Saya menghabiskan waktu hampir 3 jam untuk menonton dokumenter tentang kebangkitan Cina. Dimulai dari keruntuhan Dinasti Qing hingga Xi Jinping bertugas menjadi presiden hingga perempat abad 21. Ada banyak hal yang bisa dijadikan bahan pelajaran. Namun, ada satu hal yang mesti saya ajukan sebuah pujian kepada bangsa besar ini. Mereka pekerja keras sekaligus pemikir keras.
Kami di sini bekerja keras. Setiap pagi bangun lebih awal dibandingkan anak-anak kami. Namun, harus diakui jika bangun pagi bukan langsung memikirkan diri apalagi memikirkan bagaimana seharusnya dunia ini menata diri. Apa yang dikerjakan hari ini bukan demi keberlangsungan generasi tetapi sekedar memenuhi kebutuhan sehari-hari atau memaksakan nafsu diri.
Orang Cina, sepertinya tidak berpikir sependek ini. Mereka diajarkan untuk berpikir besar sejak usia dini. Maaf, ini bukan bermaksud untuk menjadi inferior. Namun, berpikir menjadi superior ternyata dibutuhkan bagi bangsa yang ingin menjadi besar. Baik besar secara jumlah atau besar secara pengaruh.
Berkali-kali saya membaca, menonton, dan mendengar berita tentang kemajuan Cina. Berkali-kali pula saya terpesona sekaligus bertanya-tanya kenapa bangsa kami tidak bisa seperti mereka. Apa yang salah, ah akan susah andaikan menguliti kelemahan bangsa sendiri. Saya hanya ingin mencermati diri serta lingkungan sendiri. Terlalu pongah jika berani menyimpulkan betapa saya lahir di tengah bangsa yang lemah. Tidak, bangsa ini besar. Saudara saya pun punya keinginan besar. Keluarga kami berharap besar kepada kehidupan.
Namun, sebesar apa harapan itu? Sesuatu yang sulit diukur lantaran sifatnya yang abstrak.
Ada sebuah kesimpulan sementara, jika kami tidak pandai berpikir. Bahkan, berpikir senantiasa identik dengan orang yang sedang berada di sekolah. Apabila selesai bersekolah, berpikir sesuatu yang dihindari.
Ada yang memberikan definisi berpikir sebagai proses mencerna informasi dengan otak. Jika Anda punya definisi lain tentang berpikir, silakan saja. Untuk saat ini, saya masih berpegang pada definisi tersebut. Meskipun sederhana, bagi saya ini sesuatu yang bisa menjadi acuan. Ketika kami disuguhkan oleh begitu banyak informasi, toh enggan untuk mengolahnya hingga diperoleh sebuah pengetahuan baru.
Saya sering "menyalahkan" filosofi hidup yang tidak tepat ketika diterapkan oleh warga. Namun, apa pun filosofi hidup warga di masa lalu sudah seharusnya diubah apabila tidak relevan lagi dengan zaman. Begitulah yang dipraktekkan oleh orang Cina. Ketika Marxisme tak lagi membawa kesejahteraan maka dimodifikasi menjadi Sosialisme ala Mao. Kemudian Deng Xiaoping mengubahnya lagu menjadi kapitalisme ala Cina yang khas. Tujuan akhirnya adalah tercapainya sebuah kemajuan.
Hingga hari ini, begitu langka saya mendengar orang tua berbicara tentang kemajuan. Kalau berbicara tentang kekayaan, hampir setiap hari. Walaupun tujuan dari kekayaan tak lebih dari satu generasi atau setidaknya pasangan orang tua kami telah naik haji. Pada dasarnya, kami tak diajari menata dunia, baik dalam skala kecil hingga skala luas. Kekayaan versi warga di sini adalah semata usaha untuk menunjukkan kepada tetangga jika "sudah masuk kategori kaum berpunya".
Kekayaan tidak dihitung sebagai instrumen kemajuan sebuah bangsa. Padahal, kekayaan bentuk lain dari berkah hidup untuk lebih bersaing dengan bangsa lain. Jangan heran jika orang kaya di sini malas berinvestasi. Enggan pula membuka lapangan kerja baru. Kekayaan masih dianggap sebuah prédikat di tengah masyarakat. Mungkin itu pula yang membuat kaum berpunya di sini begitu sering menghamburkan harta untuk pesta.
Saya jadi teringat masa penjajahan dulu, kaum priyayi yang kaya sengaja membiarkan warga alit sekitar tetap miskin. Ketakutan menjadi tersaingi lebih besar dibandingkan hasrat untuk maju bersama.
Komentar
Posting Komentar
Komentar...