Langsung ke konten utama

Logika Matematika Tidak Cocok untuk Membangun Desa


Sudah bertahun-tahun saya hidup di desa. Selama ini pula saya mencari cara bagaimana membangun desa. Dimulai dari mencari landasan berpikir dalam bertindak hingga mempelajari hal-hal yang bersifat teknis.

Dalam masa pencarian itu, saya mulai mendapati bahwa ada begitu banyak cara untuk membangun desa. Dan, cara-cara itu memiliki landasan berpikir yang berbeda antara satu sama lain. 

Misalnya, jika kita bermaksud membangun selokan untuk mengairi sawah maka kita perlu berpijak pada hukum logika. Perhitungan matematis mutlak diterapkan. 

Namun, ada juga hal yang tidak bisa dilandaskan pada pijakan berpikir logika matematika. Misalnya, ketika kita mengembangkan usaha ternak. Dalam mengembangkannya, peternakan memerlukan landasan berpikir non-logis. Karena, ternak-ternak itu adalah makhluk bernyawa yang tidak bisa diuukur secara matematis.

Coba bayangkan, jika saya beternak 2 ekor domba. Dalam waktu tertentu domba itu bisa bertambah menjadi 3,4,5 dst. Namun, sangat mungkin domba saya malah berkurang jadi 1 atau 0. 

Sebagai manusia, sebaiknya kita bisa menerapkan landasan berpikir yang cocok untuk berbagai situasi. Terkadang kita harus berpikir logis dengan menerapkan filosofi matematika. Tapi, ada banyak hal dimana berpikir matematis sebaiknya tidak usah diterapkan. 

Saya sering menemukan jalan buntu apabila dihadapkan suatu masalah. Sering saya berpikir secara matematis dengan perhitungan di atas kertas layaknya mengikuti ujian sekolah. Padahal, ada banyak masalah dimana kita harus menyingkirkan pola pikir itu.

Tidak ada salahnya jika sesekali kita berpikir "mistis". Sebagai manusia, kita harus mulai menyadari jika kita memiliki banyak kelemahan. Kehidupan ini pun tidak selalu seperti mesin yang saling berhubungan diantara komponennya. 

Saya tidak bermaksud mengajak Anda bersikap fatalis, pasrah begitu saja. Namun, ketika kita menyadari kekuatan dan kelemahan diri maka bisa mengukur kapan dan dimana itu berlaku. Jika pengetahuan kita belum sanggup mencapai masa depan, maka berserah pada-Nya akan masa depan itu lebih baik daripada kita sesumbar sanggup menggapai masa depan gemilang.

Apabila kita sudah menancapkan pondasi untuk membangun desa, maka membangun masa depan _yang tidak terbayangkan_ bisa mengikuti intuisi. Meskipun betapa "tidak logis" apa yang terkira dalam pikiran kita.

Saya memahami jika kehidupan tidak linier layaknya menghitung angka 1,2,3 dst.. Ada berbagai perhitungan yang tidak terbayangkan sebelumnya. Bisa jadi kita harus melompat ke 4 atau malah mundur jadi -4.

Hal yang harus ditanamkan dalam diri adalah kesiapan menghadapi situasi-situasi tak terduga itu. Salah satu persiapan itu adalah dengan terus memupuk pengetahuan kita akan kehidupan. Mulai dari pengetahuan di lingkungan terdekat hingga masalah global yang tidak terjangkau indera tetapi terjangkau pikiran.

Komentar

  1. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    BalasHapus

Posting Komentar

Komentar...

Postingan populer dari blog ini

Merambah Lahan Digital

Di desa kami, lahan pertanian mulai sempit. Tentu saja bukan tanahnya yang berkurang, kini wajah désa berubah setelah ada pembangunan pemukiman dan pabrik. Bagi mereka yang masih bergantung pada sektor pertanian, maka dianggap sebagai sebuah ancaman .  Seberapa serius ancaman itu, saya sendiri belum meneliti. Perlu ada ahli yang menentukan seberapa besar ancaman yang dimaksud. Atau, sebaliknya ini dianggap sebagai sebuah peluang ?  Sudah diramalkan sejak bertahun-tahun sebelumnya jika wajah désa kami akan berubah menjadi areal industri. Bertani hanya menjadi profesi penopang ketika sektor industri belum bisa dijadikan sumber pendapatan utama. Meskipun euforia industrialisasi itu senantiasa ada, belum tentu menjadi sektor yang tetap kokoh di tengah terpaan dinamika global.    Sebagaimana diketahui, perubahan haluan pembangunan di desa bisa terjadi lantaran ada kebutuhan yang mendesak. Karena berbagai penyebab, maka industri membawa angin segar bagi mereka yang tidak k...

Pohon Belajar

Dalam belajar, kita ikuti filosofi pohon. Seperti pohon, kita awali belajar dengan pelajaran dasar layaknya akar. Akar itu kuat menghujam tanah, juga menyerap saripati tanah untuk pertumbuhannya. Al-Qur'an dan As-Sunnah layaknya akar. Batang layaknya minat dan bakat yang sudah ada sejak lahir. Sedangkan, daun dan ranting adalah ilmu yang "menyesuaikan" dengan lingkungan. Akhirnya, maka akan ada buah yang bisa "dipetik". Minat dan bakat, harus menjadi yang utama dipelajari setelah pelajaran dasar. Kenapa? Karena ilmu yang berkenaan dengan minat dan bakat bisa dipelajari dengan "semangat" dan tidak perlu "disuruh-suruh". Ilmu yang berkenaan dengan minat dan bakat menjadi "acuan" akan seperti apa seseorang di masa depan. Layaknya, batang pohon maka minat dan bakat kuat meskipun diterpa angin dan hujan. Terakhir, ilmu lain yang menyesuaikan dengan kebutuhan. Ilmu-ilmu itu akan sangat banyak sesuai dengan kebutuhan...

Kesulitan Mengkomunikasikan Isi Pikiran kepada Warga Desa

Saya ini tipe orang yang langka bicara. Ada alasannya, obrolan warga begitu sering mengangkat topik yang tidak menarik. Tentu saja saya pun tidak tertarik untuk mendengarkan apalagi ikut nimbrung dalam kerumunan. Hal yang bisa dilakukan hanyalah menulis di blog, media sosial, dan buku. Andaikan suatu saat dibutuhkan, maka mereka yang tertarik dengan isi pikiran saya maka cukup membuka di sana. Tidak usah banyak bertanya dan berharap akan memaparkan lebih lanjut, saya tidak akan melakukannya. Misalnya, ketika saya memiliki ide tentang kandang kelinci yang bagus . Orang yang pertama kali menolak ide tentu saja bapa saya sendiri. Beliau tipe orang yang harus diyakinkan dengan banyak bicara atau "diceramahi" terlebih dahulu. Masalahnya, saya gampang bosan untuk banyak bicara. Mendengar ceramah pun mudah ngantuk.  Kandang kelinci dibuat alakadarnya, tanpa estetika yang memuaskan hasrat visual. Saya pun mengalah, ya namanya juga orang tua mana sanggup saya mendebat. Apalagi, Bapa ...