Langsung ke konten utama

Lima Langkah Kepemimpinan

Kepemimpinan merupakan hal yang penting dalam usaha pembangunan pedesaan. Dalam melangkah,  ada lima hal yang harus dilaksanakan untuk menuju visi pembangunan yang baik.

Satu, mendapatkan para aktor dan aktris, yaitu para pelaku atau pelaksana work force baik pria maupun wanita. Mereka memiliki komitmen, integritas, akuntabilitas, cerdas akal, cerdas moral dan sebagainya yang benar-benar mempunyai kecintaan terhadap masa depan desanya.
Dua, kesiapan dan keteguhan menghadapi berbagai kesukaran, hambatan dan sebrutal apa pun tantangan yang dihadapi untuk menuju masa depan.  Pimpinan harus terus-menerus memberikan semangat pada orang-orang  di sekitarnya.
Tiga, menerapkan konsep hedgehog, bukan konsep fox atau civet. Konsep landak perlu digunakan, bukan konsep rubah atau musang. Betapapun binatang ini memiliki kecerdasan yang tinggi tetapi licik (canning) dan menghalalkan semua cara untuk mencapai tujuannya. Karena itu, perlu perpaduan antara hal yang paling menggairahkan, potensi kekuatan dalam (internal power) yang terbesar dalam diri, dan motivasi dasar (internal drive) dalam diri pelaku pembangunan.
Empat, mengembangkan budaya disiplin kerja. Jika memiliki petugas yang disiplin, maka tidak perlu pusing-pusing dengan hirarki, yaitu memikirkan siapa yang harus melapor dan siapa yang harus menerima laporan jika kita memiliki pemikiran yang disiplin. Kita tidak perlu pusing-pusing memikirkan sistem birokrasi. Jika kita memiliki tradisi kerja yang disiplin, maka kita tidak perlu memerlukan kontrol kerja yang berlebih-lebihan.
Lima, meningkatkan terus teknologi kerja. Meskipun teknologi amat penting dalam proses mempercepat transformasi mutu kerja, namun penyala api mutu kerja tetap berada pada kreatifitas, inisiatif dan inovasi para tenaga kerja. Oleh karena itu, pimpinan dalam kerja kolektif bertanggung jawab memikirkan inovasi nilai. Sedang para pekerjanya bertanggung jawab pada inovasi teknologi.

Sumber:

Prof. Dr. Mastuhu, M. Ed..Sistem Pendidikan Nasional Visioner. Lentera Hati. Tangerang: 2007. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Merambah Lahan Digital

Di desa kami, lahan pertanian mulai sempit. Tentu saja bukan tanahnya yang berkurang, kini wajah désa berubah setelah ada pembangunan pemukiman dan pabrik. Bagi mereka yang masih bergantung pada sektor pertanian, maka dianggap sebagai sebuah ancaman .  Seberapa serius ancaman itu, saya sendiri belum meneliti. Perlu ada ahli yang menentukan seberapa besar ancaman yang dimaksud. Atau, sebaliknya ini dianggap sebagai sebuah peluang ?  Sudah diramalkan sejak bertahun-tahun sebelumnya jika wajah désa kami akan berubah menjadi areal industri. Bertani hanya menjadi profesi penopang ketika sektor industri belum bisa dijadikan sumber pendapatan utama. Meskipun euforia industrialisasi itu senantiasa ada, belum tentu menjadi sektor yang tetap kokoh di tengah terpaan dinamika global.    Sebagaimana diketahui, perubahan haluan pembangunan di desa bisa terjadi lantaran ada kebutuhan yang mendesak. Karena berbagai penyebab, maka industri membawa angin segar bagi mereka yang tidak k...

Pohon Belajar

Dalam belajar, kita ikuti filosofi pohon. Seperti pohon, kita awali belajar dengan pelajaran dasar layaknya akar. Akar itu kuat menghujam tanah, juga menyerap saripati tanah untuk pertumbuhannya. Al-Qur'an dan As-Sunnah layaknya akar. Batang layaknya minat dan bakat yang sudah ada sejak lahir. Sedangkan, daun dan ranting adalah ilmu yang "menyesuaikan" dengan lingkungan. Akhirnya, maka akan ada buah yang bisa "dipetik". Minat dan bakat, harus menjadi yang utama dipelajari setelah pelajaran dasar. Kenapa? Karena ilmu yang berkenaan dengan minat dan bakat bisa dipelajari dengan "semangat" dan tidak perlu "disuruh-suruh". Ilmu yang berkenaan dengan minat dan bakat menjadi "acuan" akan seperti apa seseorang di masa depan. Layaknya, batang pohon maka minat dan bakat kuat meskipun diterpa angin dan hujan. Terakhir, ilmu lain yang menyesuaikan dengan kebutuhan. Ilmu-ilmu itu akan sangat banyak sesuai dengan kebutuhan...

Kesulitan Mengkomunikasikan Isi Pikiran kepada Warga Desa

Saya ini tipe orang yang langka bicara. Ada alasannya, obrolan warga begitu sering mengangkat topik yang tidak menarik. Tentu saja saya pun tidak tertarik untuk mendengarkan apalagi ikut nimbrung dalam kerumunan. Hal yang bisa dilakukan hanyalah menulis di blog, media sosial, dan buku. Andaikan suatu saat dibutuhkan, maka mereka yang tertarik dengan isi pikiran saya maka cukup membuka di sana. Tidak usah banyak bertanya dan berharap akan memaparkan lebih lanjut, saya tidak akan melakukannya. Misalnya, ketika saya memiliki ide tentang kandang kelinci yang bagus . Orang yang pertama kali menolak ide tentu saja bapa saya sendiri. Beliau tipe orang yang harus diyakinkan dengan banyak bicara atau "diceramahi" terlebih dahulu. Masalahnya, saya gampang bosan untuk banyak bicara. Mendengar ceramah pun mudah ngantuk.  Kandang kelinci dibuat alakadarnya, tanpa estetika yang memuaskan hasrat visual. Saya pun mengalah, ya namanya juga orang tua mana sanggup saya mendebat. Apalagi, Bapa ...