Langsung ke konten utama

Mendefinisikan Arah Pembangunan Pedesaan

Di media massa saya memperhatikan isu yang cukup sering diangkat, yakni Rancangan Undang-undang Desa. Saya melihat bahwa pembangunan pedesaan sangat mendesak dan tidak bisa ditunda-tunda lagi. Namun, apakah warga desanya sendiri sudah siap dengan pembangunan yang 'dipaksakan' oleh pusat. Jangan-jangan keinginan untuk membangun desa itu hanya pemerintah pusat, politisi  dan para praktisi ekonomi. Bisa jadi warga desa sendiri tidak 'ngeh' dengan pembangunan yang dimaksud oleh para elit. Sebagaimana yang saya perhatikan, warg desa cenderung pasif apabila dihadapkan pada pembangunan daerahnya. Warga desa lebih suka mengikuti saja apa yang ada. Mengalir.
Mungkin, ketertinggalan desa tidak hanya disebabkan oleh minimnya perhatian pemerintah pusat akan pembangunan pedesaan tetapi bisa jadi karena warga desa sendiri belum bisa mendefinisikan arah pembangunannya. Warga desa seperti 'kebingungan' untuk menentukan apa kebutuhan dan keinginan mereka akan desanya di masa depan. Pemerintahan desa pun hanya bersifat administratif. Artinya, belum bisa menjadi lokomotif pembangunan bagi lingkungannya.
Ya, semuanya berawal dari hal yang paling mendasar dari sifat manusia yakni kebutuhan dan keinginan. Pembangunan pedesaan harus berdasarkan atas kebutuhan warga desa bukan sekedar keinginannya. Misalnya, warga desa menginginkan membangun sekolah padahal sudah ada sekolah yang dibangun sejak lama. Atau, warga desa ingin membangun pasar padahal penduduknya sedikit padahal masih bisa memanfaatkan pasar yang ada di ibukota kecamatan. Ini pernah terjadi di desa saya. Pemerintah desa membangun banyak Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) tetapi penggunaaanya sangat minim bahkan hampir tidak ada.

Mendahulukan Kebutuhan Dasar
Baiklah, memang tidak mudah mendefinisikan kebutuhan dari sekian banyak orang. Berdasarkan sumber yang saya baca, pembangunan pedesaan harus mendahulukan kebutuhan dasar warganya seperti pendidikan, papan, pangan, air dan jalan. Hal-hal ini nampaknya belum menjadi prioritas pembangunan pedesaan. Ini nampak dari masih adanya ketergantungan kebutuhan diatas pada pemerintah pusat. Kita menyaksikan desa-desa yang masih kekurangan air bersih, pengairan ladang/sawah atau penduduk desa yang tidak memiliki rumah yang layak.
Mendahulukan kebutuhan dasar dan fokus padanya adalah hal penting karena menjadi dasar bagi pembangunan selanjutnya. Kebutuhan dasar yang terpenuhi merangsang orang untuk menetap di desa (tidak urbanisasi), merangsang orang menjadi kreatif dan banyak lagi kemudahan yang bisa dicapai. Pemenuhan kebutuhan dasar sampai pada tingkat maksimal akan membawa masyarakat pada kesejahteraan. Selanjutnya, untuk pemenuhan kebutuhan lain warga desa bisa berpikir kreatif dalam memanfaatkan peluang-peluang yang senantiasa terbuka.
Maksimalkan pemenuhan kebutuhan membutuhkan pengetahuan yang cukup untuk bisa menghitung seberapa besar kebutuhan warg desa dan bagaimana cara untuk memenuhi kebutuhan itu. Misalnya, kebutuhan warga desa akan air bersih. Apabila kebutuhan per rumah tangga memerlukan air untuk kegiatan keseharian kira-kira 5 m3  maka berapa kubik air yang bisa dialirkan. Lalu, bagaimana cara memenuhinya. Dan seterusnya. Bisa saja pemenuhan itu tidak harus membangun instalasi air dengan harga mahal tetapi cukup mengalirkan air sungai ke area pekarangan mereka. Dengan begitu, secara alami air bersih akan mengisi sumur-sumur warga dan dimusim kemarau tidak kekeringan lagi. Apakah membangun sumur bor lebih baik daripada memasang pipa paralon ke setiap rumah dari sungai terdekat?

Membuka Lapangan Pekerjaan
Selanjutnya, apabila kebutuhan mendasar sudah terpenuhi maka membuka lapangan pekerjaan seluas-luasnya menjadi konsentrasi pembangunan pedesaan. Infrastruktur pedesaan yang akan dibangun alangkah lebih baik jika mengarah untuk membuka lapangan pekerjaan. Membangun pasar/pusat perdagangan, pabrik, pertanian, sarana angkutan dsb..
Membangun kawasan industri baru sepertinya menjadi kebutuhan warga desa saat ini. Di perkotaan, banyak dunia usaha yang sudah tidak bisa lagi menampung angkatan kerja akibat pertumbuhan ekonomi yang melamban. Apabila warga desa bisa membangun sarana industri maka itu menjadi prestasi yang patut diacungi jempol. Industri yang dimaksud tentu saja industri yang sesuai dengan kondisi pedesaan itu sendiri baik dari segi komoditas, modal dan lingkungannya. Ketika perdagngan bebas sudah ditempuh maka industrialisasi desa adalah jawaban dalam menghadapi persaingan internasional. Untuk itu, produk yang dihasilkan perusahan-perusahaan di desa harus berorientasi ekspor agar bisa melayani pasar dunia.
Imbas positif dari industrialisasi desa ini adalah pembangunan berimbang antara desa dengan kota. Penduduk desa mempunyai alasan untuk tidak urbanisasi. Penyebaran penduduk pun bisa lebih merata. Angka pengangguran di pedesaan bisa dikurangi pada tingkat terendah.
Disamping industrialisasi desa maka produktifitas pertanian pun harus berjalan beriringan. Ini menjadi suatu keharusan dimana pekerja pabrik harus makan sehingga para petani tidak akan kehilangan pasar mereka didaerahnya sendiri. Petani bisa menjual langsung produknya tanpa harus melalui perantara tengkulak. Jika selama ini petani kesulitan mencari pasar maka industrialisasi semakin mendekatkan petani pada konsumen produknya.

Perencanaan Baku
Warga desa memang tidak terbiasa membakukan sebuah rencana pembangunan. Orientasi pembangunan yang belum jelas menjadi alasan kenapa pembakuan rencana tidak dilakukan. Praktisnya pembakuan rencana bisa dimusyawarahkan dan disosialisaikan kepada seluruh warga desa. Aparat desa bisa memasang papan reklame ukuran besar dan memaparkan rencananya dengan jelas. Lebih bagus jika rencana pembangunan desa dicantumkan bersama peta desa dan dicantumkan pula waktu pembangunannya. Ini memberikan gambaran nyata pada setiap orang yang melihatnya tentang seperti apa dan bagaimana desa mereka kedepannya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Merambah Lahan Digital

Di desa kami, lahan pertanian mulai sempit. Tentu saja bukan tanahnya yang berkurang, kini wajah désa berubah setelah ada pembangunan pemukiman dan pabrik. Bagi mereka yang masih bergantung pada sektor pertanian, maka dianggap sebagai sebuah ancaman .  Seberapa serius ancaman itu, saya sendiri belum meneliti. Perlu ada ahli yang menentukan seberapa besar ancaman yang dimaksud. Atau, sebaliknya ini dianggap sebagai sebuah peluang ?  Sudah diramalkan sejak bertahun-tahun sebelumnya jika wajah désa kami akan berubah menjadi areal industri. Bertani hanya menjadi profesi penopang ketika sektor industri belum bisa dijadikan sumber pendapatan utama. Meskipun euforia industrialisasi itu senantiasa ada, belum tentu menjadi sektor yang tetap kokoh di tengah terpaan dinamika global.    Sebagaimana diketahui, perubahan haluan pembangunan di desa bisa terjadi lantaran ada kebutuhan yang mendesak. Karena berbagai penyebab, maka industri membawa angin segar bagi mereka yang tidak k...

Pohon Belajar

Dalam belajar, kita ikuti filosofi pohon. Seperti pohon, kita awali belajar dengan pelajaran dasar layaknya akar. Akar itu kuat menghujam tanah, juga menyerap saripati tanah untuk pertumbuhannya. Al-Qur'an dan As-Sunnah layaknya akar. Batang layaknya minat dan bakat yang sudah ada sejak lahir. Sedangkan, daun dan ranting adalah ilmu yang "menyesuaikan" dengan lingkungan. Akhirnya, maka akan ada buah yang bisa "dipetik". Minat dan bakat, harus menjadi yang utama dipelajari setelah pelajaran dasar. Kenapa? Karena ilmu yang berkenaan dengan minat dan bakat bisa dipelajari dengan "semangat" dan tidak perlu "disuruh-suruh". Ilmu yang berkenaan dengan minat dan bakat menjadi "acuan" akan seperti apa seseorang di masa depan. Layaknya, batang pohon maka minat dan bakat kuat meskipun diterpa angin dan hujan. Terakhir, ilmu lain yang menyesuaikan dengan kebutuhan. Ilmu-ilmu itu akan sangat banyak sesuai dengan kebutuhan...

Kesulitan Mengkomunikasikan Isi Pikiran kepada Warga Desa

Saya ini tipe orang yang langka bicara. Ada alasannya, obrolan warga begitu sering mengangkat topik yang tidak menarik. Tentu saja saya pun tidak tertarik untuk mendengarkan apalagi ikut nimbrung dalam kerumunan. Hal yang bisa dilakukan hanyalah menulis di blog, media sosial, dan buku. Andaikan suatu saat dibutuhkan, maka mereka yang tertarik dengan isi pikiran saya maka cukup membuka di sana. Tidak usah banyak bertanya dan berharap akan memaparkan lebih lanjut, saya tidak akan melakukannya. Misalnya, ketika saya memiliki ide tentang kandang kelinci yang bagus . Orang yang pertama kali menolak ide tentu saja bapa saya sendiri. Beliau tipe orang yang harus diyakinkan dengan banyak bicara atau "diceramahi" terlebih dahulu. Masalahnya, saya gampang bosan untuk banyak bicara. Mendengar ceramah pun mudah ngantuk.  Kandang kelinci dibuat alakadarnya, tanpa estetika yang memuaskan hasrat visual. Saya pun mengalah, ya namanya juga orang tua mana sanggup saya mendebat. Apalagi, Bapa ...