Langsung ke konten utama

Klasifikasi Masyarakat Indonesia

Membangun desa pada dasarnya mengubah apa yang telah ada menjadi lebih baik. Sebelum perubahan itu dilakukan, kita mesti memahami realita masyarakat yang sedang kita hadapi.
Koentjaraningrat (1971) secara makro menyusun klasifikasi masyarakat Indonesia menurut tipologi sosial budaya berdasarkan atas unsur-unsur perambanan dalam hal sistem adaptasi ekologis, sistem dasar kemasyarakatan dan gelombang-gelombang pengaruh kebudayaan luar yang pernah dialaminya.
(1)    Tipe masyarakat berdasarkan sistem berkebun yang amat sederhana dengan keladi dan ubi jalar sebagai tanaman pokoknya dalam kombinasi dengan berburu dan meramu; penanaman padi tidak dibiasakan; sistem dasar kemasyarakatannya berupa komunitas terpencil tanpa diferensiasi dan stratifikasi yang berarti; gelombang pengaruh kebudayaan menaman padi, kebudayaan perunggu, kebudayaan Hindu dan Buddha serta Islam tidak dialami; isolasi bibuka oleh zending atau missi. Kelompok masyarakat tiper pertama antara lain orang Kubu, orang Mentawai, orang Dayak pedalaman, sebagian besar penduduk Papua, dsb.
(2)    Tipe masyarakat pedesaan berdasarkan bercocok tanam di ladang atau di sawah dengan padi sebagai tanaman pokok; sistem dasar kemasyarakatannya berupa komunitas petani pedesaan dengan diferensiasi dan stratifikasi sosial yang sedang dan merasakan diri bagian bawah dari suatu kebudayaan yang lebih besar, dengan suatu bagian atas yang dianggap lebih halus dan beradab di dalam masyarakat kota; masyarakat kota yang menjadi arah orientasinya itu, mewujudkan suatu peradaban kepegawaian yang dibawa oleh sistem pemerintahan kolonial beserta zending dan missi, atau oleh pemerintah Republik Indonesia; gelombang pengaruh kebudayaan Hindu, Budha dan Islam tidak atau kurang dialami. Kelompok masyarakt tipe kedua antara lain orang Nias, orang Batak, orang Minahasa, penduduk Kalimantan Tengah, Nusa Tenggara Timur, dsb.
(3)    Tipe masyarakat pedesaan berdasarkan bercocok tanam di ladang atau di sawah denga padi sebagai tanaman pokoknya; sistem dasar kemasyarakatannya berupa komunitas petani pedesaan dengan diferensiasi dan stratifikasi sosial yang sedang ; masyarakat kota yang menjadi arah orientasinya mewujudkan suatu peradaban bekas kerajaan berdagang dengan pengaruh yang kuat dari agama dan budaya Islam, bercampur dengan suatu peradaban yang dibawa oleh sistem pemerintahan kolonial; gelombang pengaruh kebudayaan Hindu dan Budha tidak dialami atau hanya sedemikian kecilnya sehingga terhapus oleh kebudayaan Islam. Kelompok masyarakat tipe ketiga antara lain orang Aceh, orang Minangkabau, orang Makasar, dsb.
(4)    Tipe masyarakat pedesaan berdasarkan bercocok tanam di sawah dengan padi sebagai tanaman pokoknya; sistem dasar kemasyarakatannya berupa komunitas petani pedesaan dengan diferensiasi dan stratifikasi sosial yang agak kompleks; masyarakat kota menjadi arah  orientasinya mewujudkan suatu peradaban bekas kerajaan pertanian bercampur dengan peradaban kepegawaian yang dibawa oleh sistem pemerintahan kolonial; semua gelombang pengaruh kebudayaan asing dialami. Kelompok masyarakat tipe keempat adalah penduduk di pulau Jawa dan Bali pada umumnya.
(5)    Tipe kelima dan keenam menurut adalah masyarakat-masyarakat kota yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia dan masyarakat metropolitan.

Sumber:

Tim Pengembang Ilmu Pendidikan FIP UPI, Ilmu dan Aplikasi Pendidikan, Imtima, 2007. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kayu Bakar untuk Bertahan Di Tengah Kesulitan

Ketika ktia kelelahan mencari sesuatu yang tidak ada atau jauh dari kediaman, maka melihat ke sekeliling bisa menjadi solusi. Bapa saya akhir-akhir ini rajin membelah kayu-kayu yang tumbuh di sekitar rumah. Untuk bahan bakar, demi menghemat anggaran belanja. Menanak nasi dan memasak air di atas tungku, tidak banyak menggunakan kompor demi usaha penghematan. Ketika banyak orang, sibuk mencari uang untuk membeli kebutuhan rumah tangga maka Bapa saya lebih suka menanam pepohonan. Ketika pohon itu sudah besar, manfaatnya begitu banyak. Salah satu yang saat ini dirasakan adalah kesanggupan kami untuk sekedar bertahan hidup di kala ekonomi sedang tidak baik. Meskipun negara sedang dilanda banyak bencana, kami bisa bertahan demi sekedar makan. Alhamdulillah.

Beternak Kerbau Rawa di Pinggiran Hutan Rawa

  Kerbau Rawa di Kalimantan (Sumber: Antara) Saya punya rencana untuk mengembalikan fungsi lahan kebun sawit menjadi tutupan hutan dengan memanfaatkan peran kerbau rawa. Jika sebelumnya hutan "dikeringkan" untuk ditanami bibit sawit maka harus kembali "dibasahkan" dengan mengalirkan air sungai. Untuk keperluan pupuk dan sumber pendapatan warga maka kerbau rawa bisa menjadi alternatif.  Dalam bayangan pikiran saya, akan ada lahan sawit yang tidak produktif lagi karena faktor usia tanaman. Dalam keadaan demikian, waktu yang tepat untuk segera mengembalikan fungsi hutan. Namun, saya tahu ini bukanlah usaha yang mudah. Penduduk akan lebih tertarik untuk mengalihkan fungsi lahan untuk sesuatu yang komersil. Hanya saja, mengembalikan fungsi hutan merupakan sebuah keharusan. Tentu tidak mengorbankan warga yang membutuhkan sumber pendapatan.  Memelihara kerbau rawa adalah solusi. Ini dipilih karena beberapa alasan.  Pertama, penduduk punya kegiatan untuk mengalihkan énergi ...

Perencanaan Sosial

Perencanaan sosial ( social planning ) pada dewasa ini menjadi ciri yang umum bagi masyarakat-masyarakat yang sedang mengalami perubahan-perubahan atau perkembangan. Sebenarnya perencanaan sosial yang bertujuan untuk melihat jauh ke depan telah ada sejak dahulu dan telah pula dipikirkan oleh para sosiolog . Auguste Comte misalnya, berpendapat bahwa manusia mempunyai kemampuan untuk melihat jauh ke depan serta mengendalikan tujuannya. Pernyataan tadi kemudian diperkembangkan lebih lanjut oleh Lester F. Ward yang mempergunakan istilah social telesis  untuk menunjuk pada arah yang dituju suatu masyarakat. [1] Menurut sosiologi, suatu perencanaan sosial harus didasarkan pada pengertian mendalam tentang bagaimana kebudayaan berkembang dari taraf yang rendah ke taraf modern dan kompleks dimana dikenal industri, peradaban kota dan selanjutnya . Selain itu harus pula ada pengertian terhadap hubungan manusia dengan alam sekitarnya, hubungan antara golongan-golongan dalam masyarakat ...