Rabu, 17 Desember 2025

Budaya Berpikir Masyarakat Desa

Jika berpikir itu permainan, mungkin akan terasa menyenangkan.

Sayangnya, saya memperoleh doktrin jika kegiatan berpikir bukanlah bentuk permainan. Berpikir merupakan sesuatu yang serius, dianggap berbeda dengan permainan. Kata permainan identik dengan kesenangan dan membuang-buang waktu. Dalam bayangan, permainan identik dengan sepakbola, catur, atau gim video. Sedangkan berpikir senantiasa identik dengan logika matematika dan hitung-hitungan.  

Kegiatan ini bukanlah menjadi bagian dari budaya kami. Entah sejak kapan, masyarakat kami tidak dibentuk oleh prosés berpikir. Bahkan, mendengar kata "berpikir" pun terkesan berat serta jauh dari jangkauan. 

Menurut KBBI pengertian berpikir adalah menggunakan akal budi untuk mempertimbangkan dan memutuskan sesuatu; menimbang-nimbang dalam ingatan. Saya merasa tidak puas dengan pengertian berpikir sebagaimana demikian, belum bisa menguraikan bagaimana prosés berpikir hingga mencapai hasil akhir. Saya pun membuka sebuah artikel dari Kompas yang merangkum pengertian berpikir dari beberapa ahli.  

Dari begitu banyak pengertian, saya menyoroti dua hal, yakni informasi/pengetahuan yang tersimpan di otak dan pengolahan informasi tersebut.

Jika berpikir dianggap sebagai kegiatan mengolah informasi, lantas mengapa orang enggan untuk mengumpulkan informasi?

Padahal, media massa sudah tersedia sejak lama. Bahkan, sampai hingga ke desa-desa. Lantas, apakah informasi yang tersedia dijadikan bahan untuk berpikir? 

Hingga saat ini saya masih penasaran mengenai hal seperti apa yang bisa memantik warga untuk berpikir. Andaikan lingkungan tidak mendesak untuk berpikir, tampaknya tak ada keinginan untuk segera menggunakan otak. Andaikan berpikir harus dikenai biaya, sungguh bisa dipahami jika tak tertarik untuk melakukan kegiatan mental tersebut. Namun, jika berpikir begitu murah bahkan gratis masih saja tidak tertarik. 

Saya pun berkesimpulan, jika berpikir akan menjadi kegiatan rutin andaikan warga memiliki sebuah tujuan. Tujuan akan menjadi bahan bakar untuk kegiatan berpikir. Coba bayangkan jika seorang manusia tak memiliki tujuan, maka bisa dimengerti jika sekedar ikut-ikutan. Permasalahannya, tidak semua orang memiliki tujuan memajukan dan mengembangkan kehidupan di desanya. Sekian banyak orang akan segera meninggalkan desa sesaat setelah dia dewasa dan merasa mampu hidup mandiri.  

Tatkala menuju satu tujuan, berpikir selalu menjadi panglima. Terkadang lupa menggunakan perasaan, intuisi, dan tradisi. 

Saya tahu jika berpikir menjadi ciri masyarakat modern, sebuah masyarakat yang diidamkan oleh banyak orang. Para penganut kemajuan, menganggap jika semua aspek kehidupan bermasyarakat ditata secara rasional berdasarkan analisis.

Pengambilan keputusan dalam berbagai hal didasarkan kepada kerangka arguméntasi yang didukung penalaran yang kuat. Kekuatan berpikir akan bersifat dominan dan mendesak ke belakang (bahkan meninggalkan jauh) cara penarikan kesimpulan berdasarkan intuisi, perasaan, dan tradisi. Perlu ditanyakan, bahwa masyarakat modern pun memberi tempat bagi intuisi, perasaan, dan tradisi. Namun, peranan ketiga sumber pengetahuan ini menjadi rélatif kurang penting dibandingkan dengan berpikir. 

Jika diperhatikan, keadaan masyarakat di berbagai tempat yang saya jumpai tidak selalu menjadikan berpikir sebagai cara utama untuk pengambilan sebuah keputusan. Dalam masyarakat sekarang, keadaan ini bersifat terbalik dimana justru intuisi, perasaan, dan tradisi itulah yang bersifat dominan. Peranan berpikir belum mendapat tempat dengan prioritas yang relatif rendah.   

Akan ada perdebatan panjang tentang peran intuisi tatkala berpikir. Masyarakat desa yang sudah terbiasa menggunakan intuisi ketika memutuskan sebuah perkara akan bertentangan dengan cara berpikir logis analitis. Saya tidak menolak intuisi, perasaan, dan tradisi yang melingkupi proses berpikir. Hanya saja, tidaklah mudah memilih dan memilah poin mana yang layak diikutsertakan selama pengambilan keputusan. 

Coba perhatikan, ketika seorang warga sedang memikirkan masa depan anaknya maka banyak hal yang harus dijadikan bahan pertimbangan. Mungkin dia akan mengikuti tradisi dimana seorang lelaki diharuskan merantau selayaknya pergi berperang. Sedangkan perempuan tetap menjadi penunggu rumah hingga ada lelaki yang meminangnya. Si orang tua pun akan mempertimbangkan perasaan tidak tenang andaikan melepaskan anaknya untuk pergi jauh padahal kepergian tersebut demi menempuh pendidikan yang menjadi kebutuhan. Terlebih, secara intuisi sang orang tua tidak yakin jika anaknya akan mengalami keberhasilan. 

Kegiatan berpikir untuk mengambil keputusan dan menyelesaikan masalah ini tidak sepenuhnya menggunakan logika. Itu wajar saja, seberapa banyak peran perasaan, intuisi, dan tradisi juga hal penting. 
 
Saya selalu kagum kepada orang yang memiliki rentang berpikir yang panjang. Dia bisa memikirkan rencana hingga ke masa depan yang jauh sekaligus bisa menjalankan rencana tersebut secara bertahap. Pola sebab-akibat senantiasa menjadi bahan pertimbangan. Andaikan melakukan ini, maka akan terjadi begini. Apabila tidak melakukan itu, maka akan begitu. Sayangnya, tidak mudah pula memahami sebab akibat itu apabila manusia minim mengumpulkan pengetahuan. 

Membutuhkan ketekunan untuk mengumpulkan pengetahuan. Membutuhkan waktu banyak agar koleksi informasi menumpuk di otak. Dan, ketekunan merupakan sesuatu yang mahal di zaman sekarang. 

Sayangnya, sekolah tidak selalu membuat orang berpikir menggunakan akalnya. Sekolah yang mengajarkan logika, bisa saja masih kalah berguna dengan budaya setempat yang masih enggan mengedepankan logika. 

____________________________
Sumber:
Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer, Jujun S. Suriasumantri, Jakarta: Pustaka Harapan, (2013).

Senin, 01 Desember 2025

Sudah Ada Bahan di Alam, Kreatifitas yang Tidak Ada

Memunculkan kreatifitas ternyata susah.

Saya selalu kagum kepada bangsa yang bisa mengubah alam liar menjadi peradaban yang maju. Mereka datang dari tempat yang jauh ke tempat yang tak tersentuh. Awalnya daerah hutan belantara, bertahun-tahun kemudian berubah menjadi kota. Bagaimana caranya semua itu bisa terjadi? 

Menurut Napoleon Hill, semua yang terjadi di dunia ini berawal dari pikiran manusia. Saya pun merasa jika perubahan yang terjadi berawal dari dalam pikiran. Masalahnya, bagaimanakah seharusnya kita berpikir agar peradaban itu bisa terwujud? Bagaimanakah seharusnya kita berpikir agar lanskap yang semula tak tersentuh manusia kini menjadi sumber kehidupan yang bermanfaat?

Apakah ada hubungannya antara sikap inferior warga desa dengan kreatifitas yang tumpul? 

Sebelum kreatifitas muncul, seharusnya kita bertanya kepada diri sendiri, "apa tujuan hidup kita di dunia?" Jika pertanyaan demikian terlalu luas untuk sebuah jawaban, maka kita turunkan dengan menjawab pertanyaan, "apa tujuan hidup kita di desa?"

Saya setuju jika ada orang yang bilang apabila tujuan hidup penting. 

Tidak selamanya kesempatan datang, kadangkala harus diciptakan. Tidak selalu hidup bisa mengalir begitu saja, mengikuti arus kalau ternyata arus tidak cukup deras untuk membawa kita ke muara. Andaikan saat ini kita sedang berada dalam sebuah perahu, tepat di tengah sungai yang berarus deras maka cukup yakin akan sampai di muara impian. Namun, bagaimana jadinya jika saat ini tak ada arus yang membawa untuk sampai di muara? 

Tentu saja harus berpikir bagaimana caranya perahu bisa melaju. Entah menggunakan dayung atau mesin tempel.

Tidak ada alasan untuk menerapkan filsafat fatalisme di tengah abad 21 yang penuh tentangan. Filsafat nerimo atau terima nasib ini meredupkan gairah, menghancurkan ambisi. Selanjutnya, mendatangkan kemalasan untuk berpikir. 

Saya merasakan sendiri, jika kemiskinan bisa membuat orang enggan untuk mengubah diri. Seakan strata sosial yang diembannya sebuah kutukan yang tak mau diubah. Masalahnya, bukan sekedar jumlah harta yang tak bertambah tetapi sikap toleransi terhadap kemalasan dan keengganan untuk menata diri. Seakan-seakan orang miskin boleh hidup berantakan, compang-camping, dan hidup tanpa aturan. Orang miskin terlanjur menerima cap jelek sejak masa kolonial. 

Tidak perlu penelitian untuk bagaimana cara berpikir orang miskin. Keluarga kami bagian dari sekian juta orang miskin di Indonesia. Entah apa kriteria orang miskin menurut Badan Pusat Statistik, pokoknya keluarga saya dilabeli miskin. Namun, bukan berarti menjadi orang yang enggan untuk berpikir. 

Ingat, kemiskinan bukan berarti alasan bagi kemalasan untuk berpikir. 

Anak-anak harus disekolahkan, bagaimana keadaan ekonomi keluarganya. Alasan yang bisa diterima jika bersekolah sebagai cara untuk keluar dari jerat kemiskinan. Sayang, hal demikian tidak selalu berhasil. Ada banyak hambatan--selain pendidikan--apabila lingkaran kemiskinan susah terentaskan. Lantas, pada akhirnya diserahkan kepada setiap individu untuk menyelesaikan masalahnya sendiri.

Kata orang, sekolah bisa mengasah ketajaman berpikir seseorang. Sayang, siswa yang dijejali hafalan malah menumpulkan pikiran. Orang demikian tidak terangsang untuk berpikir. Bagi mereka, belajar adalah suatu proses yang membosankan bukannya menyenangkan. Saya pun mengira jika kebosanan inilah yang membuat kreativitas tidak muncul ke permukaan. Katanya, kegiatan yang berulang dan membosankan bisa membuat orang tidak kreatif. Tidak terangsang untuk melakukan sesuatu yang baru. Begitu pula keadaan yang begitu tenang tanpa rangsangan. 

Sekolah telah usai dilaksanakan, kini berdiri menatap tepat di bingkai pintu. Apa yang harus dilakukan? Berdiam diri saja atau melakukan sesuatu, tentu dengan sebuah tujuan.

Jika kamu melihat sekeliling, alam pedesaan gitu meninabobokan. Justru berbanding terbaik dari penjelajah yang tadi saya bicarakan, melihat alam liar seakan sebuah potensi besar yang harus dioptimalkan kebermanfaatannya. 

Kalau orang kreatifitas itulah yang melihat sesuatu yang tampak tidak berguna atau setidaknya terlihat biasa saja akan menjadi sesuatu yang luar biasa. Pada fase inilah kreativitas sangat dibutuhkan. Saya pikir tidak bisa kalau alam hanya dibiarkan begitu saja tanpa dimanfaatkan sebagaimana mestinya. Sekali lagi, seharusnya alam merangsang manusia untuk berpikir. Kalau bukan alam, lantas siapa yang merangsang manusia untuk berpikir?

Sabtu, 22 November 2025

Menyambut Jalan Tol Getaci

Jika ingin makmur, maka bangunlah jalan raya.

Ungkapan tersebut adalah pepatah kuno Tiongkok yang populer di kalangan warga desa di wilayah-wilayah pegunungan terpencil. Saya membaca dari Halaman Facebook Xinhua, sebuah berita tentang pembangunan jalan raya telah menjadi prioritas dalam upaya pengentasan kemiskinan di Cina. Pepatah Cina tersebut sepertinya bukan hanya berlaku bagi orang sana. Membangun jalan memang sebuah keharusan. Di mana pun manusia berada maka membangun jalan sebuah keniscayaan, kebutuhan untuk mobilitas, keterbukaan informasi, dan ekspansi. 

Gambar: Antara via Pikiran Rakyat

Ketika mendapati berita tentang pembangunan jalan tol Gedebage-Tasikmalaya-Cilacap saya hanya ingin tahu bagaimana persepsi  warga. Apakah hal yang terpikir dalam benak warga sama dengan apa yang ada dalam pikiran saya tentang betapa pentingnya sebuah pembangunan jalan tol.

Jika orang Cina menganggap pembangunan jalan raya sebagai sebuah cara untuk mencapai kemakmuran maka saya merasa jika banyak warga yang berpikir sebaliknya. Jangan-jangan warga tidak menyambut gembira dengan rencana pembangunan ini. Walaupun begitu kita harus bisa melihat dari sudut pandang orang-orang tersebut. Lumrah saja jika pembangunan selalu menuai pro dan kontra. Atau, banyak pula warga yang menyambut gembira sebagaimana saya pun menganggap baik rencana pembangunan yang telah digadang-gadang sejak lama.

Saya selalu berusaha untuk optimis ketika menyambut sebuah proses pembangunan. Niat baik pemerintahan harus kita apresiasi. Sebuah tujuan baik harus kita dukung. Toh, ini pun untuk kebaikan bersama. Apabila tanpa dukungan, proyék besar seperti ini tidak akan bermanfaat bagi banyak orang.

Sikap optimis ketika menyambut pembangunan jalan tol ada karena membayangkan manfaat besar yang akan timbul. Apabila ada jalan tol, produk dari desa bisa diedarkan dengan mudah. Meskipun warga desa jauh dari pusat pemasaran, kehadiran jalan tol mempermudah barang untuk berpindah tangan. Masalah kesulitan pemasaran, setidaknya bisa teratasi dibandingkan tidak ada jalan tol bahkan tidak ada jalan raya sama sekali.

Saya berpikir jika jalan raya merupakan jalur koneksi untuk setiap daerah. Bayangkan apabila daerah terpencil yang jauh dari kota besar tidak dihubungkan oleh jalan raya yang baik. Andaikan sudah ada jalan, kalau rusak atau sempit bisa menyulitkan aktifitas perdagangan. Ongkos tranportasi yang mahal bisa membuat pengusaha enggan untuk berinvestasi di daerah terpencil tersebut. Padahal, potensi daerah senantiasa ada, sekecil apa pun.

Bayangkan sebuah daerah pedesaan yang semula sepi dari kegiatan ekonomi. Ketika warga desa menyaksikan sendiri kemudahan untuk memasarkan produk, saya yakin jiwa entrepreneur warga pun akan bangkit dan berkembang lebih besar. Niat warga untuk membuka usaha di kota bisa dibatalkan atau dialihkan dengan membuka perusahaan desa sendiri. Saya membayangkan betapa denyut nadi kehidupan akan lebih kencang dari sebelumnya. 

Apa yang saya bayangkan ini sejalan dengan pendapat para ekonom. Salah satunya menurut Faisal Basri, infrastruktur menopang percepatan pembangunan dan pertumbuhan ekonomi. Peningkatan stok infrastruktur merupakan salah satu persyaratan mutlak. Perbaikan infrastruktur juga menjadi faktor sangat penting untuk meningkatkan kualitas pertumbuhan dan memadukan berbagai potensi sumber daya sehingga daya saing perekonomian terus mengalami peningkatan. 

Walaupun, sejujurnya, saya pun punya kekhawatiran. Namun, bukan kekhawatiran tak beralasan. 

Ini perkara pemerataan pembangunan yang dilematis. Otto Soemarwoto pernah mencatat jika di dalam ekologi ada hukum yang menyatakan, apabila dua ekosistem yang berbeda tingkat perkembangannya berhubungan satu sama lain, terjadilah tukar-menukar materi, energi, dan informasi di antara keduanya. Namun, tukar-menukar materi, energi, dan informasi itu asimetris, yaitu arus dari ekosistem yang lebih berkembang ke ekosistem yang kurang berkembang ternyata lebih kecil dari yang sebaliknya. 

Jadi, yang lebih berkembang mendapatkan keuntungan yang lebih besar dari hubungan itu dibanding dengan ekosistem yang kurang berkembang. Dalam ekologi dikatakan ekosistem yang kurang berkembang dieksploitasi oleh yang lebih berkembang. Tingkat perkembangan ekosistem itu dapat diukur dari tingkat organisasi dan keanekaragaman, dan dalam ekosistem manusia juga dari tingkat pendidikan dan keterampilan. 

Dalam hal ini pembangunan jalan tol untuk menghubungkan kota dan desa. Membangun jalan itu sebenarnya membangun dua sarana yang saling bertentangan sekaligus, yaitu sarana pembangunan dan sarana eksploitasi desa oleh kota. Jalan tol memang sarana pembangunan, kita sadari itu tetapi kita tidak menyadari dia itu pun sebagai sarana eksploitasi. Akibatnya, walaupun desa dapat tumbuh, laju pertumbuhan desa lebih pelan dari kota dan kesenjangan antara keduanya semakin besar. Apabila eksploitasi terlalu intensif bahkan dapat terjadi desa malahan mundur dan akhirnya dapat ambruk. 

Walaupun desa tidak ambruk, kesenjangan yang terlalu besar akan menimbulkan pula keresahan yang dapat meledak. Ledakan itu dapat menyebabkan keambrukan desa dan kota. Karena itu kesenjangan merupakan unsur penting dalam menentukan kemampuan lingkungan untuk mendukung pembangunan. 

Resiko yang dihadapi oleh penduduk lokal pun adalah besar. Antara lain, hilangnya sumber mata pencaharian, ketegangan sosial, dan pencemaran. Misalnya, karena lahan dipakai untuk pabrik buruh tani kehilangan pekerjaannya tetapi mereka tidak menerima ganti rugi. Demikian pula buruh pengangkut hasil pertanian dan pedagang hasil bumi kehilangan sumber pendapatannya tanpa menerima ganti rugi. 

Dengan kedatangan orang dari daerah lain yang mempunyai latar belakang kebudayaan yang berbeda kenaikan kepadatan penduduk dan tingkat pendapatan yang berbeda antara pendatang dan penduduk lokal, terjadilah ketegangan sosial. Salah satu gejala fisik tentang adanya ketegangan sosial ialah naiknya tekanan darah di kalangan penduduk lokal. Konsentrasi buruh yang terpisah dari keluarganya sering memerlukan masalah prostitusi dan perjudian, yang selanjutnya meningkatkan kriminalitas. 

Karena judul artikel ini dibubuhi dengan kata menyambut, maka saya pikir warga harus memiliki persiapan. Sebagaimana yang sering disampaikan banyak pihak, kedatangan proyek pembangunan sekala besar harus dibarengi dengan pendidikan dan pelatihan penduduk lokal. Bentuknya beragam sesuai dengan potensi pribadi dan potensi daerahnya sendiri. Sehingga, pembangunan jalan tol ini benar-benar menguntungkan bagi daerah yang dilalui. Warga berlaku sebagai pemain bukan sekedar penonton.  

Saya sering memikirkan "jalan raya" sebagai sebuah latar dalam cerita. Jalan bisa menjadi penghubung antar adegan, bisa pula sebagai pengarah ke manakah cerita akan berlanjut. Apabila jalan raya yang saya bayangkan hanya akan ada dalam cerita fiksi, maka saat ini saya membayangkan jika jalan tol akan ada dalam kenyataan. Sebagaimana sebuah cerita, jalan tol tersebut mengarahkan warga untuk mencapai sebuah tujuan.

Daripada Pemerintah terus berkoar-koar tentang arah pembangunan. Maka membangun jalan raya sebagai instruksi monumental agar warga sadar ke manakah melangkahkan kaki. Tentu, melangkahkan jiwa pula.  

_________________________________

Sumber: 

Faisal Basri dan Haris Munandar, Lanskap Ekonomi Indonesia, Kencana, Jakarta: (2009)

Otto Soemarwoto, Ekologi Lingkungan Hidup dan Pembangunan, Djambatan, Jakarta: (1983)






Rabu, 12 November 2025

Terikat dengan Tanah

Saya menonton tayangan tentang bangsa Mongol yang memiliki tradisi menggembala di padang rumput. Keadaan mereka jauh berbeda dengan kami di pulau Jawa. 

Padang rumput yang hijau di musim panas dihiasi oleh kawanan domba berbulu putih dan belang-belang. Kawanan itu hanya diawasi oleh satu atau dua orang saja. Tidak jauh dari tempat si ternak merumput, ada sebuah ger berbahan kulit ternak. Di sampingnya, ada seorang wanita yang sedang memasak. Tampak asap mengepul ke udara membentuk garis putih di sela hijaunya padang rumput dan langit yang biru cerah. 

Saya tidak sedang menceritakan lanskap Mongolia yang indah. Mari kita cermati bagaimana perilaku bangsa nomaden Mongolia yang tidak memiliki kebiasaan mengolah tanah. Sebuah bangsa yang terkenal haus akan petualangan serta pengalaman menjelajahi dunia baru. Menganggap jika menetap bisa satu tempat terasa membosankan. Atau, gairah untuk mencari suasana baru memang lebih besar dibandingkan menikmati apa yang telah ada dalam waktu lama.

Saya pun merasa jika kaum nomaden melihat kehidupan hanya sementara. Tak ada pembangunan untuk menyongsong masa depan. Tak ada hak atas tanah, semua yang terhampar di dunia adalah milik bersama. Tak ada batas wilayah sehingga apa yang mereka lihat di hadapannya adalah sesuatu yang layak untuk dimiliki; bila perlu dengan dirampas.

Saya selalu takjub dengan budaya orang Mongolia. Mereka bisa hidup di tanah yang bersuhu ekstrem. Kala musim dingin tiba mereka kedinginan begitu pula ternak-ternaknya. Mungkin itulah alasan kenapa mereka berpindah-pindah.

Sebuah bangsa nomaden, tidak menetap untuk mengolah lahan. Timbul pertanyaan, "kenapa mereka tidak seperti kami yang menetap di suatu wilayah? Kenapa mereka tidak membajak sawah? Apakah semata alasan musim yang berganti?"

Kami harus mengolah tanah, menanaminya dengan padi, kemudian menunggu waktu panen. Membutuhkan waktu yang lama dari mulai ditanam hingga waktu panen. Sebuah masa menunggu yang membosankan, terkadang. 

Bagi petani menetap, tidak ada pikiran untuk bersikap agresif. Berbeda dengan bangsa peternak nomaden. Sepanjang sejarah, suku-suku bangsa peternak menunjukkan sifat-sifat yang agresif. Hal itu dapat dimengerti, karena mereka secara terus menerus harus menjaga keamanan beratus-ratus binatang ternak terhadap serangan atau pencurian dari kelompok-kelompok tetangga. Kecuali itu, karena mereka perlu makanan lain di samping daging susu, dan keju. Hanya saja, makan lain tersebut seperti gandum dan sayur perlu diperoleh dari suku bangsa lain yang hidup bercocok tanam. Maka tidak ada persoalan kalau mereka dapat tukar menukar atau berdagang tetapi biasanya berusaha mendapatkan makanan itu dengan menguasai dan menjajah bangsa yang hidup dari bercocok tanam.

Tidak semua orang harus menjadi pengembara.

Bagi suku pengembara, tanah bukanlah benda yang harus dijaga. Bagi suku yang suka bermukim maka tanah adalah segalanya. Dari tanah dia dilahirkan kemudian akan kembali ke tanah, suatu hari nanti. Bagi suku pengembara tanah adalah hamparan. Bagi suku yang bermukim tanah adalah modal. Kami bisa saling membunuh karena masalah tanah. Namun, kami bisa merelakan hewan ternak yang mati atau dicuri orang. Tak ada niat untuk balas dendam. 

Berbeda dengan bangsa nomaden benda tak bergerak adalah harta yang lebih utama. Di tengah padang pasir yang tandus unta begitu berguna. Jika ada yang mencuri maka besok lusa akan kembali dicuri. Bila perlu ditambah jumlahnya. 

Saya pun berpikir jika kata ikatan kepada tanah masih ada kaitannya dengan genetik. Masih ada pula kaitannya dengan cara berpikir seseorang. Sedikit filsafat hidup ditambah kebutuhan mendesak yang tidak mungkin terelakkan. Mari kita berpikir sederhana, jika suku pengembara harus terikat dengan tanah maka akan sulit bagi mereka menggiring ternak atau membawa rumah-rumah sementara (tenda atau ger). Sedangkan suku pemukim, rumah pun dibuat permanen tertancap langsung ke dalam tanah dan memang hindari terpaan angin. Lagi pula rumah-rumah dibuat kokoh untuk menyimpan hasil panen. 

Keterikatan dengan tanah adalah bentuk cinta

Rasa memiliki dan identitas: Tempat tinggal sering kali menjadi bagian integral dari identitas seseorang. Merasa terikat dengan tempat tersebut dapat mencerminkan rasa aman, akar, dan koneksi pribadi yang mendalam, yang mirip dengan esensi cinta.

Dalam beberapa budaya, kembali ke tanah kelahiran merupakan bentuk keharusan. Tanah tempat dulu bermain bersama kawan. Tanah tempat dulu menggembala anak kerbau sementara induknya digunakan untuk membajak sawah. Sebuah masa yng indah. 

Hal yang wajar jika timbul kerinduan keada hamparan tanah yang dulu terbiasa untuk ditapaki oleh kaki-kaki kecil. Juga kemarahan ketika tanah leluhur berubah fungsi menjadi kawasan industri pemilik kapital. Sama seperti rasa cinta kepada sesama manusia, keterikatan manusia akan tanah memang lumrah. Bukan sesuatu yang dibuat-buat semata untuk nostalgia. Ikatan batin dengan tanah merupakan bentuk lain dari mekanisme manusia untuk bertahan hidup. 

Andaikan seorang manusia enggan untuk memperhatikan tanah serta keberlanjutannya, sama saja seperti keengganan untuk merawat tubuhnya sendiri. Mengolah, memupuk, menjaga, hingga mewariskan tanah merupakan bagian dari realita budaya. Semuanya tak akan hilang selama manusia memiliki rasa untuk berkasih sayang.

_____________________

Sumber rujukan

John Man, Jenghis Khan (Legenda Sang Penakluk dari Mongolia), Alvabet, Jakarta: (2008)

Kuntjaraningrat, Pengantar Ilmu Antropologi, Aksara Baru, Jakarta: (1986)

Sejarah Nama-nama Temat di Bandung, e-Book daring, diakses 12 Nopember 2025

Minggu, 26 Oktober 2025

Obrolan Warga Desa

Foto: Hartono Subagio via www.pexels.com
Sejak masa kanak-kanak, saya senantiasa kebingungan ketika memilih topik obrolan. Bukan karena tidak mengerti apa yang diobrolkan oleh orang-orang di sekitar. Saya hanya heran, kenapa orang-orang sekitar enggan untuk membicarakan perihal perkara di luar keseharian?

Sebuah kejadian yang berulang, apabila ada saudara atau tetangga--kebetulan banyak pula tetangga masih ada ikatan saudara--yang datang ke rumah. Tanpa ditanya tak dinyana, mereka yang tiba langsung membuka obrolan. Topik pembicaraan ringan.

"Eh, tahu nggak sih, si Fulan tuh begini-begitu."

Kami yang sedang menikmati tontonan televisi, lantas tak bisa mengelak untuk memperhatikan pertanyaan. 

Maka terjadilah obrolan keseharian yang sudah bisa ditebak akhirnya. 

Begitulah, banyak orang di sekitar saya enggan untuk membicarakan perihal abstrak. Apabila membicarakan sesuatu yang belum pernah dicerap oleh indera, maka mereka ramai-ramai untuk menolak. 

Kultur kami, seakan membangun dinding yang tebal dengan dunia luar. Kalau Anda membayangkan bénténg berbahan batu di abad pertengahan, tebal kan? Mungkin setebal itu pemisah antara kami dengan dunia luar. Tentu bukan pemisah secara fisik, tetapi pemisah mental. 

Kultur kami yang menutup diri terhadap informasi cukup mengejutkan saya ketika beranjak dewasa. Agak percuma jika teknologi informasi semacam televisi hadir ke tengah-tengah rumah. Toh, embaran yang tergambar di sana tidak dianggap berharga.

Padahal, ketika sekolah dulu, saya senantiasa diajak untuk mengenal bagian lain dari dunia. Oleh guru, kami diharuskan untuk tahu nama-nama negara di berbagai benua. Kami pun diajari sejarah bagaimana negara tersebut bisa terbentuk atau kembali runtuh. Namun, sayangnya tidak semua murid menganggap jika pengetahuan akan dunia luas layak dijadikan bahan obrolan.

Kecuali, khusus empat keponakan saya yang masih usia belia. Mereka begitu tertarik berbicara tentang dunia di luar apa yang terindera. Terkadang membicarakan nama hewan khas Afrika, suku bangsa di Malaysia, atau artis Korea yang mereka suka.

Memperhatikan ini, sepertinya saya menemukan sebuah pola.  

Ada orang-orang yang enggan berbicara tentang hal di luar keseharian. Sebaliknya, ada orang-orang yang tertarik dengan hal di luar keseharian. Setidaknya, dua tipe manusia ini mesti dihadapi dengan cara yang berbeda. Tipe pertama, saya hanya berusaha untuk mendengarkan sembari berusaha agar tidak menyela obrolan. Orang-orang seperti ini hanya butuh untuk didengarkan. Malahan, jika kita beri tanggapan, bisa jadi mereka tersinggung. Tipe kedua, orang-orang yang membutuhkan kawan bicara untuk menerawang ke lain dunia. Mereka memang tertarik dengan dunia luar, penasaran dengan apa yang terjadi di sana, tanggapi obrolan berdasarkan topik yang disampaikan.

Jadi, kalau pagi-pagi buta ada saudara yang ingin bicara banyak untuk sekedar menyampaikan pengalaman, cukup perhatikan. Apabila keponakan tertarik untuk membicarakan tontonan, ajak mereka untuk masuk ke dalam dunia yang tak tersentuh tangan tersebut. Dengan begitu, selalu ada interaksi serta komunikasi di antara kami. 

Ngobrol nggak penting, yang penting ngobrol.



Minggu, 28 September 2025

Terhubung dengan Ruang di Pedesaan

Manusia désa senantiasa terhubung dengan manusia désa lainnya. Sayangnya, kita sering lupa untuk terhubung dengan ruang.


Ada banyak alasan kenapa hal demikian terjadi. Bisa jadi, sikap guyub  bukan hadir karena alasan kemanusiaan. Sikap guyub warga sekedar keinginan untuk diperhatikan oleh manusia lain. Manusia désa semata menjadi kumpulan warga-warga yang berdomisili dalam satu kawasan. Padahal, keterhubungan kita terjadi karena adanya ikatan batiniah sesama makhluk Tuhan.

Saya curiga, jika sesungguhnya manusia désa pun individualis. Kita menjalin hubungan semata karena ada kepentingan. Andaikan tetangga dan saudara tidak bisa memberikan timbal balik, mungkin saja sikap guyub itu pun sirna. Kita merasa dekat bersama orang-orang yang memberikan kita kenyamanan. Apabila orang-orang terdekat kita tidak memberikan kenyamanan, masih maukah kita hidup berdampingan?

Nah, fokus perhatian seseorang kepada orang lainnya inilah yang mengesampingkan perhatian kepada ruang.  

Contoh klasik, perkara membuang sampah sembarangan. Hal demikian timbul karena warga tidak peduli dengan ruang sekitar. Tidak ada perasaan terhubung dengan benda-benda tak bernyawa yang tidak bisa memberikan "timbal-balik" nan nyata. Batu, tanah, dan pohon jelas berbeda dengan manusia karena mereka tidak bisa memuji kita tatkala meraih prestasi. Benda-benda itu tidak akan memberikan angpao andaikan lebaran tiba. Konsep balas budi benda mati tidak gamblang sebagaimana manusia yang memiliki kesadaran.

Sesaat setelah bangun pagi, tidaklah terpikir jika hari yang akan kita arungi bukan hanya berusaha untuk memenuhi ambisi pribadi. Kamar, rumah, pemukiman, jalan raya, tempat bekerja, hingga selokan yang terlihat oleh bola mata adalah bagian dari hidup. Ada hubungan saling ketergantungan satu sama lain. Sikap tidak peduli, tidak layak ada dalam hati.

Di desa, bukan hanya tempat berkumpulnya warga. Desa pun terdiri dari ruang yang mesti terjaga. 

Perlakuan kita terhadap ruang yang melingkupi tidaklah sama dengan perlakuan dengan sesama manusia. Orang-orang menjadi sosok yang seharusnya dihormati. Begitupula ruang, sesuatu yang harus dihormati. Dinding di rumah, memberi kita naungan. Bunga yang mekar memberi kita kesegaran penglihatan. Lantas, kenapa tidak  diperlakukan selayaknya memperlakukan orang yang kita sayang?

Bagi saya, ruang menjadi tempat untuk berkontemplasi dan berkreasi. 

Pikiran senantiasa terisi oleh informasi penting yang berhubungan dengan ruang. Seekor semut yang berjalan beriringan di ranting pohon, memberi kita sebuah penanda tentang betapa pentingnya keberadaan mereka. Sekawanan burung yang berkicau kala pagi memberitahu warga jika peran mereka sangatlah berharga. Membutuhkan cara khusus untuk menjaga serta melestarikan eksistensinya. Dengan begitu, kita senantiasa disandarkan jika peran manusia di dunia sangatlah menentukan keberlangsungan

Kenyataannya, pikiran manusia yang mempengaruhi bagaimana ruang terbentuk. Apakah ruangan akan tampak acak-acakan atau rapih, tergantung bagaimana kita memandang ruang sekitar.

Entah kenapa perkara ruang dan kecerdasan ruang (spasial) ini tidak memperoleh perhatian khusus. Anak-anak akan dipuji serta ditinggikan kedudukannya ketika pintar menyelesaikan ujian negara dengan nilai tinggi. Namun, anak-anak tidak pernah diberikan apresiasi ketika pintar menata. Bahkan, kegiatan menata sekedar perkara rumah tangga yang dianggap terlampau biasa. Menata tidak lagi suatu bagian dari budaya yang mesti diberi penghargaan tinggi. 

Suatu bangsa yang pandai menata ternyata sekumpulan manusia yang mampu menghargai ruang. Mereka senantiasa menganggap jika keterhubungan dengan ruang menjadi bagian dari budaya yang mesti dijunjung tinggi. Andaikan ruang bukan sesuatu yang penting, bisa dimengerti apabila rumah hingga sebuah kota tampak berantakan serta tidak nyaman untuk dijadikan hunian.  

Memperhatikan ruang bukanlah harus mengerti akan dunia dan seisinya. Ada banyak elemen sederhana yang biasa kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Saya selalu terpukau kepada budaya Cina yang senantiasa memperhatikan elemen-elemen kehidupan. Entah abstrak atau kongkrit, semuanya dianggap penting. Bagi manusia yang mengagumkan logika, perhatian akan elemen-elemen tersebut hanya dianggap mitos kuno. Namun, kenyataannya pemikiran sederhana manusia berbudaya mampu membuat kemajuan sekaligus kelestarian.

Ketika budaya lama mulai ditinggalkan, tidak usah heran sering terjadi kekecewaan. Ternyata, sesuatu yang baru tidak selalu layak ditiru.  

Minggu, 13 Juli 2025

Merambah Lahan Digital

Di desa kami, lahan pertanian mulai sempit. Tentu saja bukan tanahnya yang berkurang, kini wajah désa berubah setelah ada pembangunan pemukiman dan pabrik. Bagi mereka yang masih bergantung pada sektor pertanian, maka dianggap sebagai sebuah ancaman

Seberapa serius ancaman itu, saya sendiri belum meneliti. Perlu ada ahli yang menentukan seberapa besar ancaman yang dimaksud. Atau, sebaliknya ini dianggap sebagai sebuah peluang

Sudah diramalkan sejak bertahun-tahun sebelumnya jika wajah désa kami akan berubah menjadi areal industri. Bertani hanya menjadi profesi penopang ketika sektor industri belum bisa dijadikan sumber pendapatan utama. Meskipun euforia industrialisasi itu senantiasa ada, belum tentu menjadi sektor yang tetap kokoh di tengah terpaan dinamika global.   

Sebagaimana diketahui, perubahan haluan pembangunan di desa bisa terjadi lantaran ada kebutuhan yang mendesak. Karena berbagai penyebab, maka industri membawa angin segar bagi mereka yang tidak kebagian lahan pekerjaan. Hanya saja, kelemahan sektor industri adalah tidak senantiasa sejalan dengan pertambahan jumlah penduduk. Terkadang, pabrik tidak membutuhkan banyak orang sebagaimana lahan pertanian.

Lantas, ke manakah kami harus mencari?

Saya pikir, lahan digital bisa menjadi pilihan. Tidak membutuhkan dana besar untuk membeli lahan yang lebih luas. Tidak perlu pula warga mengurus lahan agar tetap subur.  

Memang bukan perkara mudah jika mengalihkan petani tanah menjadi petani digital. Akan ada banyak kendala jika mengajak warga yang terbiasa memegang benda nyata untuk beralih memegang benda yang tak tersentuh. Saya melihat sendiri betapa kedua bidang ini bisa membingungkan orang-orang yang terkaget-kaget dengan perubahan zaman. Sejujurnya, kami tidak siap menghadapi problematika zaman yang susah diterka.

Kita mulai dari mengetahui cara berpikir para petani. Mungkin ini cara termudah dan paling mendasar, menurut saya pribadi. Apabila kita mengamati, petani terbiasa menanam bibit di lahan, menunggu hingga sampai di masa panen. Pemeliharaan pun seputar menyiangi gulma dan pemupukan secara berkala. Selebihnya, hanya menunggu waktu.

Saya merasa jika pola pikir ini belum hilang, dan tak akan hilang. Masalahnya, ketika masuk ranah digital maka cara berpikir seperti ini tidak cocok diterapkan.

Dalam perspektif petani, lahan merupakan hamparan bukan sesuatu yang tidak kelihatan. Sedangkan benda yang bersifat digital tidak pernah tergambar apalagi terhampar jika pikiran kita tidak ikut serta untuk berimajinasi.

Bercocok tanam di tegal memang berbeda jika dibandingkan dengan bercocok tanam di lahan digital. Apabila sebutir biji padi ditimbun oleh lumpur sawah maka besar kemungkinan dia akan tumbuh dengan sendirinya. Namun, berinvestasi di "tanah" digital membutuhkan pengelolaan dan pemeliharaan yang lebih intensif. Dengan kata lain, warga harus senantiasa berpikir bukan hanya membiarkan konten digital begitu saja sambil berharap akan berbulir dan berbuah. 

Lahan digital merupakan realitas baru. Tidak ada sejak zaman penjajah dulu, tidak bisa pula seorang petani membuka buku sejarah dalam rangka untuk belajar. Dengan kata lain, pengalaman saja tidak cukup ketika seorang warga desa diharuskan menjajaki réalitas virtual. 

Lahan digital bukan hanya tentang mengunggah konten di media sosial. Meskipun itulah salah satunya, masuk ke ranah virtual sebaiknya memiliki sifat mendambakan kebaruan. Hal-hal baru yang tidak mudah tercipta di dunia nyata maka dunia maya bisa menjadi saluran. Dengan kata lain, cara berpikir abstrak lebih dominan dibandingkan dengan berpikir kongkrit.

Sayangnya, kemampuan berpikir abstrak tidak terasah apabila kita senantiasa bersentuhan dengan aspek kongkrit. Manusia yang terbiasa bekerja dengan pola berulang bisa kesulitan diajak berpikir abstrak. Belajar pun tidak cukup dengan mengamati, mencoba kemudian mengulangi hingga mahir. Realitas virtual tampaknya tidak suka pengulangan.   

Mari kita mulai dari hal sederhana. Menulis isi pikiran kita di internet, saya pikir bisa menjadi pintu masuk untuk menjelajah ke dunia maya yang lebih luas. 

Senin, 23 Juni 2025

Urbanisasi yang Didorong oleh Tradisi

 "Aa, ulin atuh ka kota!" saran seorang guru sekolah saya ketika berkunjung ke rumah. 

Saya pun menanggapi anjuran itu hanya dengan sebuah senyuman. Tidak ada untaian kata yang terucap dari mulut. Meskipun tahu jika kalimat dari Bu Guru terucap setelah melihat saya tidak pergi ke kota sebagaimana pemuda desa lainnya. Ungkapan tidak segera ditanggapi karena dalam pikiran ada banyak opsi untuk disampaikan sebagai jawaban. Bingung pula mesti menyampaikan pilihan kata yang mana.

Opsi pertama, saya akan memberikan alasan kenapa masih berada di desa karena tidak tahu jika urbanisasi adalah sebuah tradisi. Saya pikir pergi ke kota hanyalah kebutuhan belaka. Andaikan seorang manusia tidak terdesak untuk pergi ke kota maka melangkahkan kaki meninggalkan désa bukanlah sebuah perkara yang wajib. 

Opsi kedua, saya akan menyampaikan alasan keberadaan di desa karena keadaan keluarga mengharuskan tetap berada di rumah. Artinya, setiap keluarga memiliki situasi yang tidak sama. Bahkan, apabila dua keluarga bertetangga maka kami pun memiliki pilihan berbeda. 

Opsi ketiga, saya punya kegiatan yang bisa dijadikan sumber kehidupan di desa. Bukanlah sesuatu yang besar tetapi harus dilestarikan karena pemberian Yang Maha Kuasa. Apabila dibiarkan begitu saja maka saya bisa dihantui rasa tidak bersyukur atas karunia yang telah diberi. 

Sumber: ChatGPT
Beberapa hari setelah kedatangan Bu Guru, saya kesulitan menyingkirkan hal yang cukup mengganggu pikiran. Sebagaimana kebiasaan, menulis blog menjadi cara untuk merilis isi pikiran. Hal yang mengganggu tersebut adalah bagaimana urbanisasi bisa terbentuk serta perlukah kebiasaan tersebut dipertahankan?

Sebagaimana disampaikan di atas, ternyata tradisi urbanisasi bisa ditelusuri hingga ke dalam pikiran seorang tenaga pengajar di kampung kami. Coba bayangkan, dari mulut seorang guru sekolah terlontar ide yang didengar oleh--katakanlah seratus murid--maka akan ada seratus pemuda/pemudi yang meninggalkan désa ini. Sekaligus, akan ada seratus individu yang "menyesaki" kota besar dimana telah sesak sebelumnya. Nah, itu baru dari desa kami. Bagaimana dengan desa-desa lain di seantero negeri?

Saya pernah mendengar jika tradisi bisa terjaga atau dilestarikan warga sendiri yang berniat melakukannya. Terlebih, jika ada seorang agen giat mengusahakannya. Dalam pembicaraan kita, maka agen yang dimaksud adalah tenaga pendidik di desa. Coba bayangkan, seorang agen yang dianggap memiliki kewenangan dan kelebihan intelektual malah berpikir sebaliknya dengan program negara yang berusaha keras mengendalikan urbanisasi.

Urbanisasi bukan sesuatu yang buruk. Banyak negara yang telah melakukannya kemudian berhasil meningkatkan taraf kehidupan.
 
Hanya saja, urbanisasi di negeri ini bukan lagi cara yang baik untuk menggerakkan roda ekonomi. Efek buruk urbanisasi begitu nyata maka wajar jika Pemerintah pun terus menggaungkan pemerataan pembangunan. Sayangnya, ajakan ini belum menyentuh pikiran Bu Guru yang masih menganggap jika kota sebagai satu-satunya faktor kesuksesan. Sepertinya beliau tidak tahu jika ada banyak contoh urbanisasi yang gagal. Bukannya kesuksesan yang dicapai tetapi malah memperlebar jurang kemiskinan antar warga.


Senin, 16 Juni 2025

Memanfaatkan Benda-benda Sederhana, Kenapa Orang Desa Enggan Melakukannya?


Botol bekas menjadi hiasan (Dokpri.)
Sudah berkali-kali saya menulis kata bermanfaat, memanfaatkan, atau manfaat dalam blog ini. Berkali-kali pula mempertanyakan kenapa orang-orang enggan memanfaatkan hal-hal sederhana di sekitarnya? 

Jawaban dari pertanyaan tersebut bisa beragam. Saya pun hanya bisa mengumpulkan beberapa jawaban walaupun belum begitu memuaskan. Diawali dengan mengamati orang-orang terdekat yang mengelilingi kehidupan sehari-hari. Ditambah, memperhatikan pula media massa yang menyampaikan hal serupa. Ada pula pemberitaan yang menyampaikan kebalikan dari realita yang ditemui tetapi tidak terserap secara indrawi. Sedikit-sedikit, membuka buku dan membaca jurnal yang tersebar di internet.

Melalui semua itu, saya mulai menyimpulkan jika perkara keengganan warga desa memanfaatkan hal sederhana bermula dari pendidikan. Kasihan juga ya, ibu-bapa guru senantiasa dijadikan objek dari akibat segala macam sesuatu yang jelek.

Namun, mau bagaimana lagi. Segalanya berhulu dari sana. Coba bayangkan, anak-anak menjalani hari dari pagi sampai sore ya di sekolah. Di rumah, mereka hanya menghabiskan waktu untuk bermain, dan beristirahat. Jangan berharap ada pelajaran tambahan dari orang tua, mereka pun lelah bekerja serta menyerahkan urusan pendidikan kepada sekolah. Bagi ibu dan bapanya, para sarjana dianggap lebih mumpuni untuk mendidik anak bangsa. 

Tentu saja tidak sepenuhnya tanggungjawab sekolah. Peran orangtua pun sangat berpengaruh. Ibu dan bapak yang mengajak anaknya untuk senantiasa memanfaatkan lahan pekarangan, barang bekas, atau pengetahuan yang dimiliki maka sedikit-banyak akan membekas pada diri anak. Orangtua yang kreatif biasanya menumbuhkan anak yang kreatif pula. 

Apabila orangtua enggan mengajak anak untuk memanfaatkan hal-hal sederhana, ternyata budaya kita memang tidak mendukung demikian. Memang, beberapa desa sudah punya kebiasaan untuk menggerakkan warga. Satu orang melakukan kebiasaan baik maka orang lain pun turut mengikutinya tanpa diminta.

Namun, desa saya berada di pulau Jawa bagian barat dimana industrialisasi bermodal besar sudah berlangsung lama. Masyarakat kami bukan digerakkan oleh inisiatif pribadi melainkan inisiatif para kapitalis. Entah ada hubungannya atau tidak, hal demikian mempengaruhi cara berpikir warga. Andaikan tidak ada yang menggerakkan maka kami pun enggan untuk bergerak. Inisiatif pribadi bukanlah sesuatu yang dikedepankan dalam budaya yang dianut masa kini. Saya tidak tahu jika masa lalu pun begitu.

Saya tidak mau dianggap sebagai orang yang suka menyalahkan pihak lain akan ketidakmampuan diri. Hanya saja, senantiasa ada sebab-akibat yang bisa diikuti oleh nalar umum. Apabila saat ini mata kepala sendiri melihat kenyataan sebagai sebuah akibat, maka mesti ada penjelasan sebagai sebab. 

Dalam hal ini, keengganan orang untuk menggerakkan tangan memanfaatkan hal-hal sederhana di sekitarnya. Apakah ini sebab psikologis, karena budaya, pengaruh media massa, atau tidak ada upaya negara untuk menggerakkannya. Setiap orang akan melihat dari berbagai sudut pandang. Sayangnya, saya hanya warga biasa yang tidak memiliki kewenangan ilmiah untuk menyimpulkan sebuah gejala sosial. Hal yang ada hanyalah menerka-nerka. 

Bagi saya, hal terpenting yang harus dipikirkan sekarang bukan penyebab dari keengganan warga untuk memanfaatkan hal-hal sederhana. Namun, bagaimana menggairahkan mereka untuk mau memanfaatkan hal-hal sederhana menjadi keharusan. 

Apakah perlu ada agen penggerak yang bisa mempengaruhi khalayak. Jika mengharapkan pemerintah, saya malah skeptis. Apabila mengandalkan artis, mungkin bisa berhasil. Sebagaimana kita tahu, orang-orang lebih percaya kepada idolanya dibandingkan kepada pemimpinnya. Tentu saja, agen tersebut mesti memberi contoh yang kongkrit bukan sekedar wacana di social media

Mereka harus bisa mengemukakan alasan jika perubahan besar senantiasa dimulai dari hal sederhana dan mendasar. Berdasarkan pengamatan saya, mengemukakan misi kebangsaan yang luas tidak serta merta dimengerti jikalau tanpa implementasi. Pola komunikasi yang baik akan terjalin jika si agen bisa menjabarkan maksud besar ke dalam tindakan-tindakan kecil. 

Juga yang terpenting, warga harus bisa merasakannya dalam waktu dekat. Tidak semua orang mampu berpikiran panjang hingga jauh ke masa depan. 



Rabu, 04 Juni 2025

Mempertahankan dan Memanfaatkan Bekal Hidup yang Sederhana

 

Dokumen pribadi.
Saya berada dalam persimpangan, apakah meninggalkan domba-domba ini demi mencari yang "lebih besar", atau melestarikan mereka? Bukan keputusan yang mudah diambil. Ada banyak pertimbangan untuk segera mengambil keputusan kemudian bertindak.

Sejak masa kanak-kanak, keluarga kami terbiasa memelihara kawanan domba. Kegunaan hewan berbulu ini sungguhlah besar bagi kehidupan keluarga. Selain kegunaan secara fisik, ternyata domba memiliki pengaruh yang kuat dalam kesehatan mental. 

Sebagaimana yang pernah ditulis sebelumnya, domba-domba ini bisa menghasilkan daging yang nikmat juga menghasilkan pupuk kandang yang menyuburkan tanah. Andaikan tidak ada kotoran hewan, kami bisa kesulitan mencari solusi untuk kembali meningkatkan unsur hara di tanah. Sawah-sawah yang telah digunakan dalam waktu lama mengalami penurunan tingkat kesuburan. Telapak kaki saya pun merasakan betapa keras postur tanah yang sudah jenuh. Hamparan lahan di pedesaan perlu peremajaan.

Ketika domba digiring ke pengembalaan, ada pemandangan yang menyejukkan perasaan. Sesuatu yang akan sulit kami peroleh andaikan terpaksa meninggalkan kampung halaman. Terlebih, perkotaan di negeri kami tidaklah senyaman kota-kota di Eropa sana. Tidak ada jaminan jika akan ada taman luas dan sungai yang berair jernih sebagai penyejuk mata. Berdasarkan berita yang diterima, kota-kota besar malah menyuguhkan masalah mendasar bagi kehidupan ummat manusia.  

Sampai hari ini, tidak ada kriteria yang bisa menentukan apakah domba-domba itu harus ditinggalkan atau dilestarikan. Saya pun kebingungan. Satu-satunya kriteria hanyalah faktor kedekatan. 

Saya terbiasa "menyentuh" sesuatu yang dekat. Langka sekali bersegera untuk mencari yang jauh. Sudah lama tidak melangkahkan kaki hingga ratusan kilometer semata demi mencari harta lebih dari apa yang dimiliki hari ini. Alasannya, simpel saja. Hal-hal yang terdekat pun perlu untuk ditangani, dan tidak pernah ada waktu untuk berhenti walaupun cuma sehari.

Tanpa terasa, waktu telah berlalu begitu lama. Andaikan kami berpikir jika semua ini hanya percuma maka akan kecewa. Tidak ada yang luar biasa sebagai hasilnya. Namun, ada pemikiran sederhana yang mendasari keseharian di sini. Kami harus mensyukuri apa yang dimiliki hari ini.

Bersyukur bukan tentang menengadahkan tangan sambil berkata alhamdulillah. Bersyukur pun berarti membuat domba-domba ini tetap lestari.