Akhir-akhir ini, warga desa direpotkan oleh serangan hama tikus. Jumlah mereka tak terhingga sampai tak tahu harus berbuat apalagi demi menghadapi gerombolan makhluk pengerat itu. Namun, dalam tulisan ini saya bukan hendak membahas hama. Justru, saya tertarik bagaimana petani di desa kami menanggapi ini.
Sejak lama, saya memang tertarik untuk mengulik kehidupan petani. Bagaimana seorang petani berpikir, bekerja, dan ada saatnya untuk berencana. Pada dasarnya, selalu tertarik kepada isi mental manusia. Khususnya petani, kami tak memiliki kurikulum khusus untuk membangun kerangka berpikir.
Saya sempat kebingungan untuk menentukan cara berpikir. Kebingungan pula bagaimana menanggapi kenyataan yang tersaji di hadapan. Manusia seakan dihadapkan kepada kenyataan begitu saja. Lantas, tidak tahu harus melakukan apa. Tidak ada filosofi yang menjadi dasar berpikir, justru semakin bingung ketika terlalu banyak manusia bicara di luar sana.
Dalam hal ini mari kita membicarakan bagaimana petani menanggapi situasi. Seorang petani sering dihadapkan kepada cuaca yang tidak menentu, ditambah hama yang senantiasa menyerang tanaman. Sebagaimana dalam kasus di kampung saya, tikus telah mengurangi hasil panén secara signifikan. Ternyata, kami tetap dikasih pilihan untuk menanggapi kenyataan. Menerima dengan lapang dada atau menyesali keadaan, pilihan ada di tangan.
Setelah membaca banyak buku dan artikel, ada hal menarik mengenai "tanggapan atau respon" kita sebagai diri. Mari perhatikan ilustrasi sederhana di atas. Ketika ada rangsangan atau stimulus, ternyata ada wilayah dimana seorang manusia punya pilihan untuk memberikan tanggapan.
Kebebasan untuk memilih tanggapan ini sebuah keistimewaan.
Saya pun baru paham, proses berpikir berkaitan erat dengan respon seseorang terhadap stimulan dari lingkungan. Ini pelajaran sederhana yang telah disampaikan oleh guru biologi. Ada seekor binatang yang melihat dengan samar satu sosok yang dianggap sebagai predator. Sang binatang memiliki waktu sepersekian detik untuk berpikir, berlari atau akan berakhir sebagai mangsa nan malang.
Begitupun manusia, tatkala merespon tantangan alam dan tantangan zaman senantiasa diajak untuk berpikir.
Mari kita perhatikan diri kita sendiri. Bangun di kala pagi, sering dihadapkan oleh tuntutan profési, keluarga yang meminta perhatian, atau malah--sebaliknya--kesendirian. Sudah menjadi hak istimewa manusia untuk menanggapi setiap keadaan berbeda tersebut. Andaikan dia memberikan tanggapan yang tidak tepat maka tak heran akan dianggap sebagai hari yang buruk.
Tak ada hari yang buruk bagi mereka yang memilih untuk menilai jika hari ini sebagai sebuah tantangan. Tak ada hari yang sia-sia jika memilih untuk menilai hari ini sebagai ruang belajar yang sempurna. Memang terdengar sebagai usaha untuk "lari" dari realita. Namun, bagi saya berbeda.
Lari dari kenyataan benar-benar tak ingin memikirkan situasi. Banyak manusia seperti ini. Sedangkan memilih tanggapan adalah menyiapkan otak dan otot untuk menyesuaikan diri. Memang keadaan bisa menjadi tak terkendali, bukan berada di kendali kita sebagai individu. Sekali lagi, manusia memiliki keistimewaan untuk memberikan tanggapan yang proporsional.
Oke, sekarang mari kita kembali membicarakan perbedaan cara berpikir petani dengan cara berpikir para pedagang; janji sebagaimana judul blog ini. Tentu bukan membedah respon keduanya akan perkara teknis. Jelas berbeda.
Saya berusaha untuk menyoroti bagaimana respon petani ketika menghadapi kerugian. Tidak seperti pedagang, tidak akan mengganti komoditas. Bagaimana bisa petani mengganti varietas yang hendak ditanam padahal begitu dibutuhkan warga.
Sudah sejak lama saya penasaran akan isi pikiran petani ketika merespon kerugian. Ketika memilih untuk memandang kerugian sebagai bentuk pasrah, mungkin ada yang menyimpulkan ini sebagai pikiran yang rendah. Hanya saja, apabila diperhatikan dari sisi lain sikap ini merupakan bentuk respon untuk tidak memilih marah. Kerugian bisa dianggap sebagai pola yang mungkin ada selain keuntungan.
Memang tidak akan ada titik temu apabila seorang pedagang dan petani berdiskusi tentang kerugian. Petani tidak menggunakan matematika dalam merespon untung-rugi. Apalagi semata dikonversi dengan uang. Begitu sulit rasanya untuk memperoleh keuntungan andaikan semua petani berpikir demikian.
Sekarang, mari kita berandai jika tengah menjalani suatu profesi. Seorang petani yang serba unik di satu hari kemudian beralih menjadi pedagang di hari lain.
Hal yang mesti dipersiapkan bukan hanya modal, tetapi juga mental. Cara berpikir seseorang tatkala menjalani profesi tertentu--saya yakin--bisa membawa orang tersebut kuat ketika menghadapi tantangan. Begitupula, hari ini seorang petani mesti harus siap untuk hari yang menguntungkan sekaligus merugikan dalam satu waktu. Apabila hasrat untuk menanam terhenti, sangat dikhawatirkan manusia akan kehilangan sumber pangan. Petani tidak bisa pergi dari lahan bahkan ketika profesi lain sedang menikmati liburan.
_____________
Buku bacaan:
Man's Search of Meaning, Victor Frankl, 1946.
The 8th Habit: From Effectiveness to Greatness, Stephen Covey, 2004.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Komentar...