Langsung ke konten utama

Hikmah Melaksanakan Kewajiban Bagi Pembangunan Pedesaan

Kewajiban, bisa dianggap sesuatu yang dipaksakan dan terasa berat. Kewajiban melaksanakan peraturan negara atau peraturan agama dianggap sebuah doktrin dan tentu saja membawa pemikiran pada "frustasi".

Namun, apabila kita paham akan hikmah dari terlaksananya kewajiban maka kita akan berusaha melaksanakan bahkan mempertahankan kelestariannya. Misalnya, kewajiban untuk membuang sampah sembarangan begitu berat bagi sebagian orang. Tetapi, lihatlah hikmahnya begitu besar.

...

Tulisan saya ini terinspirasi dari film In the Heart of the Sea yang bercerita tentang perburuan paus untuk dimanfaatkan minyaknya. Film ini adalah film 3D Amerika Serikat-Spanyol produksi tahun 2015 bergenre drama petualangan yang diangkat dari buku nonfiksi karya Nathaniel Philbrick dengan judul yang sama.

Dalam film itu, ada adegan dimana para pemerannya berdiskusi tentang bagaimana peran manusia di dunia. Ketika mereka terdampar di suatu pulau, masing-masing tokoh di sana punya kesimpulan pemikiran atas apa yang telah terjadi pada mereka. Satu orang berpendapat bahwa manusia berkuasa atas alam dan berhak memanfaatkan apa saja di alam. Satu orang lagi berpendapat bahwa manusia harus bisa menjaga alam dan melestarikannya sehingga tidak terjebak dalam kerakusan.

Terbentuk Pola Dalam Pikiran

Kewajiban, bisa membentuk kebiasaan kemudian lama-kelamaan menjadi sebuah kebutuhan. Begitulah, Alloh memberikan kita sebuah karunia pikiran yang begitu luar biasa. Pikiran kita benar-benar bisa mengubah kenyataan.

Dalam pikiran kita, pola-pola kehidupan itu terbentuk bahkan hingga menjadi sebuah filosofi hidup.

Saya sering merasa kebingungan ketika membaca banyak buku atau artikel mengenai pembangunan. Begitu banyaknya konsep dan teori yang mendasari sebuah pembangunan membuat saya sulit "menentukan" konsep mana yang harus dipilih. Dengan banyaknya konsep itu, justru kita diajak untuk memutuskan konsep mana yang akan dipakai.

Apabila kewajiban sudah menjadi sebuah filosofi pembangunan yang kita anut, maka sebenarnya bisa mengurangi kebingungan itu. Pembangunan akan berjalan sebagaimana mestinya dan pikiran manusia pun hanya tinggal menunggu ilham dari Yang Maha Mengetahui.

Lingkungan Menjadi Terjaga

Kewajiban, sebetulnya melindungi kita sebagai manusia dari "kepunahan". Manusia akan dibawa pada suatu kelestarian hidup hingga waktu yang tidak tertentu. Manusia memiliki kelemahan fisik. Manusia bukan binatang yang memiliki kekuatan untuk bertahan hidup di alam bebas.
Bagaimana pun, cara untuk bertahan dari kejamnya alam adalah dengan berkawan dengan alam. Mekanisme alam bisa menjadi tidak terduga, maka dari itu ada aturan main untuk bisa hidup tenang di tengah alam.

Kewajiban, memberikan suatu formula yang memaksa tetapi berguna. Bagi orang yang berpikir pragmatis, maka kewajiban itu akan menjadi sesuatu yang dianggap penting karena kegunaannya. Bagi yang berpikir "nrimo", melaksanakan kewajiban semata-mata karena ketakutan tanpa bisa mengambil hikmah penting.
Kewajiban-kewajiban bukan hanya hasil dari bentuk pemikiran manusia. Ada keterbatasan manusia untuk bisa menentukan mana yang harus dilakukan dan mana yang tidak boleh dilakukan. Alloh SWT memberikan peringatan tidak tertulis atas apa yang akan terjadi di kemudian hari. Dengan kata lain, apabila manusia tidak melaksanakan kewajiban maka akan ada akibat buruk yang menyertainya.
Kewajiban seorang anak untuk patuh pada orang tua, bisa jadi adalah benih bagi terbentuknya sistem sosial dalam masyarakat. Apabila seorang anak sudah tidak patuh pada orang tua, maka begitu banyak ekses negatif yang dialami. Kenakalan remaja, salah satu contoh akibatnya.


Kewajiban Sebagai Strategi Pembangunan

Ketika kita merasa kebingungan bagaimana menentukan srategi pembangunan, maka melaksanakan kewajiban sebagai prioritas adalah pilihan terbaik. Hal ini didasarkan pada anggapan bahwa pikiran manusia memiliki kekurangan dalam "melihat masa depan".

Keterbatasan pikiran itu mengharuskan manusia bersikap rendah hati. Manusia jangan menganggap apa yang terjadi di dunia ini semata-mata hasil karyanya tetapi ada campur tangan Yang Maha Kuasa.

Coba kita tengok kondisi di sekitar kita, begitu banyak ketidaksempurnaan kehidupan. Kondisi ideal mengenai tata kehidupan bermasyarakat jauh dari harapan. Ada banyak sisi yang menandakan bahwa orang desa tidak sanggup membangun daerahnya sendiri.

Disadari atau tidak, ketidakidealan itu buah dari keengganan kita melaksanakan kewajiban.

Ketika pertumbuhan ekonomi pedesaan sangat lambat bisa jadi itu karena keengganan kita melestarikan dan memanfaatkan alam pedesaan sebagaimana perintah Alloh.
Selama ini, strategi pembangunan ditentukan oleh filsafat hidup yang dianut oleh suatu bangsa, atau atas dasar kompromi politik bahkan atas kendali para pemilik modal.  Apabila pembangunan didasarkan atas itu, maka sesungguhnya akan nampaklah "kelemahan" pikiran manusia. Setiap pihak yang berkepentingan akan merasa paling 'bisa' menentukan strategi pembangunan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Merambah Lahan Digital

Di desa kami, lahan pertanian mulai sempit. Tentu saja bukan tanahnya yang berkurang, kini wajah désa berubah setelah ada pembangunan pemukiman dan pabrik. Bagi mereka yang masih bergantung pada sektor pertanian, maka dianggap sebagai sebuah ancaman .  Seberapa serius ancaman itu, saya sendiri belum meneliti. Perlu ada ahli yang menentukan seberapa besar ancaman yang dimaksud. Atau, sebaliknya ini dianggap sebagai sebuah peluang ?  Sudah diramalkan sejak bertahun-tahun sebelumnya jika wajah désa kami akan berubah menjadi areal industri. Bertani hanya menjadi profesi penopang ketika sektor industri belum bisa dijadikan sumber pendapatan utama. Meskipun euforia industrialisasi itu senantiasa ada, belum tentu menjadi sektor yang tetap kokoh di tengah terpaan dinamika global.    Sebagaimana diketahui, perubahan haluan pembangunan di desa bisa terjadi lantaran ada kebutuhan yang mendesak. Karena berbagai penyebab, maka industri membawa angin segar bagi mereka yang tidak k...

Pohon Belajar

Dalam belajar, kita ikuti filosofi pohon. Seperti pohon, kita awali belajar dengan pelajaran dasar layaknya akar. Akar itu kuat menghujam tanah, juga menyerap saripati tanah untuk pertumbuhannya. Al-Qur'an dan As-Sunnah layaknya akar. Batang layaknya minat dan bakat yang sudah ada sejak lahir. Sedangkan, daun dan ranting adalah ilmu yang "menyesuaikan" dengan lingkungan. Akhirnya, maka akan ada buah yang bisa "dipetik". Minat dan bakat, harus menjadi yang utama dipelajari setelah pelajaran dasar. Kenapa? Karena ilmu yang berkenaan dengan minat dan bakat bisa dipelajari dengan "semangat" dan tidak perlu "disuruh-suruh". Ilmu yang berkenaan dengan minat dan bakat menjadi "acuan" akan seperti apa seseorang di masa depan. Layaknya, batang pohon maka minat dan bakat kuat meskipun diterpa angin dan hujan. Terakhir, ilmu lain yang menyesuaikan dengan kebutuhan. Ilmu-ilmu itu akan sangat banyak sesuai dengan kebutuhan...

Kesulitan Mengkomunikasikan Isi Pikiran kepada Warga Desa

Saya ini tipe orang yang langka bicara. Ada alasannya, obrolan warga begitu sering mengangkat topik yang tidak menarik. Tentu saja saya pun tidak tertarik untuk mendengarkan apalagi ikut nimbrung dalam kerumunan. Hal yang bisa dilakukan hanyalah menulis di blog, media sosial, dan buku. Andaikan suatu saat dibutuhkan, maka mereka yang tertarik dengan isi pikiran saya maka cukup membuka di sana. Tidak usah banyak bertanya dan berharap akan memaparkan lebih lanjut, saya tidak akan melakukannya. Misalnya, ketika saya memiliki ide tentang kandang kelinci yang bagus . Orang yang pertama kali menolak ide tentu saja bapa saya sendiri. Beliau tipe orang yang harus diyakinkan dengan banyak bicara atau "diceramahi" terlebih dahulu. Masalahnya, saya gampang bosan untuk banyak bicara. Mendengar ceramah pun mudah ngantuk.  Kandang kelinci dibuat alakadarnya, tanpa estetika yang memuaskan hasrat visual. Saya pun mengalah, ya namanya juga orang tua mana sanggup saya mendebat. Apalagi, Bapa ...