salah satu yang saat ini dirasakan adalah kesanggupan kami untuk sekedar bertahan hidup di kala ekonomi sedang tidak baik. Meskipun negara sedang dilanda banyak bencana, kami bisa bertahan demi sekedar makan. Alhamdulillah.

Beternak Kerbau Rawa di Pinggiran Hutan Rawa

  Kerbau Rawa di Kalimantan (Sumber: Antara) Saya punya rencana untuk mengembalikan fungsi lahan kebun sawit menjadi tutupan hutan dengan memanfaatkan peran kerbau rawa. Jika sebelumnya hutan "dikeringkan" untuk ditanami bibit sawit maka harus kembali "dibasahkan" dengan mengalirkan air sungai. Untuk keperluan pupuk dan sumber pendapatan warga maka kerbau rawa bisa menjadi alternatif.  Dalam bayangan pikiran saya, akan ada lahan sawit yang tidak produktif lagi karena faktor usia tanaman. Dalam keadaan demikian, waktu yang tepat untuk segera mengembalikan fungsi hutan. Namun, saya tahu ini bukanlah usaha yang mudah. Penduduk akan lebih tertarik untuk mengalihkan fungsi lahan untuk sesuatu yang komersil. Hanya saja, mengembalikan fungsi hutan merupakan sebuah keharusan. Tentu tidak mengorbankan warga yang membutuhkan sumber pendapatan.  Memelihara kerbau rawa adalah solusi. Ini dipilih karena beberapa alasan.  Pertama, penduduk punya kegiatan untuk mengalihkan énergi ...

Perencanaan Sosial

Perencanaan sosial ( social planning ) pada dewasa ini menjadi ciri yang umum bagi masyarakat-masyarakat yang sedang mengalami perubahan-perubahan atau perkembangan. Sebenarnya perencanaan sosial yang bertujuan untuk melihat jauh ke depan telah ada sejak dahulu dan telah pula dipikirkan oleh para sosiolog . Auguste Comte misalnya, berpendapat bahwa manusia mempunyai kemampuan untuk melihat jauh ke depan serta mengendalikan tujuannya. Pernyataan tadi kemudian diperkembangkan lebih lanjut oleh Lester F. Ward yang mempergunakan istilah social telesis  untuk menunjuk pada arah yang dituju suatu masyarakat. [1] Menurut sosiologi, suatu perencanaan sosial harus didasarkan pada pengertian mendalam tentang bagaimana kebudayaan berkembang dari taraf yang rendah ke taraf modern dan kompleks dimana dikenal industri, peradaban kota dan selanjutnya . Selain itu harus pula ada pengertian terhadap hubungan manusia dengan alam sekitarnya, hubungan antara golongan-golongan dalam masyarakat ...