Langsung ke konten utama

Si Pemikir yang Minoritas: Penggerak Pembangunan Perdesaan

Jika kita memperhatikan segelintir orang yang memiliki karakter pemikir, maka itulah yang bisa menjadi penggerak bagi pembangunan perdesaan. Merekalah yang bisa kita sebut 'sosok' penentu arah pembangunan. Mereka bisa siapa saja, profesi apa pun, kaya/miskin, tidak menjadi ukuran bagi keberadaan mereka.

Kelompok kecil merupakan sifat ahli pikir yang tepat. Pelajarilah dengan seksama jika kita ingin menjadi salah satu dari kelompok kecil ini, yang berpikir dengan cepat dan tepat. Sifat ini sederhana dan sudah dimengerti tapi tidak begitu mudah dilipatgandakan, karena pelipatgandaan ini membutuhkan disiplin pribadi yang lebih besar daripada yang dilatih oleh kebanyakan orang. Tapi ganjaran untuk berpikir dengan tepat ini merupakan usaha yang patut yang diperlukan untuk menerima anugerah itu. Ini terdiri dari banyak sekali nilai, diantaranya ketenangan pikiran, kebebasan pikiran, kebebasan tubuh, kebijaksanaan dan pengertian akan hukum-hukum alam, bahan-bahan yang diperlukan dalam kehidupan, dan yang lebih lagi, terdapat keselarasan dengan garis besar alam semesta, sebagaimana yang ditetapkan dan dipelihara oleh Sang Pencipta.
Tidak ada yang bisa mengingkari bahwa pikiran yang tepat merupakan modal yang tak ternilai yang tidak bisa dibeli dengan uang, atau dipinjam dari orang lain. Pikiran yang tepat ini haruslah merupakan pencapaian pribadi yang diperoleh dari kebiasaan disiplin pribadi yang terketat sebagaimana yang telah didefinisikan oleh berbagai wanita dan pria yang sukses di dalam berbagai bidang kehidupan.

Merupakan pengalaman yang paling jarang untuk menemukan seorang dimanapun juga kapanpun juga, yang hidup seorang diri, berpikir dengan pikirannya sendiri, mengembangkan kebiasaannya sendiri dan bahkan membuat sedikitpun usahanya untuk selalu seorang diri.

Kebanyakan orang merupakan pencontoh dari orang lainnya, dan banyak dari mereka merupakan penderita penyakit saraf yang lebih memilih bersama orang lain daripada sendiri. Perhatikan mereka yang kenal dengan baik, plajarilah kebiasaan mereka secara cermat dan kita akan menyadari bahwa kebanyakan dari mereka hanyalah sekedar imitasi sintetis dari orang lainnya tanpa suatu mereka bisa secara tulus menamakan diri mereka adalah sendiri.
Kebanyakan orang mengikuti, menerima dan bertindak berdasarkan pikiran dan kebiasaan orang lain, amat mirip seperti domba berkejaran satu sama lain melalui jalur yang telah ditetapkan. Sekali waktu dalam waktu yang lama, seseorang dengan kecenderungan memiliki pikiran yang tepat dan cermat akan menjauhkan diri dari orang banyak dan berani untuk berdiri sendiri. Jika kita menemukan orang seperti ini, perhatikanlah bahwa kita berhadapan dengan seorang ahli pikir.

Kemampuan Berpikir dengan Tepat
Kekuatan pikiran bisa disamakan denan sebuah taman yang subur. Tanahnya bisa diolah dengan usaha yang terorganisir, hingga bisa menghasilkan makanan, atau dikesampingkan hingga menghasilkan rumput yang tidak berguna. Pikiran yang selamanya selalu bekerja, baik semakin berkembang atau semakin menurun, membawa kesengsaraan, kesedihan dan kemiskinan atau kesuka citaan. Pikiran tidak pernah menganggur. Pikiran merupakan yang paling besar dari seluruh modal yang dipunyai ummat manusia, namun selama ini pikiranlah yang paling sedikit dimanfaatkan dan yang paling disia-siakan dari semua modal milik manusia. Kesewenang-wenangan ini pada dasarnya merupakan tidak dimanfaatkan pikiran ini.
Kemampuan berpikir merupakan kekuatan yang paling berbahaya, atau sebaliknya paling menguntungkan yang dipunyai oleh manusia, tergantung pada arah bagaimana pikiran itu digunakan. Melalui kemampuan pikiran, manusia membangun istana peradaban yang besar. Melaui kekuatan yang sama, orang lainnya menghancurkan istana itu, seakan-akan mereka terbuat dari tanah liat yang begitu tidak berdaya.
Setiap ciptaan manusia, baik yang baik ata buruk, pertama-tama diciptakan di dalam suatu pola pikiran. Semua ide-ide diangnkan melalui pikiran. Semua rencana, tujuan dan keinginan diciptakan di dalam pikiran. Dan pikiran merupakan satu-satunya tenpat dimana manusia diberi hak istimewa untuk mengendalikannya.
Pemikir yang tepat mengenali fakta-fakta kehidupan, baik yang baik maupun yang buruk dan memikul tanggungjawab untuk memisahkan dan mengatasi keduanya, memilih mana-mana yang melayani kebutuhannya dan menolak lainnya. Dia tidak terkesan oleh desas-desus. Dia bukanlah budak tapi tuan bagi emosinya sendiri. Dia hidup di antara orang-orang tanpa memberi mereka hal untuk menginjak-nginjak pikiran batinnya atau caranya berpikir.
Pendapatnya merupakan hasil dari analisa yang berasal dari kepala dingin dan bersahaja dan merupakan penyelidikan cermat mengenai fakta-fakta atau kejadian yang dapat dipercaya dari suatu fakta. Dia menggunakan nasehat orang lain tapi menyimpan hak bagi dirinya sendiri untuk menerima atau menolak nasehat itu tanpa bisa diganggu gugat.
Jika rencanaya gagal, ia segera membangun rencana-rencana lain untuk menggantikannya, tapi ia tidak pernah menyimpang dari tujuannya hanya karena kekalahan sementara. Dia merupakan ahli filsafat yang menentukan sebab-sebab dari analisa pendapatan mereka. Dia mendapatkan sebagian besar dari usahanya dengan jalan memperhatikan hukum-hukum alam dan menyesuaikan dirinya dengan hukum alam itu.
Jika ia berdo'a, permintaannya adalah agar memperoleh kebijaksanaan yang yang lebih besar lagi. Dia menolong orang lain tanpa mengharap imbalan. Kalau pun memerlukan pertolongan, dia menerima atas hal yang benar-benar dibutuhkannya.


(sumber: Napolen Hill dan E. Harold Keown, Hidup Sukses dan Berhasil Melalui Keyakinan, Cahaya Abadi, Jakarta: 1978.)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Merambah Lahan Digital

Di desa kami, lahan pertanian mulai sempit. Tentu saja bukan tanahnya yang berkurang, kini wajah désa berubah setelah ada pembangunan pemukiman dan pabrik. Bagi mereka yang masih bergantung pada sektor pertanian, maka dianggap sebagai sebuah ancaman .  Seberapa serius ancaman itu, saya sendiri belum meneliti. Perlu ada ahli yang menentukan seberapa besar ancaman yang dimaksud. Atau, sebaliknya ini dianggap sebagai sebuah peluang ?  Sudah diramalkan sejak bertahun-tahun sebelumnya jika wajah désa kami akan berubah menjadi areal industri. Bertani hanya menjadi profesi penopang ketika sektor industri belum bisa dijadikan sumber pendapatan utama. Meskipun euforia industrialisasi itu senantiasa ada, belum tentu menjadi sektor yang tetap kokoh di tengah terpaan dinamika global.    Sebagaimana diketahui, perubahan haluan pembangunan di desa bisa terjadi lantaran ada kebutuhan yang mendesak. Karena berbagai penyebab, maka industri membawa angin segar bagi mereka yang tidak k...

Pohon Belajar

Dalam belajar, kita ikuti filosofi pohon. Seperti pohon, kita awali belajar dengan pelajaran dasar layaknya akar. Akar itu kuat menghujam tanah, juga menyerap saripati tanah untuk pertumbuhannya. Al-Qur'an dan As-Sunnah layaknya akar. Batang layaknya minat dan bakat yang sudah ada sejak lahir. Sedangkan, daun dan ranting adalah ilmu yang "menyesuaikan" dengan lingkungan. Akhirnya, maka akan ada buah yang bisa "dipetik". Minat dan bakat, harus menjadi yang utama dipelajari setelah pelajaran dasar. Kenapa? Karena ilmu yang berkenaan dengan minat dan bakat bisa dipelajari dengan "semangat" dan tidak perlu "disuruh-suruh". Ilmu yang berkenaan dengan minat dan bakat menjadi "acuan" akan seperti apa seseorang di masa depan. Layaknya, batang pohon maka minat dan bakat kuat meskipun diterpa angin dan hujan. Terakhir, ilmu lain yang menyesuaikan dengan kebutuhan. Ilmu-ilmu itu akan sangat banyak sesuai dengan kebutuhan...

Kesulitan Mengkomunikasikan Isi Pikiran kepada Warga Desa

Saya ini tipe orang yang langka bicara. Ada alasannya, obrolan warga begitu sering mengangkat topik yang tidak menarik. Tentu saja saya pun tidak tertarik untuk mendengarkan apalagi ikut nimbrung dalam kerumunan. Hal yang bisa dilakukan hanyalah menulis di blog, media sosial, dan buku. Andaikan suatu saat dibutuhkan, maka mereka yang tertarik dengan isi pikiran saya maka cukup membuka di sana. Tidak usah banyak bertanya dan berharap akan memaparkan lebih lanjut, saya tidak akan melakukannya. Misalnya, ketika saya memiliki ide tentang kandang kelinci yang bagus . Orang yang pertama kali menolak ide tentu saja bapa saya sendiri. Beliau tipe orang yang harus diyakinkan dengan banyak bicara atau "diceramahi" terlebih dahulu. Masalahnya, saya gampang bosan untuk banyak bicara. Mendengar ceramah pun mudah ngantuk.  Kandang kelinci dibuat alakadarnya, tanpa estetika yang memuaskan hasrat visual. Saya pun mengalah, ya namanya juga orang tua mana sanggup saya mendebat. Apalagi, Bapa ...