Langsung ke konten utama

Memberitahu dengan Bukti yang Bisa Diikuti


Anak Entok di RumahMemang tidak mudah memberi tahu orang sekedar dengan teori. Sudah menjadi tipe masyarakat kita yang tidak percaya teori tetapi perlu bukti. Berangkat dari alasan ini maka saya tidak banyak bicara tentang konsep peternakan- pertanian terpadu kepada masyarakat. Saya lebih suka memberi tahu mereka dengan bukti. Menurut pengalaman dan pengamalan, tidak cukup memberitahu masyarakat dengan kata. Bila seperti itu, lebih banyak dicela daripada didengar.
Sering saya melihat kiai yang tidak didengar oleh umatnya sendiri karena tidak bisa membuktikan perkataannya. Apalagi saya yang hanya anak muda. Saat ini, cara berpikir masyarakat sudah cerdas. Mereka tidak hanya mengikuti apa yang mereka terima, tetapi meneliti terlebih dahulu kebenarannya.
Dalam hidup memang penuh resiko. Resiko itu harus diambil ketika kita membayangkan kehidupan yang lebih baik di masa depan. Bagi saya, biarlah hari ini bersusah-payah membangun berbagai sarana yang diperlukan. Bila nanti sudah tiba waktunya, maka akan mudah bicara karena sudah ada bukti atas apa yang dibicarakan. Di usia yang masih muda, saya lebih bersemangat untuk membangun dan berharap bisa memetik hasilnya diusia tua nanti.
Merebut perhatian masyarakat butuh pengorbanan. Mereka pun berharap setiap kemajuan bisa diikuti sehingga merasakan kehidupan yang mapan secara bersama-bersama. Untuk itu, pembuktian dari sebuah konsep pertanian terpadu harus sederhana. Mereka bisa merasakan manfaat atas kemudahan konsep yang ditawarkan. Jika selama ini mereka sulit untuk mengikuti kemajuan teknologi karena terlampau mahal dan tidak efisien. Saya yakin kemudahan menjadi kunci alasan masayarakat untuk menerima konsep yang ditawarkan.
Sesuatu yang sederhana akan menghasilkan manfaat luar biasa jika dilakukan secara kolektif. Kolektifitas ini menjadi kekuatan dahsyat untuk menyongsong kehidupan yang mapan tanpa krisis. Jika di luar sana sedang terjadi  krisis multidimensi,  setidaknya di sini imbasnya tidak begitu buruk di bandingkan di sana. Biarlah dunia global terkena krisis tetapi kami di sini memetik berkahnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Merambah Lahan Digital

Di desa kami, lahan pertanian mulai sempit. Tentu saja bukan tanahnya yang berkurang, kini wajah désa berubah setelah ada pembangunan pemukiman dan pabrik. Bagi mereka yang masih bergantung pada sektor pertanian, maka dianggap sebagai sebuah ancaman .  Seberapa serius ancaman itu, saya sendiri belum meneliti. Perlu ada ahli yang menentukan seberapa besar ancaman yang dimaksud. Atau, sebaliknya ini dianggap sebagai sebuah peluang ?  Sudah diramalkan sejak bertahun-tahun sebelumnya jika wajah désa kami akan berubah menjadi areal industri. Bertani hanya menjadi profesi penopang ketika sektor industri belum bisa dijadikan sumber pendapatan utama. Meskipun euforia industrialisasi itu senantiasa ada, belum tentu menjadi sektor yang tetap kokoh di tengah terpaan dinamika global.    Sebagaimana diketahui, perubahan haluan pembangunan di desa bisa terjadi lantaran ada kebutuhan yang mendesak. Karena berbagai penyebab, maka industri membawa angin segar bagi mereka yang tidak k...

Pohon Belajar

Dalam belajar, kita ikuti filosofi pohon. Seperti pohon, kita awali belajar dengan pelajaran dasar layaknya akar. Akar itu kuat menghujam tanah, juga menyerap saripati tanah untuk pertumbuhannya. Al-Qur'an dan As-Sunnah layaknya akar. Batang layaknya minat dan bakat yang sudah ada sejak lahir. Sedangkan, daun dan ranting adalah ilmu yang "menyesuaikan" dengan lingkungan. Akhirnya, maka akan ada buah yang bisa "dipetik". Minat dan bakat, harus menjadi yang utama dipelajari setelah pelajaran dasar. Kenapa? Karena ilmu yang berkenaan dengan minat dan bakat bisa dipelajari dengan "semangat" dan tidak perlu "disuruh-suruh". Ilmu yang berkenaan dengan minat dan bakat menjadi "acuan" akan seperti apa seseorang di masa depan. Layaknya, batang pohon maka minat dan bakat kuat meskipun diterpa angin dan hujan. Terakhir, ilmu lain yang menyesuaikan dengan kebutuhan. Ilmu-ilmu itu akan sangat banyak sesuai dengan kebutuhan...

Kesulitan Mengkomunikasikan Isi Pikiran kepada Warga Desa

Saya ini tipe orang yang langka bicara. Ada alasannya, obrolan warga begitu sering mengangkat topik yang tidak menarik. Tentu saja saya pun tidak tertarik untuk mendengarkan apalagi ikut nimbrung dalam kerumunan. Hal yang bisa dilakukan hanyalah menulis di blog, media sosial, dan buku. Andaikan suatu saat dibutuhkan, maka mereka yang tertarik dengan isi pikiran saya maka cukup membuka di sana. Tidak usah banyak bertanya dan berharap akan memaparkan lebih lanjut, saya tidak akan melakukannya. Misalnya, ketika saya memiliki ide tentang kandang kelinci yang bagus . Orang yang pertama kali menolak ide tentu saja bapa saya sendiri. Beliau tipe orang yang harus diyakinkan dengan banyak bicara atau "diceramahi" terlebih dahulu. Masalahnya, saya gampang bosan untuk banyak bicara. Mendengar ceramah pun mudah ngantuk.  Kandang kelinci dibuat alakadarnya, tanpa estetika yang memuaskan hasrat visual. Saya pun mengalah, ya namanya juga orang tua mana sanggup saya mendebat. Apalagi, Bapa ...