Rabu, 17 Desember 2025

Budaya Berpikir Masyarakat Desa

Jika berpikir itu permainan, mungkin akan terasa menyenangkan.

Sayangnya, saya memperoleh doktrin jika kegiatan berpikir bukanlah bentuk permainan. Berpikir merupakan sesuatu yang serius, dianggap berbeda dengan permainan. Kata permainan identik dengan kesenangan dan membuang-buang waktu. Dalam bayangan, permainan identik dengan sepakbola, catur, atau gim video. Sedangkan berpikir senantiasa identik dengan logika matematika dan hitung-hitungan.  

Kegiatan ini bukanlah menjadi bagian dari budaya kami. Entah sejak kapan, masyarakat kami tidak dibentuk oleh prosés berpikir. Bahkan, mendengar kata "berpikir" pun terkesan berat serta jauh dari jangkauan. 

Menurut KBBI pengertian berpikir adalah menggunakan akal budi untuk mempertimbangkan dan memutuskan sesuatu; menimbang-nimbang dalam ingatan. Saya merasa tidak puas dengan pengertian berpikir sebagaimana demikian, belum bisa menguraikan bagaimana prosés berpikir hingga mencapai hasil akhir. Saya pun membuka sebuah artikel dari Kompas yang merangkum pengertian berpikir dari beberapa ahli.  

Dari begitu banyak pengertian, saya menyoroti dua hal, yakni informasi/pengetahuan yang tersimpan di otak dan pengolahan informasi tersebut.

Jika berpikir dianggap sebagai kegiatan mengolah informasi, lantas mengapa orang enggan untuk mengumpulkan informasi?

Padahal, media massa sudah tersedia sejak lama. Bahkan, sampai hingga ke desa-desa. Lantas, apakah informasi yang tersedia dijadikan bahan untuk berpikir? 

Hingga saat ini saya masih penasaran mengenai hal seperti apa yang bisa memantik warga untuk berpikir. Andaikan lingkungan tidak mendesak untuk berpikir, tampaknya tak ada keinginan untuk segera menggunakan otak. Andaikan berpikir harus dikenai biaya, sungguh bisa dipahami jika tak tertarik untuk melakukan kegiatan mental tersebut. Namun, jika berpikir begitu murah bahkan gratis masih saja tidak tertarik. 

Saya pun berkesimpulan, jika berpikir akan menjadi kegiatan rutin andaikan warga memiliki sebuah tujuan. Tujuan akan menjadi bahan bakar untuk kegiatan berpikir. Coba bayangkan jika seorang manusia tak memiliki tujuan, maka bisa dimengerti jika sekedar ikut-ikutan. Permasalahannya, tidak semua orang memiliki tujuan memajukan dan mengembangkan kehidupan di desanya. Sekian banyak orang akan segera meninggalkan desa sesaat setelah dia dewasa dan merasa mampu hidup mandiri.  

Tatkala menuju satu tujuan, berpikir selalu menjadi panglima. Terkadang lupa menggunakan perasaan, intuisi, dan tradisi. 

Saya tahu jika berpikir menjadi ciri masyarakat modern, sebuah masyarakat yang diidamkan oleh banyak orang. Para penganut kemajuan, menganggap jika semua aspek kehidupan bermasyarakat ditata secara rasional berdasarkan analisis.

Pengambilan keputusan dalam berbagai hal didasarkan kepada kerangka arguméntasi yang didukung penalaran yang kuat. Kekuatan berpikir akan bersifat dominan dan mendesak ke belakang (bahkan meninggalkan jauh) cara penarikan kesimpulan berdasarkan intuisi, perasaan, dan tradisi. Perlu ditanyakan, bahwa masyarakat modern pun memberi tempat bagi intuisi, perasaan, dan tradisi. Namun, peranan ketiga sumber pengetahuan ini menjadi rélatif kurang penting dibandingkan dengan berpikir. 

Jika diperhatikan, keadaan masyarakat di berbagai tempat yang saya jumpai tidak selalu menjadikan berpikir sebagai cara utama untuk pengambilan sebuah keputusan. Dalam masyarakat sekarang, keadaan ini bersifat terbalik dimana justru intuisi, perasaan, dan tradisi itulah yang bersifat dominan. Peranan berpikir belum mendapat tempat dengan prioritas yang relatif rendah.   

Akan ada perdebatan panjang tentang peran intuisi tatkala berpikir. Masyarakat desa yang sudah terbiasa menggunakan intuisi ketika memutuskan sebuah perkara akan bertentangan dengan cara berpikir logis analitis. Saya tidak menolak intuisi, perasaan, dan tradisi yang melingkupi proses berpikir. Hanya saja, tidaklah mudah memilih dan memilah poin mana yang layak diikutsertakan selama pengambilan keputusan. 

Coba perhatikan, ketika seorang warga sedang memikirkan masa depan anaknya maka banyak hal yang harus dijadikan bahan pertimbangan. Mungkin dia akan mengikuti tradisi dimana seorang lelaki diharuskan merantau selayaknya pergi berperang. Sedangkan perempuan tetap menjadi penunggu rumah hingga ada lelaki yang meminangnya. Si orang tua pun akan mempertimbangkan perasaan tidak tenang andaikan melepaskan anaknya untuk pergi jauh padahal kepergian tersebut demi menempuh pendidikan yang menjadi kebutuhan. Terlebih, secara intuisi sang orang tua tidak yakin jika anaknya akan mengalami keberhasilan. 

Kegiatan berpikir untuk mengambil keputusan dan menyelesaikan masalah ini tidak sepenuhnya menggunakan logika. Itu wajar saja, seberapa banyak peran perasaan, intuisi, dan tradisi juga hal penting. 
 
Saya selalu kagum kepada orang yang memiliki rentang berpikir yang panjang. Dia bisa memikirkan rencana hingga ke masa depan yang jauh sekaligus bisa menjalankan rencana tersebut secara bertahap. Pola sebab-akibat senantiasa menjadi bahan pertimbangan. Andaikan melakukan ini, maka akan terjadi begini. Apabila tidak melakukan itu, maka akan begitu. Sayangnya, tidak mudah pula memahami sebab akibat itu apabila manusia minim mengumpulkan pengetahuan. 

Membutuhkan ketekunan untuk mengumpulkan pengetahuan. Membutuhkan waktu banyak agar koleksi informasi menumpuk di otak. Dan, ketekunan merupakan sesuatu yang mahal di zaman sekarang. 

Sayangnya, sekolah tidak selalu membuat orang berpikir menggunakan akalnya. Sekolah yang mengajarkan logika, bisa saja masih kalah berguna dengan budaya setempat yang masih enggan mengedepankan logika. 

____________________________
Sumber:
Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer, Jujun S. Suriasumantri, Jakarta: Pustaka Harapan, (2013).

Senin, 01 Desember 2025

Sudah Ada Bahan di Alam, Kreatifitas yang Tidak Ada

Memunculkan kreatifitas ternyata susah.

Saya selalu kagum kepada bangsa yang bisa mengubah alam liar menjadi peradaban yang maju. Mereka datang dari tempat yang jauh ke tempat yang tak tersentuh. Awalnya daerah hutan belantara, bertahun-tahun kemudian berubah menjadi kota. Bagaimana caranya semua itu bisa terjadi? 

Menurut Napoleon Hill, semua yang terjadi di dunia ini berawal dari pikiran manusia. Saya pun merasa jika perubahan yang terjadi berawal dari dalam pikiran. Masalahnya, bagaimanakah seharusnya kita berpikir agar peradaban itu bisa terwujud? Bagaimanakah seharusnya kita berpikir agar lanskap yang semula tak tersentuh manusia kini menjadi sumber kehidupan yang bermanfaat?

Apakah ada hubungannya antara sikap inferior warga desa dengan kreatifitas yang tumpul? 

Sebelum kreatifitas muncul, seharusnya kita bertanya kepada diri sendiri, "apa tujuan hidup kita di dunia?" Jika pertanyaan demikian terlalu luas untuk sebuah jawaban, maka kita turunkan dengan menjawab pertanyaan, "apa tujuan hidup kita di desa?"

Saya setuju jika ada orang yang bilang apabila tujuan hidup penting. 

Tidak selamanya kesempatan datang, kadangkala harus diciptakan. Tidak selalu hidup bisa mengalir begitu saja, mengikuti arus kalau ternyata arus tidak cukup deras untuk membawa kita ke muara. Andaikan saat ini kita sedang berada dalam sebuah perahu, tepat di tengah sungai yang berarus deras maka cukup yakin akan sampai di muara impian. Namun, bagaimana jadinya jika saat ini tak ada arus yang membawa untuk sampai di muara? 

Tentu saja harus berpikir bagaimana caranya perahu bisa melaju. Entah menggunakan dayung atau mesin tempel.

Tidak ada alasan untuk menerapkan filsafat fatalisme di tengah abad 21 yang penuh tentangan. Filsafat nerimo atau terima nasib ini meredupkan gairah, menghancurkan ambisi. Selanjutnya, mendatangkan kemalasan untuk berpikir. 

Saya merasakan sendiri, jika kemiskinan bisa membuat orang enggan untuk mengubah diri. Seakan strata sosial yang diembannya sebuah kutukan yang tak mau diubah. Masalahnya, bukan sekedar jumlah harta yang tak bertambah tetapi sikap toleransi terhadap kemalasan dan keengganan untuk menata diri. Seakan-seakan orang miskin boleh hidup berantakan, compang-camping, dan hidup tanpa aturan. Orang miskin terlanjur menerima cap jelek sejak masa kolonial. 

Tidak perlu penelitian untuk bagaimana cara berpikir orang miskin. Keluarga kami bagian dari sekian juta orang miskin di Indonesia. Entah apa kriteria orang miskin menurut Badan Pusat Statistik, pokoknya keluarga saya dilabeli miskin. Namun, bukan berarti menjadi orang yang enggan untuk berpikir. 

Ingat, kemiskinan bukan berarti alasan bagi kemalasan untuk berpikir. 

Anak-anak harus disekolahkan, bagaimana keadaan ekonomi keluarganya. Alasan yang bisa diterima jika bersekolah sebagai cara untuk keluar dari jerat kemiskinan. Sayang, hal demikian tidak selalu berhasil. Ada banyak hambatan--selain pendidikan--apabila lingkaran kemiskinan susah terentaskan. Lantas, pada akhirnya diserahkan kepada setiap individu untuk menyelesaikan masalahnya sendiri.

Kata orang, sekolah bisa mengasah ketajaman berpikir seseorang. Sayang, siswa yang dijejali hafalan malah menumpulkan pikiran. Orang demikian tidak terangsang untuk berpikir. Bagi mereka, belajar adalah suatu proses yang membosankan bukannya menyenangkan. Saya pun mengira jika kebosanan inilah yang membuat kreativitas tidak muncul ke permukaan. Katanya, kegiatan yang berulang dan membosankan bisa membuat orang tidak kreatif. Tidak terangsang untuk melakukan sesuatu yang baru. Begitu pula keadaan yang begitu tenang tanpa rangsangan. 

Sekolah telah usai dilaksanakan, kini berdiri menatap tepat di bingkai pintu. Apa yang harus dilakukan? Berdiam diri saja atau melakukan sesuatu, tentu dengan sebuah tujuan.

Jika kamu melihat sekeliling, alam pedesaan gitu meninabobokan. Justru berbanding terbaik dari penjelajah yang tadi saya bicarakan, melihat alam liar seakan sebuah potensi besar yang harus dioptimalkan kebermanfaatannya. 

Kalau orang kreatifitas itulah yang melihat sesuatu yang tampak tidak berguna atau setidaknya terlihat biasa saja akan menjadi sesuatu yang luar biasa. Pada fase inilah kreativitas sangat dibutuhkan. Saya pikir tidak bisa kalau alam hanya dibiarkan begitu saja tanpa dimanfaatkan sebagaimana mestinya. Sekali lagi, seharusnya alam merangsang manusia untuk berpikir. Kalau bukan alam, lantas siapa yang merangsang manusia untuk berpikir?