Langsung ke konten utama

Filsafat Mengutamakan Makanan

Memetik pepaya di pekarangan rumah (Dokpri.)

Makanan, sebagai kebutuhan dasar keluarga tentu saja menjadi hal yang utama. Kami sekeluarga menyadari itu sejak lama. 

Ketika kami punya sedikit uang maka hal yang terpikirkan adalah bagaimana uang itu bisa menjadi sumber makanan. Tetangga kami suka berinvetasi dalam bentuk rumah dan kendaraan, maka keluarga kami lebih suka menyisihkan harta untuk penyediaan pangan.

Bapa saya suka membeli induk ikan agar nanti mereka beranak pinak. Sesekali membeli pakan ayam agar anak ayam bisa tumbuh besar dan bertambah banyak. Kalau musim tanam tiba, mending meminjam uang untuk modal menanam padi.

Saya sendiri suka menanam buah-buahan. Mulai dari jambu, nangka, pisang hingga pepaya yang tumbuh tak sengaja. Sumber vitamin yang dibutuhkan oleh tubuh. Dan, itu semua harganya murah.

***

Mengutamakan makanan, bagi kami, sudah menjadi filsafat hidup. Sebuah dasar pemikiran untuk memperoleh kenikmatan hidup dan bentuk rasa syukur kepada Yang Maha Kuasa.

Filsafat yang bisa diterapkan dalam semua lini kehidupan. Apabila filsafat ini tidak diterapkan dalam suatu bangsa maka kesulitan akan menerpa bangsa itu. 

Secara alami, kesulitan pangan itu menghampiri tanpa diundang. Mengabaikan makanan mendapatkan harga sebanding dengan harga pangan yang semakin melambung tinggi. Ini mudah dimengerti karena filsafat ini bukan filsafat yang mengawang-awang. Ini berlaku di berbagai bangsa di belahan dunia mana pun. 

Mengutamakan makanan bisa membentuk suatu kebudayaan yang khas. Sebagaimana orang Mongol yang identik dengan ternak domba dan kuda, orang Jawa pun membangun budaya menanam padi sejak lama. Karena budaya menjadi modal spiritual untuk kesejahteraan ummat manusia maka meninggalkannya bisa mendatangkan kerugian yang sulit terhitung. 

***

Filsafat bukan hanya tentang pijakan berpikir dari para ahli pikir. Itu pun kalau anda mengakui keberadaan mereka. Kenyataannya, filsafat bukan sekedar datang dari suatu bangsa yang dianggap paling maju seperti Eropa. Tapi, filsafat lahir dari sekumpulan individu yang berdialog dengan alam, sesama manusia dan tentu saja dengan Tuhannya. 

Apabila filsafat selau dijadikan senderan dalam bertindak, maka filsafat mengutamakan juga dijadikan sandaran untuk berpikir kemudian melangkah ke luar rumah. Bisa saja seseorang mengaku tidak memiliki sandaran berpikir dalam setiap tindakannya. Padahal, itulah sandaran berpikirnya ... terombang-ambing mengikuti arah angin.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kayu Bakar untuk Bertahan Di Tengah Kesulitan

Ketika ktia kelelahan mencari sesuatu yang tidak ada atau jauh dari kediaman, maka melihat ke sekeliling bisa menjadi solusi. Bapa saya akhir-akhir ini rajin membelah kayu-kayu yang tumbuh di sekitar rumah. Untuk bahan bakar, demi menghemat anggaran belanja. Menanak nasi dan memasak air di atas tungku, tidak banyak menggunakan kompor demi usaha penghematan. Ketika banyak orang, sibuk mencari uang untuk membeli kebutuhan rumah tangga maka Bapa saya lebih suka menanam pepohonan. Ketika pohon itu sudah besar, manfaatnya begitu banyak. Salah satu yang saat ini dirasakan adalah kesanggupan kami untuk sekedar bertahan hidup di kala ekonomi sedang tidak baik. Meskipun negara sedang dilanda banyak bencana, kami bisa bertahan demi sekedar makan. Alhamdulillah.

Beternak Kerbau Rawa di Pinggiran Hutan Rawa

  Kerbau Rawa di Kalimantan (Sumber: Antara) Saya punya rencana untuk mengembalikan fungsi lahan kebun sawit menjadi tutupan hutan dengan memanfaatkan peran kerbau rawa. Jika sebelumnya hutan "dikeringkan" untuk ditanami bibit sawit maka harus kembali "dibasahkan" dengan mengalirkan air sungai. Untuk keperluan pupuk dan sumber pendapatan warga maka kerbau rawa bisa menjadi alternatif.  Dalam bayangan pikiran saya, akan ada lahan sawit yang tidak produktif lagi karena faktor usia tanaman. Dalam keadaan demikian, waktu yang tepat untuk segera mengembalikan fungsi hutan. Namun, saya tahu ini bukanlah usaha yang mudah. Penduduk akan lebih tertarik untuk mengalihkan fungsi lahan untuk sesuatu yang komersil. Hanya saja, mengembalikan fungsi hutan merupakan sebuah keharusan. Tentu tidak mengorbankan warga yang membutuhkan sumber pendapatan.  Memelihara kerbau rawa adalah solusi. Ini dipilih karena beberapa alasan.  Pertama, penduduk punya kegiatan untuk mengalihkan énergi ...

Perencanaan Sosial

Perencanaan sosial ( social planning ) pada dewasa ini menjadi ciri yang umum bagi masyarakat-masyarakat yang sedang mengalami perubahan-perubahan atau perkembangan. Sebenarnya perencanaan sosial yang bertujuan untuk melihat jauh ke depan telah ada sejak dahulu dan telah pula dipikirkan oleh para sosiolog . Auguste Comte misalnya, berpendapat bahwa manusia mempunyai kemampuan untuk melihat jauh ke depan serta mengendalikan tujuannya. Pernyataan tadi kemudian diperkembangkan lebih lanjut oleh Lester F. Ward yang mempergunakan istilah social telesis  untuk menunjuk pada arah yang dituju suatu masyarakat. [1] Menurut sosiologi, suatu perencanaan sosial harus didasarkan pada pengertian mendalam tentang bagaimana kebudayaan berkembang dari taraf yang rendah ke taraf modern dan kompleks dimana dikenal industri, peradaban kota dan selanjutnya . Selain itu harus pula ada pengertian terhadap hubungan manusia dengan alam sekitarnya, hubungan antara golongan-golongan dalam masyarakat ...