Langsung ke konten utama

Industrialisasi: Paradigma Baru Wirausaha di Pedesaan (Bagian 1)



Industrialisasi di pedesaan menjadi suatu keharusan mengingat wilayah pedesaan perlu meningkatkan pertumbuhan ekonominya. Masyarakat desa harus sudah memikirkan bagaimana mendatangkan kesejahteraan desanya tanpa harus bergantung pada pemerintah dan perkotaan. Sikap mandiri menjadi kunci bagi kemajuan kehidupan di masa datang.
Ada paradigma umum pada masyarakat desa bahwa usaha mandiri yang dimaksud adalah berdagang/ritel bahkan eceran. Ada banyak warga yang memiliki modal cukup membuka toko atau warung untuk menjual kembali produk dari daerah lain. Bahkan banyak produk impor yang dijual dengan mencari keuntungan dari setiap item. Dalam usaha industrialiasi paradigma ini harus dicoba untuk diubah dimana wirausaha tidak hanya menjual barang jadi ada tetapi memproduksi barang untuk pasar yang lebih luas.
Kebiasaan memproduksi barang memang belum begitu luas  di tengah masyarakat kita. Malahan kecenderungan itu lahir dari para pendatang seperti warga keturunan Tionghoa. Kecenderungan itu sepertinya sangat dipengaruhi oleh budaya setiap daerah. Budaya untuk meramu, membuat dan mencipta bisa jadi tidak terbentuk begitu saja. Ada proses panjang sejak seseorang dilahirkan hingga dewasa. Lingkungan turut serta mempengaruhinya seperti keluarga, tempat tinggal atau pendidikan yang ditempuhnya.
Dikarenakan kebiasaan mencipta dan membuat barang itu tidak ada dalam kebanyakan warga pedesaan maka sudah seharusnya dibentuk suatu pola perubahan pola pikir. Industrialisasi tidak hanya melulu bicara tentang perubahan mata pencaharian dari  bertani menjadi pekerja pabrik, tetapi juga perubahan cara berpikir untuk menjadi pribadi yang produktif. Pribadi produktif akan berusaha untuk berpikir bagaimana caranya menghasilkan produk. Dia akan berinvestasi untuk masa depan demi perbaikan kualitas hidup.
Investasi tersebut biasanya mengarah pada pembentukan sumber-sumber produktif. Setiap rupiah akan disisihkan untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi. Peluang tidak hanya dipandang sebagai sesuatu yang sempit tetapi lebih luas. Berpikir global dan bertindak lokal.

Pasar Produsen Lebih Luas Dibanding Reseller
Bagi produsen, menatap pasar tidak hanya yang terlihat tetapi juga yang tidak kasat mata. Pasar meluas seiring posisi produk di pasaran. Biasanya, para pengusaha di pedesaan mendekati pasar sasaran dengan urbanisasi dengan alasan di desa sepi pembeli. Sekarang, pemikiran itu sudah harus diubah. Para pengusaha pedesaan harus bisa membuat produk yang dibutuhkan konsumen maka pembeli akan datang sesuai permintaan. Pola distribusi akan terbentuk begitu saja.
Para produsen menganalisis pasar dan menentukan segmen pasar yang akan dijadikan target. Bagi produsen selalu ada optimisme dibalik ketidakpastian kondisi ekonomi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kayu Bakar untuk Bertahan Di Tengah Kesulitan

Ketika ktia kelelahan mencari sesuatu yang tidak ada atau jauh dari kediaman, maka melihat ke sekeliling bisa menjadi solusi. Bapa saya akhir-akhir ini rajin membelah kayu-kayu yang tumbuh di sekitar rumah. Untuk bahan bakar, demi menghemat anggaran belanja. Menanak nasi dan memasak air di atas tungku, tidak banyak menggunakan kompor demi usaha penghematan. Ketika banyak orang, sibuk mencari uang untuk membeli kebutuhan rumah tangga maka Bapa saya lebih suka menanam pepohonan. Ketika pohon itu sudah besar, manfaatnya begitu banyak. Salah satu yang saat ini dirasakan adalah kesanggupan kami untuk sekedar bertahan hidup di kala ekonomi sedang tidak baik. Meskipun negara sedang dilanda banyak bencana, kami bisa bertahan demi sekedar makan. Alhamdulillah.

Beternak Kerbau Rawa di Pinggiran Hutan Rawa

  Kerbau Rawa di Kalimantan (Sumber: Antara) Saya punya rencana untuk mengembalikan fungsi lahan kebun sawit menjadi tutupan hutan dengan memanfaatkan peran kerbau rawa. Jika sebelumnya hutan "dikeringkan" untuk ditanami bibit sawit maka harus kembali "dibasahkan" dengan mengalirkan air sungai. Untuk keperluan pupuk dan sumber pendapatan warga maka kerbau rawa bisa menjadi alternatif.  Dalam bayangan pikiran saya, akan ada lahan sawit yang tidak produktif lagi karena faktor usia tanaman. Dalam keadaan demikian, waktu yang tepat untuk segera mengembalikan fungsi hutan. Namun, saya tahu ini bukanlah usaha yang mudah. Penduduk akan lebih tertarik untuk mengalihkan fungsi lahan untuk sesuatu yang komersil. Hanya saja, mengembalikan fungsi hutan merupakan sebuah keharusan. Tentu tidak mengorbankan warga yang membutuhkan sumber pendapatan.  Memelihara kerbau rawa adalah solusi. Ini dipilih karena beberapa alasan.  Pertama, penduduk punya kegiatan untuk mengalihkan énergi ...

Perencanaan Sosial

Perencanaan sosial ( social planning ) pada dewasa ini menjadi ciri yang umum bagi masyarakat-masyarakat yang sedang mengalami perubahan-perubahan atau perkembangan. Sebenarnya perencanaan sosial yang bertujuan untuk melihat jauh ke depan telah ada sejak dahulu dan telah pula dipikirkan oleh para sosiolog . Auguste Comte misalnya, berpendapat bahwa manusia mempunyai kemampuan untuk melihat jauh ke depan serta mengendalikan tujuannya. Pernyataan tadi kemudian diperkembangkan lebih lanjut oleh Lester F. Ward yang mempergunakan istilah social telesis  untuk menunjuk pada arah yang dituju suatu masyarakat. [1] Menurut sosiologi, suatu perencanaan sosial harus didasarkan pada pengertian mendalam tentang bagaimana kebudayaan berkembang dari taraf yang rendah ke taraf modern dan kompleks dimana dikenal industri, peradaban kota dan selanjutnya . Selain itu harus pula ada pengertian terhadap hubungan manusia dengan alam sekitarnya, hubungan antara golongan-golongan dalam masyarakat ...